Renatta pulang ke rumahnya ketika langit sudah menjadi gelap. Lampu di rumahnya pun masih belum menyala karena memang kakaknya tidak ada di rumah. Renatta masuk dan menyalakan lampu luar rumah dan berjalan masuk ke kamarnya.
Renatta menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menghela napas berkali-kali sambil melepaskan sepatu hak tinggi yang melekat di kakinya.
Bertemu dengan Regan membuatnya jadi teringat akan kelakuan buruknya di masa lalu. Bahkan kesalahan yang bukan salahnya saja, jadi terasa memang salahnya. Rasanya, Renatta ingin sekali berbicara serius dengan Regan untuk membahas masa lalu. Ia benar-benar ingin meminta maaf atas kesalahan yang dulu.
Sejak lulus SMA, Renatta tak tahu kabar apapun baik itu dari Regan ataupun Amanda. Karena ia memang terlalu fokus pada kehidupannya. Bahkan ia baru sadar kalau Presdir di tempatnya bekerja adalah papa dari Regan.
Seolah-olah semua kebetulan ini terjadi agar Renatta menyelesaikan masalah masa lalunya.
Ketika hendak pergi ke kamar mandi, Renatta mendapatkan pesan dari Pak Beno, yang meminta Renatta untuk membelikan tas mahal untuk istrinya.
"Ya ampun, belanja tas mulu perasaan. Udah mah anaknya gonta-ganti mobil terus. Emangnya gaji jadi manager sebesar apa sih? Sampai bisa belanja hampir tiap bulan. Apalagi barang yang dibeli harganya sungguh fantastis."
Renatta mengomel-ngomel sendiri. Tapi meski begitu, ia tetap melakukan perintah Pak Beno.
Setelah selesai memesankan tas keinginan istrinya Pak Beno, Renatta mengirimkan rincian biayanya juga kapan barang itu akan datang ke nomor Pak Beno. Kemudian, barulah Renatta bisa bebas dari segala urusan itu, dan membersihkan diri di kamar mandinya.
*
*
Pagi-pagi sekali, Renatta sudah berangkat kerja dan sudah memulai pekerjaannya. Tiba-tiba Ozy datang untuk menemuinya dan meminta Renatta untuk ke ruangan Regan. Hal itu membuat Renatta kebingungan. Seingatnya ia tak memiliki urusan pekerjaan dengan Regan, karena Pak Beno tak mengatakan apapun padanya.
Tapi, sangat tidak mungkin Renatta mengabaikan perintah Regan. Akhirnya ia pun ikut bersama Ozy ke ruangan Regan.
Disana, Regan berdiri dengan tangan yang sudah disilangkan di depan dada. Sorotan matanya tajam dan raut wajah yang dingin.
"Bapak memanggil saya?" tanya Renatta ketika sudah berada di hadapan Regan.
Regan mengangguk.
"Ada apa ya, Pak?" tanyanya lagi.
"Sudah berapa lama kamu berkerja dengan Pak Beno?" tanya Regan tanpa berbasa-basi.
"Sudah lebih dari 4 tahun Pak."
"Apa kamu tahu kalau Pak Beno melakukan kecurangan dana perusahaan?"
Renatta menggeleng. Karena ia memang tidak tahu. Meski ia juga agak sedikit bingung darimana uang yang didapatkan oleh Pak Beno hingga bisa membeli apapun yang diinginkan anak dan istrinya.
"Jangan berpura-pura tidak tahu Renatta! Kamu udah bekerja lama dengannya. Saya saja yang baru beberapa hari bekerja disini. Bisa menangkap kecurigaan besar padanya. Apa jangan-jangan kamu juga bersekongkol dengan dengannya?"
"Astaga! Jangan asal menuduh Pak. Selama ini saya bekerja dengan baik dan jujur. Saya tidak pernah melakukan hal curang seperti itu. Kalau Bapak tidak percaya saya akan menyelidikinya sendiri."
"Cih! Baik dan jujur? Kamu bahkan masih sama di mataku. Wanita jahat yang suka menindas temanmu!"
Regan tak bisa kalau tidak kesal dan mengumpat ketika berhadapan dengan Renatta. Rasa bencinya yang sudah mendarah daging membuatnya tidak bisa percaya dengan Renatta begitu saja.
"Itu semua masa lalu Pak. Setiap orang berhak untuk berubah, dan saya sudah berubah," sahut Renatta lagi.
"Ya, ya, ya, ya. Sana keluar dari ruanganku! Dan lakukan seperti apa yang kamu katakan. Berikan laporan dana keuangan Pak Beno selama kamu menjadi sekretarisnya. Dan cari bukti juga kalau kamu memang tidak bersekongkol dengannya. Jika kamu tidak menemukannya. Siap-siap saja kamu akan dipecat dan kamu tidak akan bisa masuk ke perusahaan mana pun."
"Tidak bisakah Bapak membedakan antara urusan pribadi dan pekerjaan? Tolong hilangkan prasangka buruk Bapak ke saya soal pekerjaan. Kalau Bapak menang masih membenci saya, saya tidak apa-apa. Karena memang saya bersalah. Tapi Bapak seperti menuduh saya melakukan hal yang tidak saya lakukan, saya tidak terima."
Melihat adu mulut di antara Renatta dan Regan, membuat Ozy jadi khawatir Regan akan melampiaskan kekesalannya ke Renatta. Padahal Renatta belum terbukti ikut bersalah. Ozy pun langsung menyuruh Renatta untuk keluar dan melanjutkan lagi pekerjaannya.
Setelah Renatta keluar dari ruangan Regan, Regan menggebrak mejanya. Melihat wajah Renatta, entah kenapa emosinya selalu tak bisa dikontrol karena rasa bencinya.
"Apa yang dikatakan Renatta benar. Kamu seperti tidak bisa membedakan urusan pribadi dan pekerjaan. Kita tunggu saja laporan darinya. Jangan asal menuduh tanpa bukti. Yang ada nantinya kamu bakalan menyesal Re."
"Hufttt! Iya iya."
Regan mengiyakan ucapan Ozy dan langsung duduk di kursi kerjanya sambil melihat data-data keuangan yang ia miliki.
*
*
Saat jam makan siang, Renatta dan Devan janjian di sebuah restoran. Renatta terus mengomel-ngomel atas kelakuan Regan yang menuduhnya bersekongkol dengan Pak Beno ke Devan.
"Aku tahu, aku memang tidak memiliki kesan baik padanya. Tapi, tidak bisakah dia jangan asal menuduh tanpa bukti begitu? Aku kesal Dev. Rasanya apapun yang aku lakukan selama ini selalu saja dianggap buruk oleh orang lain. Sampai kapan? Aku akan terus dianggap buruk? Padahal aku sudah berubah!"
Renatta mengungkapkan isi hatinya sambil meletakkan kepalanya di meja makan. Untungnya makanan yang mereka pesan masih disiapkan.
"Aku tahu. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Kalau kamu tidak ingin dianggap buruk olehnya. Kamu memang harus membuktikan kalau kamu tidak terlibat dengan Pak Beno. Tenang saja aku akan membantumu untuk menemukan bukti-bukti itu."
Renatta mengangkat kepalanya dari meja dan memberikan satu jempol ke Devan.
"Kamu memang terbaik Dev. Makasih ya. Emang cuma kamu yang bisa aku andalkan."
"Apa sih yang nggak bisa aku lakukan untukmu, Nat."
Ucapan Devan barusan membuat hati Renatta bergetar sangat kencang. Apalagi Devan mengatakan itu sambil tersenyum manis padanya.
Ya Tuhan, bisakah aku memilikinya? Bolehkah aku serakah? Aku menginginkannya yang selalu ada untukku. Cuma dia yang aku punya.
"Jangan tersenyum seperti itu padaku. Kalau aku jatuh cinta padamu, gimana?" ucap Renatta dengan sedikit keberanian.
Devan menanggapinya dengan tawa.
"Mana mungkin Nat. Kamu itu sahabatku."
Renatta memalingkan wajah sambil memonyongkan bibirnya.
Sudah kuduga, dia pasti tidak akan peka.
Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan pun tiba. Keduanya makan sambil terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
Selesai makan siang, Devan mengantar Renatta ke tempat wanita itu bekerja. Ia melambaikan tangannya ketika Devan akan pergi dari sana.
Rupanya Regan melihat itu semua. Ketika Renatta lewat, Regan menyindirnya.
"Rupanya kalian masih saling berhubungan. Aku kasihan sekali dengan Devan yang harus berteman denganmu."
Renatta kesal dan ingin marah. Tapi kalau sampai ia melampiaskan itu. Bisa-bisa ia ditendang dari perusahaan. Lalu bagaimana sia membayar semua tagihan biaya yang dimilikinya?
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
bibi
lanjut
2023-05-15
0
Nurcahyono Sajum
semangat thor.... hayo lanjut terus
2023-05-12
0