Sulit bagi Saga untuk berpura-pura menjadi suami baik selama mereka berada di rumah sakit. Lelaki itu hampir tak dibolehkan pulang oleh Mama Nora.
Rasanya waktu tiga hari bagaikan tiga tahun karena harus satu ruangan dengan Namira terus-menerus. Itu seperti penyiksaan tiada akhir.
Hanya satu hal yang ditakutkan Saga ketika dalam posisi seperti ini. Saga takut pertahanannya runtuh dan berakhir memaafkan kesalahan Namira sebelum tujuannya tercapai.
"Aku harap setelah kita pulang nanti kau bisa menjaga kandunganmu dengan baik. Jangan menyiksa dirimu dengan cara tidak makan seharian," sungut Saga.
"Kalau aku punya uang juga aku sudah beli makanan, Mas. Memangnya kau lupa kalau selama kita kau tidak pernah memberiku uang? Semua makanan yang aku siapkan, yang pernah kuantarkan ke kantormu, itu adalah uang sisa tabunganku. Sekarang aku tidak punya tabungan lagi."
Saga tertegun. Dia benar-benar lupa soal nafkah lahir yang belum pernah dia penuhi sampai detik ini. Lelaki itu kemudian menarik dua buah kartu dari dompetnya. Satu kartu debit untuk mengambil uang cash, dan satu lagi kartu kredit tanpa batas limit.
"Gunakan dua kartu itu untuk kebutuhan rumah dan kebutuhanmu. Meskipun aku tidak menganggapmu istri, tapi aku masih berbelas kasih untuk tidak membiarkanmu kelaparan.
"Terima kasih, Mas." Namira terpaksa menerima itu dengan hati berat. Di saat yang bersamaan sang Mama masuk bersama suami dan Ayah mertuanya.
"Namira bagaimana keadaanmu, apa sudah lebih baik?" Ayah Namira mendekat. Rasanya Namira ingin menangis di pelukan sang ayah saat ini juga.
Ia ingin bercerita banyak hal seperti saat masih kecil. Tapi sayang, keadaannya yang sudah menikah membuat dia harus membungkam rapat-rapat mulut bergetar itu. Dia tidak bisa menceritakan pada sang Ayah meski permasalahan rumah tangganya cukup serius.
Tidak hanya serius, mungkin juga rumah tangga itu sudah diambang kehancuran. Semua hanya tinggal menunggu waktu maka bom itu akan meledak dengan sendirinya.
"Aku baik-baik saja Ayah. Selama ini Mas Saga selalu menjagaku, Ayah tidak perlu khawatir." Namira tersenyum. Hal itu membuat Saga melirik sedikit sambil mendengkus dalam diam.
Tidak perlu memujiku dengan kebohongan. Kau pikir semua itu akan membuat hatiku luluh apa, batin Saga kesal.
"Saga, semoga ini terakhir kalinya Namira masuk ke rumah sakit. Kedepannya kau harus lebih bisa menjaga istrimu. Terutama pola makan. Meskipun Namira sedang tidak naffsu makan usahakan kau bisa membujuknya sampai mau."
"Baiklah." Saga mengangguk.
Akhirnya hari penuh kepura-puraan itu berakhir. Mereka kembali ke rumah setelah dokter memberi izin pulang.
*
*
*
Hari-hari berlalu. Berkat kartu debit dan kredit yang diberikan Saga Namira tidak lagi kekurangan makanan. Semua kebutuhan rumahnya selalu terpenuhi dengan biak. Hanya saja sekarang Saga sering pulang dalam keadaan mabuk.
Tentunya semua janji yang Saga ucapkan di depan mertua dan orang tuanya hanya bohong. Sampai detik ini Saga masih tidak sudi mengurus Namira apalagi mengantarnya periksa kandungan. Namira selalu melakukan semua itu sendiri tanpa bantuan siapa pun.
Dog … Dog … Dog!
Suara ketukan pintu membuyarkan Namira dari tidurnya. Dia melihat jam di dinding, ternyata baru pukul sepuluh malam. Namira buru-buru bangun dan membukakan pintu.
"Mabuk lagi?" Satu alis Namira mengernyit. Pemandangan begini sudah tidak asing bagi dirinya.
Tanpa menjawab Saga langsung masuk ke kamar. Terdengar bunyi mobil pergi dari halaman, mungkin itu Damar yang entah sejak kapan mulai merangkap jadi supir pribadi.
Namira bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman hangat. Mau diminum atau tidak Namira selalu rutin membuatkannya.
"Auwkk!" Perempuan itu memekik saat hendak menuang air panas ke dalam gelas. Tangan Namira terkena air dan rasanya cukup perih.
"Beginilah kalau kerja sambil melamun," kesal Namira. Dia meletakkan jarinya pada bawah kucuran air. Hal itu sedikit mengobati rasa panas walau panas di dalam hati masih terus bersarang.
"Mau sampai kapan aku menjalani rumah tangga model begini," gumam Namira. Pikirannya mulai melanglang buana entah kenapa.
"Aku tidak bisa begini. Aku harus memikirkan cara untuk lepas dari Mas Saga. Mau cepat atau lambat rumah tangga ini pasti akan berakhir. Jadi aku harus segera bergerak cepat. Tapi bagaimana caranya?"
Perempuan itu memutar bola matanya ke atas. Tampak dua cicak sedang kejar-kejaran di langit-langit ruangan. Tiba-tiba sebuah ide berlian muncul di kepala.
"Apa aku kabur saja?"
Namira mematung sejenak. Hanya ada bunyi kucuran air yang semakin menenggelamkan Namira ke dalam lamunannya.
"Sepertinya kabur ide yang bagus jika Mas Saga belum mau menceraikan aku juga. Toh mau ditunggu sampai kapan pun hubungan ini tidak akan bertahan. Lebih baik aku segera pergi sebelum kehidupan Mas Saga makin kacau."
Perempuan itu mulai memantapkan hati. Mula-mula dia harus mencari tempat tinggal dan dana cash untuk bekal hidup sementara waktu. Setelah semua itu siap, dia baru bisa kabur dengan sedikit ketenangan.
"Mulai saat ini aku harus menarik uang cash setiap hari." Namira menarik napas panjang sambil menatapi secangkir minuman hangat di tangan. Beruntungnya Saga bukan tipe pria yang peduli dengan pengeluaran. Jadi Namira bisa mengambil uang di ATM berapapun tanpa harus diintrogasi.
***
Namira masuk ke kamar Saga dengan secangkir minuman hangat di tangan. Dia menaruh minuman itu ke atas nakas lalu membangunkan Saga dengan gerakan pelan.
"Bangun, Mas. Kau harus minum ini dulu supaya mabuknya reda," ucap Namira.
Tak ada jawaban dari Saga. Lelaki itu hanya mendengkur halus sambil sesekali menarik dasinya supa lepas. Namira kemudian menepuk pelan pipi Saga, sampai perlahan lelaki itu membuka mata, tapi pancaran wajahnya malam ini sangat berbeda.
"Kenapa, Mas?" Dia sampai mengerjap beberapa kali. Saga sedang menatapnya dengan wajah sayu dan terlihat penuh cinta. Benarkah ini cinta?
Belum hilang keterkejutan Namira. Tiba-tiba lelaki itu mendekatkan wajahnya. Dia mengecup bibir Namira lalu menyesapnya secara perlahan.
Apalagi ini?
Namira sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Terlebih saat Saga menggulingkan tubuhnya ke samping. Dia seperti bukan Saga gila yang selama ini bersikap dingin. Lelaki itu kembali menjadi Saga yang lembut, yang dulu sangat mencintai Namira sepenuh hati.
Maka sesuatu yang seharusnya tidak terjadi mulai terjadi. Namira membiarkan Saga menjarah tubuhnya begitu saja. Dia sendiri pun ikut hanyut ke dalam dosa yang tidak seharusnya mereka lakukan lagi.
Entah ini karena efek alkohol, atau ini karena Saga yang sudah sangat penasaran sekali bagaimana rasanya mencicipi tubuh seorang wanita.
Malam pertama yang terjadi beberapa waktu lalu belum membuat Saga sampai merasakannya. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk Saga mengganti malam pertama yang terlewati itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Halimah
apa jgn" yg menghamili Namira itu orang terdekat Saga ya🤔🤔 makanya Namira memilih diam biar ga ada perselisihan
2023-08-16
0
Fenty Dhani
pergilah sejauh mungkin Namira...supaya kalian sama² tak terbebani lagi dn bisa hidup bahagia😔
2023-05-30
0
◡̈⃝︎➤N୧⃝🆖LU⃝SI✰◡̈⃝︎👾
ih saga 🙄
2023-05-09
0