Sebuah Kisah

Arjuna mengemasi pakaiannya, setelah satu minggu dirawat di rumah sakit, akhirnya Arjuna di perbolehkan pulang.

Paijo yang membantu Arjuna mendorong kursi roda hingga ke arah parkiran rumah sakit. Saat hendak masuk, Davina datang dan jarak mobilnya dengan mobil gerobak milik Arjuna berjarak 10 meter.

Arjuna menutup wajahnya, karena malu saat Davina berjalan akan melewatinya. Arjuna buru - buru masuk, malah Emaknya menyapa Davina.

"Siang dok, baru datang?" sapa Emak.

"Eh ibu, iya nih. Oh sudah boleh pulang ya?" ucap Davina.

"Iya nih. " ucap Emak.

Davina menatap mobil yang akan di tumpangi Arjuna dan ibunya, bercampur dengan kambing yang ada di belakang.

"Itu kambing?" tunjuk Davina.

"Ini dari pasar habis beli kambing, lumayan buat di ternak lagi." ucap Emak.

"Mak, ayo cepet naik. Jangan bikin malu saya, masa di depan cewek yang saya sukai, lihat saya naik mobil ini." bisik Arjuna.

"Kamu ini kenapa sih? orang dokter Davina nggak malu. Benar kan bu dokter?" ucap Emak.

"Oh iya." ucap Davina sambil tersenyum.

"Buruan Mak." ucap Arjuna yang sudah naik terlebih dahulu.

"Kami permisi bu dokter." ucap Emak, dan di anggukkan kepala sambil tersenyum oleh Davina.

"Emak itu, bikin saya jadi malu."

"Malu kenapa? orang kita nggak salah."

"Memang nggak salah Mak, tapi ini saya naik mobil sama kambing Mak."

"Eh Arjuna, ini mobil pembawa berkah. Dari kamu kecil, ini mobil saya yang bawa cari duit buat biaya kamu sama Sinta sekolah, kamu jangan remehkan mobilnya." ucap Paijo.

"Bang, maksud saya. kenapa jemput saya ada kambing tuh, kan ada mobil punya saya. Kenapa nggak pakai itu?" ucap Arjuna kesal.

"Saya kan jadi turun derajat, gara - gara tuh kambing, Emak bawa buat jemput saya." ucap Arjuna kesal.

****

"Paijo, kamu kambing nanti langsung satukan sama yang lain." ucap Emak.

"Ya Mak." ucap Paijo keluar ke arah pintu belakang.

"Assalamu'alaikum." sapa seorang wanita masuk.

"Walaikumsalam." balas Emak, sambil berjalan ke arah pintu depan.

"Eh kamu Niken." ucap Emak.

"Mak, katanya Mas Arjun sudah pulang?" tanya Niken.

"Iya, ada tuh sedang duduk di ruang tv." jawab Emak, dengan wajah datar.

"Boleh saya masuk Mak?" tanya Niken, meminta ijin.

"Iya Silahkan masuk saja." jawab Emak.

Niken berjalan masuk, berjalan ke arah ruang TV. Arjuna sedang duduk, sambil menonton televisi.

"Mas." sapa Niken.

"Eh kamu Niken." ucap Arjuna.

"Mas gimana kakinya?"

"Alhamdulillah nggak terlalu parah, hanya retak sedikit. Tapi sekarang sudah bisa berdiri, hanya belum sembuh total."

"Syukurlah kalau Mas, masih bisa berdiri walau harus pakai tongkat." ucap Niken.

"Kamu kesini, sudah ijin belum? jangan sampai Ibu kamu cariin kamu kesini, nanti di kira anak saya naksir kamu." ucap Emak.

"Emak, Niken hanya main Mak." ucap Arjuna.

"Niken, Arjuna itu sudah punya pacar. Malah dokter, dari pada kamu hanya seorang gadis kampung. " ucap Emak.

"Mak, kok bicara begitu." ucap Arjuna.

"Arjuna, Emak itu sakit hati saja sama orang tuanya, dulu kamu sama Niken sudah di jodohkan, malah gara - gara ibunya kalau ngomong nggak pernah disaring. Mentang - mentang orang kaya, sama calon besan ibaratnya kita pembantu." ucap Emak, sambil mengingat kejadian dahulu.

"Mak, Almarhum Bapak itu ikhlas membantu pekerjaan milik keluarganya Niken, ikhlas bajak sawah, mengurus hasil panen. Walau tidak di bayar, kan Bapak juga dulu memang kerja sama kakeknya Niken."ucap Arjuna.

"Iya tapi tetap saja ke atas lihatnya, bodohnya bapak kamu saja sama tuh bapaknya main jodoh - jodohkan dari masih bayi hingga besar sih pada punya rasa masing - masing sama orang."

"Saya mencintai Mas Arjun, saya ingin perjodohan ini lanjut." ucap Niken.

"Kenapa lanjut? karena anak saya jadi Tentara. Dulu selagi masih jadi petani, main kesini saja kamu sudah di cariin." ucap Emak.

"Kalau gitu, saya permisi." ucap Niken langsung pergi.

"Emak, kalau ngomong ya."

"Emak sakit hati Arjuna, sakit hati itu sama orang tuanya."

"Yang salah orang tuanya, bukan Niken." ucap Arjuna.

****

Davina turun dari mobilnya, Davina melihat sebuah mobil mewah, terparkir di samping mobilnya. Davina malas untuk masuk, dan memutuskan untuk pergi kembali.

Ibu Tika membuka gorden, dan melihat putrinya pergi lagi. Ibu Tika kembali menutup gorden dan mendekati suaminya, yang sedang duduk santai sambil menikmati kopi hangat.

"Apa anak itu pergi lagi?" tanya Pak Haris.

"Iya Mas, dia tidak suka kamu pulang." jawab Ibu Tika.

"Ingat, dia kuliah siapa yang biayain, siapa yang membelikan dia mobil." ucap Pak Haris.

"Itu hadiah ulang tahunnya dari kamu Mas, sekarang kamu malah ungkit. Dia juga kalau berniat, bisa beli mobil. Hanya saja buat apa, ada mobil dari kamu."

"Katakan pada Davina, besok suruh datang. Vera ulang tahun, keluarga besar semuanya datang. Kamu juga jangan lupa datang, agar semua melihat kamu dan Vera akur. "

"Akur? siapa yang mengajak perang? " ucap Ibu Tika tersenyum sinis.

"Saya tunggu kamu di Hotel Emerald, pukul 7 malam." ucap Pak Haris, langsung pamit pergi.

****

Davina mengendarai mobilnya hingga jauh, di pinggiran perkotaan. Mobilnya berhenti di tempat yang sepi, hanya sebuah hamparan sawah, dan angin sepoi - sepoi.

Davina, duduk di atas kap mobilnya sambil menikmati bulan yang bulat sempurna, dengan bintang yang kelap kelip.

"Damai sekali, saya menatap bulan dan bintang. Kalau saya bisa kesana, lebih baik menetap di planet Mars dari pada disini." ucap Davina.

Ponsel miliknya berbunyi, Davina langsung mengangkatnya.

"Ya Mam." ucap Davina.

"Kamu dimana?" tanya Ibu Tika.

"Di luar Mam." jawab Davina.

"Pulang lah, Daddy kamu sudah pulang."

"Ya sebentar lagi." ucap Davina.

"Ini sudah malam, kamu pulanglah."

"Iya Mam, saya pulang."

"Hati - hati."

Telepon pun di akhiri, Davina turun dari atas mobil. Dan saat turun melihat, mobil miliknya ban nya kempes.

"Ah... kok bisa kempes gini sih, sudah nggak bawa ban serep lagi." ucap Davina kesal.

Davina menoleh ke kanan dan kiri, melihat tidak ada perumahan. Hanya terlihat lampu kelap kelip yang jauh dari nya, Davina mencoba menelepon seseorang tapi ponselnya mati, karena baterai habis.

"Ah..harus gimana ini, jalan satu - satunya saya harus ke kampung itu." ucap Davina mengambil tasnya, dan mengunci pintu mobil.

Davina dengan mengenakan sandal high heels nya berjalan ke arah perkampungan, perjalanan yang lumayan jauh, membuat dia melepaskan kedua sandal nya.

"Semoga saja, disana ada bengkel yang masih buka, terus bisa menambal ban mobil saya." ucap Davina.

Hampir 15 menit berjalan, lumayan menguras tenaga. Davina masuk kedalam perkampungan, yang sudah tampak sepi.

"Padahal baru jam 8 malam, kenapa sudah sepi begini?"

.

.

.

Terpopuler

Comments

susi 2020

susi 2020

😍😍

2023-10-18

0

susi 2020

susi 2020

😘😘

2023-10-18

0

ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ

ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ

nyasar ke kampung calon jodoh

2023-05-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!