Mulai Cemburu

Sejak malam tipu muslihat Yura, tampak Roy menjadi lebih perhatian tapi sekaligus terlihat gugup pada Yura. Pria itu menganggap kalau benar adanya sesuatu terjadi diantara mereka malam itu, maka itu hal yang baik terhadap Roy, meski dalam hati pria itu masih terbersit keraguan.

Namun, tidak ada yang bisa menduga takdir yang akan terjadi pada diri seseorang di kemudian hari, kan? Bisa aja memang kehadiran Yura bisa membawa hidup yang baru bagi Roy.

"Om sudah pulang?" sambar Yura tersenyum. Dia begitu girang melihat Roy tiba. Dia harus lebih bisa menunjukkan baktinya sebagai istri, karena Yura harus berterima kasih pada Roy yang sudah mengatasi masalahnya. Perkara dosa, nanti saja lah. Bukankah semua orang juga berdosa?

"Kau menunggu Om? Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan?"

Yura melangkah di sis Roy, mengikuti pria itu hingga ke ruang tamu. "Apa om mau aku buatkan teh? Oh, atau gak, menyiapkan air untuk mandian?" tanya Yura penuh semangat. Dia berhutang budi, pria itu penyelamatnya. Yura akan menganggap dirinya sebagai pelayan Om Roy.

"Tidak usah, aku sudah biasa mengurus diriku. Kau tidak perlu melayaniku, karena kau bukan pelayan," ucap Om Roy mengusap puncak kepala Yura.

Pria berusia 45 tahun itu tersenyum hangat pada Yura, menunjukkan sisi lembut dan tampan Roy. Bentuk tubuh Roy yang bagus, karena pria itu rajin olahraga, membuat bilangan angka pada isinya tidak lah tampak tua. Sejujurnya, Roy masih sangat tampan, dan juga menarik.

"Om gak suka ya padaku?" tanya Yura berwajah murung. Dia sudah berusaha tampil menarik, walau hanya seadanya menggunakan riasan.

Ditanya seperti itu, Roy jadi kelimpungan. Hanya dia yang tahu tujuan awal pria itu menikahi Yura hanya untuk menafkahi sekaligus membuat Yura punya masa depan. Anggap saja, mereka berjodoh, Roy berempati melihat keadaan Yura sebagai yatim piatu hingga membuat Roy berniat berbuat amal dengan membantunya. Sedikitpun Roy tidak punya niat untuk memperlakukan Yura seperti seorang istri.

"Bukan begitu. Tentu saja Om menyukaimu, makanya menikahimu. Tapi Om bukan seperti pria yang kau pikirkan. Sudah'lah, Om mau ke atas, mau mandi, habis itu kita makan malam bersama ya," ucap Roy tersenyum lalu meninggalkan Yura yang bengong memandangi punggung pria itu.

"Tampaknya, Papa ku benar-benar tidak tertarik padamu. Kenapa kau memaksakan diri tetap berada di sisinya? Apa karena harta? Kau memang wanita murahan yang tidak punya harga diri," celetuk Erlang yang sudah muncul dari belakang Yura.

Entah sejak kapan pria itu berada di sana, menyaksikan perbincangan Roy dengan Yura.

"Bukan urusanmu! Apa kau tidak melihat kalau suamiku begitu menyayangiku? Dia mengusap rambutku penuh kasih sayang," jawab Yura menepuk dada. Dia tahu penghinaan Erlang hanya bisa dibalas dengan kesombongan.

"Akan menjadi urusanku, jika itu menyangkut soal ayah ku!" umpat Erlang kembali mengungkung tubuh gadis itu.

Sontak Yura panik, Erlang memang gila! Bagaimana kalau Roy tiba-tiba turun dan melihat mereka?

"Lepaskan!" bentak Yura tapi tertahan. Dia ingin sekali berteriak, memaki pria yang selalu mampu membuat debar jantungnya berdebar tak karuan.

"Kalau aku gak mau, gimana?" tantang Erlang. Dia menikmati ketakutan yang terlibat jelas di mata Yura. Dia tahu kalau sampai ayahnya melihat mereka, pasti akan segera mendepak Yura dari rumah itu. Tentu saja, Roy juga akan marah padanya, tapi bagaimanapun dia adalah anak Roy, suatu hari nanti setelah amarah itu reda, maka akan memaafkannya.

"Aku mohon lepaskan aku," bisik Yura semakin panik kala Erlang mengendus dan mengecup lehernya. Tidak hanya Roy, pelayan pun bisa saja memergoki mereka.

Yura hampir menangis, suaranya bergetar, hingga membuat Erlang mengangkat wajahnya, menatap mata Yura yang sudah berkaca-kaca.

Pria itu mundur, memberikan ruang kepada Yura untuk bisa pergi dari dekapannya, dan begitu punya kesempatan, gadis itu segera berlari menjauh dari Erlang.

Yura mengutuk kebodohannya. Dia begitu lemah setiap berhadapan dengan Erlang. Yura tidak bisa menolak dan mengabaikan sentuhan pria itu di kulitnya, seolah bagaikan candu, Yura justru menginginkan lebih dari itu. Betapa tidak tahu malunya dia!

Kenangan pahit yang dia lalui bersama Erlang malam itu justru mendatangkan potongan-potongan ingatan di dalam benaknya setiap melihat pria itu.

Seandainya saja mereka tidak tinggal satu atap, mungkin Yura akan dengan gampang melupakannya dan menganggap itu sebagai kesialan dalam hidup tapi kenyataannya justru mereka dipertemukan kembali dengan keadaan yang begitu rumit seperti ini.

Erlang adalah pria pertama yang menyentuhnya dan berlalunya waktu, kedekatan mereka justru membuat Yura semakin tidak bisa lepas dari pria itu.

"Berlari'lah semakin jauh Yura, menjauh dari diriku, kalau tidak jangan salahkan aku jika menyentuhmu lagi," cicit Erlang menatap punggung Yura yang menjauh lalu tersenyum sinis.

***

Saat makan malam tiba Yura sengaja melayani Roy, menunjukkan kemesraan mereka di depan Erlang. Semua itu dia lakukan agar anak tirinya itu mengerti bahwa dia layak dihargai dan dihormati sebagai ibu tirinya, terlepas dengan begitu lemah dirinya, setiap pria itu menarik tubuh Yura, membenturkan ke dinding lalu menyentuh kulitnya dengan bibir panas pria itu.

Sudah seharusnya Yura melepaskan diri dari Erlang. Sekali lagi pria itu mencoba untuk menyentuhnya dia akan menampar Erlang, bahkan bisa saja Yura akan melaporkannya kepada Roy sebagai bentuk pelecehan yang dilakukan anak tirinya itu.

"Tambah udangnya, Om," ucap Yura menyendok udang dan meletakkan di piring Roy.

Erlang melihat adegan itu dan dia tidak suka, melempar tatapan sinis, seolah ingin mengejek Erlang, yang pasti tidak akan berani menghukum Yura dengan menarik tangannya ke sudut ruangan, seperti apa yang biasa dilakukan pria itu setiap dia tidak suka melihat kedekatan Yura dengan Roy.

"Terima kasih, Yura." Roy memberikan senyuman manis pada Yura. Cukup sudah, Erlang muak melihat adegan mesra pasangan itu. Dia mengambil lap tangan, membersihkan sudut bibirnya, lalu melempar dengan kesal ke atas meja.

"Aku selesai," ucapnya bangkit dan pergi dari meja makan.

Erlang berdiri menatap jalanan dari balkon kamarnya. Dia tidak tahan, ada kecemburuan yang membakar hatinya melihat kemesraan kedua orang itu. Dia tahu bahwa hal itu adalah wajar mengingat mereka berdua adalah pasangan suami istri, tapi Erlang tampaknya tidak mau mengerti dan dia mau Roy menjauhkan tangannya dari Yura.

Hanya usapan rambut yang diberikan Roy pada Yura tadi, tapi hal itu justru membuat Erlang marah, hingga mengungkung tubuh Yura dan mencium leher gadis itu sore tadi. Erlang semakin posesif, niat awalnya yang ingin mengusir Yura dari hidup ayahnya jadi justru ingin memiliki gadis itu untuk dirinya sendiri.

*

*

*

Mampir yuk

Terpopuler

Comments

Tua Jemima

Tua Jemima

berterusterang lebih bsik yura serapat kmu menyebuyikn aib pasti terbokar juga

2023-11-14

0

Rere Niae Cie'kecee

Rere Niae Cie'kecee

ya greget dan penasaran banget thor 🤗🤗😘😀😀

2023-07-02

0

Neng Ati

Neng Ati

semakin greget bacanya

2023-05-12

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!