Masuk Rumah Sakit Lagi

"Sepertinya kau bahagia sekali melihat aku dimarahi orang tuaku?" Saga mendengkus kesal. Dia langsung menyemprot Namira dengan kemarahan setelah memastikan Mamanya keluar dari ruang itu.

"Terserah kau mau bilang apa, Mas!" Namira memilih buang muka. "Jika ponselmu bisa dihubungi dengan baik aku juga tidak mungkin menghubungi Mama," lanjutnya kemudian.

Namira melirik ke arah Saga. Dia agak kaget saat melihat lelaki itu tampak lebih kurus dari satu Minggu yang lalu. 

Apa para wanita itu tidak memberimu makan dengan baik, batin Namira. Pikiran perempuan itu saling bertabrakan. Antara menebak Saga kurang makan, atau terlalu banyak bersenang-senang hingga melupakan soal makanan.

"Kamu itu benar-benar wanita tidak tahu diri Namira. Bayi yang ada di perutmu itu bukan tanggung jawabku, jadi usahakan kau rawat bayi itu dengan baik. Jangan apa-apa selalu dikaitkan dengan aku," maki Saga.

Nama tak bisa berkata-kata mendengar itu. Bayi di perutnya memang bukan tanggung jawab Saga, tapi Namira adalah istri yang menjadi tanggung jawab Saga.

"Yang tidak tahu diri itu kamu, Mas! Kalau tidak mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku ya ceraikan aku saja! Dasar bodoh!" Namira membalas dengan kalimat yang lebih telak.

Sekarang Saga benar-benar 

"Kau memang masih tanggung jawabku, tapi kalau ada apa-apa dengan bayi itu kau harusnya hubungi mantanmu itu! Masa mau enak tidak mau anak," balas Saga tak mau kalah.

Namira memilih diam. Ia tahu perdebatan ini tidak akan ada ujungnya jika terus-menerus dilanjutkan.

Mata perempuan itu terpejam. Tak terasa hari sudah menjelang pagi. Dia cukup terkejut saat melihat Saga tidur di sampingnya dalam keadaan duduk. Perlahan senyumnya pun terukir melihat itu. 

"Kalau dalam keadaan seperti ini kau terlihat seperti Sagaku, Mas. Tapi kalau sudah bangun aku tidak mengenali siapa kamu," gumam Namira. Dia mengelus lembut rambut kepala Saga. Namun, tiba-tiba bayangan foto Saga dengan wanita melintas di pikirannya. Namira segera menarik tangannya. Tangis gadis itu pecah begitu teringat Saga tak pulang karena wanita-wanita itu.

"Hoam …." Tiba-tiba Saga bangun.

"Wah … wah … wah! Drama apa lagi yang kau mainkan sekarang?" Dia memandang dengan tatapan jijik saat Namira sedang menangis sesenggukan. 

"Kau jahat, Mas. Apa maksudmu mengirim foto-foto itu padaku. Apa kamu sengaja ingin membalas perbuatanku? Kamu merasa puas dengan semua itu?"

Mendengar itu tatapan Saga berubah tajam. "Sudah kubilang tidak perlu melakukan playing victim. Apa yang aku lakukan masih tidak sebanding dengan apa yang kau berikan padaku, sialan. Dengan kau melakukan protes, artinya kau benar-benar menunjukkan watak aslimu yang tersembunyi di balik wajah lugu. Kau wanita tidak tahu diri."

"Heuh. Kalau begitu kenapa masih belum mau ceraikan aku? Dengan begitu kau bisa lebih bebas bersenang tanpa gangguan dari siapa pun," tantang Namira.

"Ya, aku memang ingin bersenang-senang dengan wanita lain. Tapi aku juga tidak berniat menceraikanmu. Apa ada masalah?" Saga tersenyum Smirk.

"Tega kamu, Mas! Tega! Kenapa sekarang kau jadi seperti iblis begini? Mana Mas Saga penyayang dan baik baik yang selama ini aku kenal? Sekarang aku sungguh tidak mengenal siapa kau!"

"Cih! Aku begini juga karenamu Perempuan Kotor! Jadi anggap saja Mas Sagamu yang dulu sudah mati bersamaan dengan penghianatanmu," ucap Saga dingin. Setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan Namira.

***

Mama Nora yang sempat pulang untuk mengecek keadaan rumah kembali lagi di jam makan siang. Dia menenteng bekal makan siang untuk Saga dan sedikit buah-buahan segar untuk Namira.

"Hai? Apa Mama terlambat?" Perempuan itu menyapa dengan senyuman. Dia langsung mendapat tatapan sebal dari sang putra.

"Kenapa Mama datang siang sekali? Aku 'kan jadi telat berangkat kerja!" kesal Saga.

Mama Nora melotot. "Memangnya siapa yang mengizinkanmu untuk kerja? Pokoknya selama Namira di rumah sakit, kau harus menjaganya."

"Ya ampun, Ma! Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?"

"Mama sudah bilang pada Damar. Dia bilang tidak masalah." Perempuan itu mengedikkan bahunya enteng. "Ayolah … Saga. Namira di rumah sakit tidak lama. Paling cuma tiga hari."

"Tiga hari?" Dua bola mata Saga membulat sempurna. Tiga hari bersama Namira. Itu artinya dia harus melalui masa-masa yang sulit dan menyiksa batin.

"Kenapa? Tiga hari itu bukan waktu yang lama dibandingkan perjuangan Namira melahirkan anakmu ya, Saga. Lihat sudah berapa kali dia jatuh bangun untuk mempertahankan anakmu!" kesal Mama Nora.

Aura hitam seolah mengelilingi tubuh Saga saat ini. Rasanya sangat sulit harus mempertanggung jawabkan apa yang tidak dia lakukan selama ini. Dia bawah Sana tangan Saga sudah mengepal kuat. Namira bisa melihat betapa emosinya Saga mendengar perkataan mama.

Maafkan aku, Mas! Andai tahu seperti ini akhirnya mungkin aku tidak akan berpikir buntu seperti itu, batinnya dalam posisi kepala menunduk.

Penyiksaan berikutnya kembali terjadi saat Mama menyodorkan sekotak buah yang sudah di potong ke arah Saga. Dengan bodohnya dia memakan potongan buah itu.

"Siapa yang nyuruh kamu makan. Mama itu nyuruh kau suapi Namira."

"Menyuapi?" 

"Iya, ada masalah?"

Namira tiba-tiba terkekeh. Ibu dan anak ini kalau berdebat gaya bicaranya nyaris sama.

Saga terpaksa duduk di pinggiran ranjang karena satu kursi di dekat Namira dipakai oleh ibunya. Dia mulai menyuapi Namira. 

Pandangan mereka saling bertemu, dan itu sangat menyakitkan karena Saga terpaksa harus memasang wajah santai dalam posisi seperti ini. Ada mama yang terus memperhatikannya. Saga tidak mungkin memasang wajah penuh kebencian terhadap Namira.

"Buahnya enak." Namira tersenyum. "Mungkin karena Mas Saga yang menyuapi," ujarnya masih dengan senyuman.

Emosi Saga menyulut. Ingin rasanya ia lempar kotak buah itu ke tembok. 

"Aduh, Mama mau ke toilet sebentar ya?" Mama Nora segera keluar dari ruangan itu. Kesempatan ini dipakai Saga untuk meletakkan buah di tangannya ke atas nakas. Dia juga berpindah ke tempat duduk. Bukan lagi duduk di tepi ranjang yang terlalu berdekatan dengan Namira.

"Seneng kau lihat aku tersiksa seperti ini?" Alis Saga meninggi satu. Namira hanya diam sambil melipat bibir. Ia coba sembunyikan senyum itu dengan cara menundukkan kepala.

"Anda saja kau tidak keras kepala dan mau mengaku siapa ayah dari bayi itu pasti tidak akan begini jadinya, Namira. Kau juga bisa hidup bersama pria itu, bukan? Memangnya sesulit apa mengaku?" sungut Saga.

"Aku tidak mau kembali dengannya. Pilihanmu cuma ada dua. Ceraikan aku, atau terima aku dan bayi ini apa adanya," ujar Saga.

"Tapi ini tidak adil untukku."

Namira langsung mengatupkan bibirnya. Dia tidak menentang karena paham apa yang dirasakan Saga saat ini. "Maaf Mas …tapi aku benar-benar tidak bisa memberitahu siapa ayah dari bayi ini."

"Baiklah. Jika kau masih keras kepala juga. Apakah kau pernah berpikir kalau itu juga tidak adil untuk bayimu? Melihat kau berani menanggalkan kesucianmu untuk laki-laki itu pasti dia pria yang sangat berharga untukmu! Apalagi dia mantan. Pasti tidak sulit untuk kalian kembali bersama."

Tiba-tiba Saga kesal sendiri dengan omongannya. Dia teringat kalau Namira pernah mengatakan bahwa dirinya masih perawan. Jadi Saga berpikir pria itu pasti adalah pria pertama untuk Namira.

"Ah, sudahlah! Capek aku bicara denganmu!" Saga kembali memasang wajah dingin.

Terpopuler

Comments

Suharnik 01

Suharnik 01

saga goblok

2023-11-11

0

Wiek Soen

Wiek Soen

ternyata Namira ular

2023-10-22

0

Handayani Tety

Handayani Tety

sampai disini aku belum bisa menebak alurnya...bahkan membayangkan mereka akhirnya bersatu kok gak ikhlas ya...terus kalau gak bersatu ini cerita mau dibawa kemana ...secara mereka tokoh utamanya

2023-07-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!