Apakah yakin itu anak, Papa?

Rasa khawatir Yura semakin menjadi-jadi. Suaminya malam itu tidak pulang, padahal Om Roy baru saja kembali, tapi begitu selesai bicara dengannya, pria itu pun pergi.

Yura hanya berharap, alasan kepergian Om Roy semata-mata ada urusan dengan pekerjaan, begitu banyak hingga tidak bisa pulang malam itu.

Paginya, Yura turun dengan penuh semangat. Dia pikir Om Roy pulang, tapi ternyata justru Erlang yang memasuki rumah. Lima hari menghilang, dan baru kali ini pria itu muncul.

Keduanya saling adu pandang, lalu Erlang buang muka dan terus melangkah ke kamarnya. Yura kembali melihat ke arah piring nya, bertanya untuk apa pria itu kembali ke rumah dengan tergesa-gesa.

Pertanyaan Yura akhirnya terjawab. Erlang turun menenteng kopernya. Jadi, pria itu datang bukan untuk kembali tinggal di rumah itu, tapi justru ingin mengambil pakaiannya.

Ada gumpalan kesedihan di hati Yura. Aneh, dia tidak ingin pria itu pergi dari rumah ini, padahal kalau dia ingat, hal itu justru sejak lama diinginkan gadis itu.

Mungkin karena hari ini tanggal merah, jadi, Erlang mengambil waktu untuk membawa barang-barangnya.

Lamunannya, tersentak kala mendengar suara deru mobil di luar. Dengan antusias, Yura menyambut kedatangan Roy.

"Akhirnya kau pulang juga," sapa Roy melihat putra di tengah ruangan. Lalu pandangan matanya beralih pada koper yang dia bawa.

"Kau mau kemana?"

"Tinggal di apartemen, Pa," jawab Erlang cuek.

"Kenapa begitu?" Roy masuk dan duduk di ruang tamu, membuat Erlang tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah ayahnya dan duduk di depan Roy.

"Kemarilah, Yura," ucap Roy memanggil gadis itu yang terlihat berpikir apakah dia menyusul mereka atau kembali ke meja makan.

"Papa ingin memberitahu kabar gembira padamu. Mungkin kau belum tahu, Yura saat ini sedang hamil."

Wajah malas dan tidak berminat yang sejak tadi ditampilkan oleh Erlang berubah menjadi serius. Pria itu terkejut, hingga tanpa sadar mulutnya sedikit menganga. Berita itu seperti bom waktu yang sudah dia prediksi, hanya saja tidak tahu kapan meledaknya.

Erlang sudah menduga akan datangnya hari ini, tidak mungkin suami istri, terlebih pengantin baru tidak mempunyai hasrat, dan pastinya dibalik hasrat itu akan menghasilkan seorang anak.

Jelas Erlang tidak suka. Dia melihat wajah ayahnya yang terlihat datar dan mencoba menunjukkan kegembiraan, tapi terlihat seperti dibuat-buat. Hal itu terlukis jelas dan Erlang bisa melihatnya.

Lalu Erlang juga menoleh pada Yura, gadis itu mencoba menegakkan punggungnya, walau hatinya begitu berdebar.

Setiap seseorang membicarakan mengenai kehamilannya, maka Yura akan ketakutan setengah mati. Takut kalau kebohongannya akan terbongkar dan kini setelah Roy memberitahukan kepada Erlang, ketakutannya berlipat kali ganda.

Dia tahu, Erlang tidak menyukai berita itu. Yura bahkan masih ingat apa yang dikatakan Erlang padanya dulu, kalau dia tidak akan membiarkan bayi yang dia kandung lahir ke dunia kalau sampai kalau sampai Yura hamil.

"Hamil? Papa yakin dia hamil? Papa yakin dia hamil anak Papa?" tanya Erlang penuh emosi. Harusnya hal itu tidak terjadi! Dan Erlang tidak bisa menerimanya. Tidak akan pernah!

Roy tampak menoleh ke arah Yura, memperhatikan mimik wajah gadis itu yang penuh ketakutan, berulang kali dia terlihat meremas jemarinya karena perasaan gugup dan takut kebohongannya terbongkar.

Yura ingin sekali menyumpalkan sendal yang dia pakai ke mulut Erlang. Betapa pria itu sudah membuatnya berada di tepi jurang. Bagaimana kalau ayahnya termakan ucapan Erlang dan balik curiga mengenai anak yang dia kandung ini.

Dalam hati, Yura berdoa semoga Om Roy bisa memberikan jawaban yang mampu menyelamatkan Yura dari rasa curiga Erlang.

"Jaga bicaramu. Hormati Yura. Dia istri papa dan saat ini mengandung, apa perlu kau curigai lagi?" jawab Roy skeptis.

Harusnya bisa saja dia membukakan kebohongan Yura di depan Erlang. Roy tahu bahwa putranya itu tidak menyukai Yura, terlebih pernikahan mereka.

Namun, setelah satu malam suntuk Roy memikirkan segalanya, dia memutuskan berani kembali ke rumah itu dan bertemu dengan Yura pagi ini.

Ya, dia sudah memutuskan untuk memaafkan gadis itu. Berdamai dengan keadaan. Hatinya terlalu lembut untuk berkata kasar kepada Yura, tidak tega jika memaki apalagi mengusir gadis kita ke jalanan. Jadi, apapun alasan Yura memelihara kebohongan sebelum pernikahan mereka, biarlah itu menjadi dosa dan juga rasa bersalah yang akan dirasakan oleh Yura sepanjang sisa hidupnya.

Tugas Roy saat ini adalah melindungi Yura dan juga bayi yang ada dalam kandungan wanita itu. Menunjukkan bahwa sebagai seorang suami dia akan melakukan tanggung jawabnya, terlepas bahwa anak yang dikandung istrinya bukanlah darah dagingnya.

Dia yang menginginkan Yura menjadi istrinya. Salahnya karena tidak mempertanyakan perihal keadaan gadis itu sebelum menikahinya. Jadi, Roy harus menerima kalau gadis yang dinikahi ternyata sedang hamil.

Niko memberi saran agar mereka menyelidiki siapa ayah dari jabang bayi yang dikandung oleh Yura, tapi Roy segera menolak usul itu. Apa gunanya mereka mencari tahu? Kalau pun itu terjadi, setelah mengetahui siapa pria brengsek yang sudah menanam benih di rahim Yura, lantas apa yang mereka dapatkan?

Apapun yang Roy perbuat, hanya akan menghancurkan dirinya, menjadi cemooh bagi banyak orang karena sudah membeli kucing dalam karung. Dia akan diejek karena istrinya mengandung anak orang lain dan Yura akan dituding berselingkuh, karena tidak mendapatkan kepuasan dari Roy.

Apapun tindakan mereka tetap saja nama baik Roy yang dipertaruhkan, jadi lebih baik menutup mulutnya, mengikuti alur yang sudah dibuat oleh Yura.

Dia tahu gadis itu bukanlah wanita yang jahat dan dengan sengaja ingin memanfaatkannya. Keadaan yang membuat Yura tidak punya pilihan lain.

Bijaksananya, Roy memikirkan bahwa mungkin saja semesta mengizinkan mereka bertemu karena kasihan melihat gadis itu dengan keadaan lagi berbadan dua, tidak memiliki seorang suami ataupun kekasih yang mau bertanggung jawab, lalu seolah takdir sudah memutuskan, Roy bertemu dengannya dan menjadi penyelamat gadis itu.

"Aku tidak mau menghormatinya dan aku tidak akan menganggap bahwa bayi yang ada dalam kandungannya itu adalah saudaraku!" bentak Erlang menarik kembali kopernya menaiki anak tangga dan membatalkan niatnya untuk pergi.

Hal itu semata-mata karena dia tidak ingin memberikan kenyamanan serta kebebasan di rumah itu bagi Yura.

"Kau harus bersabar dalam menghadapi Erlang, dia tidak ingin perhatian dan juga kasih sayangku terbagi. Selama ini dia menjadi anak tunggal di rumah ini dan mendapatkan apapun yang dia inginkan. Jadi, ini hanya reaksi kecil dari seseorang yang tidak menginginkan adanya anggota lain di keluarga ini," terang Roy mencoba menghibur perasaan ini Yura yang terluka.

"Aku mengerti, Om. Aku juga tidak berharap dia bisa menerima keberadaan anak ini!" batin Yura hampir menangis.

*

*

*

Sini

Terpopuler

Comments

Neng Ati

Neng Ati

next....

2023-05-13

1

Anonymous

Anonymous

Lanjut

2023-05-13

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!