Kelaparan

Masih di hari yang sama. Keadaan Namira makin tidak bisa terkontrol lagi saat ini. Sekarang dia harus menahan dua rasa sakit sekaligus. Selain sakit dari foto mesra Saga bersama perempuan lain, Namira juga harus menahan rasa sakit di perut karena keadaan perutnya yang lapar.

Hari sudah menjelang malam, tapi perut Namira belum di isi sama sekali. Di pikiran Namira sekarang hanya ada bayangan Saga bersama para perempuan itu. Perutnya terus merasa mual saat memikirkan semua itu. Dia terus menangis dari pagi hingga detik ini.

Kruk … Kruk …

Bunyi perut Namira sudah mendayu-dayu. Ia teringat masih memiliki sisa uang sepuluh ribu di kantong baju. 

"Aku tidak bisa terus-terus begini. Bagaimanapun juga bayi di perutku ini butuh makan. Meskipun aku benci dengan kelakuan Ayahnya, aku tidak boleh ikut membenci bayi tidak berdosa ini!" Sebisa mungkin Namira berusaha bangun. 

Arghhhh!

Namira menjerit saat tangannya baru hendak mencapai handle pintu. Dia kembali merasakan sakit perut seperti kejadian malam pertama kemarin. 

"Arghh, bagaimana ini? Apa yang terjadi dengan perut," pekik Namira berusaha jalan tertatih-tatih. Dia mendudukkan diri ke sofa lalu mengambil ponsel untuk menghubungi Saga. 

Kali ini perempuan itu sangat berharap Saga bisa mengangkat panggilannya, tapi berkali-kali yang terdengar adalah jawaban dari nomor yang sedang sibuk. 

"Ke mana sebenarnya kamu, Mass?" 

Namira tak tahan lagi. 

Dia terpaksa mengirim sebuah pesan untuk jaga-jaga kalau dirinya pingsan.

[Tolong aku untuk kali ini saja, Mas. Perutku sangat sakit.]

Pesan singkat itu terkirim. Namun Saga sama sekali tidak menghubungi balik hingga lama-kelamaan Namira merasa kesadarannya turun.

Dia segera menghubungi nomor lain. Terpaksa Namira harus menghubungi nomor ibu mertuanya. Mungkin setelah ini Saga akan marah, tapi Namira tidak punya pilihan lain. Semua itu dia lakukan demi menyelamatkan sang janin yang mungkin sedang dalam bahaya.

"Hallo Namira, ada apa?" 

Suara Mama dari balik sana membuat Namira. mengembuskan napasnya, lega. Perempuan itu agak sedikit panik saat mengetahui deru Napas Namira terdengar tidak teratur.

"Ada apa Namira, apa yang terjadi?" pekik Mama dari balik sana.

"Anu … Mah! Aku butuh bantuan. Tiba-tiba perutku sakit sekali."

"Ya Tuhan, memangnya di mana Saga? Kamu tunggu situ. Mama akan segera datang!"

Panggilan itu terputus saking paniknya. Perlahan Namira memejamkan mata untuk menghemat tenaga. Dia berharap pertolongan segera datang.

***

Keadaan Namira cukup memprihatinkan saat Mama Nora datang. Kebetulan tadi dia sempat menghubungi ambulan terdekat, jadi Namira langsung dilarikan ke rumah sakit begitu Mama Nora datang.

Kali ini Mama Nora hanya mengantar Namira seorang diri. Suaminya sedang ke luar kota, dan Saga sampai sekarang tidak bisa dihubungi. Namira benar-benar kesal dengan putranya itu.

Sementara di sisi lain, Saga sedang asik minum-minum bersama teman sekolahnya dulu. Musik di sana terlalu keras sehingga Saga malas mengangkat panggilan yang entah dari siapa.

Kepala laki-laki itu juga sudah mulai penat. Damar yang berjaga di sampingnya sudah berkali-kali mengingatkan supaya Saga berhenti minum.

"Ayolah Tuan … lebih baik kita pulang saja!" ucap Damar.

"Aaah! Diam kau Damar. Jika kau masih ingin kerja denganku sebaiknya jangan suka ikut campur."

"Tapi Anda sudah banyak sekali minum Tuan. Besok Anda ada pertemuan dengan kolega penting. Saya takut Anda tidak bisa bangun," ucap Damar memperingati.

Di saat bersamaan dia melihat ponsel di saku celana Saga bergetar. Damar segera merogoh ponsel itu, yang ternyata dari Mama Nora.

"Ibu Anda menghubungi, Tuan. Sepertinya ada hal yang penting."

"Paling juga Namira mengadu pada Mama kalau aku tidak pulang satu Minggu. Matikan saja, Damar. Malam ini aku ingin minum tenang tanpa diganggu siapa pun!" 

Saga kembali menenggak botol wine yang ada di tangannya. Damar hanya bisa menggeleng-geleng pasrah. Dia berusaha memaklumi karena sebagai lelaki Damar tahu persis seperti apa perasaan Saga saat ini. Dia biarkan Saga melupakan kesedihannya sejenak. Tetapi tak lama kemudian ponsel itu berdering kembali.

"Tuan, sepertinya ini panggilan penting. Apakah Anda benar-benar tidak mau mengangkat?" 

"Tidak!" jawab Saga yakin.

"Tapi ibu terus-terusan menghubungi jika Anda tidak mengangkat. Yakin tidak mau mengangkatnya sebentar saja?"

"Ck! Bantu aku ke kamar mandi!" Saga berdecak kesal. Dibantu Damar dia gegas pergi ke kamar mandi untuk mengangkat panggilan dari Mama Nora.

"Di mana kau?" Bentakan Mama Nora yang terlalu tiba-tiba membuat Saga sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.

"Hallo, Ma! Ada apa?" tanya Saga kesal. Dia berusaha bicara senormal mungkin supaya Mamanya tidak curiga kalau dirinya sedang mabuk.

"Kau ini bagaimana, si? Istri sedang hamil sempat-sempatnya keluyuran. Namira tadi nelpon Mama karena perutnya tiba-tiba sakit. Ada sedikit pendarahan juga."

"Terus bagaimana, Ma? Sudah dibawa ke dokter? Kalau pendarahannya cuma sedikit bukannya tidak masalah?" Saga begitu Santai menjawab. Hal itu membuat Mama Nora makin geram dan ingin mencekik leher Saga saat ini juga.

"Tentu saja Mama langsung bawa dia ke rumah sakit! Kau ini bodoh atau apa! Mau pendarahan sedikit atau banyak itu tetap membahayakan kondisi janin dan ibunya. Pokoknya Mama tidak mau tahu Saga, satu jam dari sekarang kamu harus sampai di rumah sakit!"

Mama Nora mematikan panggilan secara sepihak. Mau tak mau Saga harus pergi ke rumah sakit sekarang juga. 

"Kita ke rumah sakit sekarang Damar. Tapi sebelumnya mampir dulu cari obat pereda mabuk," ucap Saga.

"Baik, Tuan."

Saga dan Damar gegas menuju parkiran. Beruntung kurang dari satu jam Saga sudah sampai di rumah sakit. Dan kesialan pun turut serta saat dokter mulai menjelaskan kondisi Namira.

Keadaan wanita itu jauh lebih parah. Baik janin dan ibunya dalam kondisi kurang baik sehingga Namira harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. 

Mama Nora sangat kesal mendengar itu. Dia menatap sang anak dengan muka garang setelah dokter yang menjelaskan pergi dari ruangan Namira.

"Kau itu becus ngurus anak istri tidak, Saga? Kalau kau merasa tidak sanggup taruh saja Namira di rumah Mama. Biar Mama yang ngurus Namira."

Saga mendesah. "Aku sudah berusaha mengurus Namira dengan baik. Tapi kondisi Namira saja yang terlalu lemah," ucap Saga enteng.

"Alasan saja kamu! Kalau kau becus mengurus Namira tidak mungkin dia menghubungi Mama. Nomor kamu juga sulit dihubungi."

"Hari ini aku ada acara penting, Mah!"

"Penting apa? Memangnya Mama tidak bisa mencium bau alkohol yang ada di baju kamu. Pokoknya Mama tidak mau tahu, jika kejadian ini sampai terulang maka kalian harus kembali tinggal di rumah utama. Ngerti?"

"Iya, Ma. Maaf." Saga mengangguk. Dalam diam ia mengutuk Namira yang sejak tadi mendengarkan Saga dimarahi sang Mama. 

Terpopuler

Comments

Suharnik 01

Suharnik 01

saga bodoh, wanita gtu kok di pertahankan cerai aja, cari lagi

2023-11-11

0

Rifa Endro

Rifa Endro

kok aku jadi gemes dengan namira apa sebabnya tujuan dia mnikh dengan Saga.

2023-06-09

0

Fenty Dhani

Fenty Dhani

jangan bela Namira sampai segitunya ma...takutnya nanti jantungan pas tau yang sebenarnya😁

2023-05-30

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!