Erlang masih mengamati Yura yang tengah merapikan rambutnya dan bersiap-siap turun ke bawah. Erlang menarik tangan Yura dan kembali mendorongnya ke daun pintu.
"Aku minta kau gugurkan bayi itu!" seru Erlang tegas. Dia baru sadar, kedatanganya ke kamar Yura tadi ingin mengatakan hal itu. Namun, melihat tubuh indah Yura yang berbalut handuk membuat jiwa kelaki-lakiannya meronta.
"Dasar gila! Aku gak mau!" jawab Yura dengan membelalakkan mata.
"Aku bilang gugurkan bayi itu! Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Kalau kau masih bersikeras mempertahankan bayi itu, jangan salahkan aku, kalau berbuat sadis menghabisi bayi ini!" umpat Erlang meremas perut dengan kuat hingga gadis itu sesak bernapas karena sara nyeri di perutnya.
Sekuat tenaga Yura mendorong tubuh Erlang hingga terjungkal beberapa langkah ke belakang. Penuh amarah Yura menatap pria itu. "Kau gila! psycho! Menjauh dari hidup ku, dan jangan dekati anakku!" umpat Yura membuka daun pintu dan segera keluar dari sana.
Tamu yang dikatakan Titin datang mencarinya adalah Tante Kamsamida. Wanita itu tersenyum menyambut kedatangan Yura.
Sungguh tamu yang tidak diharapkan, tapi Yura tidak mungkin bersembunyi, tidak keluar menemuinya.
"Maaf Tante, udah nunggu agak lama," ucap Yura duduk didepan Kamsamida.
"Kamu apa kabar? Tante dengar kamu sedang hamil? Sudah berapa bulan?" tanya Kamsamida penuh minat.
Yura akhirnya paham, alasan kedatangan wanita itu. Terlihat dari wajahnya betapa gembiranya Kamsamida mengetahui kehamilannya. Pasti karena Kamsamida mengira kalau anak yang dikandungnya saat ini adalah keturunan Roy sekaligus ahli waris pria kaya raya itu.
Yura bahkan sudah bisa menebak kalau Kamsamida datang yang mencoba berbuat baik padanya, itu semata karena wanita itu menginginkan uang darinya.
"Hampir dua bulan Tante," ucap Yura berbohong. Jangan sampai Kamsa menghitung waktu pernikahan dan juga usia bayi yang saat ini sedang dikandungnya jika sampai dia berkata jujur.
"Kau harus menjaga kandunganmu, jangan sampai terjadi hal buruk. Ingat yang bisa mengubah kehidupanmu hanya bayi yang ada dalam kandunganmu saat ini," ucapnya berpindah tempat duduk di samping Yura.
Seketika terlintas di benak Yura semua perlakuan jahat dan tidak manusiawi yang dilakukan Kamsamida kepadanya selama ini. Setelah dia ditumbalkan untuk menikah dengan om Roy, dia datang untuk menjilat seolah menjadi keluarga yang peduli kepadanya.
Apa dia pikir Yura garis bodoh yang percaya begitu saja akan sikap manisnya yang tiba-tiba seperti ini?
Kalau menuruti rasa kesal Yura terhadap Kamsamida, dia ingin sekali berteriak di depan wajah wanita itu mengatakan kebenaran yang ada, bahwa anak yang ada di dalam kandungan nya saat ini bukanlah anak Om Roy tapi anak pria lain.
Dia yakin Kamsamida akan pingsan seketika atau kalaupun tidak pingsan, wanita barbar itu akan menyerangnya, berlari menjambak rambutnya hingga terlepas dari kulit kepala.
"Kau harus menjaga anakmu. Tante akan selalu ada untuk membantumu merawat anak itu, jadi berhati-hatilah. Apapun yang kau makan, kau harus waspada. Kita tidak tahu banyak orang jahat yang menginginkan anak itu mati. Dia adalah calon pewaris baru tapi keluarga ini," terangnya berapi-api.
"Apa Tante lupa bawa Om Roy juga memiliki seorang putra? Mana mungkin dia memberikan hartanya pada anak dari istri sirihnya," jawab Yura yang mengempaskan impian Kamsamida ke dasar lantai.
"Maka itu fungsinya dirimu. Kau harus bijaksana, pintar dalam merayu dan juga melayani suamimu. Kalau dia sudah berada dalam cengkraman tanganmu, maka apapun yang kau minta akan diberikannya," terang Kamsamida melirik kiri dan kanan, sedikit takut, jangan sampai ada orang yang mendengar perkataannya. Dia seolah mengajari Yura untuk memanipulasi perhatian dari Om Roy.
Setelah menceramahi Yura panjang kali lebar, Kamsamida akhirnya pulang dengan wajah kesal dan rasa tidak puas.
Yura mana peduli, yang penting dia tidak akan mau lagi menjadi mesin pencetak uang bagi wanita serakah itu.
"Jadi ternyata ini tujuan kalian? Kau sengaja menjebak ayahku hingga kau hamil, agar memiliki seorang ahli waris lagi di rumah ini?" tegur Erlang yang ternyata sejak tadi berada di balik dinding ruang tamu mendengarkan semua percakapan diantara Yura dan juga Kamsamida.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," jawab Yura meleos pergi, tapi Erlang yang tidak punya kesabaran menarik Yura dan mendorongnya hingga jatuh ke kursi. Erlang sudah mengurung dirinya dengan tangan dan juga tubuh besarnya, hingga Yura tidak bisa bangun, apalagi pergi dari sana.
"Sekali lagi aku minta padamu, kau harus segera menggugurkan anak itu! Kalau tidak aku tidak akan membiarkan hidupmu dengan tenang!" umpat Erlang segera menarik diri ketika mendengar suara langkah pelayan dari dalam.
Erlang menuju garasi, mengeluarkan mobilnya dan segera tancap gas dari rumah itu. Setelah memastikan pria itu pergi, barulah Yura bisa sedikit bernapas dengan lega. Dia menutup wajahnya, merasa sakit hati mendengar perkataan Erlang.
Setiap pria itu mengancam untuk menggugurkan anak dalam kandungannya, janin dalam perutnya seolah bergerak. Pasti sakit sekali karena ayah sendiri tidak menginginkannya hadir di dunia.
"Nyonya Kenapa menangis apa? Apa ada yang sakit, Nyonya? Atau apa sebaiknya saya hubungi Tuan Roy?" tanya Warni yang panik melihat majikannya terduduk dengan bersimbah air mata.
"Jangan, War, aku mohon tidak perlu. Di mana Titin? Aku hanya merasa sesak. Aku ingin berjalan-jalan. Tolong panggilkan dia untuk menemaniku ya," pinta Yura segera membersihkan wajahnya dari sisa air mata.
Mengapa dirinya begitu lemah kepada Erlang, seolah setiap perkataan pria itu tidak bisa dibantah. Lucunya berkali-kali Erlang menyakiti hatinya lewat perkataan bahkan perbuatan yang tidak senono pada dirinya, Yura tidak bisa membencinya, bahkan yang paling aneh dia justru ingin berdekatan dengan pria itu. Selama berdekatan dengan Erlang, rasa mualnya berkurang, bahkan dia merasa tenang dan nyaman.
Hal yang paling tidak masuk akal, selama beberapa hari Erlang tidak tinggal di rumah, timbul desakan dari dalam diri Yura, untuk mencari pakaian Erlang di kamarnya, hanya untuk dia cium seolah itu adalah obat yang bisa menghilangkan rasa mualnya.
Yura sempat bertanya kepada Bi Ijah perihal kebiasaan aneh yang dirasakan. Namun, dia tidak mengatakan bahwa pakaian Erlang yang dia cium, melainkan pakaian suaminya.
"Hal itu biasa, Nyonya. Setiap wanita hamil ngidamnya beda-beda. Mungkin hamil Nyonya kali ini bayinya ingin dekat dengan ayahnya jadi setiap mencium wangi atau bau keringat ayahnya, Nyonya merasa nyaman dan tenang," ucap Bi Ijah tersenyum lembut.
Yura hanya bisa menelan salivanya. Ternyata itu alasan mengapa setiap Erlang menyentuhnya, dan berada di sisinya, dia merasa nyaman bahkan menginginkan pria itu terus membelainya. Kalau saja Yura tidak bisa menahan lidahnya, dia hampir saja keceplosan ingin meminta Erlang mengelus perutnya tadi.
"Apa tidak ada obat untuk menghilangkan keinginan aneh itu, Bi?" tanya Yura waktu itu.
"Ya ada, Nyonya. Minta suami ayah si dedek bayi untuk meluk Mama terus," jawab Bi Ijah dengan enteng.
*
*
*
Mampir,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Neng Ati
nah kalau udah gitu gmn dong,Yura takut kalau Erlang tau itu bayinya maka Erlang akan melenyapkannya,padahal Erlang marah Krn taunya itu bayi ayahnya,semoga Erlang bilang bahwa dia suka yura
2023-05-15
2