Yura hampir saja kembali pingsan kala mendengar ucapan Om Roy. Apa katanya, mau memanggil dokter? Habislah Yura sekarang!
"Gak usah, Om. Aku baik-baik aja. Cuma lagi pusing, kok," jawabnya cepat. Jangan sampai dokter memberitahu keadaan saat ini.
Keadaannya semakin terpojok. Dia tidak boleh mengulur waktu, harus segera menjalankan rencananya.
"Kamu yakin gak perlu dipanggil dokter untuk memeriksanya?" Om Roy ingin memastikan. Dia sangat khawatir kalau terjadi hal buruk pada Yura.
"Iya, Om. Cuma butuh istirahat," jawab Yura sembari melirik Erlang yang saat itu juga tengah menatapnya dengan penuh tanya.
Yura bahkan harus mengalihkan pandangannya agar tidak membuat Erlang semakin curiga.
"Baik'lah kalau begitu kita semua keluar, biar Yura bisa istirahat," ujar Om Roy memerintah. Sebelum keluar dari kamar itu, kembali Erlang menoleh dengan kening berkerut.
Apapun arti tatapan penuh selidik yang dilayangkan Erlang padanya, Yura tidak peduli. Sekarang yang harus dia lakukan adalah mengamankan keadaannya.
"Besok! Apa pun yang terjadi, besok harus menjadi titik awal rencanaku!" gumamnya setelah pintu kamar tertutup.
***
Lagi-lagi rencananya gagal. Om Roy terlalu banyak pekerjaan hingga pulang larut malam, kadang bahkan Yura sudah tidur lebih dulu.
Namun, tepat dua Minggu pernikahan mereka, kesempatan itu datang. Roy tampak penuh semangat hari itu karena Erlang berhasil memenangkan tender proyek pembangunan jalan senilai 800 miliyar di beberapa desa di sebuah provinsi yang saat ini sedang viral di media sosial, pemberitaan jalan yang sangat buruk, lobang dan lumpur di tengah jalan yang menyusahkan kegiatan mobilitas masyarakat.
"Om udah pulang? Maaf, aku gak tahu Om udah di rumah," ucap Yura yang saat itu baru keluar dari ruang perpustakaan. Tempatnya menghabiskan waktunya yang sangat membosankan.
"Sini, Om ada kabar gembira," ucap Roy menepuk tempat tepat di sebelahnya.
Yura tersenyum. Dia ikut senang karena melihat pria itu bahagia. Jujur, dua Minggu mengenal Om Roy, Yura bisa melihat kalau pria itu benar-benar pria yang sangat baik, dan juga santun pada orang.
Di rumah ini saja, semua pelayan sangat menghormati dan sayang pada Om Roy. Bukan sosok yang ditakuti, tapi disegani karena hormat.
Hal itu membuat Yura semakin nyaman berada di samping Om Roy. Bisa saja lambat laun, Yura yang sudah lama kehilangan sosok ayah dan merindukan perhatian dan juga kasih sayang dari orang tuanya, jatuh cinta kepada Om Roy, tapi apa arti cinta yang dirasakannya, hanya Yura yang tahu. Apakah cinta antara pasangan suami istri atau malah cinta terhadap orang tua karena menganggap Om Roy sebagai ayahnya.
"Ada apa, Om? Kayaknya lagi gembira, nih," ujar Yura memperhatikan senyum cerah Om Roy yang terus melekat di bibirnya.
"Hari ini perusahaan kita menjadi pemenang saat tender mega proyek dari pihak pusat melelangnya. Erlang berhasil membuat mereka percaya dan mau menyerahkan proyek itu untuk kita kerjakan," terang Om Roy dengan penuh semangat yang berapi-api, terlihat jelas bahwa dia begitu bangga terhadap Erlang dan prestasi yang diraih putranya itu.
"Aku bisa melihat kalau Om begitu bangga dan sayang kepada Erlang," ucap Yura dengan lembut. Dia ingin ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan suaminya saat ini walaupun terlepas dia membenci Erlang.
"Kau benar, Om sangat menyayangi anak itu, dan melihatnya bisa bangkit dari keterpurukannya beberapa bulan kemarin, tentu saja membuat Om senang dan sangat optimis bahwa dia bisa sukses dan jika saatnya Om meninggalkan dunia ini, maka bisa pergi dengan tenang," ucapan Roy menatap Yura, di dalam benaknya juga memikirkan masa depan gadis itu. Dia ingin mengamankan aset atas nama Yura agar kelak setelah dia telah tiada, tidak ada pertengkaran antara istri dan juga anaknya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita merayakan keberhasilan ini dengan minum wine?" saran Yura, tiba-tiba saja ingat akan rencananya dan ini adalah momen yang tepat untuk mewujudkannya. Kemenangan Erlang menjadi alasan bagi Yura mengajak Om Roy minum, hingga membuat pria itu mabuk dan mulai menjalankan rencananya.
Senyum Yura semakin melebar, kala Om Roy mengangguk setuju. Pria paruh baya itu bangkit lalu berjalan ke arah mini bar, tempat koleksi minumannya.
Bolehkah Yura menepuk dada lebih dulu, meski semua rencananya belum dimulai sesuai dengan yang dia inginkan? Hanya saja permulaan ini sudah cukup baik.
Om Roy datang dan menghampirinya membawa dua gelas kosong dengan sebotol wine yang dulu pria itu bawa dari Prancis.
Om Roy mulai menuang sedikit ke gelas Yura dan begitu pun dengan gelasnya. Lalu keduanya mulai minum.
Yura tahu bahwa dia tidak boleh menyentuh minuman itu karena keadaannya saat ini sedang mengandung, lalu ketika Om Roy tidak melihat buru-buru menuang isi gelasnya ke vas bunga yang ada di sampingnya.
Hampir semua isi botol itu berpindah ke perut Om Roy, yang berhasil membuat pria itu setengah sadar. Saat itulah, Om Roy yang mabuk memutuskan untuk mengakhiri perayaan kecil-kecilan itu. Yura membantu memapah Om Roy ke atas dengan menyampirkan lengan pria itu ke pundaknya.
Yura berpikir bahwa dia perlu saksi untuk melihat bahwa Om Roy dan dirinya bersama-sama malam itu, lalu dia memutuskan untuk memanggil Titin dengan berteriak hingga gadis itu muncul dari arah dapur.
"Ada apa Nyonya? Ada yang harus saya lakukan?" tanya Titin yang berjalan tergopoh-gopoh.
"Tin, tolong kamu bereskan meja itu. Bereskan botol minuman serta gelas yang ada di sana," ucapnya menunjuk meja tempat mereka tadi duduk.
Titin sempat melihat ke arah Om Roy dan melihat pria itu sudah memejamkan mata setengah sadar untuk menaiki anak tangga, dan hal itulah yang diperlukan Yura. Dia ingin Titin menjadi saksi bahwa malam itu Om Roy menghabiskan waktunya dengan Yura.
"Baik, Nyonya."
Om Roy masih setengah sadar. Dia sempat menunjuk pintu kamarnya, seolah mengatakan bahwa bukan di situlah tempatnya tidur. Namun, dengan penuh kelembutan, Yura menarik Om Roy masuk ke dalam kamarnya, membaringkan di atas ranjangnya dan mengunci pintu.
Untuk sesaat dia berdiri di tengah ruangan, melihat ke arah Om Roy. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya harus menjebak pria itu dengan cara kotor seperti ini, tapi apakah dia punya cara lain untuk menyelamatkan hidup serta anaknya?"
"Maafkan aku Om, aku terpaksa melakukan ini. Aku nggak punya jalan lain. Mungkin seandainya Om tidak menikahiku, aku juga tidak akan membebankan tanggung jawab ini pada Om," ucapnya meneteskan air mata.
Dia merasa kotor dan hina, mengatur rencana ini sedemikian rupa hanya untuk menyelamatkan harga dirinya.
Harga diri? Apakah dia masih punya harga diri setelah apa yang akan diperbuat terhadap Om Roy yang sudah baik padanya?
"Aku minta maaf, Om. Tapi aku harus melakukannya sekarang juga."
Yura menghapus air matanya, lalu melangkah mendekati tempat tidurnya, mulai membuka baju Om Roy dengan tangan gemetar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Serba salah jika diposisi Yura🙈
Kenapa juga kamu gak jujur sama om Roy tentang kondisi kamu😔
2023-05-29
1