Saga Mabuk

Namira terlalu besar kepala. Dia pikir Saga bisa luluh hanya dengan sebuah makanan. Nyatanya apa yang Namira rencanakan gagal total. Tak dipungkiri Saga memang sangat menggemari masakan Namira, tapi rasa egois dan benci yang dimiliki pria itu teramat besar dibandingkan masakan Namira

Pada kenyataannya perempuan itu harus dibuat kecewa oleh ekspektasi yang terlalu tinggi.

Dia sudah memasak menu makanan banyak sekali, tapi Saga malah pulang menjelang pagi dalam keadaan mabuk. Namira sangat terkejut saat melihat Saga menjatuhkan tubuhnya di sofa. Bau alkohol menguar pekat dari tubuh lelaki itu.

"Apa yang terjadi, Mas? Bukannya kamu tidak bisa meminum alkohol?" Namira datang menghampiri, tapi secepat kilat tangan Saga berhasil menepis kedatangan perempuan itu.

"Jangan mendekat! Dasar wanita tidak tahu malu. Seujung kuku pun aku tidak ingin disentuh olehmu!" Saga bergumam lirih. 

"Huek … Huek … Huekk!" Saga berguling ke lantai sambil berusaha memuntahkan isi perutnya. Keadaan pria itu sangat kacau. Saga terlihat sekarat karena pengaruh alkohol yang sangat menyiksa.

"Mas, izinkan aku membantumu kali ini saja," pinta Namira setengah memaksa. Namun lagi-lagi tangan kekar Saga menghempas kasar jemari Namira yang melekat pada lengannya. Dia bergeser. Mengisyaratkan sebuah gerakan jijik karena disentuh oleh wanita itu.

"Jangan mendekat! Lebih baik aku mati daripada harus disentuh oleh perempuan licik sepertimu!"

Suara dingin itu kembali menusuk hati Namira. Dia tak kuat melihat keadaan Saga. Akan tetapi,  Saga masih kekeh tak mau disentuh sama sekali. Pagi itu Namira hanya mampu menangis di pojok tembok sambil memandangi Saga yang terlihat seperti seorang sekarat.

Bulan berganti matahari, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Namira agak terperanjat saat mengetahui dirinya tidur di lantai dalam keadaan duduk.

"Apa yang terjadi?"

Perempuan itu berusaha mengingat kejadian semalam.

"Astaga! Mas Saga?" Dia langsung mengedarkan pandangannya ke segala penjuru begitu mengingat Saga tak ada di tempat. 

Semalam Namira terus menemani Saga dari kejauhan, dan saat ia bangun, lelaki itu sudah tidak ada di tempatnya.

"Mas ..."

"Masa Saga …"

Namira berusaha memanggil lelaki itu sambil memeriksa ruangan satu persatu. Tak lama kemudian pintu kamar dibuka. Tampak Saga sudah rapi dengan dengan kemeja dan dasi yang melekat di lehernya.

"Berisik sekali kau!" kesal Saga.

"Maaf Mas. Aku sangat panik saat melihat kau tidak ada. Aku pikir terjadi sesuatu yang buruk padamu."

"Bukankah kalau aku kenapa-napa itu bagus untukmu? Kau bisa kembali dengan pria sialan itu tanpa harus merasa bersalah. Benar bukan?"

"Mas …." Namira hanya mampu melirih dengan suara tertahan.

"Tidak usah memasang wajah polos. Makin ke sini sepertinya aku makin tahu apa alasanmu menyembunyikan lelaki itu. Kau pasti sengaja ingin melindungi manusia sialan itu, 'kan? Dasar biadab. Kamu dan laki-laki itu sama-sama sialan," maki Saga.

Namira hanya diam tanpa menjawab. Ia berusaha menikmati setiap kalimat yang lontarkan Saga dengan begitu hikmat.

Lakukan terus, Mas! Jika menyakitiku setiap hari bisa membalas kesalahan besar ini aku rela mendapatkannya setiap hari, batin Namira.

"Kenapa diam? Apa kau tidak mau menyangkal semua dugaanku?Ck, sialan," decak Saga.

"Makilah aku sepuasmu jika itu mampu membuatmu lega, Mas. Kau boleh melakukan itu sampai kau lelah dan akhirnya menceraikanku."

"Cih! Lagi-lagi kata itu yang terucap dari bibirmu. Apa kau sudah kebelet sekali ingin kumpul kebo dengan mantanmu itu? Makanya, mengakulah Namira … pasti kau akan mendapatkan apa yang kau mau."

Setelah mengatakan itu Saga berjalan ke luar. Dia membanting pintu, dan tak lama kemudian terdengar suara mobil Saga mulai meninggalkan parkiran.

***

Di kantor, Saga makin tidak konsentrasi bekerja. Pikirannya terus tertuju pada penghianatan Namira dan  lelaki misterius itu.

"Siapa sebenarnya laki-laki itu?Apa iya aku harus turun tangan untuk mencari tahu?" 

Rasanya itu tidak mungkin. Saga tidak mau menyia-nyiakan harga dirinya hanya demi lelaki tidak baik seperti dia. Tapi menunggu Namira membuka mulut sangat lama. Rasanya seluruh tenaga Saga selalu terkuras habis hanya karena rasa penasarannya.

Ting! 

Tiba-tiba sebuah ide brilian muncul di kepala. Dia mengambil gagang telepon dan segera memanggil sekretarisnya yang bernama Damar.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Hanya dalam hitungan detik Damar muncul dari balik pintu.

"Tolong sewakan aku apartemen. Yang tidak terlalu besar, tapi tidak terlalu kecil untuk aku tinggali," ucap Saga.

Mendengar itu Damar mengernyit. "Apa saya tidak salah dengar, Tuan? Bukankah Anda memiliki banyak apartemen dan rumah mewah?"

"Bodoh!" Saga bergumam lirih. Tapi umpatan itu bisa didengar jelas oleh Damar. Lelaki itu menunduk dan berusaha menarik bibirnya rapat-rapat. Damar sadar kalau dia sudah salah bicara.

"Kalau aku menyuruh kau mencari apartemen lain artinya aku tidak ingin ada orang lain tahu keberadaanku, Damar. Baik Namira dan keluargaku sudah tahu di mana rumah dan apartemenku. Aku ingin kau mencari lokasi yang mereka tidak tahu. Jika kau masih berani basa-basi menanyakan apa alasannya, kupastikan monitor ini melayang ke wajahmu."

"Maaf, Tuan. Saya akan segera carikan."

"Bagus kalau kau mengerti. Oh ya …." Saga mengambil segelas air putih. Lalu menaruhnya pada tempat semula setelah menghabiskan setengahnya.

"Sekalian carikan aku perempuan."

"Maksudnya pembantu, Tuan?"

"Bodoh!" Sebuah map melayang ke wajah Damar. Sekretarisnya yang polos itu hanya bisa menunduk takut-takut tanpa tahu salahnya di mana.

Apes sekali aku. Memangnya aku salah apa, batin Damar.

"Carikan aku dua perempuan cantik yang bisa menemaniku selama aku ada di apartemen itu," kata Saga dingin.

Damar sangat terkejut mendengar itu. 

"Tidak usah kaget. Aku melakukan ini untuk membalas pengkhianatan Namira. Ternyata dia sudah hamil dengan pria lain sebelum kita menikah."

"A  … apa?" Damar tak bisa menahan keterkejutannya. Dia tidak menyangka wanita yang selama ini dia kenal baik bisa melakukan perbuatan menjijikan seperti itu.

"Tolong rahasiakan semua ini dari siapa pun, Dam. Terutama kedua orang tuaku dan adikku. Aku tidak ingin mereka tahu sebelum aku berhasil mengungkapkan siapa pria yang menghamili Namira."

"Apa Anda butuh bantuanku soal itu, Tuan?"

"Tidak perlu. Untuk masalah ini aku masih ingin memberi kesempatan pada Namira. Kita lihat sampai sejauh mana dia bertahan," ucap Saga. Pancaran kemarahan terlihat sekali menghiasi rahang tegasnya. Damar sampai dibuat merinding saat melihat raut wajah Saga seakan ingin memakan orang hidup-hidup.

"Oh ya, mungkin satu Minggu ini aku akan bekerja dari apartemen itu, jadi aku akan sedikit merepotkanmu."

"Baik Tuan. Satu apartemen tidak terlalu besar dan kecil,  dua wanita cantik, malam ini juga saya akan siapkan untuk Anda. Apa ada lagi, Tuan?"

"Tidak ada! Kau boleh pergi dan siapkan dari sekarang. Mulai malam ini aku tidak akan pulang ke rumah." 

"Baik, Tuan!"

Damar segera mengundurkan diri untuk melaksanakan tugas Saga. 

Terpopuler

Comments

Fenty Dhani

Fenty Dhani

ada apa dengan Namira?? kenapa dia kekeh menyembunyikan identitas mantan pacarnya😔
cobalah selidiki sendiri saga...menunggu Namira jujur...terlalu lama...biar urusannya cepat kelar

2023-05-29

0

💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖👥

💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖👥

duuhh.. aq juga penasaran, siapa sich yg ngehamilin Namira...
koq dia gak berani jujur, kenapa

2023-05-11

0

makkk kecehhh

makkk kecehhh

gw sukacara lu bbng saga balas dngan sangat2 kejam biar nyaho lu jalang, jngan perna memberi ampun sm penghianat nunggu karma kelamaaan 😁

2023-05-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!