"Davina..!! " panggil Pak Haris.
"Davina..!! " panggil kembali Pak Haris, dan langsung menarik tangan Davina, menampar pipi nya.
Plaaakk
"Daddy..!! " teriak Ibu Tika.
"Tampar saya lagi, tampar..!! " bentak Davina.
"Yang sopan sama Mami Vera." ucap Pak Haris.
"Sopan? Daddy bilang sopan. Hallo... Daddy sopan tidak sama Mami, Daddy sadar nggak dengan kelakuan Daddy." ucap Davina.
"Cukup Davina, cukup." ucap Ibu Tika.
"Mami, saya ini membela Mami. Dan kamu Vera, otak kamu itu dimana? umur kamu itu sudah tua, nggak pantas ulang tahun di rayain begini megahnya. Mending kamu sumbangkan itu uang dari Daddy, atau kamu belikan kain kafan siapa tahu kamu besok mati." ucap Davina.
"Davina..!! " bentak Pak Haris.
"Mas, cukup. Malu masih ada tamu. Lebih baik kalian pulang, jangan merusak pesta saya." ucap Ibu Vera.
Davina berjalan ke arah Ibu Vera, menatap tajam wanita yang sedang menunduk itu. Davina menarik kalung permata, senilai 250 juta.
Ibu Vera dan Pak Haris kaget, Davina menarik hingga patah. Dan membuangnya ke atas genting.
"Daddy pernah kasih itu tidak sama Mami? ulang tahun Mami saja tidak semeriah seperti ini, kado kalung 250 juta. Kamu cari di atas genting, kalau hilang besok datang temui saya, untuk saya ganti dengan yang lebih dari itu." ucap Davina langsung menarik tangan Ibu Tika.
****
Plaaakkk
Ibu Tika menampar pipi Davina, saat mereka berada dalam mobil. Ibu Tika, menahan amarah.
"Kenapa saya di tampar Mami? saya salah apa?" tanya Davina.
"Tidak seharusnya kamu berlebihan seperti itu, Mami ingin semuanya di lupakan. Kami sudah tua, sudah tidak mau mempermasalahkan itu lagi." jawab Ibu Tika.
"Oh begitu ya, berarti Mami itu rela untuk di injak - injak sama dia. Nggak menyangka ya, Mami lemah."
"Mami tidak lemah, lebih baik Mami diam. Biar yang di atas membalasnya."
"Saya ingin Mami cerai, pria itu brengsek." ucap Davina dengan terisak.
"Kamu jangan berfikir, semua pria itu sama. Tidak semua pria itu, seperti Daddy kamu."
"Maafkan saya Mami, kalau saya salah tadi."
"Mami paham sayang, kenapa kamu seperti itu."
****
"Gimana ada tidak?" tanya Ibu Vera pada tukang kebunnya, yang sedang mencari kalung di atas genting, yang di lempar oleh Davina.
"Bu, tidak ketemu." ucapnya.
"Cari lagi, dia lempar sekitar situ."
"Parto, sudah kamu turun." ucap Pak Haris.
"Mas, jangan gitu. Biar Parto cari lagi, sayang itu kalung Mas." ucap Ibu Vera.
"Nanti Mas belikan lagi, maafkan anak saya."
"Nggak apa - apa Mas, pantas Davina seperti itu. Dia memang sakit hati sama saya, Mas jangan marahi Davina lagi ya."
"Kamu itu sabar, walau anak saya membenci kamu, dia berusaha kasar. Tapi kamu tetap sabar." ucap Pak Haris, sambil membelai rambut istrinya.
"Saya akan tetap sabar, samapi dia mau menerima saya."
****
"Paijo, rumah dokter Davina itu besar ya?" tanya Emak.
"Iya Mak besar." jawab Paijo.
"Antar Emak kesana, Emak ingin main." ajak Emak.
"Aduh Mak, jangan nanti Emak bikin malu."
"Malu apa? kamu pikir Emak tidak memiliki sopan santun, kamu antar Emak kesana, emak ingin main ke rumahnya. Kenal sama keluarganya, siapa tahu memang jodoh anak Emak sama dia."
"Mak, soalnya bangai langit dan bumi." ucap Paijo.
"Bagai langit bumi gimana?
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
susi 2020
🤓🤓
2023-10-18
0
susi 2020
🤩🤩
2023-10-18
0
ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ
Mak ngebet mau ketemu Calon Besan
2023-05-08
0