Delapan tahun pun berlalu, Renatta bekerja sebagai sekretaris dari seorang manager di perusahaan elektronik yang bernama AJ Group. Ia mendapatkan pekerjaan itu berkat Devan yang selalu membantunya.
Ya, setelah delapan tahun berlalu pun Devan dan Renatta masih berteman dengan baik. Bahkan Renatta sudah berpindah haluan rasa cintanya. Ia mencintai Devan karena laki-laki itu selalu baik dan selalu ada untuknya. Sayangnya, Renatta tak berani mengungkapkannya. Jadilah, ia hanya bisa mencintai dalam diamnya.
Di siang itu, keduanya janjian makan siang di sebuah restoran. Disana keduanya banyak mengobrol tentang pekerjaan mereka masing-masing. Lebih tepatnya, Renatta lah yang lebih banyak bercerita tentang pekerjaannya.
"Rasanya aku lelah sekali Dev, Pak Beno itu banyak sekali maunya. Bahkan untuk urusan pribadi sampai urusan anak-anaknya saja selalu aku yang memesankan barang-barangnya. Memangnya aku ini asisten pribadinya apa? Aku kan cuma sekretarisnya aja. Rasanya aku ingin berhenti bekerja saja. Tapi kalau berhenti, aku bisa dapat uang darimana? Apalagi masih banyak tanggungan yang harus aku biayai. Huh!"
Devan mengelus puncak kepala Renatta untuk memberikan semangat pada wanita di hadapannya ini.
"Aku percaya dan yakin, seorang Renatta tidak akan menyerah pada pekerjaannya. Dia adalah wanita yang kuat dan tegar sejauh aku mengenalnya. Rasa lelah itu wajar saja kamu rasakan. Karena terkadang aku pun merasa begitu dengan pekerjaanku."
Kata-kata dari Devan selalu saja bisa membuat hatinya lega. Intinya bersama Devan selalu bisa menghilangkan rasa lelahnya dalam bekerja dan masalah dalam hidupnya.
"Lalu bagaimana dengan mamamu, Nat?"
Renatta menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan Devan.
"Entahlah, aku pun nggak tahu. Aku cuma bisa berharap dan berdoa semoga mama cepat sadar dari komanya."
Mama Kamala sejak kecelakaan itu mengalami koma hingga delapan tahun lamanya.
"Semoga sebuah keajaiban datang padanya."
Renatta mengangguk.
"Meski mama mengakui tidak pernah menyayangi aku. Tapi, aku sangat menyayanginya."
"Aku tahu, aku bisa melihat itu dari matamu ketika menceritakan tentang mamamu dan kakakmu."
Ketika keduanya masih asik mengobrol disana. Renatta mendapatkan telepon dari Pak Beno. Ia menghela napas lalu mengangkat telepon tersebut. Setelah beberapa menit berbicara, Renatta pun pamit dari sana.
"Maaf ya Dev, aku harus segera pergi sekarang. Pak Beno menyuruhku untuk pergi ke showroom mobil."
"Iya, hati-hati."
Renatta pun mengangguk lalu keluar dari restoran dan menaiki taksi untuk pergi ke showroom mobil.
Disana Renatta hanya tinggal membayar dan mengurus mobil yang diinginkan oleh anak dari Pak Beno. Padahal kalau dipikir-pikir kenapa bukan pak Beno sendiri yang mengurusnya? Huh! Renatta selalu saja menghela napasnya.
Setelah urusannya disana selesai. Renatta menggerutu sendirian di sepanjang jalan.
"Perasaan baru aja dua bulan yang lalu aku mengurus pembelian mobil untuk anak pertamanya. Kini aku harus melakukan itu lagi. Memangnya kemana mobilnya yang dulu? Bahkan mobil yang dibeli kali ini lebih mahal 2 kali lipat dari sebelumnya. Kalau untuk biaya hidupku, itu bisa untuk bertahun-tahun lamanya daripada untuk membeli mobil yang digunakan untuk pamer."
Di saat menggerutu itu, Renatta kembali mendapatkan telepon. Tapi bukan dari Pak Beno melainkan dari kakaknya.
"Ada apa kak?" tanya Renatta.
"Nanti malam kakak tidak pulang ke rumah. Kakak ada pekerjaan di luar kota. Jadi, kamu tidak usah siapkan makanan untuk kakak."
"Berapa hari kakak disana?"
"Em, mungkin dua sampai tiga hari."
"Baiklah, jaga kesehatan kakak disana. Jangan makan sembarangan. Jangan lupa juga minum obat secara teratur. Kalau sudah merasa lelah, kakak harus istirahat jangan memaksakan diri. Paham kan kak?"
"Iya, iya, kakak tahu Natta. Kamu ini cerewet sekali sih! Kalau begini jadinya, kakak malah terlihat seperti adik kamu tahu."
"Aku hanya ingin kakak tetap sehat. Karena saat ini cuma kakak yang aku punya di dekatku. Mama kan koma di rumah sakit. Papa mendekam di penjara. Hanya kakak yang jadi alasanku untuk semangat berjuang."
Mendengar ucapan tulus dari Renatta, Nesha merasa sangat terharu.
"Iya, iya, kakak akan selalu ingat kata-katamu. Kakak akan tetap sehat agar selalu bisa menemani kamu. Sudah dulu ya, kakak mau siap-siap dulu sebelum berangkat."
"Iya kak, hati-hati di jalan."
Sambungan telepon pun selesai. Renatta langsung pergi ke kantor dan melakukan tugasnya.
Jam pulang kerja pun tiba, Renatta merapihkan pekerjaannya lebih dulu sebelum pulang. Ketika sudah ada di depan perusahaan, mobil Pak Beno berhenti di hadapannya.
"Naik, aku akan mengantarmu pulang," pintanya.
"Tidak usah pak, saya tidak akan pulang, karena sudah ada janji dengan teman," ucapnya dengan menolak secara sopan. Padahal itu hanya alasan Renatta saja, karena ia tidak mau diantar oleh Pak Beno yang sedikit genit itu.
"Ya sudah. Oh iya, jangan lupa besok kamu harus berangkat kerja lebih pagi dan dandan yang cantik. Kamu pasti tidak lupa kan? Kalau besok adalah kedatangan CEO perusahaan kita yang baru."
"Baik Pak."
Kaca mobil Pak Beno pun tertutup dan mobil itu melaju dan hilang dari hadapannya.
"Bilang saja kamu ingin melihat aku pakai pakaian yang seksi! Huh! Dasar tua bangka! Kalau saja aku tidak butuh uang, mungkin aku tidak akan mau bekerja denganmu."
*
*
Tririrng .....
Bunyi alarm membangunkan Renatta dari tidur pulas nya. Ia segera beranjak dari ranjangnya dan membersihkan tubuhnya.
Renatta mengenakan pakaian setelan jas dengan rok setinggi lutut berwarna peach. Tak lupa ia pun mencepol rambutnya dan membiarkan rambutnya terurai di bagian depan selain poninya. Untuk sentuhan terakhir, Renatta memoles wajahnya dengan riasan yang natural.
Selesai bersiap, Renatta menangis tasnya di atas ranjang kemudian pergi dari rumahnya.
Ketika memasuki gedung tempatnya bekerja, para karyawan sudah berkumpul disana. Beberapa dari mereka membicarakan CEO baru yang katanya masih muda, tampan dan masih lajang. Di saat yang lain, terus membicarakan CEO itu, Renatta tak tertarik sedikit pun. Ia hanya berada disana karena untuk menyambut CEO baru mereka.
Sebuah mobil merk terkenal berhenti di depan gedung perusahaan. Kemudian pintu mobil pun terbuka dan memperlihatkan Regan, cinta pertama Renatta lah yang muncul dari sana.
Renatta terus berpikir di dalam otaknya dan menduga-duga kalau Regan lah CEO barunya. Ia hanya bisa diam karena teringat Regan yang tak mau lagi bertemu dengannya. Tapi, di keadaan seperti ini, sangat tidak mungkin ia pergi karena bisa saja ia dimarahi oleh Pak Beno.
Regan berjalan dengan gaya cool dan penuh karisma. Para karyawan dibuat terpana oleh ketampanannya. Namun, mata Regan tiba-tiba melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Siapa lagi kalau bukan Renatta. Renatta yang dilihat begitu menundukkan kepalanya.
Tapi, Regan langsung tetap bersikap dingin seolah tak mengenal Renatta.
Penyambutan CEO baru itu pun berjalan dengan lancar. Renatta bernapas lega karena akhirnya ia sudah tidak lagi berada di tempat yang sama dengan Regan. Bahkan ia sampai menaruh tangannya di dada karena sakit gelisah nya.
Namun, rupanya nasib baik tak datang padanya. Karena Renatta dipanggil Pak Beno untuk menemaninya bertemu dengan CEO baru.
"Malangnya nasibmu Natta! Huh! Bagaimana ini?"
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
LENY
SEMOGA REGAN TAHU YG SEBENARNYA BAHWA BUKAN RENATA YG MELEMPAR LAP TOP NYA DULU TAPI AMANDA.
2023-11-25
0
Chu Shoyanie
Regan GK tau Renatta sudah jauh berubah sgt baik....
2023-05-20
1
bibi
lanjut aja
2023-05-15
0