"Itu siapa, Bi?" Tanya Yura setengah berbisik pada Bi Ijah di dapur. Saat menuruni anak tangga, dia sempat melihat Erlang datang bersamaan Jessica.
"Mantan tuan Erlang. Bibi juga kaget di datang ke rumah ini, Nyah. Setahu Bibi mereka udah putus, dan tuan Erlang sempat membenci Non Jessica," terang Bi Ijah.
Yura diam dengan pemikirannya sendiri. Dia juga dengar kalau Jessica adalah wanita yang dicintai Erlang dan menjadi cinta pertamanya. Kalau sekarang mereka terlihat bersama dan begitu mesra, mungkin Erlang sudah memaafkan Jessica.
Tanpa sadar Yura menyentuh dadanya, terasa sakit dan juga tidak rela, tapi dia hanya menekan perasaan itu, yang akhirnya berujung rasa mual dan ingin muntah.
Ueeek... Uweeek...
Yura mengeluarkan sarapan pagi dan juga makan siangnya, menguras semua yang ada di dalam perutnya.
Khayalan Yura sangat sederhana. Dia ingin sekali perutnya dielus oleh Erlang. Keinginan gila itu muncul begitu saja tanpa bisa dia bendung.
Dengan lemas, dia melorotkan tubuhnya di kursi. Lelah dan sakit setelah mengeluarkan semua isi perutnya, ditambah mendengar kabar yang tidak mengenakkan ini.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Roy berdiri di ambang pintu, melihat Yura hanya duduk lemas di kursi makan.
"Perutku gak enak. Mual dan kepalaku juga sakit," jawabnya lemah merebahkan kepalanya di atas meja.
"Kalau gitu ke dokter aja," sambut Roy cemas. Dia tidak ingin terjadi hal buruk pada Yura dan bayinya.
"Gak usah, Mas. Udah biasa gini. Mas nyari aku?" tanya Yura menatap Roy. Bukannya tadi suaminya itu sedang bersama Erlang dan tamu mereka? Kenapa datang mencarinya?
"Tadinya mau mengajakmu bertemu dengan calon istri Erlang, bagaimanapun kau adalah ibunya, sudah sewajarnya kau mengenal calon menantimu," ucap Roy mendekati Yura.
"Ca-Calon istri?" pekik Yura kaget. Kenapa bisa secepat itu. Baru kemarin Erlang mengatakan padanya keinginan pria itu untuk memiliki Yura, dan sekarang Erlang sudah memikirkan untuk menikahi Jessica.
"I-iya. Kamu mau bertemu dengannya? Atau aku bisa meminta dia datang lain waktu, saat kau sudah siap bertemu," ujar Roy memusatkan perhatiannya pada wajah Yura yang semakin pucat.
Hati Roy terlalu bersih untuk menyimpan dugaan mengenai ketertarikan Yura pada Erlang, dan berita ini membuatnya kecewa. Jadi, dia hanya berpikir wajah Yura yang kian memucat itu gara-gara fisik wanita itu yang saat ini sedang tidak sehat.
Memikirkan kalau Jessica datang lagi ke rumah ini, membuat Yura semakin kesal. Dia tidak sudi. Kalau pun nanti mereka menikah, Yura akan minta pada Roy, agar keduanya jangan tinggal di rumah ini. Mana mungkin dia bisa tinggal satu atap bersama Erlang dan istrinya, melihat ayah anaknya bermesraan dengan istrinya sama saja membuat Yura gila perlahan.
Satu alasan lain yang dipertimbangkan Yura hingga gadis itu penuh semangat untuk bertemu dengan Jessica, dia ingin menunjukkan kalau dirinya adalah Nyonya di rumah ini.
"Gak usah, Om. Kita ke depan," ucapnya tegas sembari berdiri.
Memasuki ruang tamu, orang pertama yang melihat ke arah Yura adalah Erlang. Tatapan mata pria itu seakan mengatakan, lihat, aku bersama gadis lain, dan kau tidak ada apa-apanya untukku!
"Jes, kenalkan ini, ibu sambung Erlang, istri Om," ucap Roy mengenalkan Yura.
Gadis itu tampak terkejut, tidak menyangka kalau istri calon mertuanya semuda itu, bahkan dia lebih tua dari Yura.
"Sayang," panggil Erlang menyikut lengan Jessica, tapi matanya menatap lekat pada mata Yura. Sengaja memanggil Jessica dengan sebutan sayang.
"Oke! Mari berperang! Kau pikir aku akan cemburu kau membawa gadis itu? Oke, baik, sedikit tidak suka, bukan cemburu! Oke Fine! Aku cemburu, dasar brengsek! Tapi aku yakin ini karena anak dalam perutku ini tidak suka ayahnya menikah dengan rubah betina ini!" batin Yura mengajak hati dan pikirannya berbincang.
"Oh, hai Tan, eh, aku manggil apa nih?" ucap Jessica grogi. Dia merasa gak enak hati menyinggung Roy, terlihat wajah datar pria itu atas ucapan Jessica.
"Panggil aja, Yura," jawab Yura tegas. Mengambil tempat duduk di sebelah Om Roy.
"Om harap hubungan kalian bisa langgeng. Jangan lagi ada drama yang menyita perhatian!" tegas Roy tidak ingin melihat putranya itu frustrasi seperti kemarin.
"Iya, Om. Aku tahu semua ini terjadi karena salahku, dan aku sangat menyesal. Aku janji, Om, tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan Erlang padaku kali ini," jawab Jessica yang sadar ucapan Roy bermaksud untuk menyinggungnya.
"Jadi kalian akan menikah?" tanya Yura yang semakin panas dibuat Erlang, yang tersenyum mengejek ke arahnya.
"Tentu saja. Kami akan menikah secepatnya!" ucap Erlang berlaga mata. Kalau dengan tatapan bisa melukai, pasti keduanya sudah berdarah-darah.
"Kalau begitu, aku ucapkan selamat. Om, aku mau istirahat. Anak ini tampaknya gak nyaman berlama-lama duduk di sini," ucap Yura mengalihkan pandangannya pada Roy.
Mata Erlang melotot tajam ke arah Yura, tapi gadis itu tidak peduli. Memangnya Erlang pikir hanya dia yang bisa melukai perasaan Yura.
"Apa benar kita akan menikah?" tanya Jessica dengan senyum gembira. Dia masih tidak percaya atas apa yang dikatakan Erlang di depan orang tuanya. Ini seperti mimpi bagi Jessica. Erlang bahkan belum mengatakan apapun padanya.
Pria itu mau memaafkannya saja, wanita itu sudah sangat berterima kasih. Ini, bahkan Erlang sudah mau menikahinya?
"Mungkin. Niat ke sana tentu saja ada. Tapi aku ingin melihat perubahanmu!" jawab Erlang cuek.
Tentu saja Erlang tidak punya niat menikahi Jessica dalam waktu dekat ini. Dia mau menerima gadis itu juga karena ingin menunjukkan pada Yura, kalau gadis itu tidak terlalu penting baginya. Dia bisa melupakan Yura dan melakukan apapun dengan wanita yang dia mau. Jangan gadis itu pikir, karena selama ini Erlang begitu lemah atas sentuhan gadis itu, membuatnya merasa di atas awan. Erlang pun bisa melupakan semua kenikmatan yang dia dapat dari Yura. Tapi apa benar bisa lup?
Erlang sendiri tidak tahu mengapa dia bisa tidak menyukai Jessica lagi. Kalau dilihat dari penampilannya, Jessica bahkan semakin cantik, tapi kenapa tidak ada getar itu dia rasakan lagi? Apa mungkin karena pengkhianat yang dilakukan Jessica dulu? Ibarat kertas, kalau sudah pernah diremas, mungkin bisa diluruskan lagi, tapi tetap tanda kusut itu akan terlihat.
"Er, aku mencintaimu," bisik Jessica mengecup pipi Erlang, tapi pria itu tidak bereaksi, bahkan kalau mau jujur dia sangat risih. Mendapati kekasihnya tidak ada reaksi, Jessica pun berinisiatif untuk lebih mencondongkan tubuhnya pada Erlang guna mencium bibir pria itu.
"Kasih aku waktu, Jes," tukas Erlang menjauhkan tubuhnya. Dia tidak bisa menerima ciuman Jessica, seolah rasa bibir Yura masih menempel di sana, tidak ingin digantikan oleh sentuhan wanita lain.
"Sialan kau, Yura! Kenapa aku bahkan bisa tidak tertarik pada wanita lain!" umpatnya dalam hati sembari mengepalkan tinju di sisi tubuhnya.
*
*
*
Mampir
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Neng Ati
semakin seru selalu dibikin ga sabar menunggu lanjutannya,semangat author say
2023-05-17
1
Nurlen Jamarni
seru banget
ceritanya bagus
2023-05-17
1