Penyakit Hati

"Davina..!! " panggil Rizal.

Davina menoleh ke arah dokter Rizal, namun Davina tetap terus melanjutkan langkahnya tidak memperdulikan dokter muda itu mengikutinya.

"Davina tunggu, saya ingin bicara sama kamu." ucap Rizal.

"Mau bicara apa sih?" tanya Davina.

"Berhenti dulu dong." ucap Rizal.

Davina menghentikan langkahnya, lantas membalikkan tubuhnya menatap ke arah Rizal.

"Mau bicara apa? saya akan dengarkan." ucap Davina.

"Dia siapa?" tanya Rizal.

"Dia siapa?" tanya kembali Davina.

"Dia siapa? tadi yang makan siang sama kamu." jawab Rizal kembali bertanya.

"Oh dia namanya Arjuna, kenapa memangnya?" ucap Davina sambil memasukkan kedua tangannya di jantung celana.

"Kalian pacaran?"

"Gimana ya? di bilang pacaran kita belum jadian, di bilang dekat memang kita lagi dekat. Nggak tahu lah statusnya apa, tapi saya merasakan nyaman saja sama dia." ucap Davina menjelaskan.

"Jadi pilihan pria seperti dia?" ucap Rizal.

"Mungkin, terus masalahnya apa?" tanya kembali Davina.

"Saya itu mencintai kamu, kenapa kamu itu buat saya tidak pernah membuka mata dan hati kamu. Sedangkan sama dia, kamu itu selalu membuka hati kamu." ucap Rizal.

"Maaf untuk masalah itu, dan saya juga sama dia tidak ada hubungan apa - apa, sama seperti Toni hanya untuk teman mengobrol kita dekatnya hanya seperti itu, tidak lebih. Kayaknya kamu salah paham deh, dan mengira kita pacaran. Kan kamu juga tahu, kalau saya itu tidak suka laki - laki, tapi bukan saya sukanya sama perempuan. Sudah ya, saya malas bahas itu." ucap Davina, lantas pergi meninggalkan Rizal.

Saat Davina masuk kedalam lift, Davina bertemu dengan beberapa dokter koas, yang terdiri dari 3 dokter. Davina tersenyum, menyapa mereka.

"Dokter Davina aslinya cantik." bisik salah satu dokter koas.

"Iya, gimana tidak jadi favorit, dia cantik begini." ucap salah satunya lagi, namun masih di dengar oleh Davina

Davina menoleh kearah mereka, lantas menyilangkan kedua tangannya di dada. Ketiganya itu, langsung tertunduk.

"Nanti temui dokter Lestari di IGD, ada beberapa tugas dari saya." ucap Davina, dan keluar dari lift.

"Tugas apaan ya? kok jadi nggak enak."

"Ini gara - gara kalian, sudah tahu ada orangnya, kalian malah bicarakan dia."celetuk temannya yang tidak ikut membicarakan Davina.

****

" Kamu tumben Rizal, datang kesini ada apa?" tanya Ibu Vera.

"Tante, saya kan dari dulu dekat sama Tante. Tolong bantu saya Tante, dekatkan sama saya Davina. Tante kan tahu, kalau saya itu mencintai dia." jawab Rizal.

"Rizal, kalau masalah Davina. Kamu jangan minta sama Tante, mintalah sama Om Haris. Kamu kan tahu sendiri, Tante sama Davina bagaimana." ucap Ibu Vera.

"Tante, kalau sama Om Haris itu bawaannya serius terus, dan dia kan sibuk Tante. Selain di rumah sakit, belum mengajar di kampus, kadang juga kalau free bantu usaha Tante, gimana mau ngobrol." ucap Rizal.

"Nanti Tante coba bicara sama Om Haris ya, tapi Tante tidak bisa janji, kalau Tante itu akan dekatkan kamu sama Davina."

"Makasih Tante."

"Sama - sama."

****

Davina melihat ada sebuah notifikasi di sosial medianya, kata salam yang utama, dan mengatakan kabar.

"Siapa sih?" tanya Davina melihat photo profilnya mengenakan seragam loreng, kacamata hitam dan memegang senjata.

"Hmmm... ini sih dia." ucap Tiara, saat melihat lebih jelas dan melihat beberapa photo - photo postingan dia.

Davina pun membalas kembali, dan tidak lama Arjuna membalasnya. Davina tersenyum, saat membaca pesan dari Arjuna, bahkan mengirimkan sebuah emot.

Arjuna melakukan panggilan, dan Davina mengangkatnya. Terdengar suara jangkrik yang sangat jelas, dan suara orang bernyanyi.

"Kamu itu, tujuannya menghubungi saya itu buat dengarkan kamu nyanyi?" ucap Davina memulai pembicaraan.

"Suara Mas merdu kan?" tanya Arjuna dari seberang.

"Aduh bukannya merdu, malah tambah sakit nih kepala." jawab Davina.

"Boleh Mas minta nomer ponsel kamu?"

"Buat apa?"

"Ya kali saja butuh dokter, dokter yang bisa menyembuhkan hati yang sedang sakit."

"Kalau itu salah dokter, seharusnya dokter penyakit dalam."

"Ya kan awalnya bisa tahu penyakit dalam, dokter umum dulu yang kasih rujukan, masa dokter gak paham."

"Jujur saya nggak paham, baru pertama menemukan pasien kayak kamu. Mau di taruh di poli apa juga bingung, poli syaraf tidak gila, poli penyakit dalam, tidak ada organ tubuh yang bermasalah, dokter umum apalagi." ucap Davina.

"Sini nomer ponselnya."

"Nomer kamu saja sini, biar saya yang hubungi kamu." ucap Davina.

"Benar ya, awas jangan bohong."

"Iya nanti saya hubungi kamu, sini mana nomernya."

"Saya ketik aja ya, kamu matikan nanti kamu hubungi saya."

"Iya."

Setelah mematikan panggilan, Arjuna mengirimkan nomer teleponnya. Davina tersenyum, dan memilih mematikan ponselnya dan pergi tidur.

****

"Ini mana? dia kok belum telepon." ucap Arjuna yang sedang menunggu telepon dari Davina.

"Apa dia kerjain saya ya? wah benar - benar tuh calon mamahnya anak - anak, mau di kasih pelajaran apa sama calon suaminya, belum tahu rasanya di hukum, sama calon imam." ucap Arjuna.

****

"Mas, tadi Rizal kesini." ucap Ibu Vera.

"Ada apa?" tanya Pak Haris.

"Rizal itu mencintai Davina, dia ingin kita bantu dia." jawab Ibu Vera.

"Kalau masalah itu, saya tidak bisa. Kamu kan tahu, Davina kalau melihat Daddy nya seperti melihat lawan. Suruh usaha saja sendiri, saya bukan tipe orang tua memaksa anak menikah dengan pilihan orang tuanya." ucap Pak Haris.

"Yasudah, nanti saya akan bicara sama Rizal." ucap Ibu Vera.

"Kamu harus dekat sama Tika, bagaimana juga dia kakak kamu."

"Bagaimana mau dekat, dia saja masih menatap tidak suka. Bagaimana mau dekat Mas, selamanya dia akan membenci saya, apalagi Davina. Mungkin saya tidak bisa hamil, adakah kutukan buat saya. Karena saya telah merebut suaminya." ucap Ibu Vera.

"Itu bukan kutukan, tapi kita masih belum bisa di percaya, untuk di berikan momongan." ucap Pak Haris.

"Kalau bukan kutukan apa Mas? buktinya dokter bilang, saya subur. Saya yakin, ini adalah sebuah kutukan, kutukan yang pantas untuk seorang pelakor."

"Kamu itu bicara apa sih." ucap Pak Haris.

.

.

.

Terpopuler

Comments

susi 2020

susi 2020

😍

2023-10-18

0

susi 2020

susi 2020

🥰

2023-10-18

0

ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ

ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ

nah tuch sadar diri mbk kalau situ pelakor trus knpa gak insaf

2023-05-11

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!