Semua pakaian Om Roy sudah dilucuti satu persatu oleh Yura. Agar terlihat lebih alami, gadis itu melemparkan pakaian Om Roy ke sembarang tempat. Ada yang menyangkut di tepi ranjang ada juga yang berserakan di lantai.
Keadaan Om Roy yang tanpa busana, membuat Yura malu. Dia bahkan tidak berani memandang terlalu intens pada tubuh pria itu.
Untuk sesaat tadi, Yura masih sempat-sempatnya kagum melihat dada Om Roy yang bidang, perut yang rata. Ini kali pertama dia melihat tubuh seorang pria bu*gil seperti itu, jadi cukup hanya sebatas leher hingga ke pinggang. Untuk membuka bagian bawah, Yura membuang pandangannya ke arah lain.
Semua beres. Om Roy sudah berbaring dengan hanya berselimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Yura pun buru-buru membuka pakaian, lalu melempar pakaiannya juga hingga berserakan di lantai. Sekali lagi dia memandang TKP, semua tampak alami. Dia pun memastikan lagi pintu kamarnya tidak terkunci, karena itu adalah bagian dari rencana. Setelah semua dianggap aman, Yura pun berbaring di samping Om Roy.
***
Yura tidak bisa tidur. Itu sudah sangat jelas. Dia terus menarik selimut guna menutupi tubuhnya, jangan sampai bersentuhan dengan Om Roy yang tertidur pulas bahkan sampai mengorok.
Kicau burung di luar kamarnya jelas terdengar. Ini sudah pagi, dan dia masih terjaga. Dia menghitung dalam hati kalau sebentar lagi, Titin akan masuk ke dalam kamarnya untuk membangunnya dan membantu membuka tirai kamar, kegiatan yang setiap hari dilakukan gadis itu.
Tepat pukul tujuh, Titin mengetuk pintu, dan seperti biasa lagi, Yura tidak akan menjawab agar Titin langsung masuk ke dalam kamar.
"Nyonya, maaf saya mas-"
Kalimat Titin menggantung di udara. Matanya melotot atas apa yang dia lihat di depannya. Bahkan dia belum sepenuhnya masuk pada perbatasan kamar Yura.
Kaki Titin tiba-tiba saja mengalami kelumpuhan mendadak dengan tidak bisa digerakkan untuk mundur dari sana.
Lalu setelah berusaha semakin kencang, akhirnya Titin berjalan perlahan menuju pintu kamar lalu untuk kembali pintu itu.
"Ada apa? Kau seperti melihat setan saja. Apa yang kau lihat hingga bisa se-terkejut itu?" tanya Susi, pelayan yang khusu mencuci dan menyetrika di ruang itu.
"Aku... Aku... Aku melihat tuan Roy dan Nyonya Yura sedang tidur berdua di kamar Nyonya," ucapnya gelagapan. Dia merasa bersalah karena melihat majikannya itu sedang di atas ranjang.
Tepat saat Titin cerita dengan hebohnya, Erlang yang melintas menuju meja makan mendengar pembicaraan para pelayannya pagi itu. Langkahnya bahkan terhenti, tidak jadi menarik kursi di meja makan.
Penuh emosi dia mengapa tinju. Mengapa rasanya dia tidak ikhlas membiarkan Yura berhasil mendapatkan posisi itu, menggantikan ibunya untuk berada di sisi ayahnya.
"Apa kalian hanya bisa bergosip? Mana sarapan ku!" umpat Erlang menarik kasar kursi kalau duduk dengan perasaan campur aduk.
Ketiga pelayan itu yang mendengar perintah dari Erlang, segera menyiapkan makanan dan membawa serta menatanya di meja makan.
"Titin, kau pergi bangunkan majikanmu itu!" perintah Erlang dengan sorot mata tajam, hingga Titin berlari melaksanakannya.
Titin merasa bingung. Bagaimana dia berani membangunkan majikan yang saat ini sedang menikmati waktu bersama?
Namun, Titin akhirnya bisa bernapas lega. Sebelum dia pergi mengetuk pintu kamar Yura, Om Roy sudah keluar dari kamar itu menuju kamarnya dengan menggunakan handuk milik Yura.
Titin hanya bisa mengulum senyum melihat adegan itu yang mungkin selama dia bekerja baru ini dia saksikan.
Sementara Yura di dalam sana, tersenyum penuh kegirangan. Dia sudah menang mengalahkan semua masalahnya, dan hal itu adalah masalah yang paling beratnya. Seketika pundaknya terasa ringan.
Om Roy terbangun, tidak lama setelah Titin menutup pintu kamar. Se-pelan apapun wanita itu menutupnya, nyatanya bisa membangunkan Om Roy.
Saat Om Roy bangun dan mendapati dirinya berada di ranjang Yura tanpa mengenakan sehelai benang pun, tampak wajahnya sangat syok. Ditambah lagi, saat menoleh ke samping, mendapati sang istri dengan keadaan yang sama dengannya, tanpa busana.
Om Roy tidak perlu mengintip ke balik selimut Yura yang saat ini berpura-pura tidur. Om Roy terlihat panik, dia bakal menarik selimut lebih banyak untuk menutupi tubuhnya.
Menit yang tepat untuk Yura bangun, lalu berpura-pura kaget dengan apa yang terjadi. Ekspresinya diam menatap ke arah Om Roy, seolah tatapan yang ingin mempersalahkan Om Roy. Tatapan menuduh yang sudah dilatihnya sejak kecil.
"Om, kita-" Yura menjeda kalimatnya. Ingin melihat reaksi Om Roy lebih dulu.
"Yura, apa yang sudah kita lakukan tadi malam?" tanya Om Roy memijit keningnya yang sedikit sakit. Dia ingat terakhir kali bicara dengan Yura, mereka berbincang dengan minum wine untuk merayakan keberhasilan Erlang.
"Om mabuk, meminta aku membawa Om ke sini, lalu setelah itu, Om-" Yura menunduk dia sudah melatih ekspresi itu beberapa hari sebelumnya sehingga ketika dia melakukannya maka tidak ada kecurigaan yang akan timbul dalam benak Om Roy.
Walau masih sulit dipercaya tapi Oma Roy tidak mau mengatakan hal yang mungkin menyakiti perasaan Yura, jadi dia lebih memilih diam dan bangkit dari ranjang menuju kamar mandi, mengambil handuk lalu memunguti satu persatu pakaiannya dan pergi begitu saja dari kamar Yura.
Kembali Yura menangis, dia tidak menyangka bahwa dia bisa melakukan hal sekeji itu. Namun, semua sudah terjadi dan ini adalah jalan satu-satunya yang dia punya.
"Maaf, Om, aku harus memanipulasi keadaan seperti ini," gumamnya menyeka air mata di pipi dengan punggung tangannya.
Yura memutuskan untuk segera mandi dan bersiap-siap turun ke bawah. Dia juga ingin melihat bagaimana sikap Om Roy setelah semua kejadian ini.
Kini langkah Yura terasa semakin ringan. Dia sudah tidak punya ketakutan apapun lagi. Tanpa sadar tangannya menyentuh permukaan perutnya, mencoba merasakan gerakan dari makhluk kecil yang ada di dalam sana.
"Maafkan Mama karena sudah menjadi Mama yang pengecut, tidak bisa mengatakan tentang keberadaanmu pada ayah kandung, P
Padahal dia begitu dekat dengan kita. Kau harus mengerti, Nak, bahwa Mama tidak punya pilihan lain selain merahasiakanmu darinya," cicit Yura mencoba menjalin komunikasi dengan calon bayinya.
Lagi pula seandainya pun dia mengatakan tentang keberadaan janin dalam perutnya kepada Erlang, belum tentu pria itu mau bertanggung jawab. Bisa jadi malah akan lebih menyakitkan.
Bagaimana jika dia menyangkal bahwa anak yang dikandung Yura saat ini adalah darah dagingnya? Pria itu pasti akan mengatakan kalau Yura coba memfitnahnya, mencoba merusak nama baiknya, jadi lebih baik seperti ini saja.
"Selamat pagi semuanya," sapa Yura penuh riang pada semua orang yang ada di ruang makan itu, tidak terkecuali dengan Erlang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Rini Eni
gmn klo si Roy ternyata inpoten
2023-09-08
0