Pagi-pagi sekali Namira bangun dengan kondisi yang sulit didefinisikan. Perasaan dan harapan yang tadinya sempat mati perlahan tumbuh dan datang kembali karena perlakuan Saga tadi malam.
Kenapa di saat dia ingin kabur Mas Saga malah mendadak seperti ini?
Rasanya Namira ingin menjerit. Ia teringat bagaimana tadi malam mereka sama-sama menikmati pergulatan penuh dosa itu.
Tak selang beberapa lama Saga bangun. Kala itu Namira sedang tidur miring sambil menatap wajah damai Saga yang tidur sambil memeluknya. Suasana berubah menjadi sangat canggung karena keduanya sama-sama dalam keadaan polos.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" Akhirnya kalimat tidak tahu diri itu keluar setelah Saga menyadari kehadiran Namira di hadapan Saga. Pria itu segera membalikkan badan. Dia berusaha mengingat semua hal yang terjadi tadi malam, tapi semua itu semakin membuat dirinya tenggelam dalam rasa malu kala menyadari dialah yang membuat Namira berada di ranjangnya.
"Ehemm!" Saga berdeham setelah beberapa lama saling diam.
"Maaf untuk yang semalam. Aku mabuk dan tidak sadarkan diri," ujar Saga kikuk. Dia bicara masih dengan posisi memunggungi Namira. Lantas beberapa saat kemudian Saga berbalik. Tampak Namira sedang membenarkan selimut untuk menutupi belahan dada yang terbuka.
"Kenapa semalam kau tidak mencegah dan mengingatkanku? Atau paling tidak kau bisa kabur. Kenapa kau tidak melakukan itu," ucap Saga lagi.
"Aku?" Perempuan itu termenung. Kini giliran Namira yang dirundung perasaan kikuk. Karena sejujurnya Namira juga memiliki perasaan yang sama. Dia sangat merindukan dan menginginkan setiap sentuhan Saga.
"Semua itu terjadi begitu cepat. Aku tidak mencegah apalagi kabur," kilah Namira.
Wajah mereka saat ini sama-sama merona.
"Lain kali jangan dekati aku dalam keadaan mabuk. Itu sangat berbahaya untukmu."
"Iya." Namira menurunkan pandangannya. Dia memejamkan mata saat Saga turun dan memunguti satu persatu bajunya yang ada di lantai.
"Maafkan aku, Mas,"lirih Namira merasa bersalah. Dia sadar kalau dirinya dan Saga baru saja melakukan kesalahan besar. Tak seharusnya Saga menyirami ladang yang sudah ditanami. Itu jelas perbuatan dosa yang melenceng dari syariat agama. Tapi Namira malah mendatangi Saga di saat dia mabuk. Dia bertindak seperti ikan yang melompat ke dalam perahu.
"Pakai bajumu."
"Terima kasih, Mas."
"Hmm. Jangan lupa bersihkan dirimu. Aku tidak mau ada benihku yang menempel di sana," perintah Saga. Entah kenapa perkataan itu seperti perhatian yang membuat hati Namira menghangat seketika.
Meskipun tak ada perhatian khusus. Saga yang pagi ini agak banyak bicara membuat Namira luluh.
Saga kemudian berlalu ke kamar mandi. Namira juga melakukan hal yang sama. Dia mandi di kamar mandi yang ada di luar kamar.
Setelah itu Namira membuat sandwich sederhana untuk dirinya makan. Baru saja Namira hendak menyentuh sandwich di atas meja, tiba-tiba Saga datang menarik kursi.
"Ini milikku bukan?"
Namira kontan terbengong. Angin apa yang membuat Saga mau duduk di meja makan dan mengambil sandwich miliknya.
"I … iya," jawab Namira.
"Punyamu mana?" Saga menatap wajah bingung Namira dengan tidak tahu dirinya.
"A … aku sudah makan Mas."
"Oh!" Saga kemudian memakan sandwich di tangannya. Namira sedikit melipat bibirnya. Dia tersenyum karena ini pertama kalinya Saga mau makan makanannya tanpa paksaan.
"Terima kasih makanannya. Aku berangkat." Saga menarik tas kerja di sampingnya. Dia terus melangkah, tapi saat hendak mencapai ambang pintu kepalanya menoleh ke belakang.
"Kau sudah periksakan bayi itu?" Mata Saga tertuju pada perut Namira.
"Su … sudah, Mas."
"Bagaimana keadaannya?"
"Ba … baik." Namira tersenyum. "Dokter bilang kandungannya sudah lebih kuat. Mungkin nanti di trimester kedua aku bisa lebih sehat lagi dari sekarang," lanjut perempun itu.
"Oh." Saga lalu pergi setelah selesai dengan pertanyaannya.
Pintu tertutup. Dua tangan Namira langsung memegangi jantungnya yang mendadak berdetak secara tidak wajar. Dia begitu bahagia mendapat perhatian dari Saga.
Apakah ini artinya Saga mulai luluh dan mau menerimanya?
Khayalan tingkat tinggi itu bagaikan kupu-kupu yang menghiasi hidup Namira. Namun, sebuah lubang hitam kembali menghadang. Namira tersadar dari harapan gila yang tidak mungkin akan terjadi.
"Tidak! Apa pun yang terjadi aku harus tetap berdiri pada pendirianku. Demi masa depan yang baik untuk Mas Saga aku harus segera pergi."
Bahagia berganti luka. Entah sampai kapan Namira harus meneteskan darah hangat dari pelupuk matanya.
"Andai waktu itu aku tidak melakukan itu pasti sekarang kita bisa bahagia dengan pernikahan kita, Mas. Sayangnya aku bodoh … aku bodoh karena mau-maunya diperdaya oleh pria itu," lirih Namira yang sedang merutuki kebodohannya. Sekujur tubuhnya melemas. Namira terpuruk di lantai sambil mendengarkan suara mobil Saga yang perlahan menjauh.
*
*
*
Malam harinya. Saga pulang pukul sembilan. Hari ini dia tidak mabuk seperti biasa. Hanya saja tingkahnya agak aneh. Dia langsung masuk ke kamar dan mengunci diri tanpa bicara apalagi menyapa.
Namira yang sudah sejak pagi menunggu kepulangan Saga tentunya sangat kesal. Ada hal yang mau dia bicarakan dan itu sangat mengganggu jika tidak dikatakan saat ini juga.
"Mas, buka pintunya aku mau bicara sebentar."
"Aku lelah." Saga menyahut dari dalam.
"Sebentar saja, Mas, aku hanya ingin memastikan sesuatu." Namira mendekatkan telinganya ke daun pintu.
"Mau bicara apa? Jika itu tentang siapa ayah dari bayi yang ada di perutmu akan kubukakan pintunya. Tapi kalau bukan aku mau tidur," sahut Saga lagi.
"Bukan Mas, tapi ini tidak kalah penting dari itu."
"Bagiku tidak ada yang lebih penting dari itu!"
Terdengar Saga membanting tubuhnya ke ranjang.
"Mas …." Namira berseru kesal.
"Kalau kau tidak mau keluar aku akan berdiri terus di depan pintu sampai kau mau membukanya," ancam Namira dengan teriakan.
Saga yang sudah menarik selimut lantas menoleh. "'Silakan saja kalau kau mau membuang waktumu." Lelaki itu kemudian menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Saga berusaha untuk tidak peduli.
Tak terasa malam itu dia tidur sangat pulas. Dia baru terbangun saat mendengar jam alarmnya berbunyi pukul lima pagi. Saga duduk dan meregangkan tangannya ke atas.
Dia menoleh ke arah pintu. Sepertinya tak ada pergerakan atau tanda-tanda keberadaan Namira di luar kamarnya. Mengetahui hal itu Saga pun tersenyum miring.
"Cih, wanita memang selalu banyak omong. Mana yang katanya mau menungguku sampai pagi," sungut Saga dalam gumaman.
Setelah menggelengkan kepala Saga turun dari ranjang. Alih-alih mencari tahu soal Namira, ia lebih memilih pergi ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya.
Sebenarnya Saga sendiri cukup penasaran kenapa Namira tiba-tiba ingin membicarakan hal penting. Tapi setelah apa yang terjadi pada mereka semalam membuat Saga sadar, bahwa ia harus lebih menjaga jarak dengan Namira. Lelaki itu tidak mau hatinya luluh sebelum mencapai tujuannya.
Saga sadar bahwa dirinya adalah lelaki yang dipenuhi hasrat. Sekuat apa pun dia berusaha tidak tergoda, nyatanya tetap ada waktu di mana ia terjerumus oleh pesona Namira.
Sekitar setengah jam Saga mandi. Dia juga melakukan beberapa aktivitas lain seperti olahraga ringan. Baru setelah itu Saga keluar kamar untuk mengobati rasa penasarannya.
"Ya, Tuhan Namira?"
Saga membulatkan matanya lebar-lebar saat tubuh Namira jatuh tepat di depan kakinya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Fenty Dhani
klu gini terus gmna mau selesai masalahnya😔
2023-05-30
1
◡̈⃝︎➤N୧⃝🆖LU⃝SI✰◡̈⃝︎👾
penasaran dengan pria yang menghamili Namira
2023-05-09
0
Nunuk Bunda Elma
Namira sepertinya gadis baik hanya karna kesalahan satu malam dg mantan nya dan berbuah kehamilan
2023-05-05
0