Seminggu telah berlalu, Renatta masuk ke dalam ruangannya dengan penuh senyuman. Namun tiba-tiba senyumnya memudar ketika Ozy yang menempati meja kerjanya. Pikirannya sudah kemana-mana. Ia sangat takut jika dipecat. Karena selama ini gajinya sebagai sekretaris lebih besar daripada gajinya dari pekerjaan sebelumnya.
Ozy tampak menyapa Renatta dengan melambaikan tangan. Laki-laki itu paham dengan raut wajah yang diperlihatkan oleh Renatta. Ia menghela napas pelan dan menebak bahwa Regan belum memberitahukan hal sepenting ini ke Renatta.
"Kenapa kamu ada di mejaku?" tanya Renatta.
"Kita akan bertukar posisi. Aku jadi sekretaris Pak Beno dan kamu jadi sekretaris Regan. Semua ini dilakukan agar aku dan Regan bisa dengan mudah menyelidiki Pak Beno."
"Apa kamu dan Regan masih mencurigai aku?"
"Aku tidak, tapi entah dengan Regan. Aku sedikit banyak tahu tentang masa lalu kalian yang buruk. Jadi wajar saja kalau dia belum bisa mempercayai kamu sepenuhnya."
Renatta menghela napasnya.
"Lalu bagaimana aku jadi sekretarisnya Regan, kalau dia saja masih belum percaya padaku?"
"Lakukan saja tugasmu dengan baik. Pasti lambat laun Regan akan percaya. Pergilah ke ruangan Regan."
Renatta mencebikkan bibirnya kemudian melangkahkan kakinya dengan malas ke ruangan Regan. Entah kenapa firasatnya buruk tentang ini. Pastinya Regan akan memperlakukannya dengan buruk.
"Semangat Natta! Demi papa, mama dan Kak Nesha! Semangat!"
Tok tok tok
Renatta mengetuk pintu ruangan Regan. Dari dalam terdengar suara Regan yang sudah mempersilahkan untuk masuk. Renatta pun membuka pintu dan berjalan sampai ke hadapan Regan.
"Oh, kamu. Aku kira siapa."
"Kenapa Bapak menukar posisi sekretaris bapak dengan saya? Bapak mau menyelidiki saya juga?"
"Bukankah Ozy sudah menjelaskan semuanya? Harusnya kamu tidak usah bertanya lagi. Pergi dan duduk di posisimu. Lakukan tugasmu! Kalau aku panggil, kamu harus segera datang!" ucap Regan dengan mengibaskan tangannya mengusir Renatta untuk keluar.
"Hufttt!"
Renatta pun duduk di tempatnya, tepatnya berada di luar ruangan Regan. Disana sudah ada beberapa berkas dan jadwal Regan yang harus disusun sesuai tanggalnya.
Dengan hati yang tak karuan, Renatta tetap mengerjakan tugasnya dengan baik. Ia tidak mau Regan malah memecatnya karena kesalahan yang ia lakukan di hari pertamanya jadi sekretaris laki-laki itu.
Tak lama kemudian Pak Beno datang dan menghampirinya. Wajahnya terlihat marah dan kesal karena pertukaran sekretaris itu tak didiskusikan terlebih dahulu dengannya. Ia pun menatap kesal ke arah Renatta.
"Kamu? Kamu melaporkan saya ke Pak Regan? Kamu menuduh saya sudah mencurangi dana perusahaan. Dasar wanita tidak tahu diri! Selama ini saya sudah membantu kamu untuk keluar dari kemiskinan. Apa ini balasanmu terhadap saya?"
Baru saja Renatta akan menjawab, tapi pintu ruangan Regan tiba-tiba terbuka.
"Sepertinya anda kemari karena ada urusan. Masuklah, jangan ganggu sekretaris saya. Kita bicara di dalam."
Setelah keduanya berada di dalam ruangan Regan, Pak Beno masuk dengan berat hati. Ia memang ingin protes tentang ditukar nya sekretarisnya.
"Saya tahu maksud kedatangan Pak Beno kesini. Anda pasti terkejut karena sekretaris anda berganti. Saya sengaja menukar mereka karena sebentar lagi saya ada perjalanan bisnis. Saya tidak mungkin mengajak Ozy karena dia harus mempersiapkan pernikahan. Saya harap anda tidak keberatan untuk itu. Dan juga pertukaran ini hanya sementara, karena setelah Ozy menikah, dia akan kembali jadi sekretaris saya."
"Benarkah begitu?" tanya Pak Beno memastikan. Regan pun mengangguk
Pak Beno pun menyetujuinya. Meski ia merasa sepertinya alasannya bukan itu. Itu hanya alibi saja untuk menutupi alasan yang sebenarnya. Setelah mendapatkan penjelasan, Pak Beno keluar dari ruangan Regan kemudian menatap Renatta lagi dengan tak bersahabat.
Renatta mengelus dadanya. Selama empat tahun bekerja bersama Pak Beno, baru kali ini ia ditatap seperti itu. Rasanya mengerikan. Tapi masih lebih mengerikan Regan jika ia pikirkan lagi.
Regan keluar dari ruangannya dan mulai bicara.
"Kalau Pak Beno tiba-tiba meminta kamu untuk membelikan barang-barang untuk istri dan anaknya. Kamu harus menolak. Karena kamu sudah bukan lagi sekretarisnya."
"Baik Pak. Tapi pertukaran ini sampai kapan ya Pak?"
"Belum juga sehari kamu jadi sekretaris ku, kamu sudah mau mundur? Ya kalau kamu tidak butuh uang, aku sih tidak apa-apa."
"Eh, bukan seperti itu Pak."
"Masa?"
Regan pun masuk kembali ke dalam ruangannya. Ia mengecek komputer yang ada di hadapannya ketika mendapatkan pesan email dari Ozy.
*
*
Renatta meletakkan tasnya dan menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang. Seharian ini ia bekerja sangat keras. Karena Regan selalu memintanya melakukan ini dan itu. Bahkan ia sampai kewalahan dan merasa tidak sanggup. Tapi lagi-lagi wajah keluarganya muncul di pikirannya dan membaurnya jadi semangat kembali.
"Sepertinya Regan mau balas dendam padaku! Rasanya ketika Ozy menjadi sekretarisnya, dia tidak kejam-kejam sekali seperti ke aku. Huh! Sabar Natta, semangat Natta. Kamu pasti bisa melalui ini semua."
Drtt, drtt.
Ponsel Renatta berbunyi, menampilkan sebuah pesan dari nomor yang tak dikenalnya. Tapi ketika membaca isinya, ia langsung tahu tanpa orang itu memberitahukan siapa dirinya.
Besok datang ke kantor pukul 06.30. Kamu harus siapkan aku sarapan pagi, dan pilihkan aku pakaian untuk melakukan meeting dengan klien di luar kantor. Bangunkan aku juga kalau aku belum bangun. Malam ini aku menginap di kantor karena lembur. Awas saja kalau sampai kamu telat! Potong gaji!
"Arghhh!"
Renatta berteriak frustasi. Bahkan ia sampai mengacak-acak rambutnya sendiri. Regan seolah-olah menjajah dirinya. Padahal jam kerja itu mulai pukul 08.00 dan Renatta akan berangkat kerja dari rumah pukul 07.30. Kalau disuruh ada di kantor pukul 06.30 itu artinya Ia harus bangun 2 jam lebih awal.
"Dasar bos sinting!"
Di tengah frustasinya itu, sebuah telepon dari Devan pun membuat senyum di bibir Renatta mengembang. Ia langsung menerimanya.
"Natta, besok sepulang kerja kamu sibuk?" tanya Devan.
"Nggak sih, aku nggak ada janji sama siapapun. Kenapa Dev?"
"Em, aku mau minta bantuanmu untuk memilihkan aku pakaian wanita dan berlian."
"Wah, untuk siapa?" tanya Renatta penasaran.
"Seseorang yang istimewa."
Seketika Renatta jadi terkejut. Setahunya Devan selama ini hanya dekat dengannya saja. Meski dulu ia tahu kalau Devan juga menyukai Amanda. Tapi sudah lama Devan tak pernah menceritakan lagi tentang Amanda. Renatta jadi kepedean sendiri, menganggap pakaian wanita dan berlian itu untuknya. Jadinya ia pun tak keberatan untuk menemani Devan belanja dan membantu laki-laki itu.
"Ya sudah, besok kamu kirimkan saja lokasinya. Aku akan kesana untuk membantumu."
"Ah, tidak, aku yang akan menjemputmu ke rumah."
"Oh, baiklah."
"Sampai ketemu besok."
Renatta pun senyum-senyum sendiri setelahnya. Apalagi jika diingat-ingat hari ulang tahunnya jatuh dalam satu Minggu ke depan. Entah kenapa ia sangat yakin kalau pakaian dan berlian itu akan Devan berikan untuknya. Karena biasanya, Devan memang akan selalu mengajaknya belanja lalu meminta Renatta memilihkan barang terbaik setelahnya barang itu akan Devan berikan sendiri untuknya. Seperti tas mahal yang ia punya satu-satunya.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
L B
sabar natta, niscaya kau akan memetik hasil kesabaranmu, seiring waktu sering bersama, nanti regan akan melihat kebaikanmu.
malang benar nasib asmara mu natta 😩 kasihan benar jika kau tetap bukan pilihan 😞 tidak regan , tidak devan. apa devan juga mengejar amanda? atau Grace? nggak tega rasanya nanti melihat wajah sedih natta 😢😢😢
2023-05-14
0