018- Kotak Bekal

Bruk!

"Maksud lo apa ngomong kaya gitu ke gue?" Juan mendorong tubuh Nino sampai cowok itu jatuh terduduk di lantai. Dia kemudian menarik kerah seragam Nino dengan mata menatap tajam cowok itu.

Nino tersenyum sinis, dia menatap Juan penuh amarah dan rasa kecewa kemudian menepis kasar tangan Juan lalu berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang celana yang mungkin saja kotor karena debu. "Kenapa lo harus marah kaya gini? Nggak terima?" ledek Nino yang seperti sengaja mengibarkan bendera perang dengan Juan.

"Gue ketua lo, Bang*at!" Juan mendorong Nino sampai cowok itu mundur beberapa langkah.

"Memangnya gue peduli?" Nino berdecak kesal. "Orang kaya lo nggak pantes jadi ketua geng, rusak banget!" Nino melewati Juan dengan menabrak bahu cowok itu sengaja.

Bugh!

Juan menarik baju belakang Nino kemudian memukul wajah sahabatnya itu sampai memerah. "Lo yang nggak pantes jadi anggota gue, lo nggak tahu-tahu apa dan sok-sokan itu campur masalah orang lain, lo ngapain, hah? Kurang kerjaan? Atau mau caper sama cewek gue?" Juan memojokkan Nino ke dinding dan membiarkan punggung sahabatnya itu berbenturan keras dengan dinding sekolah yang kokoh.

Nino yang dipukul tentu saja tidak terima sehingga dia langsung balas mendorong Juan dan mereka berdua pun berkelahi di depan kelas.

Beberapa murid yang berdatangan bukannya melerai malah menyaksikan sambil mendukung salah satu seolah-olah perkelahian itu adalah tontonan gratis yang sangat menarik dan sayang untuk dilewatkan.

"Ada apa ini rame-rame?" tanya seorang guru laki-laki yang baru saja tiba di sekolah.

"Astaga, kalian ini ke sekolah sebenarnya mau ngapain? Hampir setiap hari selalu saja ada pertengkaran! Ini bukan ring tinju, tetapi tempat untuk mencari ilmu!" nasihat Pak Guru seraya menjewer telinga dua murid yang sedang berkelahi itu.

"Kalian semua masuk ke kelas-kelas masing-masing! Lain kali kalau ada yang berkelahi, jangan malah didiamkan, tetapi lerai mereka, mengerti?" Pak Guru menatap semua murid yang berada di sana dengan tatapan tegas mengintimidasi.

"Tidak mengerti, Pak!" jawab mereka kompak kemudian kabur dengan cara berlari menuju kelas masing-masing.

"Ya Tuhan, anak zaman sekarang memang jarang sekali yang punya sopan santun baik!" keluhnya sambil menyeret Juan dan Nino pergi menuju ruang BK.

"Ampun, Pak! Sakit! Jangan jewer telinga saya! Nanti putus tidak bisa ganti yang baru, Pak!" kata Juan sambil menepuk-nepuk lengan guru BK itu agar melepaskan telinganya.

"Dia duluan yang nyari gara-gara!" Nino meringis kesakitan walau tidak banyak protes.

Mereka berdua kemudian dipaksa duduk di sofa yang ada di ruangan guru BK kemudian diberi banyak nasihat serta mendapat hukuman karena telah membuat keributan di sekolah.

"Berikan surat ini kepada orangtua kalian, awas saja kalau suratnya dijadikan penasawat mainan ataupun alas gorengan!" ancam guru BK saking capeknya mengurus Juan dan kawan-kawan.

"Yah, Pak! Jangan panggil orangtua juga dong! Yang salah kan kita, jadi kita saja yang dihukum. Bisa mati saya kalau sampai kedua orangtua saya tahu, Pak!" protes Juan dengan raut wajah yang dibuat memelas, berharap dengan begitu bisa mendapat simpati dari guru BK itu.

"Betul, Pak! Kami rela dihukum membersihkan seluruh ruangan yang ada di sekolah itu sama halamannya juga asal orangtua kami tidak diundang ke sini!" kata Nino karena dia tidak mau mendapat amarah dari orangtuanya.

"Lo aja, gue nggak mau jadi tukang kebun dadakan!" protes Juan sambil menyikut lengan Nino kesal.

"Mau selamat atau mati digantung di pohon cuplukan?" hardik Nino sambil mencubit paha Juan karena kesal.

"Bapak tidak mau tahu, berikan surat itu kepada kedua orangtua kalian atau dengan berat hati kalian berdua akan bapak keluarkan dari sekolah ini!" tegas guru BK tanpa merasa takut sedikit pun walau keluarga dua muridnya itu sangatlah berpengaruh untuk sekolahan.

Guru BK harus memberi efek jera untuk murid nakal seperti Juan dan Nino agar kejadian seperti sekarang ini tidak pernah terulang lagi di lain waktu walau rasanya itu akan sangat mustahil mengingat Juan dan kawan-kawan selalu saja membuat ulah walau tidak setiap hari.

"Pak, masa tega sama murid yang ganteng begini?" Juan menunduk sedih.

"Ganteng palamu!" Pak Guru menatap tajam Juan.

"Kalian berdua kembali ke kelas dan ikuti pelajaran sampai selesai, pulang sekolah nanti baru kerjakan hukuman kalian!" Guru BK sudah tidak akan mengubah hukumannya lagi, tetapi dia juga tidak mau membuat muridnya rugi kalau menghukum saat jam pelajaran.

Juan dan Nino mengangguk pasrah, mereka berdua langsung keluar dari ruangan guru BK kemudian kembali ke kelas sambil melengos tidak mau melihat satu sama lain.

Saat jam istirahat tiba, Nino langsung pergi ke kelas Hara kemudian memberikan kotak bekal berisi nasi goreng hasil masakannya sendiri tadi pagi.

"Dimakan ya!" katanya seraya meletakkan kotak bekal itu di meja Hara kemudian pergi begitu saja dari kelas tersebut dan langsung menjadi bahan gosip murid lain karena menganggap Nino dan Hara punya hubungan yang spesial.

"Cie, perhatian banget si Nino ngasih anak gadis orang makan."

"Baik banget sih dia, yang dikasih bekal gratis padahal Hara, tapi yang kesenangan kok malah gue ya?"

"Nino memang malaikat yang sedang cosplay jadi manusia sih ini, baik banget, ganteng pula."

Sementara itu, Hara hanya memerhatikan kotak bekal itu tanpa minat karena dia sedang sangat tidak nafsu makan sekarang. Namun, karena penasaran dengan isinya dia pun membuka kotak bekal itu dan langsung mencium aroma Harum yang membuat perutnya langsung keroncongan minta diisi.

"Wangi banget baunya, sayang juga kalau nggak di makan." Hara akhirnya mengambil sendok kemudian mencicipinya sedikit.

"Enak nggak, Ra?" tanya Ella yang juga bisa mencium aroma harum makanan itu.

"Enak banget gila, kok dia bisa masak ya?" Hara tanpa sadar menghabiskan nasi goreng itu sampai bersendawa karena kekenyangan. Bahkan, Ella yang sempat mau icip sedikit saja tidak boleh.

"Pelit banget sumpah, katanya tidak nafsu makan tapi nyatanya habis juga tuh nasi goreng," sindir Ella yang hanya bisa menelan ludah karena kepengen.

Hara menatap Ella sambil tersenyum lebar tanpa merasa bersalah ataupun malu sedikit pun. Dia justru menepuk pelan bahu Ella sambil tersenyum-senyum tidak jelas mirip orang gila.

"Nino baik banget sama lo, Ra. Jangan-jangan dia punya perasaan lagi sama lo?" goda Ella sambil menggerakkan alisnya naik turun dengan niat menggoda.

"Jangan sembarangan kalau bicara, nggak mungkin dia suka sama gue!" Hara tidak mau berpikir begitu walau sikap Nino padanya memang cukup membuat banyak orang salah paham dengan mereka.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

miyura

miyura

gaspol othor..semangat ...

2023-06-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!