"Om, belum tidur?" tanya Yura dengan jantung berdebar. Sejak tadi sudah memantau, pergerakan Om Roy dan dimana dia berada saat ini. Ketika melihat pria itu hanya duduk di teras rumah, memandang langit yang malam itu tampak cerah, Yura pun berencana untuk mendatanginya.
Mungkin ini bisa jadi kesempatan bagus untuk Yura. Pada awalnya dia berencana menanyakan langsung pada pria itu, mengapa dia tidak meminta hak sebagai suami. Bukankah tujuan om Roy menikahinya juga ingin memiliki seseorang yang bisa menghangatkan ranjangnya?
Namun, niat itu dia batalkan. Tidak mungkin secara frontal dia menanyakan, seolah ada niat tersembunyi di dalam sana. Banyak kemungkinan yang akan ditafsirkan oleh Om Roy, bahwa dia ingin mengamankan posisi sebagai istri dan nyonya di rumah ini, dan berharap agar bisa segera mengandung calon pewaris, atau bisa juga Om Roy akan berpikir, bahwa dirinya mencoba menggoda untuk karena memang dia wanita ja*lang!
Pemikiran kedua segera dia hempaskan dari benaknya. Untuk apa malu, toh mereka kini sudah sah sebagai suami istri, walau secara agama, tapi itu kan yang terpenting.
Tentu saja ada sedikit mengganjal di hati Yura, bagaimana kalau nanti Om Roy mengatakan perihal keperawanannya? Tapi lagi-lagi Yura tidak terlalu khawatir soal itu. Dia bisa bilang pernah jatuh dari sepeda.
"Belum. Kamu juga belum tidur?" Om Roy terlihat begitu santai, tidak berwajah masam seperti biasanya.
Yura menggeleng dan tersenyum. Kalau dilihat-lihat, wajah Om Roy masih terlihat tampan. Dia tebak pasti saat muda, Om Roy pasti sangat tampan, terbukti anaknya juga tampan. Oh, tidak! Mengapa Yura harus mengingat pria brengsek itu!
"Kau mendatangi Om, pasti ada yang ingin kau bicarakan? Ada apa?" tanya pria itu memusatkan perhatiannya pada Yura.
Yura diam sesaat. Memikirkan harus memulai dari mana. Tapi mengingat janin dalam perutnya, Yura harus bertindak cepat.
"Kenapa Om menikahiku?"
Terlihat Om Roy menaikkan sebelah alisnya. Pertanyaan Yura tidak terprediksi sebelumnya. Tapi melihat wajah gadis itu yang benar-benar menunggu jawabannya, maka Roy tidak bisa mengelak lagi.
"Tentu saja aku ingin memiliki teman hidup di sisa waktuku." Om Roy menatap mata indah milik Yura.
Coba dia ingat, kenapa dia memilih gadis cantik ini menjadi istrinya. Roy melihat Yura yang bekerja di pinggir jalan. Berburu dengan lampu merah guna mendekati mobil-mobil yang berhenti, menawarkan rokok yang sejak tadi dia tenteng dengan menggunakan pakaian minim.
Pemandangan yang bisa sebenarnya. Roy biasa melihat hal itu di ibukota ini. Kadang para SPG itu akan mendatangi warung, cafe hingga warnet tempat banyak anak-anak dan pria dewasa.
Namun, yang menjadi perhatian Roy, dari beberapa gadis SPG itu, hanya Yura yang menolak pria genit yang mencoba mentoel nya. Dia bahkan menimpuk sepatunya pada pada pria yang sempat menyentuh bokongnya.
Yura berlari ke tepi jalan, memutar tubuh untuk menghapus air matanya. Roy melihat semua itu dan merasa iba.
Itu merupakan pertemuan pertama mereka, lalu ada pertemuan kedua dan ketiga, hingga membuat Roy merasa kasihan.
Om Roy sendiri tidak tahu dari mana perasaan itu berasal. Ada dorongan yang besar dalam dirinya, agar membantu gadis itu.
Awalnya dia ingin mengangkat Yura menjadi putrinya, tapi hal itu tentu saja akan dipertentangkan oleh banyak orang terlebih oleh Erlang, putranya.
Dia tidak ingin terjadi hal buruk kepada Yura akibat amarah Erlang. Satu-satunya cara yang bisa mengamankan posisi Yura sekaligus menolong gadis itu adalah dengan menikahinya.
Hal itu juga disarankan oleh Tomi, asisten Roy yang memberikan saran agar menikahi gadis itu.
"Bukankah Tuan memang ingin mencari perawat khusus yang bisa nantinya membantu Tuan. Bagaimana kalau wanita itu saja? Tuan bisa menolong sekaligus melindunginya dengan menikahi secara sirih," ucap Tomi, yang dianggap masuk akal oleh Roy.
Lalu Tomi menyelediki keluarga Yura. Keadaan hidup Yura semakin membuat Roy ingin segera menikahi Yura, membawa gadis itu lepas dari keluarga jahat yang selama ini membelenggu dan merongrong dirinya.
Memang benar adanya Kamsa 'lah yang selalu menyiksa Yura, tapi Riko sebagai Om juga tidak pernah mau bersikap tegas membela Yura sehingga istrinya bisa semena-mena terhadap keponakannya itu.
Hidup Yura begitu menyedihkan, ditinggal orang tua dan kini diperalat oleh tantenya untuk menghasilkan banyak uang demi kehidupan mereka, sementara putri mereka sendiri diperlakukan sebagai bak tuan putri, diberi kesempatan untuk kuliah dan diberikan kebebasan dalam menikmati hidupnya.
Kedatangan Tomi tentu saja disambut gembira oleh Kamsamida, terlebih ketika Tomi mengutarakan niatnya yang ingin melamar Yura, sebagai istri sirih untuk bosnya.
Kamsa melihat bahwa ini adalah peluang emas baginya, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Wanita itu segera membuat persyaratan yang menguntungkan dirinya, jika ingin menyetujui pernikahan Yura dan juga Om Roy.
"Aku ingin 500 juta jika kalian menginginkan garis itu," ujar Kamsa dengan penuh pertimbangan. Sebenarnya dia ragu, apa permintaannya terlalu tinggi, jangan sampai ingin mendapatkan tambang emas, sejumput saja tidak mendapat.
"Baik'lah," ucap Tomi yang membuat Kamsamida terkejut. Dia pikir akan ditawar 50 juta. Ini gampang saja mengiyakan 500 juta seolah itu semua bukan uang.
Sekaya apa pria yang ingin menikahi Yura? Kamsa jadi menyesal karena tidak meminta lebih saja tadi.
"Ini serius?" tanya Kamsa kala itu.
Dengan cepat Tomi segera mengangguk. "Saya akan datang kembali membawa kontrak, agar bisa Anda tanda tangani," ucap Tomi bangkit dari duduknya, lalu melangkah pergi.
"Om, kalau begitu, kenapa... Kenapa tidak meminta hak Om sebagai suami?" tanya Yura malu-malu. Dia seperti wanita murahan yang haus belaian saja.
"Om Roy tersenyum, lalu menepuk punggung tangan Yura. "Belum waktunya. Aku ingin memberikan kebebasan padamu. Mungkin kau ingin melanjutkan kuliahmu?" tanya Om Roy mengingatkan dirinya untuk konsisten pada niat awalnya.
Kuliah? Tentu saja Yura mau, tapi lagi-lagi dia ingat akan kehamilannya, akan sangat memalukan dia menjadi mahasiswa baru dalam keadaan hamil.
"Untuk sekarang gak dulu, Om. Mungkin tahun depan kalau ada rezeki," jawabnya tersenyum. Yura sudah mulai gelisah, tampaknya Om Roy tidak akan mengajak nya tidur bersama.
"Kalau begitu, kau mau buka usaha? Mungkin ada kegiatan yang kau sukai?" lanjut Om Roy. Dia ingin melihat Yura sukses, bisa memanfaatkan keberadaan sekaligus statusnya sebagai istri Roy Diputra menjadi jalan baginya meraih kesuksesan.
Status sebagai istri sirih membuat posisi Yura akan sulit nantinya menjadi salah satu ahli waris yang sah saat Roy sudah tidak ada.
"Aku suka masak. Ingin punya cafe, tempat yang tidak bisa aku datangi selama ini, karena tidak punya uang," jawab Yura tertawa garing, menertawakan kehidupannya sendiri yang begitu menyedihkan. Kalau teman-teman nya sudah keluar masuk cafe, Yura sama sekali tidak punya kesempatan.
"Om akan bantu. Sekarang kamu beristirahat!" ucap Roy dengan nada setengah memaksa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Juan Sastra
gitu toh ceritanya, niat menolong lalu gimana jika yura jujur akankah om mentalak yura dan menikahkannya sama erlang. coba jujurlah yura agar tidak ada salah faham
2024-06-23
0
Neng Ati
baik banget ya om roy
2023-05-12
3