Sebuah ke khawatirkan

"Tolong pergilah." ucap Pria tersebut.

"Kami tidak akan pergi." udah Farhan.

"Tolong pergilah, percuma kalian menolong juga. Dia juga memakai bom waktu di tubuhnya, dia meledak saya pun meledak." ucapnya.

Ponsel Arjuna kembali berdering, Fuji menghubunginya kembali, dan Arjuna langsung mengangkat panggilan dari Fuji.

"Hallo gimana?"tanya Arjuna.

" Pria tersebut terpasang bom juga, kami sedang berusaha menegosiasi agar melepaskan putrinya." jawab Fuji dari seberang.

"Kita tidak bisa menghentikan, detik nya begitu cepat."

"Jalan satu - satu , kamu bisa menebak."

"Pasti bisa.'

" Tidak bisa."

Arjuna memutuskan panggilan teleponnya, dan menatap ke arah kaca spion mobil, terlihat pria itu sedang menangis.

"Satu cara, kita hanya menunggu jackpot, kalau kita berhasil saat memutuskan kabel, kita selamat. Tapi kalau tidak berhasil, kita mati semua."ucap Farhan.

" Pergilah, jangan pedulikan saya." ucapnya.

"Kita harus pergi, detiknya semakin cepat." ucap salah satu anggota.

"Kita pergi dari sini." ucap Farhan.

Pria tersebut berjalan mendekat, dan meminta untuk mengambil alih kemudi.Tapi Arjuna tidak mau, namun pria itu memaksa. Dan Farhan serta Tim nya pun, meminta untuk segera keluar.

"Pergilah, biar semua berakhir." ucap nya

"Maafkan kami." ucap Arjuna.

Mobil truk kembali mendekat, semuanya menyebrang melewati papan yang di bentangkan.

Pria tersebut mengemudikan Bus, semua mobil menjauh, dan meminta menutup jalur sepanjang Bus itu melintas.

Arjuna menatap Bus itu semakin menjauh, dan terdengar suara ledakan besar, hingga terlihat api berkobar.

Buuuummm

Buuuummm

Arjuna terduduk lemas, dan mendapatkan kabar pria pelaku utama pun meninggal dunia, meledakkan sendiri, namun putri nya berhasil selamat.

****

"Davina." panggil Ibu Tika.

"Mami." ucap Davina langsung memeluk tubuh Mami nya.

"Tangan kamu kenapa?" tanya Ibu Tika.

"Kena peluru, hanya lewat." jawab Davina.

"Kata kamu hanya lewat, lihat kamu di perban." ucap Ibu Tita panik.

"Anak mami masih selamat." ucap Davina sambil terisak.

"Hiks.. hiks.. sayang." ucap Ibu Tika memeluk kembali Davina.

Saat sedang berpelukan, Davina melihat Arjuna turun atas truk, dengan di bantu temannya dengan kaki tertatih.

Davina melepaskan pelukan Mami nya, dan berjalan ke arah Arjuna. Ibu Tika dan dokter Toni menatap Davina, yang berjalan ke arah Arjuna.

Davina langsung memeluk tubuh Arjuna, dan Arjuna membalas pelukan Davina. Davina terisak, saat melihat Arjuna kembali dengan selamat.

"Saya takut kamu tidak kembali." ucap Davina.

Arjuna mengeratkan pelukannya, terdengar Arjuna menangis. Davina semakin mengeratkan pelukannya, sedangkan Arjuna menangis dengan membenamkan wajahnya di leher Davina.

"Kami tidak bisa menyelamatkannya." ucap Arjuna.

"Kalian sudah berusaha." ucap Davina.

Toni menarik lengan pakaian Ibu Tita, dan Ibu Tita langsung menyingkirkan tangan Toni, yang menarik - tarik lengan pakaiannya.

"Kamu ini kenapa sih?" ucap Ibu Tika.

"Calon mantu." ucap Toni.

"Hah... maksud kamu apa?" tanya Ibu Tika.

"Calon mantu Tante, Tentara yang di peluk Davina."jawab dokter Toni.

"Ah.. masa sih? katanya nggak percaya sama namanya pria."

"Buktinya itu, pelukan erat banget."

Awwwww

Davina mendorong tubuh Arjuna, hingga sakit di bagian dadanya. Davina gugup, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kamu kenapa sih?" tanya Arjuna.

"Kenapa kita pelukan?" tanya kembali Davina.

"Ya mana tahu, kamu yang datang terus main peluk." jawab Arjuna.

"Ya seharusnya kamu tolak dong, jangan main balas peluk saja."

"Kamu nggak ngerti momen." ucap Arjuna langsung pergi.

"Itu calon mantu?" tunjuk Ibu Tika.

"Mami, ka - kata siapa?" tanya Davina.

"Kata saya." jawab dokter Toni.

"Bukan, hoaks Mam."

****

"Mami nggak bisa bayangkan, kalau kamu itu tertembak kepalanya." ucap Ibu Tika.

"Saya juga sama Mam, kepikiran begitu. Untung saja meleset." ucap Davina.

"Eh Mami mau tanya, Tentara yang kamu peluk ganteng ya." ucap Ibu Tika.

"Huueeeekkk, ganteng! dilihat dari sedotan." ucap Davina.

"Awas loh, benci bisa jadi cinta." ledek Ibu Tika.

"Ih.. Mami apaan sih, gak akan lah."ucap Davina.

" Kalau nggak , kenapa peluk dia?"

****

"Ya ampun Davina, saya sudah nggak bisa bayangin, luka di tangan kamu." ucap dokter Farah, sambil mendengarkan cerita dari Davina.

"Saya juga mungkin sedang apes kali, malah ketemu sama tuh cowok, nggak bawa uang cash, akhirnya pinjam sama dia. Malah tiba - tiba, di todong senjata, eh kena tangan. Untung dia nggak tembak kepala saya." ucap Davina.

"Tapi kayaknya, ada yang jadian nih." ucap dokter Toni.

"Ih kamu apaan sih? jangan sebar hoaks." ucap Davina.

"Iya ih bener, sudah tahu sedang genting malah bahas begituan." ucap dokter Farah.

"Terus buktinya, kemarin pelukan?"

"Itu suatu kesalahan teknis." ucap Davina.

"Kesalahan teknis, tapi erat banget." sindir dokter Toni.

"Ih.. bisa diem nggak sih?" ucap kesal Davina.

"Kalau iya juga nggak apa - apa kali." ucap dokter Farah.

"Apaan lagi kamu." ucap Davina kesal.

"Davina." sapa Rizal, yang tiba - tiba datang menghampirinya.

Dengan malas, Davina memutar bola matanya. Sedangkan dokter Farah dan dokter Toni lebih memilih pergi, meninggal keduanya.

"Gimana tangan kamu?" tanya Rizal sambil memeriksa punggung tangan Davina.

"Nggak apa - apa, hanya luka ringan." jawab Davina.

"Untung dia mati, kalau masih hidup dia harus di hukum lebih berat lagi." ucap Rizal.

"Tapi kamu tidak ada, bagian tubuh lain yang cedera atau luka kan?" tanya Rizal panik.

"Nggak ada, hanya punggung tangan saja." ucap Davina.

"Syukurlah saya panik, tapi sekarang sudah lega."

"Terima kasih." ucap Davina.

****

"Kalau kejadian kemarin, mengenai nyawa anak kita. Entah Mas, mungkin saya sudah pingsan dan menyusul dia. Tapi Allah menjaga dia, hanya menyerempet punggung tangannya saja." ucap Ibu Tika.

"Itu buat suatu pelajaran, Allah masih memberikan kesempatan kedua, agar lebih hormat lagi pada Daddy nya. Itu baru peringatan kecil, belum apa - apa." ucap Pak Haris.

"Kok Mas bicara nya begitu? seperti tidak ada rasa cemas sama anak." ucap Ibu Tika kesal.

"Mas bicara jujur, anak kita itu memang harus di kasih pelajaran. Sama orang tua melawan, tidak sesuai dengan pendidikannya. Tidak sesuai dengan kepribadiannya. Ini salah kamu, mendidik Davina." ucap Pak Haris.

"Mas, kamu pikir ini salah saya. Dan kamu itu, sudah merubah sifat dan sikapnya. Sehingga Davina berontak, bahkan sangat membenci kamu."

"Tapi kalau kamu didik dia dengan baik, anak kita tidak seperti."

"Silahkan terus salahkan saya, karena saya sudah kenal jauh sifat kamu, bisanya hanya mengeluh. Sedangkan saya, keluhkan untuk kamu , malah kamu tidak mau disalahkan." ucap Ibu Tika.

"Kasih ini pada Davina, mobil yang di bengkel akan saya ambil, suruh dia memakai mobil baru dari Daddy nya." ucap Pak Haris.

"Kamu kasih ke dia sendiri Mas, saya tidak mau."

.

.

Terpopuler

Comments

susi 2020

susi 2020

😘

2023-10-18

0

susi 2020

susi 2020

🤩

2023-10-18

0

Nabil abshor

Nabil abshor

pdhl anaknya baru 1,, tp gd sayang²ny tu om² sm anak sndiri....

2023-05-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!