Pukul tujuh malam, Titin, nama pelayan muda itu datang menemui Yura ke kamarnya. Gadis itu baru selesai mandi setelah sempat tidur sebentar. Dia mengantuk, saat membelai seprei lembut di ranjangnya tadi, dan mencoba kelembutannya, Yura justru tertidur dan setelahnya bergegas mandi.
"Kenalin Nyoya, nama saya Titin. Pelayan pribadi Nyonya," ucapnya memperkenalkan diri. Titin berdiri di tengah ruangan mengamati Yura yang sedang menyisir rambutnya.
"Senang bertemu dengan mu, Titin, kenalkan aku Yura. Aku mohon jangan memanggilku dengan sebutan Nyonya. Cukup Yura saja," ujar Yura meletakkan sisir di depan cermin riasnya lalu mendekati Titin. "Ada apa?"
"Makan malam sudah siap, Tuan Magenta sedang menunggu, Anda," jawab Titin ramah.
"Tin, apa aku harus makan malam dengan Om Roy ya? Gak bisa kalau makan di dapur atau di kamar aja?" tanya Yura yang malas kalau bertemu dengan Om Roy.
"Harus, Nyah. Tuan Magenta itu sebenarnya baik, punya belas kasih, cuma ya gitu sedikit ngomong dan tegas," jawab Titin yang sudah pernah menerima bantuan besar dari Om Roy.
Yura memasuki ruang makan dengan kaki gemetar. Meja panjang hanya di isi oleh mereka berdua. Yura mengambil tempat di sebelah kanan. Makan dalam keheningan.
Saat tengah menikmati makan malam yang menurut Yura sangat enak sebenarnya, tapi karena sedang tidak berselera makan dan juga lidahnya terasa pahit, maka makanan itu hanya sedikit yang berhasil masuk dalam mulutnya.
Dorongan untuk memuntahkan isi perutnya kembali datang. Tapi coba dia tahan dengan mendorong makanan itu dengan air putih.
Samar telinga Yura mendengar langkah kaki yang semakin mendekat ke arah ruang makan. Tanpa dikomando, Yura yang ingin tahu siapa yang datang malam-malam begini mengangkat wajahnya dan memusatkan penglihatannya pada pintu, menanti gerangan kehadiran sosok itu.
Yura menebak, mungkin saja itu adalah salah satu anggota keluarga dari Om Roy. Rumah megah dan mewah itu, begitu sepi dan kosong, hanya ada pelayan. Begitu dingin dan terasa hampa. Seolah tidak ada kebahagiaan di dalamnya.
Semua sudah tersusun rapi, teratur dan membosankan. Tidak ada gelak tawa atau pun keriangan dalam rumah itu. Bahkan Yura pikir rumah itu lebih cocok jadi tempat tinggal vampir, dari pada tempat tinggal milyarder.
"Selamat malam semuanya. Tampaknya sedang ada jamuan selamat datang," ucap seorang pria berperawakan tinggi dan tegap, sangat atletis dan memelihara bulu halus di rahangnya yang semakin menambah kesan maskulin pada diri pria itu.
Yura yang langsung bisa menatap wajah pria itu spontan terbelalak. Bukan, bukan karena terpesona, oke, katakanlah dia terpesona , tapi bukan itu intinya. Setelah menatap pria itu persekian detik, dan memorinya berhasil membawanya melayang ke suatu tempat dan sebuah peristiwa, kini Yura benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya lagi.
Jantungnya berdegup begitu kencang. Menimbang apa benar itu pria brengsek yang dia temui beberapa Minggu lalu dan membuat dunianya jungkir balik?
"Akhirnya kau datang juga!" hardik Om Roy tampak melepas tatapan menantang, dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Tampaknya papa begitu merindukan ku?" sambar pria muda yang berhasil membuat Yura kejang malam ini.
"Apa? Apa katanya? Papa? Jadi si brengsek cabul ini anak Om Roy? Berarti secara tidak langsung dia itu anak tiriku? Astaga, bagaimana ini?" batin Yura hampir pingsan. Tanpa sadar tangannya turun meraba permukaan perutnya.
"Dasar anak durhaka! Kau keterlaluan! Dari mana saja kau, tidak menghadiri acara pernikahan ayahmu?" Om Roy tampak mengamati Erlangga, putra satu-satunya, sekaligus anak kebanggaannya.
Suara sepi dan pencahayaan yang temaram membuat Erlang tampak tidak mengenali sosok Yura, atau pria itu hanya berlagak bodoh saja, dan berpura-pura tidak tahu.
"Aku minta maaf, Papa. Kau tahu aku tidak setuju dengan ide gila Papa yang ingin menikah lagi, terutama dengan gadis belia."
Yura yang sudah menunduk bisa merasakan kalau Erlang saat ini sedang menatapnya.
"Tipe gadis seperti ini sungguh menjijikkan. Rubah betina yang hanya tertarik pada uang Papa saja, ingin menguras harta benda Papa!" lanjutnya memandang jijik ke arah Yura.
"Kurang ajar! Enak banget bilang aku hanya ingin menguras harta papamu! Asal kau tahu aku tidak mendapatkan apapun, bahkan satu sen pun tidak!" ucap Yura yang hanya bisa dia katakan dalam hatinya.
"Kenalkan, ini Yura," ucap Om Roy menoleh pada Yura yang tetap memilih menunduk. Bisa habis dia kalau sampai Erlang mengenalinya.
"Yura? Yura siapa, Pa? Yuraeismiup so I can stand on mountains?" tanya Erlang menatap geli ke arah Yura yang berhasil membuat gadis itu mengangkat wajahnya. Namun, tawa pria itu menggantung kala menatap mata gadis itu.
Untuk pertama kali saling pandang dan terpaku. "Benar, gak salah lagi, pria brengsek ini lah yang sudah menghamili ku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments