Percobaan pertama menarik perhatian Om Roy sudah gagal. Sesulit itu untuk menggoda Om Roy untuk datang ke ranjangnya.
Mungkin penampilan Yura tidak seperti gadis ibu kota pada umumnya yang modis dan juga berpenampilan terbuka, tapi cantiknya wajah Yura tidak ada yang meragukannya.
"Kenapa begitu susah untuk merayu suaminya sendiri? Kalau Om Roy tidak tertarik padaku, kenapa harus menikahi?" gumam Yura mondar-mandir di balkon kamarnya.
Matanya melihat sosok Erlang yang tengah sibuk menghasilkan keringat dengan bermain basket di lapangan depan. Kenapa harus main lapangan depan rumah? Apa coba tujuannya? Untuk menarik perhatian para gadis yang lewat dari depan rumah itu? Kalau memang itu tujuannya, tampaknya dia sudah berhasil, lihat saja banyak orang yang menonton aktraksi Erlang dan seorang temannya yang tadi pagi datang ke rumah itu.
Yura mendengus kesal lalu masuk ke dalam kamar. Padahal ini weekend, Om Roy juga ada di rumah tapi justru mengunci diri di kamar.
Yura akhirnya memutuskan untuk ke dapur. Lebih baik dia melihat kegiatan Titin atau bi Ijah yang suka membuat cemilan.
Belakangan ini nafsu makan Yura memang rada aneh. Ada waktu kala dia ingin sekali makan ini dan itu, tapi setelah mendapatkannya, nafsu makan dan keinginan tadi hilang seketika, bahkan kadang menjadi mual dan dorongan muntah itu selalu menderu nya.
"Nyonya butuh sesuatu?" Sambut Bi Ijah yang tengah membuat adonan kue. Yura menarik kursi dan duduk di depan wanita bertubuh gembul itu.
"Gak, Bi. Cuma lagi bosan aja. Titin mana?" tanya Yura melayangkan pandangan ke sekitar, tampak malas dan kurang semangat. Memilih untuk merebahkan kepalanya di atas meja.
"Lemas banget, Nyah. Bibi buatkan teh hangat ya," tawar Bi Ijah. Yura menggeleng lemah, dia mual. Belakangan ini frekuensi dia mual dan ingin muntah lebih sering dari biasanya.
"Titin mana, Bi?" tanya Yura malas. Tiba-tiba dia ingin sekali makan rujak pedas manis. Membayangkan saja air liurnya sudah menetes. Tapi dimana dia mendapatkan rujak seperti keinginannya?
"Lagi ngantar minuman buat Den Erlang sama temannya, Nyah."
"Bibi jangan panggil, Nyah. Panggil Yura aja," jawab Yura semakin mual. Dorongan itu semakin kuat hingga memaksanya untuk berdiri lalu bergegas menuju wastafel mementahkan isi perutnya, tapi yang ada hanya cairan bening yang untuk mengeluarkannya saja membuatnya lelah setengah mati.
Bi Ijah mendekat, segera mengurut tengkuk Yura, mengusap-usap punggung gadis itu agar berhenti muntah. Pandangan Bi Ijah sedikit berubah, tentu saja di dalam pikirannya berkecamuk sesuatu namun, tidak berani mengutarakannya.
"Nyonya baik-baik aja?" tanya Bi Ijah ini memastikan.
Yura berkumur-kumur dengan air yang dia tampung dengan tangannya, membersihkan mulutnya baru menjawab pertanyaan Bi Ijah.
"Aku baik-baik aja, Bi. Cuma masuk angin," jawab Yura sedikit gelagapan. Dengan usianya yang sudah senja, tentu saja Bi Ijah paham jangan kondisi Yura saat ini. Namun, wanita itu begitu bijaksana, tidak ingin mempertanyakan yang bukan urusannya yang mungkin saja bisa menyinggung perasaan Yura.
"Kalau begitu, Bibi buatkan wedang jahe biar badannya hangat," jawabnya memapah kembali Yura ke tempatnya semula.
"Loh, Nyonya di sini? Butuh sesuatu?" tanya Titin tersenyum gembira melihat Yura. Gadis itu senang berbicara dengan Yura, selain karena memang mereka seumuran, Yura memang baik kepadanya.
Setelah tiga hari menyandang predikat sebagai istri Om Roy, pria itu memberikan kartu ATM yang di dalamnya sudah terisi sejumlah uang. Pria itu mengatakan bahwa Yura bisa menggunakan uang itu untuk apapun yang dia inginkan, tapi hingga saat ini, Yura masih belum menggunakan sepeserpun dan keinginannya untuk makan rujak membuatnya berpikir untuk mengajak Titin keluar untuk menggunakan ATM itu.
"Kamu sibuk? Temani aku jalan, ya," ucap Yura semakin lemah. Kepalanya pusing, tapi keinginan untuk makan rujak itu semakin besar.
Dia sudah membaca beberapa artikel mengenai kehamilan dan sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Dia tahu ini dinamakan dengan ngidam dan kebanyakan dari komen yang dia baca, seharusnya suami lah yang siaga untuk memenuhi keinginan sang istri pada saat hamil, tapi nasib Yura tidak seberuntung wanita hamil pada umumnya yang memiliki suami. Dia harus bisa mandiri memenuhi keinginannya dan mencari sendiri.
"Aku akan menemani Nyonya kemana pun," jawab Titin bersemangat, lalu memandang bi Ijah untuk meminta izin, dan dengan anggukan wanita tua itu, artinya Titin sudah mendapatkan persetujuan.
Yura berjalan beriringan dengan Titin. Dia meminta gadis itu untuk memegang tangannya karena kepalanya yang pusing, membuatnya tidak bisa berjalan dengan tegap. Bahkan, dia mulai sempoyongan dan hampir jatuh.
"Sebaiknya kita tunda saja perginya, Nyonya, lebih baik Anda istirahat," jawab Titin merasa khawatir pada majikannya itu. Namun, Yura menggeleng, dia tetap ingin mencari rujak yang diinginkannya.
"Siapa dia?" tanya Dieko ketika melihat Yura dan Titin lewat, tentu saja yang dipertanyakan adalah Yura karena Dieko tahu Titin adalah pelayan dan tidak perlu dipertanyakan lagi.
"Istri bokap gue, gimana menurut lu?" jawab Erlang menoleh sesaat dengan ekor matanya ke arah Yura lalu kembali memusatkan perhatiannya kepada layar ponsel yang ada di tangannya.
"Gila, bokap lu main juga dapat istri bahkan yang jauh lebih murah dari lu," ujar Dieko menepuk punggung Erlang sembari tertawanya renyah.
Tepat saat menunggu satpam membukakan gerbang untuk mereka, tubuh Yura tidak bisa lagi bertahan dan gadis itu ambruk hampir terjerembab jatuh ke lantai, beruntung Titin segera menangkap.
Melihat hal itu, spontan Erlang bangkit dan berlari ke arah Yura, dengan cepat mengangkat tubuh gadis itu sebelum lebih dulu dilakukan oleh satpam.
Dengan sigap, Erlang menggendong Yura ala bridal dan membawa gadis itu ke kamarnya. Pada saat Yura tidak sadarkan, diri entah mengapa timbul rasa khawatir di hati Erlang yang dia sendiri tidak mengerti mengapa harus merasakan hal itu.
"Cepat hubungi dokter!" perintah om Roy yang ikut berlari masuk ke kamar Yura ketika melihat putranya itu menggendong ibu tiri nya.
"Tidak perlu, Tuan. Nyonya hanya tidak enak cabang karena masuk angin. Lebih baik saya oles minyak, nanti juga akan siuman," sambar Bi Ijah, mengambil alih situasi. Jangan sampai dokter memeriksa Yura saat ini.
Bi Ijah maju mendekati Yura, tanpa persetujuan majikannya, pelayan itu segera mengoles minyak yang ada terletak di atas meja di dekat ranjang Yura. Mengoleskan di bawah hidung, agar cepat diserap oleh Yura.
Benar saja, tidak lama Yura siuman. Bi Ijah yang merasa lega akhirnya bangkit dari sisi Yura, membiarkan Om Roya mengajaknya bicara.
Terlihat tatapan muak dan mencemooh Erlang saat ayahnya menggenggam tanga Yura. "Akhirnya kau siuman. Kenapa kau bisa sampai pingsan? Kau pasti kelelahan. Aku akan meminta dokter untuk memeriksanya," ucap Om Roy yang berhasil membuat Yura pucat, bahkan hampir kembali pingsan untuk kedua kalinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments