Arjuna membekap mulut pria tersebut, dan menjatuhkan senjatanya, pantas senjata tersebut di ambil oleh penumpang yang mengirim pesan meminta bantuan, atas perintah Arjuna.
Pria itu menodongkan pistol milik pria pembawa bom, dan Arjuna mengambil tombol bom tersebut.
"Diam kamu, saya tahu kamu sedang terancam. Kamu jalani peran ini, saya akan kasih pistol kosong, kamu terus arahkan pistol itu, agar mereka mengira kamu tetap bertindak sesuai, apa katanya." ucap Arjuna, dan pria itu menganggukkan kepalanya.
"Kamu terus todong dengan senjata kalau dia melawan, tembak kakinya. " ucap Arjuna.
"Yang punya ponsel, bisa hubungi bantuan." ucap Arjuna.
Arjuna berjalan tertatih mendekati Davina, yang sedang merintih kesakitan, karena peluru yang menyerempet di punggung tangannya.
"Tahan ya, sebentar lagi bantuan akan datang." ucap Arjuna sambil memegang tangan Davina yang luka.
Davina menangis kesakitan, karena rasa perih pada punggung tangannya. Arjuna mencari kain, agar darah tidak terus keluar.
"Maaf mba, tali kain yang buat hiasan di rambut, boleh saya minta? untuk menghentikan darah yang mengalir." ucap Arjuna pada wanita yang duduk di sebelah Arjuna.
"Silahkan Pak." ucapnya sambil mencopot ikatan rambutnya.
"Terima kasih."
Arjuna mengikat tepat pada luka, agar tidak terus keluar darah dari punggung tangannya. Arjuna mengusap air mata Davina, dan terlihat shock.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Saya tidak lagi - lagi naik kendaraan umum, hiks.. hiks.. pertama kali naik kendaraan umum, malah jadi korban penyanderaan dan kena luka tembak." ucap Davina terisak.
"Ini belum seberapa, kamu lihat perut saya pernah tertembak, kamu mau lihat?" ucap Arjuna.
Huuuaaaaaaa
Davina menangis kencang, dan langsung memeluk tubuh Arjuna yang sedang berjongkok di depannya.
"Jangan harap menghibur, disaat saya terluka. Nggak lucu. " ucap Davina langsung melepaskan pelukannya.
Arjuna tersenyum, sambil menatap Davina. Sedangkan terlihat para penumpang sibuk meminta bantuan, dan tak lama beberapa mobil dengan suara rotator berbunyi, Tim penjinak bom datang.
Arjuna bangun, Farhan masuk dengan pakaian lengkap dan mendekati Arjuna. Terlihat juga dua prajurit yang mengarahkan senjatanya ke pria pembawa bom.
"Bom nya menempel pada rompi, ada kamera kecil di kerah pakaiannya. Dia saya suruh tetap dalam posisi seperti itu, ini tombolnya." ucap Arjuna.
"Kita harus turunkan para penumpang, kita utamakan yang terluka, dan satu jenazah." ucap Farhan.
"Saya akan kendalikan Bus." ucap Arjuna.
"Kaki kamu belum sembuh." ucap Farhan.
"Supir itu memiliki keluarga, dia tulang punggung keluarga." ucap Arjuna.
"Kamu juga sama." ucap Farhan.
"Biar saya yang melakukan, bantu evakuasi penumpang." ucap Arjuna.
Farhan lalu berjalan ke arah pintu, dan memberikan kode untuk sebuah mobil mendekat.
"Para penumpang harus keluar, karena Bus tidak bisa berhenti begitu saja." ucap Farhan.
Sebuah truk tanpa muatan dan gerobak merentangkan sebuah papan panjang, dan meminta pada penumpang bersiap - siapa untuk berpindah pada truk.
Jenazah kondektur bus yang pertama di pindahkan, lantas Davina yang selanjutnya namun Davina menggelengkan kepalanya, dan meminta anak - anak terlebih dahulu, lalu orang tua.
"Kamu harus cepat mendapatkan pertolongan, tim medis sudah tiba." ucap Arjuna.
"Saya tidak bisa tinggalin kamu." ucap Davina.
"Ini pekerjaan saya, kamu turun dari dalam Bus." udak Arjuna sambil memegang kedua wajah Davina.
"Nggak mau." ucap Davina.
"Saya janji, saya akan menemui kamu saat semuanya sudah selesai." ucap Arjuna.
Davina menganggukkan kepalanya, dan langsung keluar dari Bus, menyebrang lewat papan yang di bentangkan antara truk besar dan Bus.
Arjuna mengambil alih kemudi, setelah supir pun turun. Kini hanya ada Tim penjinak bom yang sedang berusaha, menjinakkan bom di tubuh pria tersebut. Sedangkan Arjuna terus bergerak mengemudikan mobil.
Ponsel Arjuna berdering, Fuji menghubunginya dan dengan tangan kanannya Arjuna mengangkat panggilan telepon dari Fuji.
"Hallo." ucap Arjuna.
"Pria itu korban kejahatan, itu adalah ulah seorang pria. Dia terancam karena demi, menyelamatkan putrinya yang di Sandera,Ini masalah asmara." ucap Fuji dari seberang.
"Apa laporan ini akurat?"tanya Arjuna.
"Iya, kami baru mendapatkan sebuah laporan masuk, pihak berwajib sedang bernegosiasi dengan pria itu, dan dia pun memegang kendali. Kalian percuma, memutuskan kabel itu, karena hanya dia yang bisa mengendalikan." ucap Fuji dari seberang, dan Arjuna langsung mematikan ponselnya.
***
"Tante." panggil dokter Tomi tiba - tiba datang.
"Tomi, ada apa?" tanya Ibu Tika.
"Tante sudah tahu berita hari ini?" tanya kembali Tomi.
"Berita apa?" tanya kembali Ibu Tika.
"Mobil Bus, yang ada bom di bawa oleh seorang pria. Davina ada di dalamnya, ini chat terakhir Davina meminta tolong." jawab Tomi sambil menunjukkan isi chat dari Davina.
"Astaga." ucap Ibu Tika, langsung menyalakan televisinya.
Dan terlihat, ada sebuah siaran langsung, bahkan semua stasiun TV menanyakan berita tentang Bus, yang di dalamnya ada sebuah bom.
Ibu Tika dan Tomi mendengarkan berita tersebut, bahwa para penumpang telah berhasil di selamatkan, sehingga membuat lega hati Ibu Tika dan dokter Tomi.
"Sekarang mereka dimana?" tanya Ibu Tika.
"Kita harus ke titik yang di jelaskan di berita." jawab dokter Tomi.
"Kita kesana." ajak Ibu Tika.
"Iya Tante, kita kesana."
****
"Kita tidak bisa." ucap Farhan, dan semuanya seketika lemas.
Hiks.. hiks..
"Tolong saya, hiks.. hiks.. " ucap pria tersebut.
"Apa rompi itu tidak bisa di lepas?" tanya Arjuna.
"Kalau di lepas, sensor disana menyala. Saya bisa meledak, bahkan kita akan mati bersama." ucap nya.
"Pasti bisa, kita coba dan kita harus buang rompi ini keluar. " ucap Farhan.
"Pergilah, tangkap dia selamatkan putri dan istri saya. Dia seperti ini, karena saya yang salah. Telah merebut istrinya, saya harus menebus dosa saya."
"Kamu masih bisa , minta maaf secara langsung dan bertaubat. Anak dan istri kamu membutuhkan kamu." ucap Arjuna.
"Saya salah." ucapnya.
Farhan mencoba mencari kabel, yang begitu banyak kabel, hingga membuat nya bermandikan keringat.
"Kamu harus putus yang merah." ucap temannya.
"Ini jebakan, ada tiga kabel. Bom biasa kabel berwarna merah, ini ada merah, biru dan kuning. Kalau kita salah memotong, kita bisa mati." ucap Farhan.
"Kita harus lepaskan rompinya, dan melemparkan ke luar." ucap Arjuna.
"Pergilah." ucap pria tersebut.
"Tidak." ucap Arjuna.
Farhan dan Tim nya berusaha menjinakkan Bom, dengan satu guntingan Farhan memotong kabel warna merah. Dan detik waktu pada Bom langsung berhenti, sehingga membuat semuanya lega.
Namun detik waktu tersebut kembali berjalan, bahkan semakin cepat. Semua panik, bahkan pria tersebut lari ke belakang kursi penumpang.
"Pergi...! tinggalkan saya. Tolong tangkap dia, dan selamatkan anak dan istri saya."
Semua diam, namun pria tersebut tetap memaksa untuk Arjuna dan Tim penjinak bom untuk segera keluar dari Bus.
"Tolong pergi, ini tidak akan berhasil." ucap nya.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
susi 2020
😔😔
2023-10-18
0
susi 2020
😋🤭
2023-10-18
0
Yuyun Haryanto
asli jantung saya ikut deg deg deg deg.
2023-05-20
2