Setelah selesai berurusan dengan para cewek itu, Hara langsung menarik napas panjang kemudian mengembuskan perlahan. Kalau dia sehat, dia pasti akan membalas Rani bukan hanya dengan kata-kata, tetapi kepalanya yang baru saja sembuh dari pusing membuatnya tidak berniat mencari keributan dengan Rani. Rani itu selalu saja mencari gara-gara dengannya, bahkan tanpa tahu apa-apa mengatakan kalau dirinya cewek murahan. Sebenarnya di sini yang murahan itu Hara atau Rani sih.
Hara tahu kalau Rani tidak mungkin tinggal diam sehingga dia langsung berinisiatif berdiri dan menarik tangan Rani kemudian membawa cewek itu menuju ke kelas Juan.
"Lepasin tangan gue!" Rani menarik-narik tangannya, tetapi sayang sekali tidak bisa terlepas dari cengkeraman Hara karena Hara menggenggam pergelangan tangannya erat sekali. "Lepasin tangan gue, anj*ng!" Rani masih menarik-narik tangannya, tetapi sekali lagi Hara tidak melepaskannya.
"Santai aja, tangan Lo nggak akan gue bikin patah, kok." Hara tersenyum miring, dia tidak peduli dengan Rani yang terus memberontak dan berteriak-teriak meminta dilepaskan.
"Lo mau bawa Rani ke mana woy?" tanya Thalita yang membuntuti mereka.
"Yang nggak berkepentingan nggak usah ikut campur!" sentak Hara galak sekali sampai membuat Thalita bergidik dan tersentak kaget.
Hara terus menyeret Rani sampai mereka masuk ke kelas Juan di mana kelas itu sangat ramai oleh murid-murid cowok yang bisa dibilang berandal dan nakal, walau banyak dari mereka yang sebenarnya sangat pandai, cuma minim akhlak saja. Kedatangan mereka tentu saja membuat seisi kelas itu kepo, apalagi melihat kalau Rani terus memberontak meminta untuk dilepaskan.
"Ngapain Lo ke sini, Nyet?" Gilang menghadang langkah Hara yang berjalan cepat menuju tempat duduk Juan.
"Minggir kalau mau burung Lo aman!" teriak Hara yang dengan beraninya membentak Gilang. Cowok kedua yang paling disegani di sekolah mereka.
"Woles girl!" Gilang mencubit pipi Hara gemas, tetapi tangannya langsung ditepis kasar oleh Hara.
"Nggak usah pegang gue, Bangsat!" Hara mendelik kesal, sementara Gilang malah tertawa sinis sambil bertepuk tangan.
"Keren banget Lo jadi cewek, gue suka kaya Lo, manis!" Gilang mencolek dagu Hara dan lagi-lagi tangannya langsung ditepis kasar.
"Minggir!" Hara menatap tajam Gilang yang menggeleng tidak mau minggir. "Minggir, Bangsat!"
"Mulut Lo, njir!" Arion yang ikut nimbrung langsung menampar pelan mulut Hara, benar-benar pelan karena dia tidak berniat membuat Hara terluka.
Hara menatap Arion sengit, niatnya masuk ke kelas itu untuk menemui Juan, tetapi dua cecenguk itu malah menghalangi dan membuat rasa kesalnya naik berkali-kali lipat. Hara kemudian menoleh ke belakang di mana Rani berdiri di sana dan tanpa peringatan Hara menarik kencang tangan Rani ke arah depan sehingga tubuh besar Rani langsung menabrak Gilang juga Arion dan membuat ketiganya jatuh terduduk di lantai kelas yang dingin.
"Anj*ng, Lo!" maki Gilang sambil mendorong tubuh Rani yang menindih tubuhnya dan Arion. "Bangun dari tubuh gue, Bangsat!" teriaknya dengan begitu marah.
"Lo makan berapa karung, dah! Berat banget kaya gajah!" maki Arion yang merasakan kakinya sakit karena tertindih tubuh besar Rani.
"Lo yang gajah!" balas Rani memaki Arion karena tidak terima.
"Lo berani sama gue!" Arion langsung mendorong kasar tubuh Rani sehingga cewek itu tersungkur.
"Lo ke sini mau ngapain sih, Ra?" Nino yang awalnya duduk langsung berdiri dan berjalan menghampiri Hara. Dia bertanya dengan nada lembut kepada cewek itu sampai membuat seisi kelas heboh karenanya. "Lo ada urusan sama orang di kelas ini?" tanyanya lagi ketika Hara hanya diam sambil menatapnya datar. "Jawab pertanyaan gue!" pinta Nino masih dengan nada lembut.
Bukannya menjawab, Hara malah mendorong pelan tubuh Nino ke samping kemudian dia melewati cowok itu dan berjalan terus menuju tempat duduk Juan yang penghuninya malah terlihat santai memainkan ponsel seolah tidak peduli dengan keributan yang sedang terjadi di kelasnya.
Nino pasrah saja, dia memerhatikan Hara yang terus berjalan ke satu arah tanpa peduli dengan sekitarnya.
"Juan," panggil Hara dengan suara keras.
"Juan!" teriaknya lagi karena Juan tidak merespon panggilannya sama sekali.
"Juantariksa!" Hara menggebrak meja Juan, tetapi cowok itu enggan menoleh ke arahnya dan tetap sibuk menatap layar ponsel.
"Juantariksa Haidar!" Hara yang kesal merebut paksa ponsel Juan dan berhasil membuat cowok itu berdecak kesal kemudian menatapnya malas.
"Apa sih?" Juan langsung melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lo budeg atau telinga Lo nggak dibawa ke sekolah!" Hara menuding cowok itu karena dia benar-benar dibuat kesal oleh sikap Juan. "Dipanggil sekali tuh jawab, bukan malah cosplay jadi patung!" maki Hara dengan menggebu-gebu.
Juan merotasikan bola matanya kemudian berdiri tepat di depan Hara sampai-sampai membuat Hara mendongak untuk menatapnya. "Gue denger, tapi gue nggak peduli sama Lo. Kenapa Lo ke sini? Udah siap jadi babu gue selama satu bulan?" Juan menunduk, menatap lekat mata cewek yang lebih pendek darinya itu. Tinggi Hara hanya sebatas bahunya.
"Urus cewek Lo baik-baik supaya dia nggak nyari masalah mulu sama gue!" Hara menunjuk Rani yang sudah berhasil berdiri walau masih saja ribut dengan Gilang dan Arion.
"Gue nggak punya cewek," ucap Juan santai.
"Tapi dia bilang kalau Lo cowoknya dan dia nggak suka Lo dekat sama gue. Bilangin ke dia kalau kita bahkan saling membenci satu sama lain dan nggak punya hubungan apa-apa! Sumpah gue nggak mau nyari gara-gara sama cewek nggak ada akhlak kaya dia yang main labrak-labrak aja tanpa tau apa-apa!" Hara bicara dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya, jujur dia ingin marah-marah, tetapi takut tenaganya akan terkuras habis saat itu juga.
"Tapi faktanya kita punya hubungan spesial," ucap Juan dengan begitu santai.
"Juan, kamu punya hubungan apa sama cewek murahan ini?" Rani langsung menyahut dan tidak terima dengan pengakuan Juan.
"Nggak usah kepo!" Juan menatap Rani dengan begitu jijik karena cewek itu selalu mengaku-ngaku sebagai pacarnya kepada semua orang, padahal pada kenyataannya tidak seperti itu. Bahkan Juan sangat tidak menyukai Rani yang dengan tidak tahu dirinya menyebut diri sendiri sebagai pacarnya. Rani mungkin memang cukup populer, tetapi hal itu tidak membuat Juan suka padanya.
"Kamu kok kasar sih sama aku? Aku ini pacar kamu!" Rani merengek, bergaya sok imut yang membuat Hara dan Juan mual melihatnya.
"Sejak kapan kita pacaran?" sarkas Juan, "perasaan gue nggak pernah tuh nembak Lo," lanjutnya dengan suara keras sehingga bisa didengar seisi kelas.
Mereka langsung menatap Rani dengan tatapan mengejek.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
miyura
si hara bar2 banget ..tapi saya suka dengan sifat hara....lanjut up nya semangat othor..
2023-05-17
1
dimas naufal
malu pake banget...skak mat
2023-05-17
1