Yura menyambut gembira kepulangan Roy. Dia sudah lama menunggu pria itu. Begitu mendengar suara mobil Roy, Yura yang sejak tadi hanya berbaring di kamar berusaha untuk bangkit guna menemui pria itu, tapi masih belum sanggup.
Dua hari ini Yura benar-benar mabuk, muntah parah dan tidak ada makanan yang bisa masuk dalam mulutnya. Tubuhnya sangat lemas. Mencium bau apapun masakan yang disuguhkan padanya, pasti langsung muntah.
Yura yang merasa sudah aman, mengajak Titin untuk menemaninya periksa ke rumah sakit dengan meminta pak Komar mengantar mereka.
Tentu saja Yura sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan dokter, bahwa dirinya sedang hamil saat ini.
"Selamat ya, Bu Yura, Anda akan menjadi ibu," ucap dokter itu. Titin yang mendengar tentu saja terkejut hingga mulut menganga. Sekian lama bekerja di rumah itu, mengenal pribadi Om Roy yang sangat bersahaja, tidak pernah neko-neko, apalagi membawa wanita ke rumahnya, dan kini begitu menikah, tuan besarnya itu akan punya anak.
Titin tidak cukup mengerti penjelasan sang dokter, yang dia pahami Yura saat ini sedang hamil dan kehamilan nya itu tampak menyiksanya.
Dokter memang memberikan obat anti mual dan mengatakan kalau reaksi yang dialami Yura hal yang wajar bagi ibu hamil.
Sejak berita itu tersebar, semua orang memberi perhatian lebih pada Yura, dia dimanja dan selalu diperhatikan apa yang dikonsumsi. Bi Ijah sangat tegas dengan hal itu.
"Nyonya, Tuan Roy sudah kembali," ucap Titin mendatangi Yura dan melihat gadis itu berusaha untuk bisa bangkit dari duduknya.
"Bawa aku turun, Tin. Aku ingin bertemu sama om Roy," ucap Yura sedikit lebih bersemangat.
Namun, saat akan keluar kamar, Om Roy sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Kau baik-baik saja? Aku dengar dari Bi Ijah kau sakit, ada apa?" tanya Om Roy khawatir.
"Aku baik-baik aja, Om. Aku senang Om pulang. Ada yang ingin aku tunjukkan pada Om," ucap Yura memaksakan senyumnya. Sebenernya dia sedikit takut, bagaimana kalau om Roy tidak terima keberadaan anak yang ada di dalam kandungannya itu.
"Katakan," tanya Roy sedikit bisa menebak. Dia menatap wajah Yura, ada kesedihan di hati Roy atas tindakan Yura. Tapi entah mengapa tidak bisa membenci wanita itu.
Dia meminta Titin mengambil tas tangan di atas nakas, lalu setelahnya mengambil sebuah amplop putih dan menyerahkan pada Om Roy.
"Apa ini?" Pria itu mengamati amplop yang sudah ada di tangannya.
"Bukalah, Om," ucap Yura sedikit gugup.
Om Roy melakukan perintah Yura. Dia tertegun saat membaca isi selembar surat putih, lalu ada juga secarik kertas berlatar hitam, Roy tahu apa itu. Dia ingat, dulu juga ibunya Erlang pernah menunjukkan pada dirinya saat gadis itu mengetahui mengenai kehamilannya.
Dengan perasaan hancur Roy menoleh pada Yura. Dia seharusnya marah, mengetahui gadis itu sudah membohonginya. Bagaimana mungkin dia bisa mengandung anaknya, sementara Roy masih belum sembuh dari sakitnya, dan bahkan tidak tertolong!
Sebagai suami, Roy berhak menampar Yura atas kebohongan yang sudah dia bangun. Tidak hanya memandang rendah padanya, Yura juga sudah menginjak harga dirinya, dengan melimpahkan tanggung jawab atas kehamilannya pada dirinya.
"Om, kenapa diam? Apa om gak senang mengetahui kehamilanku? Om gak menginginkan anak ini?" tanya Yura takut-takut. Hatinya sangat merasa bersalah. Dia tahu dosanya sudah berlipat kali ganda, tapi Yura tidak punya pilihan lain.
"Titin, kau keluar'lah," ucap Roy tanpa menoleh pada pelayannya itu. Jangan sampai semua yang terjadi dalam rumah tangga mereka menjadi konsumsi semua orang dalam rumah ini. Titin mengangguk, meninggalkan kamar itu dengan cepat.
"Sudah berapa bulan kata dokter?" Akhirnya Roy buka suara kembali setelah beberapa menit terdiam.
Nah, ini bagian paling mengerikannya. Yura harus berbohong, mengatur agar usia kehamilannya tepat dengan malam mereka tidur bersama.
"Enam Minggu, Om," ucap Yura meremas jemarinya karena gugup. Lewat ekor matanya, Roy bisa melihat kegugupan di wajah gadis itu.
"Selamat untukmu. Kau sudah akan menjadi ibu. Kau harus bisa menjaga kesehatan anakmu," ucap Roy mencoba tersenyum. Dia tahu saat ini Yura begitu ketakutan.
"Om tidak suka aku dengan kehadiran anak ini?" Yura masih perlu memperjelas keadaannya.
"Tentu saja. Aku berharap dia tumbuh jadi anak yang pintar, sehat dan cerdas." Roy mengusap puncak kepala Yura lalu tersenyum lembut.
Sikap pria itu membuat Yura bisa bernapas lega, semua masalahnya selesai. Rasa gembiranya membuat Yura masuk dalam pelukan Roy. Pria itu tentu saja terkejut, tidak mengharapkan hal itu.
"Kau beristirahat lah. Jangan sampai kelelahan," ucap Om Roy setelah sekian lama bingung harus bicara apa. Dia mengusap punggung Yura lalu melerai pelukan mereka. Roy hanya memberikan senyumnya lagi sebelum meninggalkan Yura.
Semua pelayan yang menunggu Roy turun, mengucapkan selamat pada pria itu yang hanya dibalas dengan anggukan.
Dada Roy terasa sesak. Dia tidak tahan harus satu atap dengan Yura saat ini. Memikirkan wanita itu sudah hamil bahkan sebelum mereka menikah, membuat darah Roy mendidih. Dia bukan orang bodoh, Yura pikir dia tidak bisa membaca keterangan di foto scan janinnya. Usia bayi itu bahkan dua bulan lebih.
Dia perlu udara segar, hingga memutuskan untuk pergi keluar. Dia tidak membawa supir, dia ingin sendiri, menenangkan dirinya.
Hati Om Roy tergores. Dia pikir Yura gadis baik-baik. Dia mengutuk kebodohannya karena sudah terbuai dengan wajah polos dan menyedihkan Yura saat jadi SPG rokok. Dia salah menolong orang.
Namun, apa hendak dikata? Nasi sudah jadi bubur. Yura hamil, dan saat ini dia berstatus istrinya Roy, tidak mungkin menyingkirkan gadis itu. Akan kemana Yura membawa bayinya?
Om Roy memilih satu bar, ruang VIP disiapkan untuk dirinya. Tidak lama, Niko datang. Pria itu tidak dihubungi oleh Roy, tapi lokasi Roy yang di report selalu di ponsel Niko, membuat asisten setianya itu segera mendatangi bar itu.
Kalau Roy saat ini berada di bar, padahal baru saja menempuh perjalanan panjang, pasti karena pria itu memiliki masalah pelik, dan Niko merasa bertanggung jawab untuk menemani bosnya itu.
"Kau datang!" sambut Roy menoleh ke arah pintu saat Niko masuk.
Pria bertubuh tegap itu hanya mengangguk, lalu mengambil tempat di samping Roy. "Apa yang terjadi bos? Seharusnya bos ada di rumah saat ini, beristirahat," ucap Niko mengamati air muka Roy yang memancarkan kekecewaan.
Niko tebak, ini pasti ada hubungannya dengan Yura. Apakah mereka bertengkar? Tapi masalah apa? Semua pertanyaan itu bergumul dalam hati Niko, ingin mendengar penjelasan bosnya itu. Kalau memang Yura terbukti melakukan kesalahan yang menyebabkan bos nya terbebani, maka Niko tidak akan segan membereskan gadis itu.
"Yura hamil!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Rini Eni
yura oh yura
2023-09-08
0
Widi Widurai
ciluk baaaaa, sok sok an bilang hamil tp nyatanya roy impoten 🤭 malu banget itu kl ketauan boong hahahh
2023-06-15
1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Yura kamu sadar gak😱
Ada bom yg sewaktu waktu bisa meledak 💥
Sebelum terlambat 😲,lebih baik kamu jujur akan kondisimu pernah diperkosa beberapa bulan yg lalu 🙈
2023-05-29
0