"WHAT?" Marcel langsung berdiri dan menatap adiknya seperti macan yang siap menerkam mangsa. "Lo tuh bener-bener ya, dulu sepeda gue rusak karena dibawa Lo nyebur ke got, terus pernah juga dibuat nabrak pembatas jalan, dan sekarang malah Lo pakai buat nabrak mobil. Cil, Lo tahu kan kalau itu sepeda kesayangan gue?" Marcel menuding wajah adiknya dengan perasaan sangat dongkol. Dia benar-benar sudah hilang kesabaran dengan adik perempuannya yang satu ini. Rasanya kalau boleh dia ingin membuang adiknya ke laut saja, tetapi dia ingat kalau adiknya bukan Nabi Yunus yang bisa hidup di dalam perut ikan.
"Y-ya maaf. Nanti gue minta duit sama Papa buat beliin sepeda baru deh." Hara menunduk, merasa bersalah sebenarnya, tetapi tidak mau mengaku salah.
"Heh, Tukiyem! Minta duit emang gampang. Tapi mikir dong pakai otak kalau mau minta terus ke orang tua, kasihan papa gue kalau dimintain duit terus!" ucap Marcel menggebu-gebu, dia memang anak orang berada, tetapi dari kecil diajari untuk hidup sederhana oleh orangtunya.
"Papa Lo juga papa gue kalau Lo pikun! Ya udah nanti gue pakai uang pribadi gue." ketus Hara.
"Emang Lo punya duit?" ejek Marcel menyebalkan sekali memang.
"Lo kira gue miskin? Gini-gini gue juga punya gaji endorse yang lumayan!"
"Gue lupa kalau Lo selebgram." Marcel tertawa sinis.
"Nye nye nye, pergi sana!"
"Nyi nyi nyi, pirgi sini!" Marcel malah semakin meledek adiknya.
"Kakaaak!" Hara mengambil bantal sofa kemudian melemparkan ke arah kakaknya.
"Iya-iya gue pergi." Marcel menangkap bantal itu dan melemparkan balik sampai mengenai wajah Hara, kemudian langsung berlari menuju lantai dua sebelum diamuk adiknya yang menyebalkan itu.
"Sorry Lo malah jadi keganggu karena Abang gue." Hara menatap Nino dengan tidak enak hati.
"Nggak apa-apa sih, namanya juga kakak adik pasti berantem terus, tapi kalau jauh pasti kangen," kata Nino seraya tersenyum tipis, dia juga punya adik perempuan dan mereka tidak pernah akur kalau ketemu, ada saja yang diributkan walau hanya masalah sepele.
"Iya sih, kadang gue kangen banget sama dia kalau dia lagi pergi lama." Hara tertawa, kalau di depan kakaknya dia tidak akan pernah mau mengakui itu.
"Udah sore nih, gue balik dulu ya?"
"Oke, makasih sebelumnya udah nganter gue pulang." Hara kemudian mengantar Nino sampai teras rumah dan setelah Nino masuk ke mobilnya kemudian melaju pergi, saat itu juga Hara langsung kembali masuk dan pergi ke kamarnya.
Baru juga sekitar lima belas menit bersantai di kamar, tiba-tiba saja abangnya berteriak memanggil-manggil sambil menggedor pintu kamarnya keras. "Dek, buka pintunya! Kakak mau ngomong penting sama Lo, cepetan nggak pakai lama!" teriak Marcel dari luar kamar.
"Ck, punya abang satu aja nyebelin banget." Hara melempar novel yang sedang dia baca kemudian membuka pintu kamarnya. "Mau apa sih?" katanya ketus kepada kakaknya yang malah langsung nyelonong masuk ke kamar tanpa dia minta.
"Papa ngajak kita makan malam ke rumah temannya nanti jam setengah delapan," kata Marcel yang sekarang sudah berbaring santai di tempat tidur Hara.
"Tumben banget ngajak kita, jangan-jangan Papa mau ngejodohin Lo sama anak temannya?" Hara langsung tertawa menebak, biasanya kan seperti itu.
"Otak Lo ditaruh di tumit ya? Usia gue baru sembilan belas tahun btw," kata Marcel menatap adiknya sengit. "Jangan-jangan malah Lo lagi yang mau dijodohin sama om-om, jadi sugar baby. Awok-awok." Marcel ganti meledek adiknya dan tentu saja Hara tidak terima dengan ejekan sang kakak sehingga dia langsung menimpuk wajah kakaknya itu menggunakan guling.
"Sialan, Lo! Pergi sana ke kamar Lo sendiri kalau mau tidur!"
"Ogah, enakan juga tidur di sini ditemani sama Bi dan Pi," kata Nino sambil memeluk dua boneka kesayangan adiknya.
"Serah Lo deh." Hara menjatuhkan dirinya di samping sang kakak kemudian fokus menatap langit-langit kamarnya. "Kak," katanya kemudian dengan lirih.
"Napa?"
"Gue kangen sama Ken," katanya lagi dengan suara yang semakin lirih dan agak serak. Kali ini Hara menolehkan kepala sehingga berhadapan dengan kakaknya.
"Ck, kenapa bilang sama gue?" Raut wajah Marcel langsung berubah.
"Ya dia kan temen Lo, Kak."
"Bodo amat, jangan mikirin Ken lagi karena gue nggak suka lihat Lo sedih." Marcel mencubit hidung Hara pelan, tetapi langsung ditepis kasar adiknya itu.
"Hiks, gue kangen sama dia, Kak. Pengen ketemu, hiks ...."
"Eh, kok malah nangis? Jangan nangis dong, Dek. Cengeng banget Lo jadi adik gue." Marcel menarik adiknya ke dalam pelukan, kemudian mengusap punggungnya dan mencium puncak kepalanya berkali-kali.
Bukannya berhenti menangis, Hara malah semakin terisak kencang dan hal itu berlangsung cukup lama sampai Marcel mendengar suara napas Hara yang teratur dan ketika dicek ternyata adiknya itu tertidur. Marcel pun segera membenarkan posisi tidur adiknya kemudian dia bangun dan duduk di tepi ranjang sambil mengusap pelan kepala Hara. "Lo harus lupain Ken, Ra. Gue nggak suka Lo mikirin dia terus," gumamnya sambil berdecak kesal.
***
Malam harinya, sesuai dengan perkataan Marcel tadi sore. Hara dan keluarganya benar-benar pergi ke rumah teman Papa untuk makan malam bersama. Hara terlihat sangat cantik malam itu dengan mamakai gamis panjang kekinian berwarna navy dipadukan dengan maroon dan hijab warna hitam. Dia memakai riasan tipis-tipis atas perintah mamanya walau sebenarnya dia malas sekali kalau harus pakai make up.
"Pa, memang di rumah teman Papa ada acara apa sampai ngundang keluarga kita makan malam di sana?" tanya Hara yang sudah penasaran sejak tadi.
"Silaturahmi saja, Ra. Memang kenapa?"
"Nggak apa-apa, Pa. Kepo aja sih karena nggak biasanya."
"Kirain kenapa." Papa tersenyum simpul seraya menatap putrinya yang duduk santai di jok belakang bersama putranya.
Setibanya di rumah teman Papa, mereka disambut dengan sangat baik oleh mereka dan langsung diajak masuk menuju ruang makan karena memang itu tujuan utamanya. Hara dan Marcel juga dipuji-puji oleh mereka dengan mengatakan cantik dan tampan, jujur itu membuat Hara dan Marcel tidak nyaman karena mereka terkesan sangat akrab padahal kenal saja tidak.
"Anak kamu mana, Ren? Katanya mau ikut makan malam juga?" tanya Papa Dika kepada temannya yang ternyata Hara ketahui bernama Reno.
"Masih di atas, sebentar lagi bakal turun kok," jawab Om Reno sambil tersenyum ramah.
"Malam semuanya," sapa seseorang yang baru saja datang ke ruang tamu, mengalihkan perhatian semua orang di sana untuk menatap ke arahnya.
Keknya gue kenal suara ini deh, tapi gue pernah dengar di mana ya? Hara hanya bisa berkata dalam hati, dia tidak menoleh karena malah sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Akhirnya kamu turun juga, ayo salim sama Om Dika dan Tante Diandra, Nak!" perintah Tante Rita, istrinya Om Reno.
"Kamu sudah besar, Nak. Dulu waktu om ke sini kamu masih kecil," kata Papa Dika sambil menepuk bangga anak temannya itu.
Cowok itu hanya tersenyum seraya melakukan perintah orangtunya. Setelah itu langsung duduk di kursi yang masih kosong dengan ekspresi wajah dinginnya. Sekilas dia melirik ke arah Hara dan matanya langsung melebar walau itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja.
Hara yang diam-diam melihat wajah cowok itu dibuat terkejut setengah hidup karena ternyata cowok itu adalah orang yang sudah membuatnya kesal pagi hari tadi di sekolah. Gila, gila, gila, anaknya teman papa itu ternyata si Juju? Ya Tuhan, kenapa harus dia yang jadi anak temannya, Papa? batin Hara begitu kesal.
"Kak," bisik Hara kepada Marcel yang duduk tepat di sebelahnya.
"Napa?"
"Cowok itu pemilik mobil yang gue tabrak pakai sepeda punya Lo tadi pagi," bisik Hara lirih sekali.
"What?" Marcel tanpa sadar berteriak sambil berdiri saking kagetnya dia dengan ucapan Hara. "Eh, eh, maaf Om, Tante." Marcel langsung duduk lagi dengan raut wajah malu.
"Kenapa, Sayang?" tanya Mama Diandra seraya menatap Marcel lekat.
"Nggak apa-apa, Ma. Tadi kaki Marcel digigit semut, makannya kaget. Maaf ya Om, Tante."
"Nggak apa-apa, Nak."
Sementara itu, Hara sekarang malah saling bertatapan dengan Juan dengan begitu sengit. Seolah-olah ingin mengajak cowok itu berdebat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments