"Haha, si Rani kepedean banget menganggap Juan pacarnya." Arion tertawa terbahak-bahak.
"Dia kan memang begitu sejak awal, suka mengaku-ngaku sesuatu yang bukan miliknya," celetuk Gilang.
"Tukang bully juga kalau lihat ada cewek lain yang ngomongin Juan atau muji-muji Juan karena kagum."
"Iya nih tuh cewek sok kecakepan dan kepedean banget deh. Nggak punya malu keknya!" kata Arion lagi.
"Dia kan memang nggak tau malu."
"Hahaha, centil banget juga jadi cewek."
Itu adalah kata-kata yang diucapkan teman sekelas Juan, sebenarnya masih banyak yang bicara, tetapi tidak dipedulikan.
"Gue nggak pernah pacaran sama, Lo! Mending Lo pergi dari sini karena muka Lo bikin gue pengen muntah!" perintah Juan tanpa merasa bersalah sama sekali setelah mengatakan kalimat kejam dan menusuk itu.
"Kamu ngusir aku?" Mata Rani berkaca-kaca.
"Lo punya kuping, 'kan? Harusnya gue nggak perlu ngulang perkataan gue barusan sih, kecuali kalau Lo budeg!" Lagi dan lagi Juan berkata dengan begitu sarkas dan ketus kepada Rani.
"Aku bakal aduin kamu ke Daddy biar dia nggak kerjasama lagi sama perusahaan keluarga kamu!" ancam Rani dengan begitu geram.
"Aduin aja, Lo pikir gue takut?" Juan tertawa sarkas kemudian dia tanpa aba-aba merangkul bahu Hara kemudian mencium puncak kepalanya. "Hara pacar gue dan kalau sampai Lo nyari gara-gara sama dia, gue nggak akan segan-segan buat Lo hancur!" kata Juan dengan begitu serius, mengagetkan semua orang di dalam ruangan itu atas pengakuannya yang tidak disangka-sangka.
"Lo kalau ngomong jangan sembarangan!" Hara menjauhkan tangan Juan dari tubuhnya, tetapi Juan malah memeluknya dengan kedua tangan dan tidak mau melepaskannya sama sekali.
"Kita nggak bisa nyembunyiin hubungan ini sama semua orang, Sayang," kata Juan dengan tidak tahu malu.
"Hubungan apa? Gue nggak punya hubungan apa-apa sama, Lo!" teriak Hara frustrasi.
"Kapan Lo nembak dia, Bos?" kepo Gilang yang merasa sangat kecolongan karena tidak mengetahui hal itu.
"Kalian beneran pacaran?" tanya Nino seraya menatap Hara dan Juan bergantian, tetapi tatapannya kepada Hara lebih lama dan entah kenapa dia menatap sendu cewek yang ada di pelukan bosnya itu seolah-olah merasa sedih dan tidak terima.
"Eng ... hmmmm–" Hara mau mengelak, tetapi mulutnya malah dibungkam menggunakan tangan besar Juan.
"Iya, kita pacaran," jawab Juan dengan begitu percaya diri.
***
"Juan sialan, brengsek, nggak punya akhlak, arghhh!" Hara melempar bantal dan guling yang ada di atas kasurnya untuk melampiaskan rasa kesal.
Banyak murid di sekolahnya yang percaya dengan ucapan Juan kalau mereka pacaran, Hara sudah mencoba mengatakan kalau Juan hanya mengada-ada, tetapi sayangnya mereka lebih percaya dengan perkataan Juan daripada perkataannya.
"Lo kesurupan reog, Cil?" Marcel yang baru saja masuk ke kamar adiknya dibuat terkejut mendapati adiknya itu marah-marah dan kamarnya juga sudah seperti kapal pecah, benar-benar sangat berantakan.
"Diam, Lo, Kak!" bentak Hara, melempar bantal ke arah kakaknya.
"Lo kenapa sih?" Marcel heran dengan adiknya yang marah-marah.
"Arghhh, nggak tahu, gue pusing!" Hara kemudian menjatuhkan dirinya di ranjang dengan posisi tengkurap kemudian menangis sesenggukan di sana.
Marcel yang melihat itu pun langsung duduk di tepi ranjang dan mengusap pelan kepala adiknya dengan penuh kasih sayang. Marcel bisa menebak kalau suasana hati adiknya sedang buruk sekarang walau dia tidak tahu apa yang menyebabkan adiknya seperti ini.
Marcel terus mengusap kepala adiknya sampai tangisan cewek itu mereda. Dia bahkan dengan suka rela membuka tangannya lebar-lebar ketika Hara beranjak duduk kemudian menghambur ke dalam pelukannya, membenamkan wajah di dada dan melanjutkan menangis di sana.
"Gue kesel, Kak," katanya lirih.
"Kesel kenapa?"
"Dari pagi di sekolah tuh ada aja yang ngajak ribut sama gue. Udah tau gue lagi sakit tapi mereka malah bikin gue emosi." Hara mendongak, menatap wajah tampan kakaknya dari bawah. "Belum juga seminggu gue pindah sekolah, tapi batin gue disiksa mulu," katanya semakin mengeratkan pelukan di tubuh sang kakak.
"Banyak-banyak sabar aja deh, Dek!" Marcel mencium puncak kepala Hara beberapa kali.
"Nggak bisa!"
"Lo pasti bisa, kendaliin emosi Lo mulai sekarang. Banyak-banyak berdoa dan mengingat Tuhan kalau Lo mau marah. Kakak nggak suka lihat kamu yang seperti sekarang, padahal dulu kamu nggak begini." Marcel mengendurkan pelukan mereka kemudian mengapit kepala Hara menggunakan kedua tangannya. "Hara yang kakak kenal nggak seperti ini," katanya kemudian mencium dahi dan kedua pipi Hara bergantian.
"Gue mau pindah sekolah lagi aja, Kak," kata Hara tiba-tiba.
"Jangan!" Marcel langsung melarang.
"Kenapa?"
"Kasihan Papa dan Mama kalau sibuk nyari sekolah baru buat Lo, Dek." Marcel mencubit kedua pipi adiknya gemas. "Lo harus betah sekolah di sekolah yang sekarang, nggak usah peduli sama orang-orang yang nggak suka dan selalu nyari gara-gara sama, Lo. Abaikan saja mereka karena kalau Lo terus-menerus nggak peduli sama mereka, lama-lama mereka pasti akan capek sendiri dan berhenti gangguin, Lo!" kata Marcel panjang lebar. Andai mereka satu sekolah, pasti dirinya bisa melindungi Hara, tetapi sayang sekali mereka bersekolah di tempat yang berbeda.
"Tapi mereka ngeselin, kenal aja enggak tapi bikin emosi mulu." Hara manyun.
"Abaikan!"
"Nggak bisa!"
"Harus bisa karena adik gue keren." Marcel memainkan pipi adiknya kemudian memeluk lagi sebentar. "Malam ini Lo tidur di kamar gue, biar kamar Lo diberesin dulu sama Bibi!" pinta Marcel yang disetujui Hara.
Mereka berdua kemudian keluar dari kamar Hara dan masuk ke kamar Marcel.
"Lo mau tidur di mana, Kak?" tanya Hara yang sekarang sudah berbaring di ranjang Marcel.
"Sofa, kalau enggak di kamar tamu nanti. Lo buruan tidur, jangan begadang karena Lo baru aja sembuh!" Marcel menyelimuti Hara sampai sebatas leher kemudian mencium dahinya dengan penuh kasih sayang. "Night, dear!"
"Night too." Hara tersenyum kemudian dia memejamkan mata dan tidak lama setelahnya langsung terlelap dengan pulasnya.
Setelah melihat adiknya tidur, Marcel langsung mematikan lampu utama dan membuatkan hanya lampu tidur temaram yang hidup. Dia menatap adiknya sekilas sambil mengulas senyum tipis. Setelah itu, Marcel berjalan keluar dari kamar, menutup pintu perlahan dan dia pergi ke kamar tamu untuk mengistirahatkan diri di sana.
"Kalau niat Papa sama Mama benar-benar dilakukan, itu artinya Hara akan segera pergi dari rumah ini dan tinggal sama keluarga barunya. Padahal adik gue masih kecil, tapi bisa-bisanya Papa sama Mama punya niatan menikahkan Hara." Marcel berbaring di atas kasus dengan kaki menjutai menyentuh lantai, dia menutup matanya dengan lengan tangan kanan sambil memikirkan masa depan adiknya.
"Semoga Lo bahagia selalu, adikku sayang!" gumamnya kemudian tanpa menunggu lama terlelap juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
miyura
lanjut othor...semangat..
2023-05-18
0