Namira yang tidak tahu harus bagaimana langsung berlari menuju kamar. Saga terpuruk lemah setelah itu.
"Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Namira?" Dia menatap pintu yang baru saja tertutup dengan mata berkaca-kaca. Rasanya Saga ingin menjerit. Menangis sampai ia puas dan tertidur. Setelah itu Saga akan bangun di pagi hari dengan harapan semua kejadian gila malam ini hanyalah mimpi.
Sayangnya … suara tangisan Namira di dalam sana menyadarkan Saga bahwa semua kegilaan ini nyata adanya. Saga segera bangkit dari keterpurukan dan menyusul Namira ke kamar. Dia butuh jawaban. Dengan apa pun caranya dia harus membuat Namira mengaku.
Saga perlahan mendekati Namira. Berbeda dengan yang tadi, pria itu berusaha mendapatkan jawaban dengan cara yang lembut. Ia peluk tubuh Namira tanpa mengatakan apa-apa. Ia biarkan tangisnya mereda di dalam pelukannya.
"Maafkan aku Namira. Aku yakin kau tahu bagaimana hancurnya perasaanku saat ini." Saga merangkum wajah Namira lalu membuatnya mendongak. Sejenak pandangan mereka saling bertemu. Di titik ini Namira bisa merasakan luka perih yang terpancar dari wajah Saga.
"Kau adalah perempuan yang sangat aku cintai. Melihatmu dalam keadaan seperti ini tentu saja aku tidak bisa tinggal diam. Sekarang katakan padaku …."
"Apa kau diperkosa?"
"Kau dilecehkan?"
"Diancam?"
"Aku yakin itu bukan murni kemauanmu 'kan, Namira?"
"Kau pasti diperkosa. Ya, aku yakin kau diperkosa."
Deretan pertanyaan Saga lontarkan bahkan tebak sendiri jawabannya. Namira semakin tak kuasa melihatnya. Gadis itu meraung lalu memeluk Saga kembali. Dia tenggelam dalam tangisan juga tubuh Saga yang basah oleh keringat.
"Jangan takut Namira! Katakanlah siapa pria itu. Siapa ayah dari bayi yang kau kandung?" lirih Saga.
Namira menggeleng di pelukan Saga. Tubuhnya tampak gemetar dan takut sekali.
"Ayolah Namira. Kau sayang kepadaku, bukan?"
Saga memeluk Namira semakin dalam. Ia yakin Namira pasti dilecehkan oleh pria jahat. Sejenak Saga menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Namira. Mungkin ia kurang menjaga Namira selama ini, pikirnya.
"Kau masih tidak mau mengaku Namira?" Untuk kesekian kali Saga mengulang kembali pertanyaannya.
"Baiklah!"
"Jika kau masih tidak mau mengaku, dengan terpaksa aku tidak akan bicara padamu lagi!"
Saga melepas pelukan itu. Namira meraung, tapi Saga bergerak semakin jauh darinya. Dia memutuskan untuk tidur di sofa. Sementara Namira menangis di ranjang seorang diri.
Bahkan di saat aku sudah memelas dan memohon pun kau masih belum mengaku. Siapa sebenarnya pria itu, Namira?
Kepala Saga berdenyut ngilu memikirkannya. Perang dingin pun dimulai sejak Saga melepas pelukan. Ia bertekad untuk terus bersikap dingin sampai Namira mau mengaku.
***
Pagi-pagi sekali Namira bangun, tetapi Saga tak ada lagi di kamar. Namira lalu keluar kamar untuk mencari keberadaan lelaki itu. Ia melihat Saga sudah rapi dan hendak berangkat ke kantor. Buru-buru Namira ke dapur untuk membuatkan susu.
Ia kemudian menyodorkan segelas susu itu, tapi Saga tiba-tiba melempar gelas itu hingga pecah berantakan.
"Mulai saat ini tidak usah sok baik kepadaku! Ketimbang susu itu, kau jauh lebih tahu apa yang aku inginkan saat ini!"
"Mas …." Namira menatap Saga tak berdaya. "Setidaknya aku harap kau mau meminum susu itu bukan karena aku. Tapi demi perutmu sendiri," ujar Namira.
Saga melempar senyum kecut. "Aku tidak butuh belas kasihan dari perempuan sepertimu Namira. Jika kau masih belum mau mengaku juga, jangan pernah bicara padaku!"
Saga berlalu ke arah dapur. Dia membuka kulkas lalu meminum air putih yang ada di botol kaca. Setelah itu Saga mengambil tas kerja, tapi Namira menghadang tiba-tiba.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi jika kau tidak mau sarapan!" tegas Namira. Dua tangannya merentang kuat.
Saga mendesahkan napas berat. "Sebenarnya maumu apa, si Namira? Tolong jangan membuat hidupku semakin sulit. Semalam aku sudah berusaha bersikap baik padamu! Tapi kau terus membuatku emosi … emosi dan emosi! Sebenarnya di antara kita siapa yang tidak bisa diajak kerja sama. Aku atau dirimu?" pungkas Saga.
Namira terlihat menelan Saliva. Dia menatap sendu ke arah Saga.
"Aku mau kita cerai," lirihnya. Namira tidak menyangka mulutnya akan seberani itu melontarkan kata cerai.
Kontan Saga tertawa. Ia membalas Namira dengan seringai jahat. "Apa kau pikir dengan bercerai urusan kita jadi selesai?" Saga mendekat perlahan. Ia cengkram mulut Namira dengan gerakan kasar. "Jangan terlalu banyak bermimpi Namira. Aku tidak akan menceraikanmu sebelum tahu siapa ayah dari bayi ini."
"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku mengaku? Bukankah bercerai jauh lebih mudah? Kau tidak perlu repot-repot mengurusi hidupku atau mencari tahu siapa ayah dari bayi ini!"
"Kau!"
Ucapan Namira membuat emosi Saga tersulut. Dia tidak menyangka kata jahat itu keluar dari seorang Namira yang polos dan lemah lembut.Tetapi, Saga belum sepenuhnya hilang kesadaran. Dia memilih berbalik ke arah pintu keluar agar segera lenyap dari hadapan Namira.
"Mantanku!"
Namira tiba-tiba berseru penuh keberanian. Ia sendiri juga tidak tahu dari mana keberanian itu berasal.
Mungkin saja semua itu berasal dari sikap Saga yang tiba-tiba berubah sekian derajat karena kebodohan yang Namira lakukan.
"Pria yang melakukan ini adalah mantanku. Kami melakukan tanpa keterpaksaan!" Namira berhenti bicara. Sejenak ia menarik napas sebelum bicara kembali.
"Apa kau tahu istilah jatah mantan? Itu adalah istilah yang dipakai anak jaman sekarang!"
Tubuh Saga berbalik secara spontan. Dia masih belum paham arah bicara Namira. Saga memilih diam sambil menunggu kalimat berikutnya keluar dari bibir perempuan itu.
"Jatah mantan itu semacam membuat kenang-kenangan dengan mantan di atas ranjang! Itu biasa dilakukan oleh anak jaman sekarang sebelum mereka menikah," ucap Namira.
Saga tertegun. Tubuhnya serasa tidak menapaki bumi begitu Namira menjelaskan artinya. Jadi dia tidur dengan mantan? Kegilaan macam apa ini?
Lelaki itu masih membeku. Ia tidak yakin seorang Namira berani melakukan hal gila seperti itu.
"Maafkan aku harus mengatakan ini, Mas. Aku tahu kejujuranku menyakitimu … itu sebabnya aku tidak mau mengaku sejak awal," ucap Namira lagi.
Saga kembali mendekat. Entah sudah ke berapa kalinya mereka dalam posisi bersitegang seperti ini. "Aku bukan perempuan baik seperti yang kamu bayangkan selama ini. Jadi jika kau merasa dipermainkan, lebih baik kau sudahi hubungan ini sebelum masalahnya semakin panjang."
Saga kemudian menarik tangan Namira.
"Kau mau apa?" tanya perempuan itu.
"Keluar … kita cari mantanmu itu jika kau menginginkan perceraian!"
Glek.
Namira menelan ludahnya ketakutan.
"Mas …." Sambil berteriak panik Namira berusaha menahan diri agar tidak dibawa Saga. Sayang tenaga wanita tidak sebanding dengan laki-laki. Langkah marah Saga berhasil membawa Namira keluar rumah, lalu menjebloskannya ke dalam mobil secara kasar.
"Mas … aku tidak mau!" Namira memekik dipenuhi wajah ketakutan. Tanpa peduli Saga segera memutari mobil dan masuk ke kursi dengan tergesa-gesa. Ia menyalakan mobil hingga roda empat itu perlahan meninggalkan halaman rumah dan berakhir membelah jalan raya tanpa tujuan.
"Sekarang tunjukkan padaku dimana rumah mantanmu itu!"
"Tidak mau, Mas! Aku tidak tahu dimana dia berada. Dia langsung meninggalkanku sejak malam itu," ucap Namira. Kepanikan mulai terjadi karena Saga mulai ngebut dan menyalip beberapa mobil. Dia tidak terkendali. Mobilnya melesat cepat tanpa arah tujuan pasti.
"Mas … hentikan mobilnya! Aku takut!"
Setelah mengatakan itu Namira pingsan tak sadarkan diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Wiek Soen
ealah begitu
2023-10-22
0
Shinta Teja
kok aku jadi ngeri ya denger kata2 "jatah mantan"... enak di dia,ga enak di suami dong...
2023-06-11
1
Shinta Teja
emang ada ya kek gitu?!
2023-06-11
0