Rencana Memikat

Yura berharap sarapan pagi ini cepat selesai, dia sungguh tidak nyaman diperhatikan oleh Erlang dengan sangat intens seperti itu. Dia benci tatapan menyelidik sekaligus mencemooh dari mata pria itu.

Sementara mereka saling adu pandang dengan saling membenci, Om Roy justru makan dengan lahapnya. Menikmati sarapan paginya dengan membaca portal berita di media online.

"Sampah semuanya!" umpatnya meletakkan dengan kasar tablet yang sejak tadi dia pegang.

"Apa kau akan ke kantor?" tanya Om Roy menoleh pada Erlang. Pria itu tampak sudah sangat putus asa melihat putranya yang tidak punya tujuan hidup. Seolah semua tindak tanduknya hanya untuk membaut Roy kesal.

"Aku ingin beristirahat di rumah, Papa. Mungkin Minggu depan akan mulai bekerja," jawab Erlang santai.

Dia tidak bisa memungkiri kalau dirinya kini sudah banyak berubah, seperti bukan Erlang yang dulu ada, dan semua ini karena gadis sialan itu, yang sudah berhasil dengan mudahnya menghancurkan hidupnya.

Kalau sampai dia bertemu dengan gadis itu maka Erlang bersumpah tidak akan menahan amarahnya.

Sesudahnya tidak ada pembicaraan lagi, karena tidak lama, Om Roy segera bangkit dari duduknya dan beranjak ke pergi. Yura mengambil kesempatan untuk pergi dari hadapan Erlang dengan mengikuti suaminya.

Om Roy yang melihat hal itu merasa senang, mengira Yura melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan memberangkatkan dirinya pergi ke kantor. Padahal dia tidak tahu bahwa itu hanya alibi Yura untuk menjauh dari Erlang.

Sebenarnya ada hal yang tidak masuk akal di sini, kenapa Yura yang menjadi takut berdekatan dengan Erlang, sementara Erlang lah yang sudah memperkosanya. Seharusnya pria itu yang takut dibunuh oleh ayahnya karena sudah menodai ibu tirinya sendiri, tapi jika ditilik dari rentang waktunya, maka saat itu, Yura bukanlah calon ibu tirinya, jadi lagi-lagi Erlang bisa dibebaskan dari segala tuduhan.

Justru hal itu bisa menjerat Yura, sudah tahu hamil tapi tidak mau jujur kepada Om Roy, bahkan tetap memilih untuk menikah dengan pria tua itu.

Atau semua kesalahan ini bisa dilimpahkan kepada Kamsa? Bukankah dia dalang dibalik semua ini, yang memaksa Yura untuk mau menerima pernikahan ini demi uang yang banyak?

Yura sama sekali tidak bermaksud untuk menyembunyikan perihal kehamilannya, hanya saja waktu tidak tepat, begitu mepet dari dirinya mengetahui tentang kehamilannya itu hingga hari dimana dia harus menikah dengan om Roy.

"Kau mau kemana?" tanya Erlang yang sudah menghadang langkah Yura. Gadis itu melotot tajam atas tindakan Erlang, agar menyingkir dari langkahnya. Tapi sayangnya Erlang yang kini sudah berubah jadi pria brengsek, tidak peduli dengan rasa tidak senang Yura.

"Minggir!" bentak Yura memberanikan diri mengangkat wajahnya. Melihat Erlang dia jadi teringat peristiwa malam itu yang membuat Yura tidak punya pilihan lain seperti ini.

"Wow, jangan galak-galak dong, Mama," ucapnya dengan nada mengejek. Satu senyum melintang di bibirnya. Sumpah Yura ingin sekali meludahi wajah Erlang, tapi dia menahan diri.

Yura mundur, lalu mengambil jalan lain, tapi Erlang bukan lawan cemen yang cepat menyerah. Kembali Erlang menghadang, kali ini dia menarik tubuh Yura hingga terpojok ke dinding. Ruang gerak Yura diblok oleh Erlang, mengurung tubuh Yura dengan tangan di kedua sisi.

"Aku gak tahu apa yang sudah kau perbuat pada ayahku hingga dia mau menikahimu, yang pasti, aku pastikan kau tidak akan bisa mendapatkan satu sen pun dari harta ayahku. Aku lah satu-satunya anaknya, dan jika kau berencana ingin memiliki anak darinya sebagai jaminan untuk masa depanmu di rumah ini, aku pastikan, anak itu tidak akan pernah lahir ke dunia ini!" umpat Erlang dengan sorot mata penuh amarah.

Tubuh Yura bergidik ngeri. Apa yang ditampilkan oleh Erlang saat bersama Om Roy sangat berbeda dengan ketika suaminya itu tidak ada di antara mereka.

"Kalau begitu, katakan pada ayahmu, jangan sampai dia mengajakku tidur, karena kau tahu, tubuhku begitu subur, hingga sekali saja dia menanamkan benih, maka aku pasti akan hamil!"

Yura mendorong tubuh Erlang sekuat tenaga hingga membuat pria itu menjauh dari Yura, dan saat itu lah gadis itu mempunyai kesempatan untuk melepaskan diri.

Yura mengunci pintu kamar, lalu tubuhnya merosot pada daun pintu. Dia baru lepas dari ancaman Erlang yang dia tahu pasti bukan hanya sekedar pepesan kosong belaka.

Reflek, Yura menyentuh permukaan perutnya. Mencoba merasakan kehadiran buah hatinya itu. Bagaimana ini, apa yang harus dia lakukan. Kehamilan itu pasti akan membesar dan Yura begitu takut kalau Erlang akan berupaya membunuh calon bayi nya.

Seandainya Erlang tahu kalau anak yang ingin dia bunuh ini adalah darah dagingnya.

"Dasar pria brengsek! Biadab!" umpatnya mengepal tinju. Dia harus memikirkan sesuatu yang bisa melindungi dirinya serta anak dalam kandungannya.

Yura melangkahkan kaki ke balkon kamar, menatap lurus ke arah jalanan di depan sana, membiarkan wajahnya dibelai oleh angin pagi itu.

Dia menangkap pergerakan Erlang yang tampak memasuki salah satu koleksi mobil di rumah ini. Tampak, pria itu berencana untuk pergi.

Sesuatu bersarang dalam benak Yura. Cara yang harus bisa dia gunakan untuk menjamin keselamatannya dan bayinya? Dia tidak ingin terjadi hal buruk padanya. Katakan dia jahat, tapi sudah selayaknya seorang ibu melindungi anaknya?

"Apapun resikonya akan aku tanggung, yang penting anakku selamat!" ucapnya kembali menyentuh perutnya.

Anak dalam kandungannya ini tidak bersalah. Kalau pun bisa memilih, Yura yakin kalau dia tidak ingin dilahirkan dari orang tua seperti mereka. Yang satu ibu labil, dan ayah yang brengsek!

Yura menarik napas panjang. Dia sudah memutuskan untuk melakukan rencananya. Berdoa saja semoga dia tidak mendapatkan masalah nantinya.

Namun, di tengah keyakinannya untuk melaksanakan rencana yang sudah dia pikirkan matang-matang, timbul kembali keraguan. Pasalnya dia sudah dua hari menikah dengan om Roy, tapi pria itu masih saja tidak meminta haknya sebagai suami. Bahkan mereka tidur terpisah, lantas bagaimana cara Yura untuk menjalankan rencananya?

Jangan sampai rencana itu terlalu lama ditunda, perutnya akan semakin membesar dan jika pun menggunakan rencana itu untuk menyelamatkan diri dan bayinya, maka baik Om Roy ataupun Erlang bisa menghitung usia kandungannya.

Jadi, mau tidak mau, rencana Yura harus dilakukan malam ini juga. Dia bukanlah wanita yang licik namun, di saat genting dia harus cerdik.

Kemarin, saat melintasi ruang tengah hendak menuju dapur, dia melihat mini bar kecil yang menurut Titin biasa didatangi oleh om Roy ketika pria itu kesepian, tidak ada teman bicara ataupun sedang dalam masalah.

Om Roy akan duduk sendiri, berteman dengan berbotol minuman untuk menenangkan pikirannya. Mungkin dengan bantuan minuman itu, Yura bisa memikat Om Roy untuk mau mampir di ranjangnya. Semoga!

Terpopuler

Comments

Neng Ati

Neng Ati

duh jangan serahkan dirimu SM om Roy dong Yura,itu kan anaknya Erlang,gmn jdnya nih

2023-05-10

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!