Rasa Yang Lebih

"Rumahnya itu besar, kayak istana. Rumah sini sih kalah, malah perumahannya itu ada lapangan bola, lapangan golf, mewah lah." ucap Paijo.

"Emak mau main ke rumah dokter Davina? jangan suka melangkahkan Mas Arjuna Mak, Emak sih kayanya semangat banget, sama masalah jodoh Mas Arjuna." ucap Sinta.

"Gimana nggak semangat, yang disukai sama anak Emak dokter cantik kayak model. Ya Emak ajak silahturahmi dulu lah, biar enak dan lebih dekat." ucap Emak.

"Tapi gimana sama Mas Arjun?" tanya Sinta, saat Arjuna datang.

"Apa? " tanya kembali Arjuna.

"Emak boleh ya, main ke rumah dokter Davina." ucap Emak.

"Ngapain Mak, urusan orang tua main itu nanti. Kalau anaknya, sudah dapatkan tuh dokter." ucap Arjuna.

"Tapi benar kamu itu suka sama dia?" tanya Emak.

"Benar Mak, saat pertama bertemu. Ada rasa klik gitu." ucap Arjuna.

****

Davina memeriksa pasien yang baru sampai di IGD , pasien wanita dewasa yang mengalami sesak pernafasan.

"Tolong pasang alat bantu pernafasannya." ucap Davina memberikan perintah.

"Gejala sesak sejak kapan?" tanya Davina.

"Dari kemarin dok, dan baru tadi pagi merasakan sesak." jawab suami pasien.

"Dirawat ya Pak istrinya, kalau hanya berobat jalan bahaya ini."

"Baik dok."

"Sinta, tolong kamu persiapkan untuk ibu ini." ucap Davina, lalu pergi."

Davina pun mengecek kembali pasien lainnya, untuk di periksa kondisinya parah atau tidak.

"Arya, pasien yang tiga itu juga, harus dirawat. Kecuali yang satunya paling ujung, boleh pulang dia hanya terkena demam biasa. Tapi habiskan infus nya dulu." ucap Tiara.

"Baik dok."ucap Arya.

Davina duduk di kursinya, sambil mengecek data pasien, yang masuk ke IGD hari ini. Davina mengangkat wajahnya, saat ada yang duduk di depan meja kerjanya.

" Sibuk ya?" tanya Rizal.

"Kamu kan sudah lihat." ucap Davina.

"Saya sudah selesai praktek, kita makan siang sama - sama yuk." ajak Rizal.

"Saya masih lama, tanggung sedang cek laporan dulu."ucap Davina.

" Saya tunggu kamu disini." ucap dokter Rizal.

"Hi.. lagi ngumpul nih." sapa Toni.

"Hi.." sapa Rizal.

"Eh makan siang bareng yuk, si Farah bawa makanan banyak dari rumah." ajak Toni.

"Syukuran dia?" tanya Davina sambil merapikan tumpukan berkasnya.

"Mungkin." jawab Toni.

"Dimana sekarang?"

"Sudah di kantin, yuk buruan." ucap Toni.

"Dav, kamu kan mau makan siang sama saya." ucap Rizal.

"Kan makan siangnya di kantin, kamu juga sama kan? yasudah sama - sama." ucap Davina, lanjut melangkahkan kakinya dengan menggandeng tangan Toni.

Rizal hanya mendengus kesal, dan mengikuti langkah mereka berdua. Sedangkan Farah sudah terlebih dahulu ada disana, dengan berbagai macam hidangan.

"Wah, kamu syukuran apa nih?" tanya Davina.

"Nggak syukuran, hanya ingin makan - makan sama kalian saja." jawab Farah.

"Eh ada dokter Rizal, gabung dok." ucap Farah.

"Makasih ya."

***

"Tunggu setelah selesai istirahat ya Pak, karena dokternya sedang istirahat." ucap salah satu suster.

"Makasih sus." ucap Arjuna.

Arjuna berjalan sendiri, dengan menggunakan tongkat yang ada di kedua tangannya. Arjuna lantas memutuskan untuk, berjalan ke arah kantin. Walau dirinya sesekali, berhenti.

Arjuna menatap kantin, terlihat ada para perawat dan dokter yang sedang makan siang, Arjuna memutuskan untuk duduk di salah satu kursi.

Saat kedua matanya sedang menyisir seisi kantin, Arjuna melihat Davina sedang tertawa dengan teman - temannya. Arjuna tersenyum, gadis cantik yang di sukainya sekarang berada, tepat di depan tempat duduknya.

Davina tak sengaja menatap ke arah Arjuna, Davina tersenyum tipis, dan lanjut makan. Davina merasakan makan yang tidak nyaman karena Arjuna terus menatapnya. Hingga akhirnya Davina menghentikan makan siangnya, dan memilih untuk bangun dan duduk di depan Arjuna. Hingga membuat Toni, Farah dan Rizal menatap ke arah Davina.

"Eh itu bukannya pasien yang bikin stress Davina ya?" tanya Farah.

"Iya benar, kalau orang suka itu, apa saja di lakukan." ucap Toni.

Rizal menoleh ke belakang, terlihat Davina sedang mengobrol dengan pria tersebut. Ada rasa cemburu, saat Davina terlihat akrab.

"Kamu ngikutin saya ya?" tanya Davina.

"Ih.. pede banget nih yayang, mau cek kaki sayang." jawab Arjuna dengan menaik turunkan alisnya.

"Ih.. sayang - sayang, memangnya saya pacar kamu?" ucap Davina kesal.

"Temani Mas kontrol ya, Mas sendirian." pinta Arjuna.

"Lagian, sudah tahu masih sakit. Seharusnya ada yang temani, bukan malah minta tolong untuk temani." ucap Davina.

"Mereka sibuk."

"Sok sibuk." ucap Davina.

"Dav, kita masuk yuk. Sudah mulai kerja lagi." ucap Rizal, menghampiri.

Davina melihat jam tangan di tangannya, yang masih ada waktu 15 menit lagi. Sedangkan Toni dan Farah sudah berjalan lebih dahulu, tidak dengan Rizal.

"Kamu duluan saja, saya masih ada perlu dengan dia." ucap Davina.

"Yasudah, saya duluan." ucap Rizal sambil melirik ke arah Arjuna.

"Dia cemburu ya?" tebak Arjuna.

"Sok tahu." ucap Davina.

"Saya tahu, gimana tatapan pria yang cemburu. Ternyata saya punya saingan juga, tapi saya akan dapatkan kamu."

"Kok saya jadi ilfeel gitu ya sama kamu, atau jangan - jangan kamu di luar sana, kamu itu sama setiap perempuan begini? apalagi saat menggunakan seragam, kamu dengan gayanya menebar pesona."

"Nggak juga, karena baru sama kamu saja."

"Ah... pria itu bisanya manis di mulut, pahit saat di makan."

****

"Bagus, ada perkembangan. Tapi jangan lari atau jalan di paksa, sedikit - dikit. Dan sekarang jalan begini, ada rasa apa?" tanya dokter Lutfi.

"Masih sedikit nyeri, jalan juga beberapa langkah berhenti, terus lanjut lagi." jawab Arjuna.

"Nanti saya kasih resep obatnya, bulan depan cek lagi kesini. Kalau sudah memang enak, coba lepas tongkatnya."

"Siap dok."

***

"Anak kamu itu kenapa selalu menyiksa batin saya? kamu itu harus tahu mba, saya itu berusaha untuk menjadi Mami dia yang baik, tapi apa dia tidak ada sopan santun nya." ucap Ibu Vera.

"Kamu itu seharusnya berpikir, sudah tahu Mas Haris itu suami Mba, suami kakak kamu sendiri. Malah kamu mau dinikahi sama dia, yang di jodohkan itu saya bukan kamu." ucap Ibu Tika.

"Mba, saya itu cinta pertama dia, jadi wajar kalau Mas Haris menikahi saya juga. Dan mba asal tahu, kami masih saling mencintai."

"Vera, kamu itu tidak sadar, kamu itu hanya anak pungut, seharusnya kamu sadar diri dan mengalah Kalau Mas Haris buat saya, kamu bisa hidup enak karena orang tua saya. Kamu itu, hanya anak yang di angkat dari panti asuhan. Kalau Mas Haris tidak ada rasa sama saya juga, nggak akan mungkin bisa lahir Davina." ucap Ibu Tika.

"Saya sadar diri Mba, tapi dengan cinta. Saya tidak akan mengalah, karena Mas Haris dan saya saling mencintai." ucap Ibu Vera.

"Saya juga tidak akan mundur, melepaskan Mas Haris." ucap Ibu Tika.

****

"Gimana kaki kamu?" tanya Fuji.

"Sudah mendingan, awal bulan saya berangkat. Jenuh di rumah terus, makan tidur, nonton tv, setiap hari begitu." jawab Arjuna.

"Nggak ada kamu juga sepi, biasanya kita bercanda, ngapain juga sama kamu."ucap Fuji.

" Iya Arjun, kamu sakit itu hampa." ucap Farhan.

"Lebay kalian." ucap Arjuna tertawa.

"Eh gimana sama dokter cantik, masih ketemu?" tanya Farhan.

"Dia pernah kesini, itu juga nggak sengaja. Terus saya antar pulang juga pernah, tadi juga ketemu di rumah sakit." jawab Arjuna.

"Jangan - jangan kalian jodoh." ucap Fuji.

"Amin, biar teman kita yang satu ini nggak akan Jones alis jomblo ngenes." ucap Farhan, dan Fuji langsung tertawa terbahak - bahak.

"uh... kampret seneng ya." ucap Arjuna menyumpal mulut Fuji, yang sedang tertawa dengan buah jeruk yang di kupas Arjuna.

***

"Kamu mau kemana Niken?" tanya Ibu Odah.

"Nggak kemana - mana bu." jawab Niken.

"Itu kamu, bawa masakan di rantang buat siapa?" tanya Ibu Odah sambil menunjuk ke arah rantang.

"Ini buat, ini buat Mas Arjuna." jawab Niken dengan ketakutan.

"Ibu sudah bilang, Arjuna itu tidak suka sama kamu, apalagi Emaknya itu tidak suka sama keluarga kita."

"Bu, Emak seperti itu karena ibu. Bukan salah Emak, mereka itu baik bu, tapi ibu yang tidak baik. Kalau Ibu tidak seperti itu, saya sama Mas Arjuna sudah menikah sekarang."

"Arjuna itu memang tidak ada rasa Niken, itu hanya kerjaan almarhum Ayah kamu sama Almarhum Bapaknya Arjuna. Di jodohkan juga, kalau sudah besar anaknya mau apa tidak? kebetulan Arjuna itu tidak suka sama kamu."

"Tapi kalau tidak seperti ini, perjodohan itu lanjut." ucap Niken.

"Taruh kembali makanan itu, Ibu tidak ikhlas tidak ridho kamu kirim makanan ke dia."

***

Arjuna membuka sosial media milik Davina, dan beberapa photo Arjuna ambil. Lantas di jadikan wallpaper di ponselnya, bahkan ada beberapa photo yang Arjuna cetak, dan di tempel di dinding kamarnya.

"Cantik banget sih kamu calon Mamahnya anak - anak, Mas itu beruntung bisa kenal sama kamu, semoga saya bisa dapatkan hati kamu. " ucap Arjuna.

.

.

.

Terpopuler

Comments

susi 2020

susi 2020

😎😎

2023-10-18

0

susi 2020

susi 2020

😍😍

2023-10-18

0

zulida

zulida

pede borosssss😂

2023-06-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!