Anak Tiri

Suasana berubah kaku dan mencekam, terlebih bagi Yura setelah kehadiran Erlang, tapi tampaknya tidak berpengaruh pada pria itu.

Dia begitu santai bicara pada ayahnya, bahkan tanpa beban mengucapkan selamat padanya dengan mengulurkan tangan.

"Jadi, kau ibu tiriku? Selamat datang di rumah ini, IBU!" ucapnya menekankan kata ibu yang jelas untuk mengolok-olok dirinya, dia bahkan mengulurkan tangan untuk menyalaminya. Fix, pria itu tidak ingat pada Yura!

Dengan berat hati, Yura menerima uluran tangan Erlang. Bibirnya mengumpat tapi tidak terdengar oleh Erlang. Bagaimana mungkin Erlang tidak mengingat apa yang sudah dia lakukan malam itu.

Oke, mari Yura ingatkan kembali. Sore itu, Dita, teman dekatnya, mengajaknya untuk makan di suatu restoran untuk makan malam. Bayu, pria yang disukai Yura yang juga menaruh hati padanya, juga akan ada di sana. Malah Bayu yang mengajak mereka untuk bertemu, karena ketiganya adalah sahabat dari masa sekolah.

Tapi Yura juga tidak tahu bagaimana bisa terjadi, samar dia berada di kamar hotel yang ada di atas restoran itu. Kepalanya begitu sakit, pusing yang sangat menyiksa hingga membuat tubuhnya lemas. Dia juga merasa tubuhnya sangat panas dan ingin rasanya melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya, jadi dia pun melakukannya.

Sedikit kesadarannya mengingatkan kalau kamar itu bukan kamarnya, dan dia harus pulang. Ini sudah terlalu malam, Om dan Tantenya pasti mencarinya.

Namun, dia sudah tidak bisa mengangkat tubuhnya dari ranjang, hingga memutuskan untuk tinggal sampai dia punya tenaga untuk pulang. Tapi tidak lama memantapkan niatnya, seseorang masuk ke dalam kamar. Mata Yura masih sempat melihat wajah pria itu walau masih samar, tapi belum sempat dia bangkit pria yang tampak berjalan sempoyongan itu sudah menimpa tubuhnya.

Yura terpekik kaget, berusaha untuk menyingkirkan pria itu dari atas tubuh, tapi seperti raja iblis yang punya kekuatan yang tidak terkalahkan.

Terus mencumbu tubuh Yura dengan kasar dan ganas. Yura sudah mencoba sekuat tenaga untuk melawan, bahkan sempat menggigit pundak pria itu, tapi tetap saja tidak berpengaruh, pria itu tetap memaksakan dirinya masuk ke dalam tubuh Yura. Aroma tubuh Yura begitu manis terlebih rasa bibir gadis itu yang begitu memabukkan hingga membuat pria itu semakin bergairah.

Tidak bisa dielakkan lagi, malam itu menjadi saksi bahwa Yura sudah kehilangan mahkota, direnggut pria yang tidak dia kenal. Denyut di pangkal pahanya jadi pengingat malam ini dia sudah ternoda.

Air mata Yura yang menetas dari sudut matanya membuat rasa sakit itu semakin nyata. Bersamaan dengan tubuh pria itu berguling ke sampingnya.

Dan kini, setelah kejadian itu, setelah Yura mengutuk pria itu dan berharap tidak akan bertemu, lantas mengapa justru semakin di dekatkan padanya?

Hufffh! Takdir memang suka bercanda!

"Kau harus bisa bersikap baik dan hormat pada Yura," ucap Om Roy menginginkan putranya.

Dua bulan terakhir, Erlang berubah drastis. Pria yang selama ini bersahaja, dan pekerja keras, kini hanya melakukan pekerjaan yang tidak berguna. Minum hingga mabuk bersama teman-temannya, bahkan kadang tidak pulang. Pekerjaan di kantor terbengkalai, hingga membuat Om Roy muak pada anaknya itu.

Setelah menyelediki perubahan sikap Erlang, Om Roy mengetahui bahwa penyebabnya adalah gadis yang sudah berhasil menghancurkan perasaan Erlang dengan semua pengkhianatan!

Erlang yang begitu mencintai Jessika, mendapati gadis cantik itu bercumbu mesra di sebuah hotel. Menghancurkan perasaan Erlang yang selama ini begitu percaya akan cinta Erlang.

Jessika adalah dunianya, dia begitu menyayangi wanita itu bahkan berencana untuk menikah awal tahun depan, tapi seperti petir di siang bolong, Erlang yang diberitahu oleh Deni, sahabatnya segera meluncur ke hotel itu, dan menangkap basah sang kekasih.

Hati yang hancur membuatnya membenci wanita, ingin membalaskan perbuatan Jessika yang sudah mengkhianati cinta dan perasaannya, yang menginjak harga dirinya dengan tidur bersama pria lain.

"Carikan aku seorang gadis, aku membutuhkan pelampiasan!" ucapnya pada pemilik bar tempat mereka biasa berkumpul.

Pelayan bar itu sudah biasa menjadi mucikari terselubung, terlebih karena bar itu tepat bersebelahan dengan restoran sekaligus hotel tempat orang biasa melakukan cinta satu malam.

Takdir memang tidak ada yang tahu. Harusnya Erlang masuk ke kamar 96, tapi justru masuk ke kamar 69 hingga membuatnya bertemu Yura yang sudah berbaring di ranjang tanpa sehelai benang pun!

"Aku akan mencobanya, Papa," jawabnya mengejek. Jelas sekali dia memandang sinis pada Yura, wanita murahan yang menjerat ayahnya dengan sebuah pernikahan demi mendapatkan harta.

"Apa perlu aku memanggilnya dengan sebutan, Ibu?" Erlang kembali menatap tajam wajah gadis itu. Membawanya pada satu memori yang tersimpan rapi di benaknya, tapi semakin mencoba mengingat, dia kalah.

"Cukup Yura saja!" seru Yura spontan. Diamnya sejak tadi terusik ketika pria itu mencoba mempermalukannya di depan Om Roy.

"Baik'lah Yura. Dari segi umur, bahkan aku lebih tua darimu, jadi kalau kau mau, juga bisa memanggilku, mas," ucap Erlang menarik sudut bibirnya.

Om Roy yang sejak tadi melihat tingkah anaknya yang menghina Yura segera menghentikan pertemuan itu.

"Kau boleh naik ke kamarmu," sambar Om Roy menoleh pada Yura.

Gadis itu menoleh sekilas pada Roy, lalu mengangguk dan bangkit dari duduknya.

"Selamat malam, Yura, jangan lupa mimpikan aku," teriak Erlang dengan tawa menggema di ruang makan itu.

"Papa tidak suka dengan sikap kekanak-kanakan mu! Hargai Yura, dia istri Papa sekarang!" hardik Om Roy setelah memastikan Yura sudah jauh dari ruangan itu.

"Tampaknya Papa begitu mencintainya, ya? Oh, tentu saja, wajah cantiknya dan tubuh sempurna gadis itu membuat gairah muda Papa bangkit, hingga tidak tahan untuk segera menikahinya. Bagaimana rasanya Papa? Apa seenak itu?"

"Kurang ajar kamu, Erlang! Berani kau bicara tidak sopan pada Papamu? Pantaskah kalimat mu itu kau katakan?!" Om Roy emosi, menggeser paksa kursinya hingga jatuh ke lantai saat dia berdiri.

"Papa benar-benar kecewa padamu!" seru Om Roy sesaat sebelum dia pergi dari sana.

Erlang tidak peduli dengan amukan ayahnya. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Cih! Aku lebih kecewa padamu, Papa. Kau menikah dengan wanita yang pantas menjadi putrimu! Kau menjijikkan, Papa!" umpatnya menggenggam erat gelas di dalam genggaman tangannya hingga pecah melukai ruas tangannya.

Hidupnya seketika hancur tak bersisa. Kekasihnya mengkhianati nya lalu ayahnya, satu-satunya keluarga yang dia punya, justru menikah lagi dengan gadis muda.

Rasa hormat dan juga jadi panutan yang dia rasakan selama ini pada ayahnya berubah menjadi rasa muak dan jijik. Menganggap tua bangka itu begitu genit dan haus belaian wanita muda.

"Bagaimana kalau kita bermain dengan wanita yang sama, Papa? Pasti asyik, bukan?" gumamnya mengulum senyum. Satu rencana melintas dalam benaknya.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!