Kau Perempuan Murahan!

Yura mengambil tempat duduk di depan Erlang, tempat dia biasa duduk, tanpa peduli tatapan mengerikan dari Erlang. Tatapan penuh tanya dari Erlang mengenai kegembiraan yang Yura.

Tunggu dulu, gadis itu bahkan keramas! Pengamatan Erlang semakin tajam, terlebih ketika tak lama ayahnya juga turun dengan rambut basah.

Sah! Ini pasti nganu!

"Papa, apa papa baik-baik saja?" tanya Erlang menatap sinis, menyipitkan sebelah matanya. Dia sudah bisa menyimpulkan. Tidak salah lagi.

Tatapan Erlang kini beralih pada Yura, yang tidak sengaja melihat ke arahnya, tapi gadis itu tetap cuek, mengalihkan pandangan pada Om Roy.

"Aku ambilkan nasinya, Om," ucapnya dengan nada lembut yang sangat dibuat-buat hingga mendatangkan rasa kesal di hati Erlang. Jelas gadis itu sedang membuatnya marah.

"Terima kasih, Yura," jawab Om Roy dengan sedikit gugup. Dia bahkan sejak tadi tidak berani melihat wajah Yura.

Sisa jam sarapan pagi itu, Erlang menghabiskan waktunya untuk melihat pasangan suami istri itu. Yang satu tampak bersikap berlebihan, yang satu justru terlihat gugup dan sedikit malu.

Om Roy menyudahi sarapannya. Dia bangkit dan melangkah ke ruang tengah, dan bersiap untuk pergi ke kantor. Yura mengambil kesempatan untuk menghindari Erlang. Wanita itu segera bangkit mengejar Om Roy.

"Om, hati-hati di jalan,"ucap Yura sembari tersenyum.

"Iya, kamu di rumah dulu, ya. Jangan lupa makan," jawab Om Roy terlihat kaku.

Selama di perjalanan, Om Roy terus memikirkan yang terjadi semalam. Mendapati dirinya berbaring di samping Yura tanpa busana, dan menurut Yura mereka juga melakukan hal itu, tapi kenapa Roy merasa hal itu tidak benar, pasalnya saat bangun, dia tidak merasakan apapun. Sedikitpun tidak ada bayangan tentang apa yang mereka lakukan.

Namun, Roy tentu tidak dapat mempertanyakan hal itu pada Yura. Kalau memang itu yang terjadi, maka dia harus bertanggung jawab.

"Apa ada yang mengganggu pikiran Anda, Tuan?" tanya Niko memperhatikan kening Roy yang sejak pagi tadi berkerut.

"Gak ada, Niko," jawab Roy cepat, tidak ingin membuat kecurigaan pada asistennya itu.

Sementara Erlang yang pagi tadi juga mau berangkat ke kantor, membatalkan niatnya. Moodnya berubah buruk karena hal yang menganggu pikirannya.

Khawatir akan tipu muslihat Yura membuat Erlang memutuskan untuk mendatangi gadis itu. Tanpa mengetuk pintu, Erlang sudah masuk ke dalam kamarnya.

Saat itu Yura yang baru memuntahkan isi perutnya memutuskan untuk mandi lagi. Dan tepat saat Erlang menerobos masuk ke kamar, Yura baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk cream yang melekat di tubuhnya.

"Awwwow, apa yang kau lakukan di sini?" pekik Yura kaget mendapati Erlang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.

Saat masuk ke kamar itu, Erlang tidak melihat siapapun, justru mendengar suara air dari kamar mandi. Dia tidak bermaksud membuka pintu kamar mandi itu guna mencari Yura, hanya menunggu saja di depan pintu, dan tak lama Yura keluar.

"Menurut mu?" tantang Erlang dengan menaikkan satu alisnya.

"Keluar! Aku ingin berpakaian!"

Erlang tidak mengindahkan perkataan Yura justru semakin mendekat hingga gadis itu tidak punya pilihan lain selain mundur hingga mentok ke dinding kamar mandi.

"Kalau aku gak mau, gimana?" ucap Erlang menurunkan pandangan dari mata ke bibir Yura lalu mengukur setiap inci tubuhnya dengan tatapan penuh makna.

Hanya Erlang yang tahu, kalau persekian detik tadi dia sempat terpukau melihat Yura dalam balutan handuk. Dia pria normal tentu saja pemandangan yang ada di depannya membuatnya merasakan sesuatu, jantungnya sempat berdebar kencang.

Yura tampak cantik, sangat ayu dan mempesona. Gadis itu ibarat Dewi kecantikan yang menggoda dalam balutan handuk. Punggung mulusnya mematri mata Erlang hingga tidak bisa berpindah ke tempat lain.

Dia ingin mengecup kulit punggung itu, merasakan kelembutan di sana.

Namun, pekikan gadis itu segera menyadarkannya. Terlebih menyadarkan kalau wanita itu istri ayahnya. Dia juga heran, mengapa hanya melihat penggung telanjang gadis itu, dia sangat birahi. Gairahnya menyala, membawa ingatannya pada wanita penghibur yang malam itu dia terobos kegadisannya.

Erlang sudah berusaha mencari keberadaan gadis itu pada pemilik bar itu. Namun, saat Gon, si pemilik bar menunjukkan gadis yang dia tawarkan, Erlang yakin bukan gadis itu orangnya.

Erlang mendekati gadis itu, hatinya bilang itu gadis yang berbeda. Dari ukuran tubuh hingga wangi yang tercium. Dia ingat sekali wangi gadis misterius itu, wangi vanila bercampur dengan wangi jasmin yang lembut, parahnya dia menemukan wangi itu dari Yura!

Tubuh Yura sudah mentok, dan Erlang semakin mengikis jarak diantara kita.

"Kau mau apa?" Keberanian Yura terkikis. Tatapan mata Erlang sama seperti malam itu, dipenuhi kabur gairah. Yura semakin panik, apa yang akan dilakukan pria itu.

"Apa yang kau lakukan dengan papaku?" tanyanya berbisik, di atas bibir Yura. Gadis itu gemetar. Di dekati oleh Erlang, mengingatkan Yura akan peristiwa malam itu.

"Aku bilang jawab," kembali Erlang berbisik, bahkan kali ini mata pria itu menatap bibir sensual milik Yura yang menggoda.

"Aku... A-ku...,"

"Aku apa? Kau tidur dengan ayahku? Jawab!" Suara Erlang kini setengah berteriak, membuat Yura sampai menutup matanya.

"Apa urusanmu? Aku dan ayahmu sah sebagai suami istri terserah Kami mau melakukan apapun!"

Jawaban Yura justru membuat Erlang semakin marah. Pikiran kotor yang ada di dalam benaknya, membayangkan bagaimana ayahnya dan juga gadis yang ada di hadapannya ini bercinta dengan penuh nikmat tadi malam, hingga membuat ayahnya tampak penuh semangat mengawali harinya dengan wajah berseri-seri.

Memikirkan hal itu, anehnya membuat Erlang tidak terima. Dia marah. Namun, setelah berhadapan dengan Yura, justru dia ragu, sebenarnya dia marah karena Yura menggoda ayahnya hingga terpikat naik keranjang gadis itu, atau justru marah dan tidak terima karena ayahnya menyentuh Yura?

Sejak bertemu dengan Yura, dia sulit melepaskan pikirannya dari wanita itu. Bayangan Yura selalu menggodanya, mengganggu dalam pikirannya seolah Yura adalah miliknya. Entah dari mana pikiran itu datang, hanya saja hatinya tidak terima kalau ada orang lain yang menyentuh gadis itu meskipun itu adalah ayahnya.

Awalnya dia membenci Yura karena berpikir wanita itu menikahi ayahnya hanya demi uang, tapi setelah beberapa kali berbicara dengan gadis itu, bibir, mata bahkan embusan napas Yura, membawanya berkelana pada gadis misterius yang sudah dia cari, tapi tidak menemukan.

Berulang kali Erlang sudah menegaskan di dalam benaknya, bahwa Yura bukanlah gadis yang malam itu membuatnya jadi pria berbeda, gadis yang mengubah hidupnya bahkan yang dapat menyingkirkan Jessica dalam pikirannya. Hanya satu malam, hanya sekali tapi berdampak besar dalam hidup Erlang.

Kemana dia harus mencari gadis itu? Mengapa setelah berbulan lamanya sejak kejadian itu, kini sosok misterius itu justru lebih melekat pada diri Yura?

Erlang memukul dinding tepat di sebelah telinganya, hingga membuat mata Yura kembali tertutup.

Erlang menelan salivanya, menatap bibir Yura yang membawanya mengingat nikmatnya bibir gadis misterius itu.

Erlang pasti sudah gila, karena tidak lagi memikirkan akibat perbuatannya.

"Persetan dengan Papa!" gumamnya dan menyatukan bibirnya pada bibir Yura.

***

Hai, mampir yuk

Terpopuler

Comments

Neng Ati

Neng Ati

semoga secepatnya Erlang sadar bahwa gadis misterius itu memang Yura,dan om Roy TDK merasa bersalah lg

2023-05-12

3

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!