Kejadian Tak Terduga

Arjuna mencoba berdiri, dan masih sangat sakit. Hingga harus di bantu, oleh tongkat. Arjuna melatih kakinya, untuk berjalan dengan tongkat.

"Bapak harus sering berlatih, tapi sesekali jangan terlalu di paksa. Karena takutnya, kalau di paksa nanti akan membengkak." ucap dokter Toni.

"Jadi saya belum bisa berangkat dinas?" tanya Arjuna.

"Menurut saya, Bapak istirahat di rumah dulu, sekitar 1 atau 2 bulan, karena kalau masalah tulang itu rawan." jawab dokter Toni.

"Saya kapan bisa pulang?"

"Besok juga sudah boleh pulang, nanti kontrol seminggu sekali."

"Baik dok."ucap Arjuna.

Saat dokter Toni akan keluar, dokter Davina masuk dan menyapa dengan senyuman. Dokter Toni melirik ke arah Arjuna, dan Arjuna tersenyum ke arah Davina.

" Saya tinggal, kamu baik - baik sama dia, Besok juga pulang."ucap dokter Toni dan di senyumin oleh Davina.

"Gimana kaki Bapak?" tanya Davina.

"Aduh jangan panggil Bapak dong, panggil Mas Arjun." jawab Arjuna.

Davina mendekati Arjuna, yang kini sedang berdiri dengan satu tongkat. Davina menatap wajah Arjuna, dengan menengadah ke atas kepalanya karena Arjuna lebih tinggi dari dirinya.

"Saya peringatkan sama kamu, jangan bikin malu saya di rumah sakit ini, dengan menyuruh adik atau Ibu kamu." ucap Davina.

"Kenapa? bukannya bagus dong. Kan bisa kenal lebih awal, sebelum kita benar - benar jadian." ucap Arjuna.

"Lagian, kamu itu pede banget sih? kamu pikir dengan tampang dan seragam kamu, saya akan menerima kamu? pede banget kamu, jujur saya lihat nya ilfil."

"Kamu boleh bilang ilfil, tapi suatu saat kamu yang akan tergila-gila sama saya."

"Ih.. pede banget deh, baru kali ini ketemu sama cowok yang pede nya kebangetan."

"Kamu itu menarik buat saya, makannya saya itu ingin mendapatkan kamu."

"Silahkan kalau bisa." ucap Davina menatap sinis ke arah Arjuna, dan langsung pergi. Namun saat sampai di pintu, Davina melihat dokter Rizal berjalan ke arah kamar Arjuna.

"Kenapa balik lagi?" tanya Arjuna.

"Diam kamu jangan berisik." jawab Davina, sambil mengintip ke arah luar dari balik pintu.

"Kamu liat apa sih?" tanya Arjuna.

Aaaaaaa

Buuughhhhh

"Aduh..!! " teriak Arjuna jatuh terdorong kebelakang, hingga terduduk di lantai.

"Maaf - maaf nggak sengaja." ucap Davina, yang refleks saat berbalik badan, Arjuna sudah berada di belakangnya.

"Aduh.. sakit banget."ucap Arjuna yang merasakan ngilu di kakinya.

" Maaf, nggak sengaja." ucap Davina.

"Kamu itu, kalau kesal jangan kasar sama orang. Sudah tahu saya ini sedang sakit, saya bisa tuntut kamu." ucap Arjuna merasakan kesal.

"Maaf nggak sengaja, saya bantu kamu berdiri." ucap Davina.

Davina membantu Arjuna berdiri, saat sedang membantu berdiri, Davina kembali mendorong tubuh Arjuna namun kini sangat kasar hingga tubuh Arjuna tertindih tubuh Davina, dan bibir mereka saling bersentuhan.

"Kalian sedang apa?" tanya Emak yang tiba - tiba membuka pintu, dan tepat Davina ada di balik pintu lantas terdorong saat pintu terbuka, hingga tubuhnya menindih tubuh Arjuna.

Davina langsung berdiri sedangkan Arjuna, masih terbaring terlentang di atas lantai, dengan mata tak berkedip.

"Arjuna!! " ucap Emak panik.

"Dokter, anak saya kenapa?" tanya Emak panik.

"Maaf Bu, tolong bantu untuk berdiri." jawab Davina.

"Hey bangu, kamu kenapa matanya melotot gitu." ucap Davina sambil berbisik tapi Arjuna tidak bergerak sedikit pun.

"Dokter ini anak Emak kenapa? tadi dokter apakan anak Emak?" ucap Emak.

"Saya tidak melakukan apa - apa bu." ucap Davina.

"Tadi saat Emak masuk, dokter ada di atas anak saya."

"Tadi kan, ibu mendorong saya, otomatis anak ibu terdorong juga." ucap Davina panik.

"Lah terus, anak saya itu kenapa? mata nya melotot gitu, kagak berkedip."

"Saya tidak bu." ucap Davina.

"Ini orang, pasti pura - pura. Biar saya panik, saya kerjain balik dia."

"Kalau begitu, bantu angkat saya Bu.Ibu kepala, saya bagian kaki." ucap Davina.

"Iya ya, angkat dia."

Seperti yang di perintahkan Davina, Emak mengangkat dengan memegang kedua lengan Arjuna, dan Davina sengaja memegang kaki yang terluka dengan sangat kencang.

Aaaaawwwww

Aduh...

Buuughhh

"Arjuna kamu kenapa?" tanya Emak panik, hingga menjatuhkan tubuh Arjun, dan kepalanya membentur lantai.

"Aduh Emak, kenapa kepala saya dijatuhkan ke lantai? ini lagi, dasar dokter barbar kaki lagi sakit malah di pencet." ucap Arjuna.

"Rasain." ucap pelan Davina.

***

Arjuna di bantu dokter Toni dan dua perawat pria, menangani Arjuna. Hingga dokter Toni, memberi obat pada luka nya, yang terlihat membengkak.

"Kamu bisa di tuntut, ini namanya penganiayaan." ucap pelan dokter Toni.

"Habis itu orang nyebelin banget, udah curi ciuman pertama saya lagi." ucap Davina.

"Hah.. ciuman?" ucap dokter Toni, dan di anggukkan oleh Davina.

"Dia juga bisa di tuntut." ucap dokter Toni.

"Iya bisa di tuntut." ucap pelan Davina.

****

Arjuna memegang bibirnya, masih merasakan sentuhan bibir Davina. Arjuna tersenyum geli, saat mengingat kejadian tadi siang.

"Tanpa Emak, saya tidak akan merasakan ciuman sama dokter Davina." ucap pelan Arjuna, namun masih bisa di dengar oleh Emak.

"Kamu bicara apa?" tanya Emak.

"Ah nggak Mak, bukan apa - apa." jawab Arjuna.

"Besok, nanti Paijo bawa mobil. Dia akan jemput kita, biar enak kita tidak naik angkutan umum. Dan motor kamu, masih di bengkel kata Paijo nanti lusa baru bisa di ambil."

"Paijo jemput kita, memangnya tidak repot?"

"Paijo sekalian pulang dari pasar, Emak suruh beli kambing sejodoh."

"Mak, masa jemput saya pake mobil gerobak, ada kambingnya lagi. Kan ada mobil bagus Mak, buat apa sih mobil jadi pajangan."

"Jangan, nanti kotor ban mobilnya. Itu kan hasil kamu nabung bisa beli mobil, cukup motor saja kamu pake, mobil harganya mahal."

"Kalau begitu saya jual lagi saja tuh mobil, ganti tukar sama kambing atau sapi."

"Sudah, besok Paijo jemput jam berapa?"

"Ah Emak, anak sendiri sakit malah di satukan sama kambing."

"Yang sakit kaki kamu, kalau tubuh kamu sehat."

"Ya sama Mak, kaki juga bagian dari tubuh."

"Sekarang Emak mau keluar dulu, Emak ingin beli makan. Kamu mau apa?" ucap Emak.

"Mau dokter Davina."

****

Hahahaha..

Dokter Darah tertawa saat mendengar cerita dari Davina, begitu juga dokter Toni. Hampir tersedak, dan langsung minum.

"Sumpah lucu banget, ada kesal, lucu dan ada momen dimana tidak bisa lupa seumur hidup." ucap dokter Farah.

"Kalau si ibunya tidak buka pintu, itu bibir tidak saling menyentuh. Kalian harus tahu, ini tuh ciuman pertama saya loh. Masa sih, harus ciuman pertama sama tuh cowok." ucap Davina kesal.

"Dav,bisa jadi tuh cowok itu jodoh kamu loh."ucap dokter Toni.

" Ogah kagak mau." ucap Davina

.

.

.

Terpopuler

Comments

susi 2020

susi 2020

🤣🤣🤣

2023-10-18

0

susi 2020

susi 2020

😂😂

2023-10-18

0

ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ

ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ

😁😁😁arjuna dpet Rezeky nomplok

2023-05-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!