"Mana duit sepuluh juta yang lo janjiin mau dikasih buat gue kemarin?" Juan menengadahkan tangan dan menatap sengit Hara. Mereka saat ini sedang duduk di pinggir kolam renang rumah Juan atas permintaan kedua orangtua mereka yang meminta untuk saling mengenal lebih dekat.
"Udah gue transfer tadi sebelum ke sini." Hara menjawab sewot tanpa mau menatap cowok di sampingnya.
"Gue nggak mau ditransfer, gue maunya uang tunai. Eh, tapi lo kok bisa tau nomor rekening gue sih, perasaan gue belum ngasih nomor rekening gue ke lo?" Juan langsung menatap Hara dengan penuh interogasi, mau cosplay jadi Detektif Conan tapi kok langsung gagal.
"Eh, kok lo jadi ngelunjak gini sih? Masih mending gue mau ganti rugi, lagipula kan udah terlanjur gue transfer tadi, kalau lo mau ambil jadi uang tunai, pergi ke ATM sendiri 'kan bisa!" Lagi-lagi Hara sewot, rasanya dia memang tidak akan pernah bisa bicara santai dengan makhluk tampan bernama Juantariksa Haidar itu.
"Gue nggak mau, gue maunya uang tunai. Gue bakal transfer balik uangnya dan lo harus ganti pakai tunai, titik nggak pakai koma apalagi spasi!" teriak Juan tepat di telinga Hara, beruntung jarak kolam renang dengan ruang tamu cukup jauh sehingga teriakan Juan tidak akan terdengar sampai dalam.
"Lo udah gila ya? Udah ada yang mudah malah milih yang susah. Sumpah ya gue nyesel banget kenal sama lo, rasanya pengen banget lempar lo ke galaksi lain tau nggak?" Hara mengusap-usap telinganya yang berdengung karena teriakan Juan tadi.
"Nggak tau," balas Juan sambil bersedekap dada.
"Ngeselin banget sih jadi cowok, lo ribetnya ngalahin cewek banget sumpah!" Hara sampai bergidik ngeri.
"Gue nggak peduli sama penilaian lo!" Juan tiba-tiba menjitak pelipis Hara.
"Eh, tangan lo!"
"Ih tingin Li!" Juan malah meledek Hara dengan senang hati.
"Dih nggak jelas!"
"Iya nggak jelas kaya lo!" Juan tersenyum sinis.
"Gila lo ya!"
"Iya kaya, lo," balas Juan lagi semakin membuat Hara kesal setengah mati.
Hara pun akhirnya memilih beranjak berdiri dan berniat masuk ke rumah untuk bergabung dengan keluarganya yang lain. Bisa gila dia kalau berlama-lama berduaan dengan Juan seperti sekarang, kesabarannya yang setipis sehelai rambut dibelah menjadi tujuh bagian itu benar-benar akan meledak-ledak kalau terus-menerus menanggapi Juan.
Baru juga satu langkah dia berjalan, Juan tiba-tiba menarik tangannya dengan kencang.
"Apaan sih, Lo?" Hara menepis tangan Juan dengan begitu kasar.
"Bayar dulu!" tagih Juan lagi.
"Besok!"
"Gue maunya sekarang, Hara!" tekan Juan memaksa.
"Tapi gue nggak mau sekarang, gue maunya besok!" sentak Hara geregetan sendiri.
"Bayar atau gue cium lo di sini?" Juan tersenyum smirk sambil menatap bibir Hara yang terlihat sangat menggoda iman.
"Lo jangan kurang ajar, nanti gue aduin ke Om Reno biar lo disunat dua kali mau!" Hara mundur beberapa langkah karena Juan berjalan pelan ke arahnya.
Byur!
"Sial," umpat Hara yang kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh ke kolam renang yang airnya terasa sangat dingin malam itu.
"Bangsat Lo ya!" teriak Hara lagi memaki dengan kata-kata kasar. "Lo mau bunuh gue atau gimana sih!" teriaknya sambil terbatuk-batuk karena tidak sengaja menelan air ketika tercebur tadi.
"Lo lagi cosplay jadi mermaid ya?" Juan dengan tidak merasa bersalah malah berkata yang tidak-tidak, seperti sengaja membuat masalah dengan cewek cantik, manis, tetapi sifatnya tidak sekalem wajah cantiknya.
"Buaya, lo!" Hara segera naik dari kolam dan tubuhnya bergetar karena kedinginan. "Sumpah ya, gue benci banget sama cowok kaya lo. Harusnya lo nggak usah hidup di dunia ini kalau bisanya cuma nyakitin orang lain, kalau nggak ingat lo itu anaknya teman Papa, pasti gue udah bales perbuatan lo lebih parah dari ini!" Hara dengan kesal menabrak bahu Juan sampai cowok itu mundur beberapa langkah dan berdecak kesal karenanya.
Hara ingin masuk ke rumah Juan, tetapi tidak mungkin dia masuk dengan keadaan yang basah kuyup seperti sekarang. Alhasil, dia memilih menghubungi kakaknya dan mengajaknya untuk segera pulang, beruntung sih tadi ponselnya tidak mati setelah tercebur ke kolam.
"Ya Allah, Sayang. Kenapa kamu bisa basah kuyup seperti ini? Kamu malah berenang ya tadi?" Mama Diandra menatap putrinya sambil menggelengkan kepala pelan.
Padahal yang dihubungi sama Hara itu kakaknya, tetapi yang datang malah semua orang termasuk kedua orangtua Juan juga.
"Didorong sama setan berambut hitam tadi, Ma." Hara melirik Juan yang malah tersenyum sinis padanya.
"Jangan mengada-ada kamu, Sayang. Di sini tidak ada setan," ucap Papa Dika mulai merinding.
"Itu setannya, Pa!" Hara menunjuk Juan yang langsung dadah-dadah mengelak.
"Juan, apa benar yang Hara katakan?" Om Reno menatap anaknya tajam.
"Dia jatuh sendiri, Pa. Katanya mau cosplay jadi Putri Dugong!" jawab Juan santai, dia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali.
"Juan!" Tante Rita langsung menatap putranya lekat dan mendelik tajam.
"Sudah-sudah masalah ini tidak perlu dibuat besar. Karena Hara sudah basah kuyup dan sekarang juga sudah larut malam, kami sekeluarga pamit pulang saja." Papa Dika menatap Om Reno, meminta izin dengan cara baik-baik karena masalah ini tidak akan berakhir begitu saja kalau tidak ada salah satu yang memilih mengalah.
"Baiklah kalau begitu, kalian hati-hati di jalan. Maaf karena kami malah membuat kalian tidak nyaman," kata Om Reno sambil menepuk pelan bahu Papa Dika.
"Hara sebaiknya ganti baju dulu biar nggak sakit besok. Pakai baju tante yuk!" bujuk Tante Rita yang awalnya langsung ditolak Hara, tetapi karena berbagai macam pertimbangan dan Tante Rita tidak berhenti membujuk, akhirnya mau tidak mau Hara pun mengganti pakaiannya terlebih dahulu, sementara Juan diberi nasihat panjang lebar sama Papa Dika dan Om Reno.
...***...
"Nih duit seratus ribu buat bayar hutang gue sama Lo kemarin!" Hara memberikan selembar uang merah kepada Ella yang sedang duduk santai di kursinya. Setelah itu, Hara duduk di kursinya sendiri kemudian melipat tangan di sana dan dia jadikan sebagai bantal kepala.
Hara merasa sedikit pusing karena kejadian semalam, bahkan dia sempat demam tetapi beruntung demamnya langsung turun setelah dirawat mamanya. Hara sebenarnya dilarang berangkat sekolah sama Papa Dika, tetapi dia keras kepala sekali tetap ingin berangkat karena tidak mau ketinggalan banyak pelajaran. Baginya walau satu hari itu sangat penting sehingga dia tidak mau menyia-nyiakan dengan percuma.
"Lo kenapa kaya orang nggak punya ga*rah hidup begitu?" Ella menatap Hara yang tumben sekali terlihat tidak bersemangat seperti hari-hari sebelumnya.
"Nggak papa."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
miyura
lanjut othor aku menunggumu..
2023-05-14
0