Perhatian Om Roy pada Yura semakin besar. Pria itu selalu menghujani gadis itu dengan hadiah yang membuat Yura semakin mengagumi kebaikan hati Om Roy.
Yura sadar, mungkin ini lah takdirnya, menikah dengan pria itu. Tidak mengapa, yang penting pria itu begitu sayang dan juga perhatian padanya. Lagi pula Om Roy juga sangat tampan di usianya yang tak lagi muda ini. Jadi, Yura menata hatinya. Berusaha untuk bisa mencintai Om Roy, walau belum berhasil juga.
Ini semua salah Erlang. Pria gila itu benar-benar meruntuhkan akal sehat dan juga imannya. Pria itu selalu mengambil kesempatan untuk menggodanya.
"Apa Om akan lama pulang?" tanya Yura mengantar Roy hingga ke mobil. Hari ini pria itu terbang ke Singapura untuk mengurus pekerjaannya.
"Om akan usahakan pulang cepat. Lagi pula, kamu jangan takut, ada Erlang yang akan menjagamu begitu pun pelayan lainnya," ujar Om Roy mengusap puncak kepala Yura.
Ada yang aneh dengan Om Roy, pria itu tidak pernah mau menyentuh Yura, paling jauh hanya membelai puncak kepalanya. Padahal mereka adalah suami istri, dan juga sudah pernah tidur bersama, walau untuk yang terakhir, itu hanya siasat Yura, tapi setidaknya sepengetahuan Om Roy mereka kan sudah pernah tidur bersama.
"Aku mohon jangan menyebut nama anak mu itu, Om. Dia justru sangat berbahagia untukku," batin Yura.
"Ya sudah, Om pergi dulu," jawab Roy mengulurkan tangan untuk dicium Yura.
"Hati-hati di jalan, Om."
***
Mungkin Yura terlalu gelisah karena ditinggal bersama Erlang, padahal sudah seminggu pria itu tidak lagi mengganggu Erlang, sejak pertengkaran mereka di taman belakang waktu itu.
Yura sedang menikmati belaian angin sore ketika Erlang mendatanginya. Pria itu tersenyum dengan melipat tangan di dada.
Yura yang terkejut akan kehadiran pria itu memilih untuk pergi saja dari sana, tapi seperti biasa Erlang menahan langkahnya dengan berdiri di depan Yura.
"Akhirnya, aku tahu kebenaran yang ada. Kau adalah wanita yang dibeli ayahku sebesar 500 juta! Harga yang fantastis untuk wanita kampung seperti mu!" cemooh Erlang, dan hal itu berhasil membuat Yura terbelalak.
Benar, Erlang sudah berhasil menyelidiki latar belakang Yura. Setelah mendengar laporan anak buahnya sore sebelum pulang kantor, Erlang mengangguk paham dan bergegas pulang.
"Bukan urusanmu!" bentak Yura mengambil jalan lain. Dia ingin menjauh dari Erlang, tapi saat ini tidak ada yang bisa menolongnya. Om Roy belum pulang kala itu.
"Jadi, urusanku. Karena kau adalah gadis yang dibayar ayahku, maka aku pun punya hak untuk kau puaskan, karena itulah fungsi mu, menjadi penghangat ranjang pria!"
Plak!
Yura puas. Dia sudah berhasil menampar pipi kanan Erlang dengan sekuat tenaga. Pria harus disadarkan agar berbicara lebih manusiawi.
"Aku mengutuk mu! Aku membencimu dengan segenap hatiku. Jangan pernah kau bicara padaku lagi!" ucapnya dengan tegas tepat saat air matanya jatuh di pipi.
Erlang sempat terperangah melihat hal itu. Dia diam dengan rasa terkejut. Dia melihat jelas luka di mata Yura dan itu akibat perkataannya. Seharusnya dia tidak peduli, karena menurutnya apa yang dia katakan itu adalah kebenaran, tapi kenapa melihat tangis Yura, sudut hatinya berdenyut merasakan kesedihan.
Sejak itu Yura menarik diri, menghindari dari pria itu. Erlang sendiri tahu kalau Yura sengaja menghindarinya. Wanita itu akan minta izin pada Roy untuk menikmati makan malamnya di dalam kamar saja.
Erlang pun akhirnya ikut menjauh. Dia akan menghindar agar tidak bertemu dengan Yura, semata-mata agar gadis itu nyaman. Pengorbanan dari Erlang yang tidak disadari pria itu.
Terbukti, dua hari setelah Om Roy pergi, Erlang tidak menjahatinya. Pria itu bahkan sudah mencarinya untuk diganggu seperti biasa.
Harusnya, Yura senang. Tapi ada bayaran yang harus diterima Yura dengan menjauhnya Erlang. Mulanya kembali, dan itu sangat menyiksa. Selama ini, walau benci dengan Erlang, setiap berdekatan dengan pria itu, walau hanya sekedar duduk di ruang makan, rasa mual Yura tidak muncul dan wanita itu bisa makan dengan tenang.
"Nyonya tidak makan?" tanya Titin melihat piring Yura masih penuh dengan makanan.
"Aku gak selera, Tin. Aku naik dulu, ya," ucap Yura memilih untuk tidur saja malam itu.
***
"Bagaimana hasilnya, Tuan?" tanya Niko penasaran. Dua hari lamanya menunggu hasil pemeriksaan kesehatan Roy, dan akhirnya amplop yang berisi keterangan kesehatan pria itu sudah ada di tangannya.
Kepergian Roy ke Singapura bukan lah soal pekerjaan. Ada yang lebih penting dari semua itu. Dia tidak bisa berkata jujur akan kepergiannya pada Yura, ketika gadis itu merengek untuk ikut saja dari pada harus ditinggal bersama Erlang. Menjadikan pekerjaan sebagai alasan keberangkatannya.
Roy tidak ingin siapapun tahu kalau dia menemui dokter yang selama ini mengetahui keadaan dirinya.
Niko masih menunggu. Roy hanya diam memandang jendela kamar hotel. Dia sudah membaca isi amplop itu, tidak sampai di situ, dia juga berhenti dengan dokter Will, dan menjelaskan mengenai keadaannya.
"Tidak ada perubahan, Nik. Dugaanku benar, tidak ada yang terjadi malam itu!" ucap Roy dengan suara berat. Perasaannya hancur, hatinya kecewa. Ingin menangis dan menjerit, tapi dia malu, karena dia seorang pria.
Namun, kalau tetap dipendam dalam dada, rasanya sesak, sulit bernapas. Lagi pula, apa yang harus dirahasiakan Roy pada Niko. Asistennya itu lebih tahu dari siapa mengenai keadaan Roy.
Niko yang mendengar penuturan bosnya hanya bisa diam, ikut mengheningkan diri. Kata penyemangat apa lagi yang bisa dia katakan.
Saat Roy menceritakan malam bersejarah itu dengan penuh suka cita, jujur Niko sedikit kurang percaya, tapi dia tidak mau membuat Roy patah semangat. Mungkin saja keajaiban itu memang ada. Bertolak dari kejadian malam itu, Roy berencana untuk berobat ke Singapura, tempat biasa dia periksa.
Will juga terkejut dengan kedatangan Roy yang mendadak dan meminta agar dirinya diperiksa. Namun, setelah mengetahui hasilnya, Will begitu berat harus menjelaskan pada Roy, sahabat baiknya itu.
"Jadi, apa yang harus saya lakukan, Tuan? Apa sebaiknya kita menyingkirkan gadis itu karena sifat berbohong pada Tuan?" tanya Niko mengepalkan tinju di sisi tubuhnya. Dia marah, kecewa pada Yura.
Gadis itu sudah berani menipu dan mempermainkan bosnya yang memiliki hati rapuh. Wanita itu sudah berhasil membuat perubahan pada diri Roy, Niko akui itu. Hal positif yang Roy terima, yaitu menjadi pria penuh semangat lagi dalam menjalani hidup. Dan hal itu yang memacu Roy ingin sembuh, agar bisa menjadi orang yang pantas untuk Yura. Tapi apa kenyataannya?
"Jangan dulu. Kita lihat apa trik Yura selanjutnya. Lagi pula kalau sampai ketahuan mengenai keadaan diriku ini, makan aku juga akan hancur. Aku tidak akan bisa melihat orang-orang, terlebih berhadapan dengan Erlang!"
*
*
*
kuys mampir
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Widi Widurai
impoten?
2023-06-15
2
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Ternyata om Roy sudah tau kebohongan mu Yura🤦
Kenapa kamu gak jujur Saja😔
Kamu tega menipu orang yg baik padamu 🙈
2023-05-29
0
Neng Ati
waduh ada apakah dengan om Roy,semoga kamu baik2 saja ya om
2023-05-12
1