Bab 17. Maafin Gue

"Lo suka sama Hara?" Narendra ikut bertanya karena penasaran.

"Nggak lah, Ra! Mana mungkin gue suka sama pacar sahabat gue sendiri." Nino mengelak cepat, tetapi wajahnya sedikit memerah sekarang.

"Bohong banget sih!" sindir Narendra karena dia merasa kalau Nino memang punya perasaan untuk Hara.

"Apaan sih, lo!" Nino menatap sengit Narendra yang menjadi kompor di antara mereka.

"Pacaran tapi dia yang mau," kata Hara sambil tersenyum masam." Nyesel gue nabrak mobil dia waktu itu," katanya lagi sambil membuang napas kasar.

"Lo benci sama Juan?" Nino menatap lekat wajah Hara yang pucat.

"Benci banget!" Hara mengangguk, hatinya masih terasa sakit karena perkataan Juan kemarin.

"Maafin gue, Ra. Dia ngatain kasar kaya gitu sama lo gara-gara gue." Narendra benar-benar merasa sangat bersalah dengan cewek itu, padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa, tetapi bisa-bisanya Juan bicara kasar dengan Hara dan merendahkan cewek itu.

"Nggak apa-apa!" Hara tersenyum, "maaf juga karena waktu itu gue meluk lo tanpa permisi, wajah lo mirip banget sama seseorang yang pernah ada di hidup gue." Hara memejamkan mata sebentar mengingat wajah Ken yang memang sangat mirip dengan Narendra. Mereka seperti pinang di belah dua walau bukan kembar.

Narendra tersenyum tipis, wajahnya memang mirip dengan Ken karena mereka adalah saudara. Iya, mereka saudara, tepatnya Ken adalah kakak kandungnya yang menitipkan Hara padanya untuk dia jaga. Ken sangat mencintai Hara, tetapi sayang sekali dia harus meninggal dunia lebih dulu dan meninggalkan cewek pujaan hatinya.

Nino sendiri hanya menyimak karena tidak paham dengan yang mereka bicarakan.

Dua cowok tampan itu berada di rumah Hara cukup lama dan pulang ketika sudah malam hari.

Keesokannya, Hara sudah bisa berangkat sekolah karena dia sudah sembuh, hanya saja dia diantar Marcel karena tidak boleh berangkat sekolah sendiri.

"Nanti kalau udah pulang langsung telepon gue, gue jemput lo di sini." Marcel menepuk pelan kepala adiknya kemudian melaju pergi menuju sekolahnya sendiri.

Hara menatap mobil Marcel sampai hilang kemudian masuk ke gerbang sekolah dan langsung berjalan cepat menuju kelas.

"Cewek penyakitan, ngapain lo berangkat?" Rani menghadang langkahnya ketika Hara sudah hampir sampai di kelas.

"Bukan urusan lo!" Hara melewati Rani begitu saja, dia sedang malas berdebat karena belum sembuh sepenuhnya dan masih sedikit pusing sehingga tidak mau membuang-buang tenaga untuk meladeni Rani dan gengnya.

Rani menahan tangan Hara kemudian memojokkan cewek itu ke dinding dan menamparnya sekuat tenaga sampai pipi Hara memerah karenanya. "Ini pantes lo dapetin setelah berhasil merayu dengan pangeran sekolah kita," katanya sambil tersenyum puas karena berhasil menampar pipi Hara.

"Bawa sini minuman gue!" pinta Rani pada Thalita.

"Nih!" Cokelat panas itu langsung diberikan Thalita kepada Rani dan tanpa membuang banyak waktu Rani langsung menumpahkan minuman itu ke kepala Hara.

Hara memejamkan mata ketika cairan yang terasa sedikit itu mengalir perlahan ke wajahnya dan mengotori baju seragam. Dia bisa saja melawan ataupun membalas perbuatan Rani, tetapi dia tidak mau melakukannya karena di sini CCTV bisa merekam mereka dengan jelas sehingga guru TU pasti akan langsung melihatnya secara langsung dan memberi hukuman kepada Rani nanti.

"Jelek!" Rani tertawa puas kemudian mengajak teman-temannya meninggalkan Hara menuju kelas mereka.

Hara mengusap wajahnya yang kotor kemudian mengurungkan niat masuk kelas dan pergi ke toilet sekolah. Saat hampir sampai di toilet, Hara tidak sengaja berpapasan dengan Juan dan cowok itu langsung berhenti di depannya dan memerhatikan penampilannya dari ujung kepala sampai kaki dan kembali ke kepala lagi.

"Siapa yang bikin lo kaya gini?" tanyanya sambil memegang dua bahu Hara lembut, tatapannya terlihat khawatir dan marah di waktu yang bersamaan.

Hara tidak menjawab, dia justru menepis pelan tangan Juan kemudian berjalan melewati pria itu dan segera masuk ke toilet siswa. Seragamnya tidak bisa bersih dan harus dicuci, tetapi tidak mungkin dia cuci karena dia hanya membawa satu seragam saja. Setelah membersihkan bagian yang bisa dibersihkan, dia keluar dari toilet dan mendapati Juan masih menunggunya di luar.

"Ikut gue, biar gue beliin seragam baru buat lo!" pintanya sambil meraih tangan Hara, menggenggam erat kemudian mengajak cewek itu berjalan menuju koperasi sekolah.

Hara merasa sangat butuh sehingga dia menurut saja walau hatinya sangat kesal teringat dengan makian Juan beberapa hari yang lalu.

Saat sampai di koperasi Juan langsung membeli seragam dan memberikannya untuk Hara kemudian meminta cewek itu untuk segera ganti baju. Namun, Hara juga harus mandi karena rambutnya sangat kotor dan harus keramas. Juan menunggu sampai Hara selesai melakukannya dan tersenyum cerah ketika melihat Hara keluar sudah dengan seragam baru walau rambutnya jadi basah sekarang.

"Gue pinjam pengering rambut dulu ke kelas sebelah, lo ikut gue!" Lagi-lagi Juan menggandeng Hara dan membawa cewek itu masuk ke kelas lain. Biasanya ada murid cewek yang menyimpan pengering rambut di sekolah sehingga Juan langsung meminjamnya kemudian membantu Hara mengeringkan rambut tanpa peduli sikapnya menjadi perhatian banyak murid lain yang kemudian langsung menyebar gosip yang beragam.

"Udah kering, ayo gue anterin ke kelas!"

"Lo kenapa perhatian sama gue? Lagi ngerasa bersalah?" Hara menatap lekat Juan dan dia baru sadar kalau beberapa bagian wajah cowok itu lebam seperti habis dipukul seseorang.

"Karena lo pacar gue," jawab Juan cepat.

"Bukan pelac*r seperti yang lo bilang beberapa hari lalu?" Hara melepas genggaman tangan mereka kemudian masuk ke kelas sendiri karena tidak ingin mendengar jawaban dari Juan.

Juan menyusulnya ke kelas kemudian duduk di sebelahnya karena kebetulan Ella belum datang sehingga bangku di sebelah Hara masih kosong.

"Gue minta maaf, gue nggak bisa ngendaliin emosi waktu itu karena marah merasa barang yang gue punya diambil sama orangl lain." Juan mengatakannya dengan tulus, dia benar-benar menyesali semuanya.

"Tapi gue bukan barang, gue manusia!" tekan Hara.

"Gue minta maaf!"

"Basi, pergi sana!" usir Hara sambil melipat kedua tangan di meja kemudian menjadikannya sebagai bantal, dia menghadap ke tembok karena merasa tembok jauh lebih menarik daripada wajah Juan yang membuatnya sakit hati.

"Sekali lagi gue minta maaf, gue pergi ke kelas sekarang. Bye, Ra!" Juan menepuk kepala Hara beberapa kali kemudian pergi keluar dari kelas cewek itu menuju kelasnya sendiri.

Saat baru keluar, dia berpapasan dengan Nino dan keduanya langsung saling menatap tajam satu sama lain seolah-olah mereka ini musuh sekarang.

"Dasar cowok nggak tahu malu!" sindir Nino tanpa peduli kalau cowok yang dia sindir itu ketua gengnya sendiri.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

miyura

miyura

lanjut othor semangat..

2023-06-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!