***
Bab 10
Marah, kesal, menyesal, semua perasaan Saga campur aduk menjadi satu. Tanpa basa-basi dia langsung menggendong tubuh Namira lalu membaringkannya ke atas kasur. Dia lakukan itu penuh kasih sayang dan hati-hati.
"Kenapa ada manusia sebodoh dirimu si, Namira?" maki Saga kesal. Dia masih tidak menyangka Namira nekat tidur di depan pintu sampai pagi hanya karena Saga tak mau bicara dengannya.
Dan apa, ini?
"Ya, Tuhan, badannya panas sekali!"
Saga berdecak panik. Dia segera mengambil air hangat untuk mengompres tubuh Namira. Cukup telaten dia membasuh tiap inci tubuh perempuan itu hingga tak lama kemudian Saga merasakan ada banyak perbedaan di tubuh Namira. Salah satu perbedaan yang cukup signifikan adalah tubuhnya yang bertambah kecil dari hari ke hari.
"Kenapa rasanya dia jadi tambah kurus begini?" Saga bergumam sendiri. Padahal saat pertama kali menikah tubuh Namira cukup sintal dan berisi.
"Apakah itu karena keberadaan bayi sialan ini?" Saga menunjuk perut Namira kesal. Tentunya dia berani begitu karena Namira masih dalam keadaan belum sadarkan diri.
"Heh, bayi, jika kedatanganmu mau menyiksa ibumu lebih baik kau keluar saja! Selama ini aku sudah cukup sabar membiarkan kau hidup di sana!"
Saga mengepalkan dua tangannya. Bayi itu belum lahir. Membesar di perut Namira pun juga belum. Tapi gara-gara bayi itu hidup Namira dan Saga berantakan. Sekarang tambah parah lagi bayi itu bersikap seperti parasit yang menggerogoti tubuh Namira secara perlahan.
"Heuuuuuhh." Lelaki itu menarik napas panjang.
Pagi ini Saga memutuskan untuk tidak berangkat kerja. Untuk pertama kalinya Saga merasa khawatir melihat kondisi Namira yang seperti itu. Tak lama kemudian Saga pun langsung menghubungi dokter untuk mengecek kondisi kesehatan Namira. Beruntungnya dokter mengatakan kalau perempuan itu hanya demam biasa yang tidak berpengaruh apa pun pada kandungannya.
Setelah dokter pergi Saga menghubungi Damar. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi tapi Saga kelupaan tidak mengabari sekretarisnya.
"Hallo, Tuan?" Suara Damar terdengar dari balik sana.
"Damar, hari ini aku tidak bisa berangkat. Namira mendadak sakit dan aku terpaksa harus mengurusnya."
"Lalu bagaimana dengan rapat hari ini, Tuan?"
"Pimpinlah rapat tanpa aku. Lakukan seperti biasa. Toh kau sudah terbiasa," ucap Saga.
"Baik Tuan. Bagaimana dengan kondisi Nona? Apa perlu saya mengirimkan perawat untuk membantu Anda?"
"Tidak usah. Oh ya, Damar. Ada yang ingin aku tanyakan."
"Silakan Tuan."
Saga diam. Dia agak ragu ingin menanyakan ini.
"Tuan, apakah Anda masih di sana?"
Damar kembali memanggil karena Saga tak kunjung menjawab. Terdengar Saga bernapas gusar.
"Aku hanya ingin bertanya. Bukankah waktu itu kau pernah cerita kalau orang yang sedang hamil badannya bertambah gemuk, bukan?"
"Emm. Iya, Tuan. Tiga kali hamil istri saya seperti itu. Memangnya kenapa Tuan? Apa pertanyaan ini ada hubungannya dengan Nona Namira?" tanya Damar.
"Ya."
Dengan Sedikit malu Saga menjawab.
"Tapi Namira tidak seperti istrimu. Semakin hari dia semakin kurus. Tingkahnya juga seperti bocah," umpat Saga. Ia masih kesal kala mengingat Namira yang nekat tidur di depan pintu.
Dari balik sana Damar tersenyum. "Kondisi ibu hamil berbeda-beda Tuan. Sebenarnya saya paham dengan kondisi Nona Namira, tapi jika dijelaskan lebih lanjut saya takut Anda marah."
"Jelaskan saja! Kenapa pula aku harus marah? Sekalian juga kau jelaskan kenapa dia sering sakit-sakitan, stress, dan, menjadi bodoh!" Saga berseru tak sabar.
"Baik, Tuan!"
"Hmmm. Jangan salah paham, Aku bertanya seperti ini karena aku tidak mau terus-terus disalahkan dan dianggap tidak becus mengurus istri. Paham?"
"Iya, Tuan!"
Di balik sana Damar menelan ludahnya dengan susah payah. Ia yakin penjelasan berikutnya akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Sebenarnya yang membuat ibu hamil mengalami kondisi tersebut adalah faktor lingkungan dari orang-orang sekitarnya, Tuan. Pertama mungkin Nona Namira stress karena hamil bukan dengan Anda. Lalu stress itu bertambah parah saat Anda marah dan tidak terima. Jadi hal itu membuat kondisi fisik Nona melemah dan kurus," ujar Damar.
"Jadi aku salah satu faktor penyebab Namira begitu?" Sejenak Saga melirik ke arah Namira. Perempuan itu masih belum sadar juga. Dia kemudian berjalan ke sisi lain supaya suaranya tidak mengganggu istirahat Namira.
"Sebenarnya kalau saya boleh bicara Anda adalah faktor utamanya, Tuan. Jika Nona Namira adalah orang baik, dalam hati Nona Namira pasti merasa bersalah kepada Anda. Jadi kalau Anda mau kondisi Nona Namira membaik, cobalah bersikap baik kepadanya. Barangkali juga itu bisa membuka jalan untuk masalah kalian yang belum terpecahkan."
"Hmmm, sepertinya saranmu boleh juga. Tak ada salahnya aku coba lagi. Aku telah melakukan berbagai cara untuk membuat dia mengaku. Sekarang aku akan pura-pura tidak peduli supaya dia melunak."
"Ide bagus Tuan."
"Ya sudah! Aku mau membuat sarapan dulu. Jangan lupa kirim hasil rapat nanti."
Saga menutup panggilan itu sebelum Damar menjawab. Cih, apakah sesulit itu berterima kasih? Dalam geram Damar mengumpat di balik sana.
***
Setelah dirawat dengan sebaik mungkin, akhirnya Namira sadar tepat jam 11 siang. Saga langsung memberi Namira minum dan makan yang sudah disiapkan. Saga juga sudah mengganti baju Namira dengan yang baru.
Siang itu suasana sedikit canggung. Namira cukup senang dengan perubahan Saga yang menjadi lembut. Tapi terus terang dia tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini.
Alih-alih berterima kasih, Namira justrus merasa tidak enak karena harus merepotkan Saga kembali.
"Maafkan, aku, Mas! Gara-gara aku Mas Saga jadi tidak bisa bekerja."
"Kalau sudah tahu begitu jangan nekat," balas Saga dengan peringatan penuh.
"Kenapa, Mas Saga merawatku?" pertanyaan itu datang setelah kondisi Namira jauh lebih baik.
"Aku merawatmu karena tidak mau disalahkan oleh orang lain. Apa itu salah?"
Namira tersenyum. "Terima kasih, Mas. Tapi sebenarnya jika Mas Saga mau menceraikanku dari awal mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Sebenarnya semalam aku ingin berkata agar Mas Saga tidak membuang-buang waktu lagi dengan menahanku di sini. Mari kita bercerai agar semuanya lebih mudah."
"Apa maksudmu?"
"Tenang dulu, Mas! Aku hanya ingin bicara baik-baik denganmu."
"Bicara baik-baik dari mananya? Apa ini balasan setelah aku merawatmu sejak pagi? Kau sungguh keterlaluan Namira."
Saga berdiri kesal. Dia benar-benar tidak terima dengan perkataan buang-buang waktu yang Namira lontarkan barusan.
"Aku sudah menjadi suamimu, Namira. Aku punya hak untuk mengetahui hal itu."
"Tapi sampai kapan pun aku tidak akan memberi tahu. Aku punya alasan untuk hal itu."
"Apa alasan itu lebih penting daripada aku?" Saga menatap garang.
"Karena kau sangat penting untukku, Mas. Maka aku sebisa mungkin mempertahankan pendirianku itu. Jadi aku harap kamu percaya dan paham, aku begini demi kepentinganmu," ujar Namira.
"Saat ini aku benar-benar berharap padamu untuk jangan tanya siapa ayah dari bayi ini. Kemudian, relakan aku pergi, mudah bukan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
fiendry🇵🇸
yg salah bukan janinnya tapi perbuatan org tuanya
2023-09-22
0
Che Putri Badar
kok aqu kesal sama ci namira ya,, kaya merasa jadi korban banget...padahal dia nglakuin ninaninu secara sadar
2023-09-09
0
Shinta Teja
dari awal aku baca bawaan ku emosi melihat tingkah Namira...
kesal juga melihat hatinya saga...
apa salahnya dia bayar detektif buat nyari tau. uang ada, kekuasaan pun juga ada...🤨🤔😔
2023-06-11
0