Davina menarik kacamata hitam pria tersebut, dan tersenyum kesal saat tahu siapa yang ada di sebelahnya.
"Apa sih? ganggu orang tidur." ucap Arjuna lalu memiringkan tubuhnya.
"Jangan sok pura - pura tidur deh, kamu itu tahu kalau saya yang duduk di sebelah kamu kan?" ucap Davina.
"Bukannya gitu, memang kita ini jodoh. Sudah ditakdirkan bersama, jadi kalau sudah jodoh itu, mau di mana saja pasti di pertemukan."
"Oh gitu ya baru tahu."ucap Davina kesal.
Saat itu kondektur meminta uang untuk ongkos perjalanan, saat membuka dompet Davina tidak ada yang selembar pun, hanya uang koin sekitar 2000 perak.
Dengan terpaksa, Davina mencolek paha Arjuna, dan mendekat kan wajahnya di telinga pria tersebut.
" Boleh pinjam uang nggak? buat ongkos." ucap pelan Davina.
"Hah.. pinjam, kagak salah?" ucap Arjuna.
"Udah buruan 10 ribu, saya nggak ada uang cash. Ada recehan 2000 perak." bisik Davina.
"Kagak ada."
"Aduh, masa sih kagak ada? 100 ribu juga nggak apa - apa, nanti ada kembalian. Buruan, duit nya saya pinjam."
"Eh.. kok maksa."
"Mba, ada kagak duitnya? kalau tidak ada ongkosnya nanti di turunin." ucap kondektur Bus.
"Ada Pak, ada ini mau di ambil. "ucap Davina.
"Buruan, dari pada saya di turunin di jalan." ucap Davina kembali.
"Ada syaratnya." ucap Arjuna dengan menaik turunkan alisnya.
"Iya buruan." ucap Davina.
"Jadi pacar saya." ucap Arjuna.
"Ini orang lama - lama nyebelin juga, dari pada saya jalan kaki, nunggu Bus lama terpaksa saja lah." ucap Davina dalam hati.
"Iya, mana buruan." ucap Davina terpaksa.
"Ini pak." ucap Arjuna menyodorkan uang lembaran 10 ribu pada kondektur.
"Bilang apa?" tanya Arjuna.
"Makasih." jawab Davina ketus.
"Alhamdulillah kita pacaran juga."ucap Arjuna, sambil menyandarkan kepalanya nya di pundak kiri Davina.
" Ih.. bukan muhrim." ucap Davina kesal.
"Kita halalin yuk." ajak Arjuna.
"Ini orang lama - lama, nyebelin juga ya." ucap Davina kesal.
"Nyebelin tapi nanti ngangenin."
"Ih.. geli dengarnya."
Bus masih melaju dengan kecepatan sedang, hingga saat itu mobil berhenti ada satu penumpang yang naik. Bus pun melaju kembali, namun tiba - tiba, ada suara teriakan.
Davina dan Arjuna kaget, saat melihat 1 orang penumpang, bersenjata dan membawa sebuah bom di tubuhnya.
"Tolong....!!! " teriak yang ada di dalam Bus.
Supir sempat memberhentikan Bus, namun pria tersebut menodongkan sebuah pistol, tepat di belakang kepala supir.
"Jangan bergerak, kalau bergerak tombol ini akan saya tekan, dan di dalam Bus ini akan meledak." ucap Pria tersebut.
"Angkat tangan!! ucap Arjuna.
" Turunkan senjata kamu." ucap Arjuna, dengan mengacungkan senjatanya.
"Oh.. ada Tentara juga disini, kamu berani mendekat saya tekan." ucap Pria tersebut.
Arjuna menurunkan senjatanya, saat pria tersebut mengancam akan menekan tombol bom itu.
"Itu Bom asli atau palsu?" tanya Davina.
"Kamu lihat, angka yang terus berjalan." jawab Arjuna.
"Kamu berbuat sesuatu dong, seperti di film action." ucap Davina.
"Kamu lihat, tadi dia ancam tekan tombolnya. Kalau di tekan, kita mati semua disini. Kamu mau mati sekarang? kita saja belum melakukan gesek - gesek."
"Gesek - gesek apa?" ucap Davina menatap tajam ke arah Arjuna.
"Ah.. sudahlah." ucap Arjuna.
Seorang kondektur berjalan mendekat, dan berusaha merebut senjata, yang ada di tangan pria itu.
Dor
Dor
Dor
Arrrggghhh
Aaaaaaaaa
Suara tembakan, dan jeritan seisi penumpang di dalam Bus, setelah pria itu menembak mati kondektur Bus tersebut.
"Jangan bergerak, kalau kalian tidak mau seperti dia." ancam pria itu.
Tetap jalan, jangan berhenti." ucap nya memerintah supir Bus.
Davina shock, saat melihat pria yang ditembak mati, tangannya memegang tangan Arjuna, pria yang duduk di sebelah Davina kembali duduk dengan menggenggam erat tangan Davina.
"Saya tidak mau lagi, naik Bus. Saya tidak mau mati sekarang, saya masih ingin hidup." ucap Davina gemetar.
Arjuna menoleh sekilas, seorang pria berusaha menghubungi bantuan lewat chat. Lantas ponsel pria itu berbunyi, karena panik ponselnya jatuh, dan tepat di samping Davina.
Dor
Davina kaget, saat ponsel tersebut di tembak oleh pria itu, dan berjalan ke arah Davina, dengan senjata yang terus di arahkan pada nya.
"Kamu mau coba - coba main - main?" ucapnya.
"Bu - bukan saya, itu bukan ponsel milik saya." ucap Davina.
"Jangan bohong!! " bentuknya.
"Bukan." ucap Davina.
"Itu ponsel saya." ucap Arjuna, dan Davina menoleh ke arah Arjuna.
"Itu punya saya." ucap Davina.
"Bukan, itu punya saya." ucap Arjuna.
"Bu - bukan itu punya saya." ucap Davina kembali.
"Punya saya." ucap Arjuna.
"Punya saya."
"Punya saya."
Diam.. !!! bentuknya.
Arjuna dan Davina terdiam, saat suara bentakan pria itu. Davina sudah merasakan lemas, sedang Arjuna terus menatap pria itu, dan menemukan sebuah benda kecil, dan benda tersebut adalah camera pengawas.
"Kalian kalau seperti tadi, saya akan tembak." ancam nya.
"Kesini kamu." ucap nya pada Arjuna.
Arjuna mengikuti perintahnya, dan pria tersebut meminta senjata yang ada pada Arjuna. Dengan terpaksa Arjuna, menyerahkan senjata tersebut.
"Berlutut, dengan tangan di kepala." perintahnya.
Arjuna mengikuti apa katanya, semua penumpang diam dan ketakutan. Begitu juga dengan Davina, dengan jantung berdebar sangat kencang.
"Kalian yang merasa jagoan, akan bernasib seperti kondektur itu, dan sebentar lagi, Pak Tentara ini akan mati.
Davina berusaha mengeluarkan ponselnya, dan dengan segera meminta bantuan dengan merekam kejadian, namun tiba - tiba ponselnya berbunyi, Maminya menelepon, dengan sigap pria itu menembak tepat di ponsel Davina, dan peluru melesat ke tangannya, namun hanya menyerempet tapi cukup membuat luka.
Aaaarrrgggghhhhn
Davina menjerit, dan pria tersebut lantas mengarahkan senjata tepat di kepalanya. Arjuna tidak bisa berbuat apa - apa, bertindak nyawa Davina melayang.
" Bisa bantu saya." ucapnya pada pria di samping Arjuna.
"Iya." ucap nya pelan.
"Kita harus merekayasa dalam Bus, ada camera kecil, yang mengamati pergerakannya. Dia itu terancam, setelah benar - benar bisa melumpuhkan dia, tim penjinak bom akan datang." ucap Arjuna sambil menatap pria itu yang sedang menekan luka di tangan Davina dengan kakinya.
"Saya harus bagaimana?"ucapnya.
" Hubungi ke nomer 081xxxxxxx99, jalan tol km 12 siap kan pasukan, ada sebuah Bus jurusan Plaza M kampung Baru, perintah Lettu Arjuna Bima sakti."
Pria itu langsung mengirimkan pesan, sang sopir menatap kaca spion dan Arjuna menoleh ke arah supir, dengan memberikan kode, belok kanan.
Supir menuruti apa kata Arjuna, Bus berbelok ke arah jalan tol, dan pria itu langsung panik dan berjalan ke arah supir.
"Kenapa lewat tol?" bentaknya.
"Maaf, kami bukan membawa penumpang biasa, ini rombongan." ucap supir.
"Bohong..!! " bentak dia.
"Saya tembak kamu."
Buugghhh
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
susi 2020
😘😘
2023-10-18
0
susi 2020
🥰🥰
2023-10-18
0
Ramadhani Kania
habis bikin ktawa d beberapa episode,sekarang d buat tgang oey...
2023-05-08
1