Di sekolah, Renatta membuat onar lagi, karena para wanita terus mengangumi ketampanan Regan ketika laki-laki itu bermain basket. Ia bahkan mengusir semua wanita yang menonton di kursi paling depan. Hal itu membuat semua orang langsung bersorak padanya, Renatta tidak peduli.
Selesai pertandingan basket, Renatta berniat untuk memberikan handuk kecil juga air mineral ke Regan, tapi Regan lebih dulu menghampiri Amanda dan menerima handuk kecil dan air minum dari Amanda. Renatta terbakar api cemburu dan amarah. Ia pun meninggalkan handuk kecil dan air mineral disana begitu saja.
"Kenapa sih? Harus selalu Amanda, Amanda dan Amanda? Sejak aku kecil, papa selalu memberikan perhatian ke Amanda, bahkan ketika SD, SMP, dan kini SMA, perhatian yang aku inginkan selalu tertuju ke Amanda. Apa bagusnya sih wanita itu!"
Renatta menggerutu kesal, karena ia selalu dikalahkan oleh Amanda yang menurutnya biasa saja. Padahal nyatanya, Amanda memang lebih baik sikapnya daripada dirinya yang kasar dan suka menghina orang. Bahkan membuat orang jadi pindah sekolah karena perlakuan kasarnya.
*
*
Waktu pulang sekolah pun tiba, Renatta sengaja menunggu Amanda di dekat halaman sekolah, dimana Amanda akan lewat kesana untuk pergi ke gerbang sekolah menunggu jemputan dari supirnya.
Dengan sengaja pula, Renatta membuat jebakan dari tali agar Amanda terjatuh. Benar saja, jebakan itu berhasil.
Renatta tertawa senang kegirangan. Sementara Amanda terus merintih kesakitan karena lututnya berdarah terkena paving blok halaman.
Regan yang rupanya masih belum pulang pun melihat itu dan membantu Amanda dengan menggendong Amanda ala bridal style menuju ke gerbang sekolah karena mobil jemputan Amanda sudah tiba. Regan meminta supir Amanda untuk tidak langsung menjalankan mobilnya karena ia akan mengobati luka Amanda lebih dulu. Setelah selesai mengobati luka dari Amanda, Regan pun membiarkan Amanda pergi dan ia kembali ke halaman.
Rupanya Renatta masih ada disana, dengan kakinya yang masih dihentak-hentakkan juga rasa kesal yang masih menyelimuti hatinya karena lagi-lagi rencananya selalu gagal. Karena terlihat oleh Regan.
"Kamu sudah keterlaluan Nat! Kamu tega menyakiti teman kamu sendiri hingga membuat lututnya berdarah! Apa kamu punya hati? Oh, iya aku lupa. Kamu kan wanita jahat. Jadi mana mungkin punya hati."
Regan berlalu pergi setelah mengatakan kata-kata yang menyayat hati Renatta.
Apa tadi katanya? Dirinya tak punya hati? Lalu bagaimana ia bisa menyukai Regan kalau tak punya hati?
Renatta pulang ke rumahnya dengan kekecewaan yang ia bawa.
*
*
Sesampainya di rumah, Renatta dikejutkan dengan papanya yang tiba-tiba dibawa oleh polisi. Renatta menangis menanyakan apa yang terjadi pada papanya. Namun, papanya tetap bungkam dan malah polisi yang menjawabnya.
"Papa Anda ditangkap karena telah terbukti menyalahgunakan dana perusahaan. Maka dari itu, kami harus membawanya ke kantor polisi untuk ditindaklanjuti sesuai aturan dan hukum yang berlaku."
Renatta menatap papanya dan meminta penjelasan dari sang papa kalau apa yang diucapkan oleh polisi itu tidak benar. Tapi papanya masih diam dan menunduk.
Polisi terus membawa papanya keluar dari rumah. Renatta mengejarnya, tapi sayang mobil polisi sudah jauh dari jangkauannya. Ia pun masuk kembali ke rumah, meminta penjelasan juga ke mama dan kakaknya. Namun, apa yang ia dapatkan, mamanya malah menarik koper besar seolah-olah ia ingin pergi jauh.
"Ma, mama mau kemana?" tanya Renatta yang masih terisak.
"Jangan panggil aku mama! Aku bukan lagi mamamu karena aku akan menggugat cerai papamu!"
"Hiks, mama tidak boleh bercerai sama papa! Harusnya mama jangan percaya dengan apa yang dituduhkan polisi ke papa. Natta percaya kalau papa tidak mungkin melakukan hal seburuk itu!" teriak Natta dengan Isak tangisnya.
"Cih! Terserah! Aku akan tetap pergi dari sini! Lagian aku tidak mau menanggung malu karena punya suami yang korupsi! Lebih baik aku berpisah dan mencari suami baru!"
Jawaban itu membuat hati Renatta tersayat-sayat. Ia tidak menyangka mamanya yang selalu ia sayangi dan turuti ucapannya. Rupanya adalah orang yang gila harta dan tidak mencintai papanya dengan tulus.
"Mama jahat! Apa jangan-jangan selama ini mama juga tidak pernah menyayangi aku dengan tulus?" tanyanya dengan suara yang bergetar. Karena sejujurnya Renatta takut apa yang ia pikirkan memang benar.
Mama Kamala tersenyum miring.
"Benar, selama ini aku sengaja mendidik kamu untuk jadi orang jahat dengan membalas perbuatan buruk orang yang menyakitimu dan menghalangi apa yang kamu inginkan. Aku mendidik mu dengan kuat untuk menyayangi aku dan Nesha juga. Supaya kamu bisa melindunginya. Tapi, rupanya, papamu malah korupsi. Cih! Benar-benar tidak bisa diandalkan!"
Renatta bersimpuh, ia menangis meraung-raung tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
Kasih sayang, perhatian, juga kepedulian sang mama rupanya palsu.
"Ini semua karena kamu. Kamu yang selalu manja dan menginginkan ini dan itu. Kalau kamu tidak boros, pasti papa kamu tidak akan korupsi. Dasar anak pembawa sial!"
Renatta menangis tersedu-sedu. Rasa sakitnya yang sudah tersayat, jadi merasa tercabik-cabik tiap kulit dan tulangnya. Kalau mama dan kakaknya pergi dari rumah. Lalu ia akan sama siapa? Karena ia melihat di depan rumahnya sudah ada tulisan kalau rumah yang mereka tinggali sekarang telah disita oleh pihak kepolisan. Memikirkan hal itu, Renatta jadi bingung sendiri. Ia jadi memohon-mohon kepada mama dan kakaknya untuk tidak pergi meninggalkannya sendirian.
"Ma, setidaknya kalau mama dan kakak pergi. Ajak aku juga! Aku tidak mau sendirian, hiks ...," ucap Renatta sambil meraih kaki mamanya.
"Daripada aku membawamu yang pembawa sial! Lebih baik aku pergi bersama anakku sendiri! Nesha ayo kita pergi! Biarkan saja dia disini! Paling nanti juga diusir!" ucap sang mama yang mengajak Nesha untuk mengikutinya.
Nesha yang sebenarnya tidak tega melihat Renatta yang menangis seperti itu, tidak ingin ikut pergi. Karena selama ini ia tulis menyayangi Renatta sebagai adiknya sendiri. Bahkan Renatta lah sang pelindungnya ketika ia dijahati oleh orang lain. Mamanya berhasil mendidik Renatta untuk melindungi dan menyayangi keluarga, tapi gagal mendidik Renatta untuk jadi orang yang baik di mata orang lain.
"Ma, kasihan Natta. Kita seharusnya mengajaknya pergi bersama," ucap Nesha.
"Uang darimana Nesha? Untuk hidup kita berdua saja, mama tidak yakin akan cukup! Sudah lebih baik kita tinggalkan saja dia!"
Mama Kamala berjalan keluar dari rumah dengan tergesa-gesa, bahkan jarak antara Nesha dan Mama Kamala sangatlah jauh. Hingga tanpa sadar, ada sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi menghantam Mama Kamala yang baru saja akan menyebrang jalan.
Sebuah kecelakaan terjadi hingga membuat Mama Kamala harus dilarikan ke rumah sakit. Nesha yang melihat kecelakaan itu secara langsung seketika langsung pingsan. Sementara Renatta yang masih berada di dalam rumah, langsung lari terburu-buru karena mendengar sebuah hantaman keras. Dan betapa terkejutnya ia melihat dua orang yang ia sayangi terbaring. Yang satu terbaring dengan berlumuran darah, dan yang satunya tidak.
Renatta tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia benar-benar sendirian. Tak tahu arah jalan. Yang paling utama sekarang hanyalah membawa mamanya dan sang kakak ke rumah sakit.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
LENY
Renata lgsg dpt karma balasan perbuatan jahat nya skrg baru tahu mama tirinya jahat RASAKAN RENATA. KAMU SDH JAHAT DAN MENGUSIR AMANDA SAMA IBUNYA. PADAHAL IBU AMANDA MUNGKIN LBU BAIK DARI MAMA TIRINYA YG GILA HARTA.
2023-11-25
1