005- Menabrak Mobil

"Rupanya rumah Lo nggak jauh dari apartemen gue," kata Nino ketika akhirnya mobil miliknya berhenti di halaman luas rumah Hara. Dia sedikit heran dengan Hara yang anak orang kaya tapi berangkat ke sekolah memilih pakai sepeda kayuh. Mereka berdua pun akhirnya langsung turun kemudian Nino mengambil sepeda Hara yang ada di bagasi. "Rusak parah sih nih sepeda punya, Lo," ucapnya lagi merasa kasihan dengan Hara.

"Bodo amat lah, nanti tinggal minta uang sama papa buat beli. Lagian itu bukan sepeda gue kok," kata Hara dengan begitu santai santai, bahkan dia meniup upil yang ada di jari kelingking kirinya tanpa merasa malu sedikit pun.

Nino yang melihat Hara seperti itu bukannya jijik malah tersenyum simpul. Baru kali ini ada cewek yang tidak peduli dengan image buruk di depan orang lain dan Nino suka itu. Dia suka dengan orang yang apa adanya daripada yang sok kecakepan atau sok kencantikan seperti mayoritas cewek di sekolahnya.

"Masuk yuk!" ajak Hara seraya melangkah lebih dulu dan Nino mengikutinya. "Lo duduk di sini dulu! Gue mau ganti baju dulu sebentar," kata Hara ketika mereka sampai di ruang tamu.

"Oke." Nino tanpa malu-malu langsung duduk di sofa dan membiarkan Hara meninggalkannya.

Sementara itu, Hara pun langsung pergi ke kamar dan melepaskan sepatu miliknya. Setelah selesai, dia langsung pergi ke kamar mandi untuk cuci tangan, kaki, dan wajah, kemudian baru ganti baju. Setelah selesai, barulah dia kembali turun untuk menemui Nino yang menunggunya.

Hara tersenyum ketika melihat Nino duduk santai sambil bermain ponsel. Dia menoleh ke kanan dan kiri karena tidak melihat mamanya di rumah, padahal biasanya kalau dia pulang mamanya itu selalu ada di rumah.

"Nino, ikut gue ke kamar yuk!" ajak Hara yang tanpa sadar salah bicara. Padahal dia bermaksud mengajak Nino pergi ke dapur.

"L-lo ngapain ngajak gue ke kamar?" Nino jadi waspada. Dia tidak menyangka kalau Hara seberani itu.

"Kamar?" Hara mengerutkan dahinya bingung.

"Iya, Lo barusan ngajak gue ke kamar mau ngapain?" Nino menatap cewek itu dengan tatapan sedikit takut.

"Perasaan tadi gue ngajak Lo ke dapur deh." Hara menggaruk kepalanya yang teras gatal, maklum karena dia kemarin tidak keramas.

"Tapi Lo tadi bilang mau ke kamar." Nino masih ngeri sendiri.

"Masa sih? Kalau begitu sorry, mungkin gue salah ngomong. Yuk ke dapur buat mie instan!" ajaknya lagi.

Nino mengangguk kemudian mengikuti Hara menuju dapur. Di sana ada seorang pelayan wanita setengah baya yang sedang mencuci piring dan disapa Hara dengan sangat ramah.

"Bi Yanti," panggilnya tidak terlalu keras.

"Eh, Non Hara sudah pulang?" kaget Bi Yanti karena tidak memerhatikan sekitarnya.

"Udah dong, Mama ke mana, Bi? Kok nggak ada di rumah?"

"Nyonya lagi pergi arisan, Non. Nanti pulangnya malam," jawab Bi Yanti.

"Oh, mie instan yang dibeli mama kemarin disimpan di mana?" tanya Hara kepada pelayan itu.

"Di lemari atas nomor dua dari kiri, Non," jawab Bi Yanti.

"Oke." Hara pun membuka laci itu kemudian mengambil dua bungkus mie instan yang dia inginkan. "Kalau telur di mana, Bi?" tanyanya lagi.

"Di kulkas, Non."

"Makasih, Bi. Hara ambil dulu." Hara langsung membuka kulkas kemudian mengambil empat telur dari sana, tidak lupa cabai rawit dan sayuran juga. "Nino, Lo suka sayur?" tanyanya sambil menatap Nino yang sejak tadi hanya berdiri dan diam memerhatikan dirinya.

"Suka." Nino mengangguk kecil.

Hara mengangguk, dia lalu mengambil minuman dingin yang ada di kulkas dan memberikannya kepada Nino. "Diminum nih, pasti Ki haus, 'kan?"

"Thanks." Nino menerima minuman itu dengan senang hati.

"Yoi." Hara lalu mencuci telur dan sayuran tadi kemudian dia potong-potong agar tidak terlalu besar. Cabai rawit juga dia potong bulat dan agak besar karena rasanya akan lebih nikmat. Setelah selesai, dia pun merebus air dan setelah mendidih langsung memasukkan telur, mie, cabai, serta sayuran dan bumbunya juga.

Bau harum makanan itu langsung memenuhi dapur, membuat perut Nino dan Hara keroncongan. Setelah matang, Hara membagi jadi dua kemudian menghidangkannya. "Ayo makan!" ajaknya friendly sekali.

Nino mengangguk, mereka berdua pun makan di ruang makan sambil sesekali mengobrol. Hara mudah sekali akrab dengan Nino dan hal itu mungkin karena Nino orangnya juga asik diajak bicara sehingga obrolan mereka selalu nyambung walau kadang apa yang mereka obrolkan sama sekali tidak penting.

"Btw, Lo punya nomor rekening Juju nggak?" tanya Hara yang teringat untuk membayar ganti rugi mobil Juan.

"Juju siapa? Juan?"

"Iya." Hara mengangguk dengan sedikit kesal karena teringat dengan wajah Juan yang terkesan sok tampan, padahal aslinya memang tampan sih.

"Punya, kalau Lo mau tahu ntar gue kirimin lewat line."

"Kita aja belum tukar id line."

"Sekarang tukeran bisa." Nino memberikan id line-nya dan mereka pun langsung menjadi teman.

Saat asik mengobrol karena sudah selesai makan, tiba-tiba sebuah suara bariton terdengar menggema di ruang tamu dan ternyata itu adalah suara Marcel yang baru saja pulang sekolah.

"Haraaa, Lo apain sepeda gue sampai rusak begitu. Tanggung jawab nggak, Lo!" teriaknya nyalang sekali, tetapi langsung terdiam ketika melihat ada orang yang tidak dia kenal di ruang tamu bersama adiknya. "Cie, Harapan Palsu baru dua hari pindah sekolah dah dapat pacar baru, malah lumayan ganteng lagi walau lebih gantengan gue ke mana-mana," ucap Marcel sambil tertawa menggoda adiknya. Namun, adiknya malah memasang ekspresi wajah datar.

"Kak Marcel apaan sih! Hus-hus sana pergi!" Hara langsung berdiri kemudian mendorong kakaknya agar segera pergi ke kamar.

"Bentar napa, Dek! Gue mau bicara sama pacar, Lo." Marcel bukannya pergi malah langsung duduk di sebelah Nino kemudian merangkul bahu cowok itu sok akrab. "Kok Lo mau pacaran sama adik gue, sih? Padahal adik gue mukanya jelek begitu, gue aja nggak percaya kalau kita lahir dari rahim yang sama." Niatnya sih mau bisik-bisik, tetapi suaranya terlalu keras sehingga Hara masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

"Lo kalau ngomong jangan sembarangan dong! Lagipula siapa yang pacaran, sok tau banget sih, Lo. Pergi sana jangan ganggu gue!" ketus Hara pada kakak laki-lakinya itu.

"Ck! Ganggu banget sih lu, Cil! Itu sepeda kesayangan gue kepada rusak? Lo bawa ngapain tadi, hah!" teriak Marcel lagi sampai membuat Nino menutup telinga yang terasa sakit karena jarak mereka yang sangat dekat.

"Tadi cuma gue bawa nabrak mobil aja sih, Kak."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!