"Oke anak-anak, sekarang ulangan matematika akan segera dimulai. Seperti biasa, sistem bapak adalah satu soal langsung dikerjakan dan langsung koreksi saat itu juga. Setelah selesai baru lanjut ke soal berikutnya. Jumlah soal hanya lima, waktu pengerjaan per satu soal hanya lima menit," ucap Pak Botak, guru matematika terkenal paling galak dan tegas, tetapi kadang suka ngelawak juga.
"Masa cuma lima menit, Pak. Buat berak aja nggak cukup," celetuk Ghozi, murid yang terkenal paling tengil di kelasnya Hara.
"Diam kamu Ghozila!" sentak Pak Botak.
"Enak aja panggil saya Ghozila, nama saya Ghozi Alwansyah, Pak!" protes Ghozi tidak terima. Masa nama yang bagus begitu diganti seenak bakso di warung sebelah.
"Saya tidak peduli. Ulangan akan dimulai dalam hitungan ke tujuh. Satu, dua, tujuh. Soal pertama ...."
"Gila tu si Botak, masa ngitung habis dua langsung tujuh. Katanya guru-guru matematika, masa ngitung gitu doang nggak bisa," gumam Hara yang duduk di barisan paling depan, tetapi di pojok dekat dengan pintu.
Hara tidak kesulitan mengerjakan soal matematika yang tergolong sulit itu. Materi statistika, biasanya banyak murid yang tidak bisa belajar materi matematika yang satu itu karena ribet dan bikin pusing. Namun, bagi Hara itu tidak cukup sulit walau dia juga tidak terlalu pintar matematika.
Waktu terus berlalu, banyak murid di kelas itu yang berdecak kesal karena pusing dengan ulangan dari Pak Botak, tetapi empat puluh lima menit kemudian semuanya berhasil selesai walau harus ada tambahan waktu lima belas menit dari yang seharusnya.
"Pak, seriusan ini nilai saya sepuluh? Perasaan tadi ada yang saya jawab salah," protes Hara, padahal yang mengoreksi adalah teman beda bangku.
Pak Botak awalnya tidak mau peduli, tetapi akhirnya dia mengambil kertas Hara kemudian mengeceknya. "Ngakunya murid bodoh, ternyata kamu pinter juga," puji Pak Botak sambil mengacungkan jempol.
Hara berdecak kesal, niatnya mau pura-pura jadi murid bodoh, tetapi malah dia lupa mengerjakan semuanya dengan mudah.
Setelah ulangan selesai, mata pelajaran langsung berganti dan Hara malah sibuk tidur karena mengantuk mendengar penjelasan tentang fisika.
Waktu istirahat tiba, Hara buru-buru pergi ke kantin karena dia lapar.
"Hara!" panggil Nino yang tiba-tiba datang menghampirinya. Tapi, Hara tidak tahu namanya.
"Lo siapa?" tanyanya judes.
"Gue Nino, temannya Juan," jawab Nino sambil tersenyum hangat.
"Juan itu siapa? Gue nggak kenal," ucap Hara lagi karena dia memang tidak punya teman bernama Juan.
"Juantariksa Haidar, cowok yang mobilnya Lo buat penyok tadi pagi," katanya menjelaskan.
"Oh." Hara acuh tak acuh, dia memilih melangkah cepat meninggalkan Nino kemudian memesan mie ayam di kantin itu. "Mbak, mie ayam dua porsi, mienya setengah matang tanpa daun bawang!" teriaknya pada mbak-mbak kantin penjual mie ayam.
"Siap, ditunggu," seru mbak kantin bahagia.
"Oke." Hara mengacungkan dua jempol sebagai tanda setuju.
Hara kemudian duduk di bangku kosong yang ada di sana dan Nino pun ikut duduk di sana. "Lo ngapain ikut duduk di sini?" tanyanya sewot, tidak suka dengan cowok yang sok kenal dan sok dekat dengannya.
"Lo murid baru, ya?" tanya Nino mengabaikan pertanyaan Hara yang sebelumnya.
"Bukan urusan, Lo," ketus Hara sama sekali tidak tertarik menjawab pertanyaan Nino.
"Judes banget sih, padahal gue tanya baik-baik." Nino masih tersenyum, jujur saja senyumannya itu sangat manis, rasanya gula saja kalah dengan manisnya, apalagi Nino punya dimple.
"Bodo amat." Hara tidak peduli.
"Dahi Lo luka, 'kan. Nih gue bawa plester buat, Lo!" Nino memberikan dua plester luka dengan merk inisial H ke depan Hara. "Gratis," katanya lagi.
"Kok Lo perhatian banget sama gue? Jangan-jangan Lo punya niat terselubung?" tuduh Hara sok waspada.
"Nggak kok." Nino menggeleng pelan. Dia mengambil kembali plester yang sempat dia berikan kepada Hara tadi kemudian dia buka dan dia tempelkan ke dahi Hara yang terluka. "Cepat sembuh ya, gue pergi dulu," katanya kemudian langsung kabur begitu saja.
Hara masih bengong karena perlakuan manis cowok itu, tetapi ketika kesadarannya kembali, dia langsung menggeleng kemudian mencebik kesal, merasa heran dengan tingkah cowok bernama Nino tadi.
Dua porsi mie ayam terhidang di mejanya, Hara menarik satu mangkok kemudian menambahkan sambal dan langsung melahapnya setelah berdoa. Dia memang tipe orang yang suka rasa original dan bumbu tambahan hanya sambal saja, dia tidak suka kecap ataupun saos karena menurutnya itu sangat merusak citarasa yang asli.
Saat dia sedang asik makan porsi kedua, tiba-tiba saja seseorang menuangkan banyak saos dan kecap juga sambal di mangkoknya. Hara langsung mendongak untuk melihat siapa yang telah lancang mengganggunya, tetapi ketika dia baru saja mendongak, tiba-tiba wajahnya langsung disiram menggunakan jus jeruk.
"Cewek sok kecakepan kaya Lo emang pantes diginiin," ucap seorang cewek dengan penampilan berlebihan menurut Hara. Hara bahkan tidak kenal dengan cewek sok kecakepan itu.
"Lo apa-apaan sih, kenal sama gue aja nggak, main siram segala!" sentak Hara tidak terima.
Sentakannya membuat beberapa pengunjung kantin memerhatikan mereka sambil berbisik-bisik.
"Gue Rani, cewek paling terkenal di sekolah ini." Cewek itu memperkenalkan dirinya dengan begitu sombong. Oke, Hara akui kalau wajah Rani memang lumayan cantiknya, tolong digaris bawahi 'lumayan'.
"Lo pikir gue peduli?" Hara tersenyum sinis, dia tidak takut dengan cewek sok kecakepan itu.
"Lo!" Rani menuding wajah Hara dengan jari telunjuknya yang dengan cepat langsung Hara tepis dengan gerakan kasar.
"Apa?" sentak Hara kesal.
"Ngeselin banget!" sentak Rani emosi.
"Gue nggak punya urusan ya sama, Lo. Jadi, Lo nggak usah nyari gara-gara sama gue! Kenal aja enggak, malah nyari gara-gara. Lo caper banget jadi cewek, jijik gue lihatnya!" sentak Hara menatap sinis cewek itu.
Byur!
Tiba-tiba saja Rani kembali menyiram wajah Hara, kali ini menggunakan jus alpukat yang jelas-jelas kental sehingga menempel di wajah Hara.
"Rasain!" Hara mengangkat mangkok mie miliknya dan melemparkan isinya ke wajah cewek bernama Rani tadi.
Semua orang yang ada di kantin sangat terkejut karena perbuatannya, tetapi mereka hanya menonton tanpa berniat menolong salah satu dari mereka. Justru, beberapa dari mereka terlihat senang melihat ada orang yang membalas perbuatan jahat Rani.
"Aaa, mata gue perih banget. Tolongin gue!" teriak Rani sambil merintih kesakitan.
Sementara itu, Hara langsung mengambil uang dan membayar mie miliknya tadi kemudian pergi begitu saja meninggalkan kantin. Dia akan membasuh wajahnya ke kamar mandi.
Tanpa banyak orang sadari, seorang cowok memerhatikan perbuatan Hara sambil tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments