Rani sepertinya tidak tahu kalau Hara bahkan sangat tidak menyukai cowok bernama Juan tadi karena sombong dan sok kecakepan.
"Ran, itu cewek tadi" teriak Dhila heboh.
"Diam, bangs*t!" Rani memukul kepala temannya itu sampai Dhila mengaduh kesakitan.
Mereka kemudian pergi menghampiri Hara yang sedang sibuk mengecek sepeda kayuhnya apa bisa dipakai atau tidak.
"Cewek resek!" Rani tiba-tiba dengan sengaja menendang sepeda Hara sampai ambruk.
"Ck! Lo punya masalah apa sih sama gue? Gue kenal sama Lo aja kagak, dari tadi nyari masalah mulu sama gue. Caper banget sih jadi cewek, udah badan kaya gajah itu aja belagu!" Hara yang pada dasarnya sudah kesal bertambah kesal karena kehadiran Rani.
Dia ingin buru-buru pulang, tetapi sejak tadi ada saja yang mengganggunya. Entah mengajak dia kenalan, minta id line ataupun nomor hp, tanya Ig dan akun sosial media yang lain, ada yang nembak ngajak pacaran, ngasih coklat batangan, dan lain sebagainya.
Hara tentu akan dengan suka hati menerima kalau yang diberikan itu emas batangan. Kalau sekadar coklat, dia mampu membeli sama pabrik-pabriknya. Fakta yang harus kalian tahu, Hara sangat tidak suka coklat karena bikin enek.
"Jauhi cowok gue kalau Lo masih mau sekolah di sini!" ancam Rani sambil mendorong bahu Hara sampai cewek itu mundur beberapa langkah.
"Memang sekolah ini milik, Lo? Enggak, 'kan? Siapa pun berhak sekolah di sini dan asal Lo tahu, gue nggak kenal sama cowok yang Lo maksud!" Hara balas mendorong Rani dengan kasar sampai cewek itu jatuh, siapa suruh cewek itu bersikap kurang ajar padanya.
"Sialan nih cewek, kalian bantu tangkap dia!" perintah Rani kepada kedua temannya.
Hara langsung menatap tajam dua cewek itu. "Mau apa, Lo? Berani nyentuh gue sedikit aja, gue jabanin Lo nanti dikuburin!" Hara tidak segan-segan mengancam mereka, padahal dalam hati mana berani dia membunuh orang, dia tidak mau menggantikan tugas malaikat maut karena takut malaikat maut jadi pengangguran.
"Gimana nih, Ran? Gue nggak mau mati," cicit Dhila ketakutan.
"Dia cuma ngancem, ege!" Rani rasanya ingin sekali memukul Dhila lagi.
Krek!
"Aaakh!" Thalita tiba-tiba menjerit ketika dia hendak menahan Hara, tetapi Hara malah menangkap tangannya lebih dulu kemudian memutar ke belakang dan menekan kuat ke punggungnya. "Le-lepasin tangan gue!" pinta Thalita dengan bercucuran air mata, sumpah demi apa pun tangannya benar-benar sangat sakit.
"Lepasin dia atau gue laporin ke guru BK!" ancam Rani yang sekarang sudah berdiri.
"Dasar cepu!" Hara mendorong tubuh Thalita sampai menabrak tubuh Rani dan keduanya pun jatuh bersamaan. "Lemah banget sih jadi cewek," ledek Hara sambil menatap sinis keduanya. "Dah ah, gue mau pulang, lapar pengen makan. Bye!" Hara mengambil sepedanya lagi kemudian menaikinya, tetapi sayang sepedanya rusak dia tidak bisa dipakai. Terpaksa Hara pulang berjalan kaki sambil menuntun sepeda milik kakaknya, meninggalkan Rani dan gengnya yang hanya bisa menatap dengan perasaan dongkol.
Sementara itu, apa yang terjadi antara Rani dan Hara diam-diam disaksikan oleh Geng Atlantis yang tersenyum senang melihat Hara tidak menye-menye.
***
"Hara," panggil Nino dari dalam mobilnya yang bergerak pelan di samping Hara. Kaca mobil memang sengaja dibuka sehingga baik Hara atupun Nino bisa saling melihat secara langsung.
"Apaan?" ketus Hara sambil terus melangkah dan menuntun sepedanya.
"Naik ke mobil gue! Gue anter Lo pulang!" perintah Nino lembut, dia benar-benar tulus ingin mengantar Hara karena kasihan melihat cewek itu jalan kaki sendirian.
"Nggak ah, gue nggak punya duit buat bayar," tolak Hara karena uangnya benar-benar sudah habis.
"Gratis kok, ayo naik!"
"Terus sepeda gue gimana?" Hara berhenti kemudian menatap Nino sekilas.
"Taruh di bagasi!"
"Nggak apa-apa nih?"
"Iya, nggak apa-apa."
"Oke deh kalau gitu, gue ikut Lo." Hara akhirnya naik ke mobil Nino setelah sepedanya dimasukkan ke bagasi. Dia duduk di depan karena saat mau duduk di belakang Nino melarang karena tidak mau dianggap sebagai sopir.
Hara tidak banyak bicara ketika di perjalanan karena dia juga tidak tau mau bicara apa. Alhasil suasana di mobil itu mendadak jadi hening sampai yang terdengar hanya suara kendaraan lain yang bising memenuhi jalan raya.
Entah sejak kapan mobil sudah berhenti dan Hara baru menyadari kalau mobil itu berhenti di halaman parkir sebuah apartemen elit ibu kota. "Kok kita malah ke sini, sih?" protes Hara karena Nino malah tidak mengantar dia pulang.
"Lo belum ngasih tahu alamat Lo ke gue. Mau ikut naik, nggak? Gue mau ganti baju dulu!"
"Males banget, nanti kalau Lo macam-macam kan berabe. Gue tunggu di sini ada lah, tapi jangan lama-lama ya!" pinta Hara karena dia tidak mau kalau sampai lama menunggu.
"Oke." Nino keluar dari mobil, meninggalkan Hara sendirian. Lima belas menit kemudian cowok itu sudah kembali dan masuk lagi mobilnya. "Sorry kalau lama, tadi gue kebelet BAB," kata Nino sedikit merasa bersalah.
"Hm. Ayo antar gue pulang sekarang!"
"Oke!" Nino pun melajukan mobilnya meninggalkan parkiran dan menuju rumah Hara setelah cewek itu memberitahukan alamatnya. "Btw, Lo keren banget tadi," ucap Nino sengaja bicara lebih dulu agar mobil itu tidak menjadi kuburan berjalan.
"Tadi apaan?" Hara bingung sendiri.
"Ngelawan gengnya Rani," jawab Nino cepat.
"Rani siapa sih?"
"Itu cewek yang tadi berantem sama Lo di parkiran."
"Oh. Habisnya dia bikin masalah mulu sama gue. Kenal aja kagak, belagu banget itu cewek satu. Malah nuduh gue deket sama cowoknya lagi, emang siapa sih cowoknya?" Hara memberengut dan Nino malah tertawa melihat wajah Hara yang terlihat menggemaskan dan lucu sekali.
"Rani itu suka sama Juan, tapi Juan nggak suka sama dia. Rani selalu neror ataupun mem-bully cewek yang dekat atau diam-diam suka sama Juan karena dia nggak mau kalau Juan disukai orang lain." Nino menjelaskan tanpa diminta dan Hara hanya mengangguk-angguk memahami.
"Mereka emang cocok banget sih misal jadi pasangan. Yang satu ceweknya titisan kuyang, sementara cowoknya titisan harimau gila." Hara kemudian tertawa ketika mengatakannya.
"Lo aneh-aneh."
"Masa sih?"
"Di dapur?"
"Masak apa?"
"Air."
"Biar apa?"
"Mateng."
"Kalau udah mateng mau dibuat apa?"
"Ngerebus mie instan pakai cabe rawit lima belas biji. Em, enak banget kayaknya," seru Nino yang kemudian tertawa karena menyadari obrolan gilanya dengan Hara.
"Gue juga mau, nanti di rumah gue bikin yuk! Gratis buat Lo karena udah nganterin gue pulang." Hara serius mengatakannya, dia juga merasa klop dengan Nino karena cowok itu nyaman kalau diajak bicara dan sikapnya juga tidak semenyebalkan Geng Atlantis yang lain.
"Eh, Lo serius?"
"Dua rius malahan, mau nggak?"
"Boleh deh, soalnya gue juga belum makan."
"Oke, bro."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments