Jangan Geer

Davina menatap malas saat melihat mobil Daddy nya terparkir di halaman rumahnya, dengan malas Davina masuk. Terlihat Pak Haris yang baru keluar dari kamar, bersama Ibu Tika.

"Davina, Daddy mau bicara sama kamu." ucap Pak Haris.

"Mau bicara apa?" tanya Davina.

"Duduk kamu." ucap Pak Haris.

Pak Haris melemparkan kunci mobil baru, untuk Davina. Dengan malas Davina mengambil kunci mobil tersebut, lantas pergi meninggalkan Daddy dan Maminya.

"Mobil baru kamu ada di garasi, mobil yang di bengkel Daddy bawa pulang ke rumah sana." ucap Pak Haris.

"Iya, makasih." ucap Davina tanpa melihat Daddy nya.

"Kamu itu tidak ada sopan santun ya, kamu anggap apa Daddy kamu?" ucap Pak Haris, dan Davina menoleh ke arah Daddy nya.

"Daddy tadi bilang apa? Daddy tahu nggak? kalau anaknya hampir mati, di tembak penjahat. Nih lihat, Daddy nggak buta kan?" ucap Davina sambil menunjukkan luka di tangannya.

"Daddy tahu, tapi Daddy tidak mau kamu jadi anak manja."

"Kenapa kejadian kemarin tidak si Vera, mati juga saya syukuran."

"Davina, kamu tidak boleh bicara seperti itu." ucap Ibu Tika.

"Maaf Daddy." ucap Davina langsung masuk ke dalam kamarnya.

"Kamu ajarkan sopan santun pada dia, semakin kesini dia semakin melunjak." ucap Pak Haris.

"Iya Mas, saya akan peringatkan dia lagi."

Sedangkan di dalam kamar, Davina langsung merebahkan tubuhnya. Davina memejamkan kedua matanya, namun tidak bisa. Tiba - tiba suara notifikasi pesan masuk, terlihat Toni mengirimkan sebuah pesan photo.

Davina tersenyum lantas melemparkan pelan ponselnya di sampingnya, saat tahu sebuah kiriman photo dirinya dan Arjuna yang sedang berpelukan.

Davina langsung mengambil kembali ponselnya, saat di lihat Davina memukul kepalanya pelan.

"Kenapa lagi, saya tuh bisa - bisa datangi dia terus meluk. Nanti di kira geer lagi sama dia, dan terus kenapa lagi, saya tuh bego banget malah saya ingin tetap di Bus, tidak mau pergi jauh dari dia. Seolah seperti di film - film, napa jadi saya baper sama dia." ucap Davina merasakan penyesalan.

Toni menelepon Davina, Davina pun mengangkat telepon dari Toni, dan langsung di sambut tawa oleh Toni.

"Hahahaha... gimana bagus kan?" ucap Toni dari seberang.

"Sempat - sempat nya kamu itu, pake acara photo saya. Kurang kerjaan banget ya, lama - lama punya teman nyebelin juga." ucap Davina.

"Kalian itu cocok, kamu itu aslinya ada rasa sama tuh Tentara. Tapi sayang, kamu tidak mau jujur pura - pura ilfell, pura - pura nggak cinta, buktinya kamu lari kejar dia dan peluk tuh si Tentara."

"Diam kamu, jangan sebar berita hoaks."

"Hahahaha.. hoaks apanya? fakta akurat 1000 persen."

"Sudah ah, malas saya ngobrol sama kamu." ucap Davina langsung mematikan ponselnya.

****

Arjuna ada di rumah sakit di mana Davina tugas, Arjuna duduk di kursi pasien setelah bertanya Davina telah pindah ke poli umum. Satu persatu pasien keluar masuk, hanya tinggal sisa Arjuna.

Davina lantas keluar saat dinyatakan tidak ada pasien lagi, yang akan berobat. Arjuna tersenyum saat Davina keluar dari ruang prakteknya, Davina memaksakan senyum ke arah Arjuna.

"Hi." sapa Arjuna.

"Mau apa? kalau mau di periksa besok lagi saja." ucap Davina.

"Ehm.. kita makan siang yuk." ajak Arjuna.

"Kamu datang kesini, hanya untuk ajak makan siang?"

"Iya saya yang traktir, kita makan di luar."

"Naik apa?"

"Di depan rumah sakit, ada rumah makan enak, kita makan disana. Saya belum bisa kemudikan kendaraan, karena kemarin paksa mengemudikan Bus, kaki saya sakit lagi."

"Boleh." ucap Davina, berjalan mendahului Arjuna.

Arjuna tersenyum saat Davina mau ajakan makan siang bersama, saat keduanya berjalan dokter Toni, dokter Farah, dan dokter Rizal.

"Wah.. mereka serasi ya." ucap dokter Toni.

"Kalau sama - sama ada rasa, pasti serasi." ucap dokter Farah.

Dokter Rizal langsung pergi, hatinya terbakar cemburu. Dokter Toni dan dokter Farah tersenyum geli, saat melihat dokter Rizal cemburu.

***

"Mau makan apa?" tanya Arjuna.

Davina memilih menu, dan pilihannya memesan seporsi nasi soto. Sedangkan Arjuna, memesan seporsi laksa.

"Pesan ini saja, minumnya di samakan saja es teh manis." ucap Arjuna.

"Baik Pak, tunggu sebentar ya." ucap pelayan rumah makan.

Arjuna menatap Davina yang sedang, memainkan ponselnya. Davina menyadari kalau Arjuna, sedang menatapnya.

"Kenapa liat - liat?" tanya Davina dengan wajah jutek.

"Kamu semakin cantik saja."jawab Arjuna.

" Biasa aja kali." ucap Davina sambil meletakkan ponselnya di atas meja makan.

"Gimana tangan kamu?" tanya Arjuna.

"Masih luka, tapi sudah nggak seperti kemarin." jawab Davina.

Pesanan mereka pun datang, mereka pun langsung makan pesanannya. Davina membagi nasi nya pada Arjuna, dan hanya nasi setengah porsi kurang di atas piringnya.

"Kok dikit banget nasinya?" tanya Arjuna.

"Saya tidak makan nasi banyak, ganti dengan kentang atau roti gandum." jawab Davina.

"Tadi pesan nasinya jangan banyak - banyak, ini juga Mas nggak akan habis." ucap Arjuna.

"Bisa di bungkus." ucap Davina sambil menyendok nasi lalu memasukan dalam mulut.

Arjuna hanya tersenyum, dan lanjut makan siangnya. Sedangkan di rumah sakit, Rizal terus merobek - robek kertas kosong yang ada di atas meja kerjanya, bahkan memukul mejanya.

"Kamu kalau sama pria itu mau, giliran sama saya kamu tidak mau. Ternyata selera kamu itu dia, apa kelebihannya sih? tampan masih tampan saya, kendaraan masih bagus saya." ucap Rizal bergumam.

***

"Biar saya saja yang bayar." ucap Davina.

"Jangan, Mas saja yang bayar." ucap Arjuna yang sudah membuka dompetnya, lalu menyerahkan sejumlah uang dengan nota nya pada pelayan.

"Kembaliannya ambil saja." ucap Arjuna.

"Terima kasih Pak." ucap pelayan lalu pergi.

"Makasih ya." ucap Davina.

"Nanti gantian kamu yang traktir Mas." ucap Arjuna.

"Iya, nanti gantian. Eh dari tadi kamu panggil Mas terus ih, emang saya panggil situ Mas?" ucap Davina kesal.

"Kan kamu pacarnya Mas, kita kan pacaran waktu di bus."

"Ih... enak saja, itu tuh darurat tahu. Terpaksa kalau saya itu sedang kepepet, makannya dari pada saya di turunin di jalan, lebih baik saya turuti kemauan kamu. Jadi nggak sah ya, kita belum pacaran."

"Terus, waktu kemarin kamu peluk saya?" ucap Arjuna.

"Ih.. itu tuh sebagai tanda, kalau kamu selamat nggak mati. Jadi tolong ya, jangan ke geer an, dan saya mau ikuti ajakan kamu makan siang, karena saya lapar. Jadi otomatis kan, saya mau saja. Intinya jangan ke geer an." ucap Davina membela diri.

"Oh gitu ya, ya.. ya.. percaya deh. Tapi ingat, saya akan dapatkan kamu, saya yakin kamu akan bucin berat sama Mas Arjuna."

.

.

Terpopuler

Comments

susi 2020

susi 2020

😋😋😋

2023-10-18

0

susi 2020

susi 2020

🤭

2023-10-18

0

Mey

Mey

halah.. masih ngeles aja bu dokter... 🤭
kalo suka ya mbok diakui aja lho... 🤗🤗😍😍

2023-05-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!