Saga Curiga Dengan Ivan

Pembahasan panas di meja makan tadi membuat Saga mengurung diri di kamar. Sejak selesai makan tadi ia belum mau keluar kamar, dan ia juga tidak mau didekati oleh Namira sama sekali.

Akhirnya Namira memutuskan untuk pergi keluar kamar. Dia menyusul ibu mertuanya yang sedang menyiram bunga di taman.

"Saga masih ngambek?" tanya Nyonya Nora pada menantunya. Perempuan itu sekarang duduk di sebuah bangku kecil sambil melihat Nyonya Nora menyiram bunga.

"Tidak tahu, Ma. Mungkin dia cuma sedang lelah saja," ujar Namira.

"Walahh. Itu namanya ngambek."

"Tidak apa, Ma. Nanti juga sembuh sendiri. Mas Saga kalau marah tidak lama, kok."

"Ya begitulah watak mereka kalau sudah kumpul, Namira." Perempuan paruh baya itu menoleh ke belakang.

"Kalau jauh saling kangen, tapi kalau dekat selalu ada saja masalah. Saga terlalu sensitif, dan adiknya tidak pernah berhenti menjailinya. Pas sekali untuk cari musuh."

Mendengar itu Namira pura-pura terkekeh kecil. "Tapi mereka berdua saling menyayangi 'kan, Ma?" tanya Namira iseng-iseng. Padahal hatinya, saat ini sedang tidak baik-baik saja. Namira ingin pulang tetapi Nyonya Nora masih terus menahan.

"Saling menyayangi si, tapi kadang Mama suka dongkol kalau mereka berdua lagi bikin ulah. Eh, ya ampun!Mama lupa buatin teh jahe untuk Papa."

Wajah Nora yang semula santuy berubah panik. "Tolong lanjutin sebentar ya, Mir." Dia menyerahkan selang air itu pada Namira begitu saja.

Namira hanya tersenyum melihat Mama mertuanya berlari tergopoh-gopoh menuju dapur. Dia pun mulai menyiram bunga-bunga yang ada di sana.

Pikiran Namira cukup lega melihat bunga-bunga di taman itu tampak menyegarkan. Kadang ia ingin bernasib seperti bunga itu. Kira-kira kapan pikirannya bisa sesegar bunga yang ada di taman ini, batinnya.

"Ehemmm!"

Suara yang tak ingin Namira dengar berdeham halus di belakangnya. Tapi Namira berusaha diam sambil terus berpura-pura menyelesaikan kegiatan itu.

"Ehemmm!" Ivan berdeham untuk kedua kali. Merasa diabaikan, ia pun maju dua langkah hingga posisinya berubah mensejajari Namira.

"Kau tidak mendengar kalau aku memanggilmu sejak tadi?"

Namira menoleh ketus. "Kau sejak tadi berdeham seperti orang penyakitan. Jadi aku tidak merasa dipanggil sama sekali."

"Ck." Lelaki itu berdecak bersamaan dengan satu alis yang terangkat. "Aku memang sengaja memanggilmu dengan kode. Soalnya kalau aku panggil sayang takut kamu marah. Bukankah begitu, Sayangku?"

Sontak Namira menoleh. Ia tatapan wajah Ivan dengan sorot mata kemarahan. "Sebenarnya apa yang kau mau Ivan? Kenapa kau selalu menggangguku?"

"Aku? Memangggumu? Yang ada aku yang terganggu karenamu," celetuk Ivan tak mau kalah.

Namira makin meradang. Ia takut ibu mertuanya tiba-tiba datang dan memergoki mereka. Namira pun berjalan ke sisi lain sambil membawa keran itu.

Di luar dugaan Ivan juga mengikutinya. Hal itu semakin membuat Namira tidak betah.

"Aku tanya sekali lagi! Sebenarnya maumu apa, Ivan?"

"Aku hanya mau kamu kembali padaku," jawab Ivan dengan entengnya.

Namira membulatkan matanya lebar-lebar. Satu tangannya terangkat hendak menampar Ivan, tapi dia coba untuk tahan-tahan.

"Jujur aku terus kepikiran kejadian saat di hotel itu. Apalagi sejak tahu kau hamil tiga bulan. Aku semakin tidak karuan. Entah kenapa aku yakin sekali itu adalah anakku," terang Ivan. Kali ini ia mengatakan semua dengan jujur apa adanya.

"Jangan sembarangan Ivan! Kita sudah berjanji akan mengubur rahasia ini dalam-dalam. Jadi aku harap ini terakhir kalinya kau membahas hal yang tak bermutu itu! Apalagi itu hanya masa lalu," pungkas Namira.

"Mengubur masa lalu hanya berlaku jika kau tidak hamil, Namira. Tapi sekarang kenyataannya berubah. Jadi perjanjian pun bisa ikut berubah kapan saja," ujar Ivan terlihat masa bodo.

"Kau!"

Namira sudah mengangkat satu tangannya. Tapi Ivan segera menghindar dengan cara melangkah ke arah samping.

"Jangan mencelupkan diri ke lubang yang kau buat sendiri. Ingit ini di mana?" Ivan tersenyum smirk.

Namira pun terpaksa melemas. Ia turunkan tangannya perlahan. Untuk kedua kalinya perempuan itu gagal menampar Ivan.

Perempuan itu beralih menatap Ivan dalam-dalam. Terlihat sekali sorot mata Namira dipenuhi aura kebencian yang tak terhingga. "Harus berapa kali aku bilang padamu kalau anak ini bukan anakmu? Kau terlalu besar kepala, siapa pula yang mau hamil anakmu," ketus Namira.

Ia letakkan kran air yang sudah dimatikan pada tempatnya. Namira gagas pergi dari tempat itu sebelum ada yang melihat.

*

*

*

Sementara itu, di sudut lain tepatnya di area kolam, saga terlihat mengernyit. Kepalanya dipenuhi tanda tanya besar saat tak sengaja melihat Ivan dan Namira ngobrol di area taman tadi.

Kalau dilihat dari cara mereka ngobrol dan saling tatap, rasanya mereka sudah seperti saling mengenal sejak lama. Namun kenyataannya Namira jelas belum mengenal Ivan.

Mereka baru bertemu dua kali, pertama saat Ivan pulang sebelum mereka menikah, kedua saat mereka sudah menikah yaitu sekarang.

"Sebenarnya ada hubungan apa mereka berdua? Apa tidak aneh jika sebelumnya mereka saling mengenal?" gumam Saga.

Pikiran lelaki itu sekarang di penuhi rasa curiga. Emosi Saga semakin tak terkontrol karena rasa penasaran itu sangatlah menyiksa batin dan pikiran. Saga pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

"Tadi kau ngobrol apa dengan Ivan?"

Sekarang mereka berdua sedang ada di mobil dalam perjalanan pulang. Keduanya baru bisa pulang setelah dipaksa makan siang bersama.

"Ngobrol apa maksudnya, Mas?" Namira berusaha menjawab santai walau kakinya di bawah sana mulai gemetar. Ujung jarinya pun mulai berkeringat.

"Tadi aku tidak sengaja melihat kalian berdua mengobrol cukup lama di taman. Kalian sedang membicarakan apa?"

Deg!

Jantung Namira serasa berhenti sejenak. Jadi Mas Saga melihat semua itu, pikirnya.

"Oh, yang tadi? Aku agak lupa kita ngobrol apa. Tapi yang aku ingat Ivan sempat cerita soal kuliahnya di Amerika," kilah Namira.

"Benarkah?" Saga menoleh sejenak lalu fokus lagi ke jalan raya. "Masa iya ngomomgin kuliah sampai selama itu? Kok aku ngerasa kalian seperti sudah kenal lama?" tebak Saga penuh curiga.

Diserang dengan pertanyaan seperti itu membuat Namira makin kalang kabut. Lidahnya kelu sejenak. Namira benar-benar kehabisan kata dan bingung mau jawab apa.

"Mana mungkinlah, Mas." Kemudian, Namira langsung mengalihkan topik pembicaraan. "Sebenarnya tadi juga kita juga bahas masalah sekolah. Dan aku baru tahu kalau dia seangkatan sama aku."

"Oh ya? Ivan memang seumuran denganmu. Apa dulunya kalian pernah bertemu atau saling kenal?" tanya Saga makin jadi.

"Emm. Tentu saja tidak, Mas. Aku hanya belajar di sekolah Negeri. Sedangkan Ivan sekolah di sekolah internasional."

"Kok kamu bisa tahu?"

Kontan Namira membeliak. Dia benar-benar lupa soal itu. Buru-buru Namira menjawab sekenanya supaya Saga tidak curiga.

"Tentu saja tahu. Kan tadi Ivan sempat cerita Mas."

Beruntung Namira segera mendapatkan jawaban yang pas. Tapi rasanya Saga tidak bisa percaya pada Namira begitu saja. Entah kenapa instingnya sangat kuat, Saga menebak kalau Ivan dan Namira pasti pernah bertemu sebelumnya.

Kok Aneh, aku merasa jawaban Namira hanya asal-asalan, batin Ivan.

Setelah jawaban itu keduanya memilih saling diam. Saga lebih fokus menyetir dan pada jalan raya. Sementara Namira membuang mukanya ke samping. Dia juga pura-pura terpejam supaya Saga tidak banyak bertanya.

Sepertinya aku tidak ada waktu lagi memikirkan soal bekal. Ivan semakin berani. Aku harus segera kabur sebelum semuanya terlambat, batin Namira.

Tekat Namira mulai bulat. Dia mulai memikirkan kemana akan pergi. Dan sepertinya desa kecil di ujung pulau menjadi tempat yang tepat untuk pelariannya.

Di sana Namira bisa menjalani kehidupan baru. Dan bila perlu ia membuat identitas baru.

Terpopuler

Comments

Fenty Dhani

Fenty Dhani

andai saja kamu mau jujur Namira...mungkin hidupmu takkan sekacau ini😔

2023-05-30

0

Benazier Jasmine

Benazier Jasmine

ya sdh namira mending u pergi drpd jd bulan2an saga & ivan

2023-05-27

0

Muh. Yahya Adiputra

Muh. Yahya Adiputra

aku sih setuju saja kalau kamu pergi menjauh sampai kamu melahirkan namira. supaya kamu tdk direcokin teruss oleh ivan.

2023-05-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!