015- Hara Terluka

"Kalian sadar tidak sih kalau ini itu di sekolah tempat orang menimba ilmu, bukan adu kekuatan lewat perkelahian seperti itu!" nasihat guru BK menatap dua murid laki-laki yang cukup populer di sekolah itu. Bukan hanya terkenal karena nakal, mereka juga terkenal karena pintar cuma sayangnya minus di akhlak saja.

"Saya nggak akan mulai kalau bukan dia dulu yang nyerang saya, Pak!" protes Narendra menunjuk wajah Juan dengan begitu kesal.

"Dia yang mulai duluan, Pak. Dia meluk cewek saya!" Juan tentu tidak mau disalahkan karena di sini dia menganggap dirinya yang paling benar.

"Ini di sekolah, kalian masih kecil belum pantas cinta-cintaan, apalagi sampai berantem cuma gara-gara murid perempuan. Kalau mau berantem di ring tinju sekalian!" Guru BK memijat pelipisnya karena pusing mengahadapi problematik anak muridnya yang kebanyakan tentang cinta, jarang sekali yang adu kepintaran, yang ada cuma adu kekuatan lewat aktivitas yang lebih banyak merugikan.

"Apa Bapak akan diam saja kalau mendengar anak perempuan bapak dikatai sebagai wanita murahan dan pela*ur?" Narendra terkekeh sinis.

"Memang siapa yang bilang begitu?"

"Dia, Pak. Dia menyebut teman saya sebagai seorang pel*cur sampai ceweknya nangis sakit hati. Udah gitu bukannya minta maaf malah merasa nggak bersalah begitu," sindir Narendra sambil menatap Juan penuh permusuhan.

"Apa benar yang Narendra katakan, Juan?" Guru BK menatap Juan tajam.

"Itu refleks, Pak." Juan menunduk, dia tahu di salah, dia tadi hanya sedang emosi serta cemburu sehingga bicara tanpa dipikir dulu.

"Tentu anak itu kemudian minta maaf, kata-kata kamu itu memang tidak bisa dibenarkan dan sangat melukai hati seorang perempuan. Andai itu bapak, mungkin bapak tidak akan pernah memberi maaf kamu!" kata Guru BK tadi yang membuat Juan mengangguk patuh.

Mereka berdua mendapat banyak nasihat serta mendapat hukuman membersihkan beberapa kelas lalu mengerjakan soal sebanyak 120 soal dan harus selesai hanya dalam waktu 75 menit.

Setelah melakukan hukuman itu, Juan buru-buru mencari Hara ke kelasnya, tetapi teman-teman sekelas Hara mengatakan kalau cewek itu sudah pulang lebih awal karena tidak enak badan.

Hara meminta izin pulang lebih awal dengan alasan tidak enak badan, padahal aslinya dia pulang karena merasa sangat sakit hati akibat perkataan Juan tadi. Dia bendi cowok itu.

Hara mengurung diri di kamar, menolak membuka pintu atupun keluar kamar meskipun pelayan dan kedua orangtunya yang meminta sehingga membuat mereka khawatir dengan keadaan Hara dan takut kalau cewek itu akan jatuh sakit nantinya.

"Jahat banget sih jadi cowok, gue juga bar-bar kalau ngatain cewek, tetapi nggak sampai segitunya juga." Hara memukul boneka panda berukuran besar yang dibelikan Marcel sebagai hadiah ulang tahunya dua tahun lalu.

Dia masih terus menangis sampai kepala dan tenggorokannya sakit. Hara tidur pulas setelah lelah menangis dan ketika bangun dia merasakan seluruh tubuhnya kedinginan dan sudah ada handuk kompres di dahinya.

"Kamu demam," ucap Marcel yang ternyata ada di dalam kamarnya.

"Kok bisa masuk?" Hara bertanya dengan lemah.

"Pakai kunci cadangan yang gue punya," jawab Marcel santai. "Lo ada masalah apa sampai nangis terus dan kelopak mata lo bengkak semua gitu?" kepo Marcel sambil menatap Hara kasihan.

"Ada masalah tadi di sekolah," jawabnya kesal.

"Masalah apa?" kepo Marcel.

"Adik lo yang baik-baik ini dibilang pel*cur sama salah satu anak cowok di sekolah itu," kata Hara jujur karena dia tidak ingin berbohong agar kakaknya tahu.

"Siapa?" Marcel jelas sangat marah dan tidak terima adiknya disebut sebagai pel*cur. Dia jadi ingin mengajar cowok kurang ajar itu dan jika perlu membuatnya hilang dari bumi.

Cowok brengsek seperti itu tidak pantas untuk diberi maaf ataupun dibiarkan begitu saja karena pasti akan semakin menjadi-jadi dan kurang ajar.

"Namanya Juan."

"Jangan bilang kalau Juan yang lo maksud itu anaknya Om Reno?" tebak Marcel ketika teringat dengan nama yang tidak asing itu.

"Iya, dia orangnya." Hara mengangguk.

"Gila, aku harus bilang ini ke papa." Marcel langsung pergi keluar dari kamar Hara kemudian menemui papanya yang saat ini berada di ruang kerja. Dia menceritakan semuanya kepada papa dan papa pun ikut marah karena tidak terima.

"Papa akan lapor masalah ini ke Om Reno," katanya menahan amarah.

"Iya, Pa." Marcel mengangguk setuju.

...***...

Pagi harinya Hara libur sekolah karena demamnya belum juga turun, tetapi ketika orangtunya mengajak ke rumah sakit dia menolak dan ingin istirahat di rumah saja.

Mengetahui Hara tidak masuk sekolah karena sakit membuat Narendra dan Nino sangat khawatir dengan keadaan cewek itu sehingga tanpa janjian mereka akan menjenguk Hara di rumah cewek itu nanti.

Sementara itu, Juan sangat merasa bersalah sampai dia tidak fokus saat mengikuti pelajaran sampai berapa kali ditegur guru karena mendapati dirinya melamun. Semalam dia dimarahi habis-habisan sama papanya karena papanya itu sudah tahu kalau dirinya mengumpat Hara. Juan bahkan tidak bisa tidur karena mendapat hukuman dan dia tidak marah karena tahu dirinya salah.

Juan sudah coba mengirim pesan ke nomor Hara, tetapi sayang sekali nomornya ternyata diblokir oleh cewek itu.

"Gue nyesel," gumamnya sambil merebahkan kepala ke meja.

"Makannya kalau ngomong itu otak dipakai mikir!" sindir Nino yang sangat kesal dengan sahabatnya.

"Namanya juga keceplosan karena emosi," jawab Juan.

"Halah basi!" Nino menggerutu.

"Lo memang kurang ajar banget sih, Bos. Kali ini gue nggak ada di pihak lo," kata Gilang yang ikut marah dengan Juan.

"O'on kok dipelihara," sindir Dhimas sambil asik mengupil.

"Kalian bisa diam?" Juan menatap sahabatnya tajam.

"Ck!" mereka berdecak kemudian pergi meninggalkan Juan seorang diri, malas berbicara dengan sahabatnya itu lagi.

Juan memukul meja dengan begitu kesal kemudian membenturkan dahinya berkali-kali di sana. "Bodoh, gue emang bodoh banget." Dia memutuskan pergi ke rumah Hara nanti untuk meminta maaf kepada cewek itu. Semoga saja Hara mau bertemu dengannya dan memberi maaf walau dia tidak yakin bisa mendapatkan maaf dari cewek itu.

Bel pulang sekolah berbunyi dan semua murid langsung berkemas kemudian meninggalkan sekolah walau ada yang tinggal karena punya kepentingan di sana.

Nino buru-buru menghampiri motornya di parkiran, memakai helm kemudian melaju dengan kecepatan tinggi pergi ke rumah Hara menggunakan motor karena kebetulan mobilnya sedang dipinjam ayahnya. Saat sampai di rumah Hara, Nino dibuat terkejut karena melihat ada motor Narendra di sana.

"Kok si Rendra bisa tahu rumah Hara? Apa mungkin mereka sudah kenal lama dan gue nggak tahu tentang itu?" gumamnya penasaran.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

umi09l

umi09l

lanjut thor kepo nih 😌😌

2023-05-21

1

dimas naufal

dimas naufal

reader jg penasaran pke banget lg ....lnjut thor

2023-05-21

1

miyura

miyura

sama nino saya juga penasaran ada hubungan apa hara ama narendra....lanjut.

2023-05-21

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!