Kehamilan Yura semakin membesar, dan selama kehamilannya, ini kali pertama Roy menawarkan diri untuk menemani gadis itu periksa ke dokter.
"Benar Om mau menemani aku?" tanya Yura penuh semangat. Pria itu sedang duduk di ruang tamu dan melihat Yura bersiap-siap pergi dengan Titin.
"Iya. Om ingin lihat perkembangan bayi itu," jawabnya bangkit ingin bertukar pakaian.
"Mau kemana lagi kau mengajak Papaku?" suara Erlang muncul dari belakang tubuhnya.
Yura siap menghadapi Erlang. Dia juga lagi kesal pada pria itu, beberapa kali menunjukkan kemesraannya bersama Jessica di rumah itu, dan anehnya hal itu dilakukan pria itu tepat saat Yura melintas dengan niat agar gadis itu melihat ke arahnya.
"Terserah aku mau bawa kemana. Om Roy suami aku, suka-suka, dong," jawabnya dengan tatapan menantang.
Erlang mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Menatap penuh hasrat pada gadis itu. Jelas Erlang ingin sekali menyentuh gadis itu, melu*mat bibir gadis itu, dan meletakkan tangannya di tubuh menggoda gadis itu.
Dorongan itu semakin kuat, hingga napasnya memburu.
"Jangan pernah melakukan hal menjijikan yang saat ini bersarang di kepalamu itu!" pekik Yura tertahan. Saat ini mereka sedang berada di ruang tamu, Om Roy setiap saat bisa muncul dan mendapati mereka berbuat gila.
Kalau mengikuti hasrat dan keinginan tubuhnya, Yura pasti akan dengan senang hati menerima perlakuan Erlang. Dia tidak mau munafik, dia juga merindukan sentuhan pria itu. Terlebih karena bawaan bayinya yang begitu merindukan sentuhan ayahnya.
"Tapi aku merindukan, dan aku ingin ******* bibir sensual mu ini," bisik Erlang yang terus terpaku pada bibir Yura yang sangat menggoda imannya.
"Jangan gila, Om Roy bisa turun sewaktu-waktu!" bisik Yura tapi wajahnya sudah memerah menahan debar jantungnya yang bertalu. Erlang menggila, menarik tangan Yura ke balik gorden panjang dan tebal yang ada di sudut ruangan.
Tidak bisa menahan hasratnya lebih kama lagi, Erlang berhasil membakar tubuh Yura dengan menyentuhkan tangannya di atas dada gadis itu. Mengikuti jejak hiasan bunga yang ada di sekitar dadanya.
"Er...,"
"Ssssttt... Aku hanya ingin menyentuhnya sebentar. Aku rindu," bisiknya membelai di atas baju Yura.
Pria itu ingin mendekatkan bibirnya ke bibir wanita itu, tapi gagal karena mendengar panggilan Om Roy yang memanggil nama Yura.
"Yuraaaa...."
Bergegas gadis itu segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan ke arah tempat Roy berada saat ini.
"Om...."
"Kamu dari mana?" tanya Roy menoleh ke belakang wanita itu tapi tidak melihat siapapun. Wajah Yura sudah sempat pucat, tapi kala dia mengikuti tatapan Roy dan tidak mendapati siapapun, akhirnya dia bisa bernapas lega.
"Dari samping. Kita berangkat, Om?" tanya Yura menahan napas.
***
Roy mengamati dengan seksama setiap gerakan tangan dokter, maju-mundur di atas permukaan perut Yura.
"Anaknya sehat, sesuai usia. Sudah 18 minggu ya," terang dokter itu yang membuat wajah Yura pucat ketakutan.
Habis lah dia kini! Diliriknya wajah Roy yang masih datar memperhatikan layar usg. Kenapa dia bisa sebodoh ini menerima tawaran Roy untuk ikut menemuinya.
Dokter sudah meminta perawat bersihkan perut Yura dari bekas jel, lalu memapah Wanita itu duduk di kursi yang ada di depan meja dokter.
Sepanjang dokter itu menerangkan kondisi kehamilan Yura, Roy tampak penuh minat mendengar perkataan dokter itu hingga mereka selesai dan pulang.
Selama diperjalanan, Roy hanya diam, tidak satu patah katapun berniat dia utarakan.
Roy menemukan fakta bahwa anak yang saatnya ini dikandung Yura bukan'lah darah dagingnya, seperti sejak awal dia duga. Roy sadar betul siapa dirinya dan bagaimana keadaan tubuhnya, tidak ada yang terjadi malam itu antara dirinya dengan Yura, karena sejak dulu Roy memang menyimpan satu rahasia besar, kalau dia adalah pria impoten yang tidak memiliki gairah, sejak lama. Kehadiran Erlang dalam hidupnya, sudah membuatnya ikhlas.
Dengan kasih sayang dia menemani istrinya untuk periksa, bahkan saat Tania melahirkan, Roy ada di sisi wanita itu. Begitu mendengar tangisan Erlang untuk pertama kali, Roy menangis haru. Dia memiliki anak sekaligus pewaris.
Kenyataan pahit yang coba dia kubur. Wajar jika saat Yura mengatakan sesuatu terjadi diantara mereka malam itu, Roy merasa tidak percaya, karena sejak dulu dia menjadi pria lemah.
***
Dua hari berlalu sejak hari itu, Roy mengunci rapat mulutnya, tapi tetap memberikan perhatian seperti sebelumnya. Masih rajin membuatkan susu untuknya dan juga mengingatkan makan vitamin untuk bayinya.
Namun, Yura yang merasa bersalah mencoba mengajak Om Roy bicara. Dia merasa tersiksa, menerima kebaikan hatinya sementara dia sendiri sudah bersikap jahat.
Yura mengajak Om Roy bicara. Dia ingin memberikan penjelasan mengenai kebohongannya selama ini. Mengapa gadis itu berbohong mengenai ucapan, yang mengatakan telah terjadi sesuatu di antara mereka malam itu, dan mengapa dia membohongi Roy. Dia seharusnya mengatakan yang sejujurnya, bahwa pada saat pernikahan mereka, Yura tengah hamil, dan dia tidak tahu siapa pria yang sudah menghamilinya.
"Om, aku ingin bicara. Apa Om punya waktu?" tanya Yura memaksa masuk ke ruang kerja Roy. Pria itu lebih banyak menghabiskan waktu di ruangan itu.
"Apa ada hal yang serius?" tanya Om Roy datar.
Air mata Yura sudah merebak dalam diamnya. Menunduk untuk sesaat sebelum mencari kalimat tepat untuk menjelaskan pada pria itu.
Yura berdiri, lalu dengan berlutut dia bersimpuh di hadapan Roy. Yura memohon maaf, memohon agar pria itu mau memaafkannya.
" Soal kehamilanku, aku tahu Om sudah bisa menebak kebenarannya. Aku salah, Om. Aku minta maaf." Tangis Yura semakin memecah keheningan ruangan itu. Roy hanya diam. Tidak menoleh sedikit pun ke arah Yura yang masih berlutut di samping kakinya.
Roy yang merasa dibohongi. Kali pertama dia mengetahui kebohongan gadis itu setelah hasil tes kesehatan nya keluar, Om Roy ingin segera memulangkan Yura, tapi karena gadis itu takut pada tantenya yang akan menghukum dan menyuruh menggugurkan janinnya, Roy tersentuh dan merasa kasihan pada Yura, membiarkan gadis itu tetap di rumah itu menjadi istrinya. Roy bukan tidak punya pertimbangan, kalau sampai Erlang mengetahui kalau anak dalam kandungan Yura itu bukan anaknya, harga diri Roy akan ditertawakan, dan semua orang akan tahu kelemahan Roy sebagai seorang pria.
"Om, aku mohon maafkan aku," isak Yura memeluk kaki Om Roy. Rasa bersalah bersarang dalam hatinya.
Om Roy tidak tega melihat tangis Yura, yang semakin histeris hingga membuat sesunggukkan.
Roy memutuskan untuk melunak. Memutuskan untuk memaafkan Yura dan mau ikut serta memelihara bayi yang ada dalam kandungan gadis itu, bersedia memberikan nama belakangnya. Yura juga mengatakan kalau dia sendiri tidak tahu siapa ayah anaknya, karena dia dijebak oleh temannya.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Ayo bangun," ucap Roy melembut, memapah Yura berdiri.
"Aku memaafkanmu!"
*
*
*
Mampir
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Rini Eni
aki2 lembut bgt hatinya
2023-09-08
1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Hatimu baik banget om Roy 💖💖👍👍
2023-05-29
1
Neng Ati
semakin salut sama om Roy..
2023-05-18
1