016- Lo Suka Sama Gue?

"Rendra, lo mau ngapain di sini?" Nino menghampiri Narendra yang hampir masuk ke rumah Hara.

"Seharusnya gue yang tanya, lo ngapain ke sini?" Narendra menatap sinis Nino, dia merasa kesal dengan Nino karena termasuk salah satu anggota Geng Atlantis yang diketuai Juan. Teringat dengan Juan rasanya Narendra ingin kembali menghajar cowok itu sampai tidak bangun lagi.

"Gue ke sini mau jenguk Hara." Nino balas menatap sengit teman sekolahnya itu.

"Ya udah sama." Narendra memalingkan muka.

"Kok lo bisa tahu rumah Hara? Kalian udah saling kenal sebelumnya?" Nino sangat kepo dan butuh jawaban yang meyakinkan.

"Bukan urusan, Lo!" Narendra buru-buru menekan bel pintu rumah Hara dan tidak lama setelah itu seorang pelayan membukanya.

"Bi, Haranya ada?" tanya Narendra langsung.

"Non Hara ada di dalam, Den. Mari masuk!" ajak pelayan itu ramah.

Narendra dan Nino pun masuk ke rumah itu walau sebelumnya sempat saling dorong berlomba-lomba untuk masuk duluan.

"Apaan sih, Lo!" sengit Nino tidak terima ketika tubuhnya didorong kasar Narendra.

"Banci!" ledek Narendra yang kemudian masuk lebih dulu ke rumah Hara.

Mereka dipersilakan duduk di sofa ruang tamu, sementara pelayan tadi pergi untuk memanggil si pemilik rumah serta membuatkan minuman untuk mereka.

Sementara itu, Hara masih ada di kamar dan sekarang sedang disuapi makan siang oleh mamanya walau telat karena jam makan siang sudah lewat.

"Ma, udah, Ma! Nggak enak!" Hara menutup mulut dengan kedua tangan, semua rasa makanan yang masuk ke mulut terasa pahit, bahkan air putih pun rasanya sangat tidak enak dan membuatnya mual ingin muntah.

"Sedikit saja, Sayang. Kalau kamu nggak mau makan kapan kamu sembuh?" Mama Deandra menatap putrinya sedih, Hara biasanya sangat cerewet, tetapi saat sakit jadi pendiam dan tentunya membuat Mama Deandra merasa kesepian dan kehilangan.

"Tapi nggak enak, Ma!" rengek Hara menggelengkan kepala.

"Ya udah, kalau begitu obatnya diminum!" perintahnya yang mau tidak mau Hara minum juga walau tidak suka dengan rasa obat yang pahitnya minta ampun.

Tok!

Bunyi ketukan pintu terdengar tiga kali, Mama Deandra mempersilakan masuk dan ternyata itu adalah Bi Yanti.

"Kenapa, Bi?" tanya Mama penasaran.

"Di bawah ada tamu, Nyonya. Dua cowok satu sekolahan dengan Non Hara," katanya sopan.

"Siapa, Bi?" Hara penasaran.

"Aduh, bibi lupa tanya namanya, Non. Tapi, yang satu pernah nganterin Non Hara pulang terus makan mie instan waktu itu," jawab Bi Yanti yang hanya teringat dengan Nino.

"Nino, ya?" Hara mengerutkan dahi karena tidak menyangka kalau cowok itu akan datang lagi ke rumahnya.

"Mungkin iya, Non." Bi Yanti mengangguk.

"Bibi suruh mereka ke sini saja! Hara belum kuat kalau bangun dari tempat tidur dan berjalan ke sana!" pinta Mama Deandra.

"Baik, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi dulu." Bi Yanti langsung pergi.

Sementara itu, Hara melotot kepada mamanya, "Kenapa malah meminta mereka me sini, Ma? Malu tahu, lihat kamar aku berantakan begini!" protes Hara kesal, bibirnya mengerucut tidak terima.

"Memang kamu mau jalan ke sana?" Mama Deandra memicingkan mata.

"Ya enggak lah."

"Ya sudah." Mama Deandra kemudian berdiri dan membawa bekas makanan Hara ke dapur agar nanti dicuci pelayan.

Mama Deandra terus berjalan menuju dapur dan berpapasan dengan cowok tadi di tangga.

"Sore, Tante," sapa keduanya ramah.

"Sore kembali, kalau sudah sampai di lantai dua masuk aja ke kamar yang pintunya terbuka, Hara ada di sana. Tante tinggal dulu ke dapur." Mama Deandra tersenyum ramah.

"Iya, Tante." Nino dan Narendra mengangguk kemudian lanjut melangkah menuju lantai dua.

"Kok kaya pernah lihat wajahnya ya?" gumam Mama Deandra ketika melihat wajah Narendra tadi. "Kaya mirip seseorang, tapi lupa siapa," gumamnya dan melanjutkan langkah ke dapur.

Sementara itu, Nino dan Narendra sudah sampai di lantai dua dan saling dorong karena tidak mau masuk lebih dulu ke kamar Hara.

"Lo duluan!" Nino mendorong bahu Narendra.

"Lo aja dulu!" Narendra langsung pindah posisi ke belakang Nino.

"Lo duluan!"

"Lo aja, Nino!" tekan Narendra.

"Barengan aja deh!" Nino menarik tangan Narendra dan akhirnya keduanya masuk barengan ke kamar Hara.

"Kok kalian berdua romantis banget, masih lurus, 'kan?" tanya Hara karena melihat dua cowok itu sekarang malah bergandengan tangan seperti pasangan.

"Mit amit gue suka sama cowok, gue masih mawar woy!" protes Nino yang langsung melepaskan genggaman tangan dengan Narendra.

"Najis banget suka sama cowok." Narendra merinding.

Hara tersenyum kecil melihat keduanya walau setelah itu langsung merintih karena kepalanya terasa sakit akibat tertawa tadi.

"Lo baik-baik aja?" Nino langsung menghampiri Hara dan khawatir dengan cewek itu.

"Udah tahu kalau dia kesakitan masih tanya baik-baik aja? Lo punya otak cuma dijadiin pajangan ya?" sindir Narendra yang sekarang duduk di tepi tempat tidurnya Hara. "Kepala kamu sakit gara-gara gue, ya? Maaf, Hara! Waktu itu gue nggak sengaja ngelempar bola ke kepala lo!" katanya penuh penyesalan.

"Oke, gue sakit bukan karena itu kok." Hara tersenyum dengan wajahnya yang pucat. "Kalian berdua janjian ke sini?" Hara menatap dua cowok itu bergantian.

"Ya enggak lah!" elak mereka langsung dengan suara keras sampai membuat telinga Hara berdengung sakit.

"Ya santai dong!" Hara kesal.

"Maaf!" Mereka langsung menunduk sementara Hara tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala pelan.

Dia suka ketika ada temannya yang menjenguk seperti ini karena dia baru saja pindah ke sekolah itu sehingga tidak terlalu dekat dengan murid-murid di sana kecuali Ella. Hara membuang napas kasar, seharusnya dia bisa berangkat sekolah, tetapi gara-gara Juan dia jadi sakit dan malah mondok di rumah sendiri.

"Lo sakit apa, Ra?" Narendra menatap cewek itu dalam-dalam.

"Gue cuma demam biasa kok, sebentar lagi pasti sembuh." Hara tersenyum.

"Apa Lo sakit gara-gara perkataan Juan kemarin?" tebak Nino yang mendadak merasa sangat kesal dengan Juan karena ucapan cowok itu kemarin benar-benar sangat kurang ajar dan melukai perasaan seseorang.

Hara hanya tersenyum, tidak mau menjawab karena memang Juan lah yang membuatnya jadi seperti ini. Dia benci dengan Juan dan tidak akan mau memberi maaf ke cowok itu kalau Juan tidak meminta maaf dengan tulus padanya. Hara menunduk, hatinya kembali sakit ketika teringat dengan ucapan Juan kemarin.

"Karena lo diam artinya jawaban lo itu iya?" Nino menyimpulkan. "Gue akan beri dia pelajaran!" geram Nino.

"Nino?" panggil Hara lirih.

"Kenapa?" tanya Nino menatap Hara.

"Kenapa lo perhatian banget sama gue! Lo punya perasaan sama gue ya?" tanya Hara yang membuat Nino gelagapan.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

dimas naufal

dimas naufal

hayu loh...nino

2023-05-23

0

miyura

miyura

kok kemaren gak up othor..padahal ditungguin up nya..lanjut semangat othor. 😗😗

2023-05-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!