Esok harinya, Renatta berangkat kerja seperti biasanya. Meski tak semangat seperti kemarin, ia harus tetap berangkat jika tak mau dipecat.
Sesampainya di kantor, Ozy menyapanya tapi hanya disapa balik dengan senyuman tipis penuh kepalsuan. Ozy jadi terheran-heran karenanya. Karena dalam sehari sikap Renatta bisa berubah begitu saja. Ia langsung mengira kalau apa yang dialami Renatta adalah ulah Regan. Ozy pergi ke ruangan Regan. Tapi Renatta tak terlihat disana. Padahal tadi ia sudah saling sapa di lobi kantor.
Ozy langsung masuk saja ke ruangan Regan. Namun, ia dibuat terkejut dengan wajah Regan yang tak terlihat bersemangat dan seperti begadang semalam.
"Astaga! Matamu kenapa Regan? Seperti panda saja! Tadi aku melihat Renatta yang tidak semangat. Sekarang aku melihat kamu yang seperti itu. Sebenarnya ada apa?"
Regan diam tak bicara. Ia hanya mengangkat bahunya tidak tahu. Padahal ia sengaja menyembunyikan patah hatinya ke Ozy.
"Sana pergi ke ruangan mu saja. Nanti Pak Beno malah mencari-cari mu lagi. Oh iya. Berikan ini ke Natta. Jangan buka isinya. Atau kamu akan tamat!" ancam Regan ke Ozy.
Ozy jadi merinding dan ia pun menuruti perintah Regan dan keluar dari ruangan Regan. Saat ia keluar, Renatta sudah duduk di tempatnya.
"Ini dari Regan."
"Itu apa?" tanya Renatta yang penasaran.
"Entah, aku dilarang membukanya. Aku kembali ke ruanganku dulu."
Renatta mengangguk. Setelah kepergian Ozy, Renatta tampak membuka kertas yang tadi dibungkus oleh plastik berwarna hitam. Rupanya isinya nota pembayaran cincin berlian juga surat-surat pembeliannya.
"Wah, rupanya dia benar-benar mau aku untuk menjual cincin ini kembali. Nanti malam deh, aku akan mendatangi tokonya. Semoga ketika nantinya aku jual lagi, harganya tidak akan turun terlalu jauh."
*
*
Sepulang kerja, Renatta langsung pergi ke mall tempat Regan membeli cincin berliannya. Rupanya toko itu adalah toko yang sama dimana Devan membeli cincin berliannya. Renatta menghela napasnya kemudian mulai mengobrol dengan si penjaga toko. Prosesnya sangat cepat karena nama Regan sangat terkenal disana. Apalagi Regan sudah menjadi pelanggan tetap disana. Namun, ketika uangnya akan dibayarkan. Si penjaga bertanya akan dikirim ke rekening mana. Tentunya Renatta pun bingung. Ketika mau meminta uang tunai saja, si penjaga bilang tidak bisa. Karena uang tunai disana tidak mencapai uang ratusan juga.
Akhirnya Renatta pun mencoba menelpon Regan. Karena kalau lewat pesan, takut Regan akan membalas pesannya lama.
"Syukurlah Bapak menerima telepon dari saya. Jadi begini Pak, saya sekarang sedang menjual cincin Bapak, tapi saya bingung uangnya mau dikirimkan kemana. Saya juga kan nggak tahu no rekening Bapak."
"Kirim saja ke rekeningmu."
"Tapi Pak, nanti Bapak malah menuduh saya korupsi uang Bapak lagi. Saya nggak mau. Masalah kemarin yang sama Pak Beno saja Bapak belum percaya sama saya."
"Ya sudah, tidak usah dijual saja. Buang aja cincinnya," ucap Regan.
"Oke, oke, baik, uangnya dikirimkan ke rekening saya. Nanti saya akan terus memberikan laporan kalau saya sudah mendonasikan uang Bapak."
"Hm. Sudah kan?"
"Iya sudah pak. Terima kasih, maaf mengganggu waktu istirahatnya."
Sambungan telepon langsung dimatikan sepihak oleh Regan. Renatta hanya bisa mengelus dadanya. Kemudian ia memberikan no rekeningnya ke si penjaga toko. Tak butuh waktu lama uang pun sudah masuk ke rekening Renatta.
Di sepanjang jalan pulang, Renatta masih terbengong-bengong dengan isi saldo di rekeningnya yang sekarang ada ratusan juga. Ya walaupun bukan uangnya, tetap saja ini termasuk rekor muri. Tak ingin Regan menuduhnya lagi. Renatta langsung menangkap layar dana uang yang masuk ke rekeningnya dan dikirim ke Regan. Bodo amat orang itu mau baca atau tidak. Yang penting ia sudah melakukan tugas dengan baik.
*
*
Hari demi hari, pekan demi pekan telah berlalu. Selama itu juga disela-sela jam kerjanya, Renatta selalu mencari-cari daftar panti asuhan yang minim bantuan. Sampai pada akhirnya ia sudah menemukan 5 panti asuhan yang cocok dan pas untuk menerima bantuan.
Renatta lalu mencari-cari supplier sandang dan pangan untuk nantinya akan dibagikan ke 5 panti asuhan itu. Setelah selesai dan membeli yang dibutuhkan, Renatta lagi-lagi mengirimkan pengeluaran yang ia gunakan ke Regan.
Regan yang sedang mengerjakan membaca berkas kerjasama pun dibuat jadi harus melihat ke arah ponselnya yang terus berbunyi. Bahkan ada mungkin 5 sampai 6 notifikasi.
"Astaga dari siapa sih? Berisik banget!" kesal Regan tapi ia tetap melihat ponselnya.
Rupanya setelah dilihat, pesan itu berasal dari Renatta yang mengirimkan beberapa nota pembayaran serta digunakan untuk apa saja.
"Dia memang berisik! Bukan hanya mulutnya saja tapi tangannya juga membuat keberisikkan."
Regan kembali pada kegiatannya. Namun, baru saja akan dimulai, lagi-lagi sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Apa Bapak di pekan ini ada kegiatan? Saya rencananya akan pergi ke 5 panti asuhan untuk mengantarkan sandang dan pangan beserta uang untuk membantu biaya panti. Bapak kan sebagai donaturnya, Bapak bisa datang kan?
"Haih! Wanita ini, padahal aku sudah menyerahkan sepenuhnya padanya. Kenapa harus mengajakku juga sih."
Regan lalu membalas pesan Renatta.
Aku sibuk. Ada acara. Jadi kamu sendiri saja yang datang.
Pesan balasan pun kembali Regan dapatkan dari Renatta.
Baiklah kalau begitu Pak. Saya akan datang sendiri kesana. Tapi takutnya bapak berubah pikiran. Saya kirimkan ke 5 lokasi panti asuhannya. Semoga hati bapak tergerak. Selamat bekerja.
Setelah membaca pesan tersebut, Regan meletakkan kembali ponselnya. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan Renatta. Padahal wanita itu bisa langsung menemuinya di ruangan, yang jaraknya saja tidaklah jauh. Tapi malah berkirim pesan padanya.
*
*
Waktu pulang kerja pun tiba. Renatta sudah bersiap dengan tas nya yang sudah ia letakkan di salah satu tangannya. Kemudian ia turun menaiki lift dan disana ia berada satu lift dengan Ozy.
"Zy, kamu pekan ini ada kegiatan di luar tidak?" tanya Renatta.
"Nggak sih, kenapa memangnya?"
"Aku mau mengajak kamu untuk ikut dalam acara bagi-bagi donasi. Kamu cukup datang saja. Karena semua donasinya berasal dari Regan."
"Regan?"
Renatta mengangguk.
Ozy agak sedikit terheran-heran. Karena Regan bukanlah orang yang suka membantu orang lain, apalagi menyumbangkan uangnya untuk acara amal.
"Kamu jangan becanda Nat?"
"Beneran deh, aku nggak bohong. Uangnya memang dari Regan. Hasil aku menjual cincin berlian miliknya untuk melamar Amanda, tapi ternyata Amanda memilih yang lain. Daripada dia buang cincinnya, aku mengusulkan untuk dijual dan uangnya untuk disumbangkan. Dan ternyata dia setuju."
Setelah mendengarkan penjelasan dari Renatta, akhirnya Ozy tahu kenapa akhir-akhir ini Regan terlihat tidak bersemangat, selalu sedih, kesal dan bahkan tak nafsu makan. Rupanya cintanya ditolak. Tapi mengingat bagaimana Amanda pada Regan, ia juga jadi kesal ke wanita itu yang seolah-olah memberikan harapan palsu ke Regan. Ia jadi tidak bersimpati lagi ke Amanda.
"Baiklah, aku ikut. Tapi kalau aku mengajak tunanganku, boleh kan?"
"Tentu saja boleh, lebih ramai kan lebih bagus. Aku juga masih membujuk Regan untuk ikut. Tapi jawabannya masih tetap sama."
"Ya sudah biarkan saja dia."
Renatta mengangguk.
Lift sudah berhenti dan pintu pun terbuka. Keduanya keluar dan Ozy berjalan lebih dulu daripada Renatta.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
L B
sama zy, aku juga kesal sama si amandel itu.mosok ia dia udah milih devan tapi masih minta regan yg sedang patah hati untuk menjaga dan melindunginya 😌🙄🙄 mereng dia itu, nggak punya hati 😥. itu juga nggak menjaga perasaan devan namanya 😥😌😌.
2023-05-18
1
Nanda Jihan
up lg
2023-05-17
0