Bingung

Keadaan Namira yang seperti ini membuat Saga bingung harus memaksa dengan cara apalagi. Menggunakan kekerasan salah, menggunakan kelembutan juga tak membuahkan hasil sama sekali.

Padahal saat ini Saga hanya ingin kejujuran Namira. Tapi hal itu sangat sulit sekali untuk didapat. 

"Bagaimana kondisinya, Dokter?" 

Saga berdiri dari posisi duduk begitu dokter keluar dari ruang pemeriksaan. 

"Kondisi bayi di perut ibu Namira cukup stabil, tapi kondisi fisik ibunya sangat lemah. Usahakan untuk makan dan minum vitamin secara teratur. Kemudian usahakan juga tidak melakukan aktivitas berat. Terutama aktivitas otak. Kurangi berpikir yang berat-berat karena jika ibu Namira sampai stress berlebihan bisa membuat kondisi janin bermasalah," terang si Dokter. Saga hanya mengangguk tak menjawab. 

telah meresepkan obat, dokter itu langsung pergi. Namira juga sudah mulai bangun dari keadaan pingsan. Dia melihat ke sekeliling. Wanita itu agak menarik napas panjang setelah mengetahui dirinya sudah ada di kamar.

Tak lama kemudian pintu dibuka. Terlihat Saga berjalan ke arah Namira dengan tatapan kosong dan dingin.

"Obatmu!" Dia melempar kantung kresek berisi obat ke pangkuan Namira tanpa menoleh. 

"Mas! Apa kebencianmu sudah tidak bisa dibendung lagi sampai harus memperlakukanku seperti sampah?"

"Jangan sok menjadi korban. Kita berdua sama-sama tahu siapa penjahat yang sebenarnya!" telak Saga. Dia membalas tatapan teduh Namira dengan wajah garang.

"Oh ya? Mulai sekarang aku tidak akan memperlakukanmu sebagai seorang istri sebelum kamu memberi tahu siapa laki-laki itu! Jadi aku harap kamh tahu diri."

"Lalu kenapa tidak kau ceraikan saja aku? Kau sengaja ingin menyiksaku?"

Namira berseru marah. Mata perempuan itu berkaca-kaca tiada tara. 

Percayalah, hati Namira saat ini bagaikan ditusuk sebilah pisau karena ucapan kasar Saga yang keterlaluan. Terlebih saat melihat seringai jahat muncul di wajah lelaki itu. Rasanya Namira benar-benar tidak mengenali siapa suaminya itu.

"Bagus kalau kamu sadar! Selain itu jangan pernah berani membahas perceraian di depanku! Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu sebelum berhasil menyerahkanmu pada pria sialan itu! Jadi jika kamu masih bersikeras tidak mau mengaku, maka dipastikan hidupmu akan sangat menderita kedepannya!"

Brakk!

Saga menutup pintu kamar Namira dengan gerakan kasar. Itu semakin membuat jantung Namira berdentam tidak karuan. Melihat seseorang yang paling disayangi berubah drastis, rasanya Namira tak ingin hidup lagi. 

Jika tahu karma berzina sesakit ini mungkin aku lebih memilih mati, batin Namira.

***

Keadaan di hari berikutnya semakin menyayat perasaan masing-masing. Saga terpaksa harus pisah ranjang karena Namira terus menyembunyikan kebohongannya rapat-rapat. 

Mulai tadi malam Saga putuskan membawa barang-barangnya ke kamar sebelah. Namira yang melihat sikap Saga hanya mampu menangis di pojokan kamar.

Menyadari Namira menangis, Saga menghentikan langkahnya. 

"Jangan coba-coba membalikan keadaan dengan cara jual melas!" Dia bicara tanpa menoleh.

"Aku tidak jual melas! Aku menangis karena aku tahu kau masih mencintaiku! Sayangnya kau harus pura-pura menjadi pembenci karena kelakuanku," jawab Namira sengaja mengolok-ngolok. 

Saga terkejut mendengar itu. Ternyata sikap jahat Saga tidak serta merta membuat Namira jera. Tapi malah dia menyadari betapa besar cinta yang masih tertanam di hati Saga. Mungkin sikap itu bisa hadir karena benci dan cinta yang sama besarnya.

Lelaki itu pun sangat kesal pada dirinya. Bisa-bisanya ia masih sangat mencintai Namira di saat wanita itu dengan sengaja menghianatinya. Menghianati kesucian dan ketulusan cinta Saga selama ini.

"Jika kau tidak mencintaiku lagi pasti kau sudah mengusirku, menceraikanku, bahkan bisa saja kau membunuhku. Tapi kau memilih bertahan dan menahanku seperti ini. Bukankah itu tandanya kau masih cinta?" 

Namira sengaja menggoda keteguhan Saga. Sepertinya dia berhasil memberikan serangan balik atas sikap Saga beberapa hari ini.

"Kau terlalu percaya diri Namira. Untuk apa aku mencintai sampah sepertimu?" Saga berdecih.

"Aku memang sampah. Tapi sampah yang sangat berharga untukmu. Buktinya kamu masih terus mempertahankan sampah ini di sampingmu bukan?" 

Saga berbalik badan. Dia kesal dengan nada bicara Namira yang terdengar menantangnya. "Aku mempertahankan sampah itu di sampingku karena belum menemukan tempat yang tepat. Jika sudah menemukan tempat sampahnya aku pasti akan segera membuangnya. Apakah penjelasan ini cukup untuk menyadarkan hasrat tidak tahu diri yang ada dalam otakmu?" Saga menaikkan sebelah alisnya.

 Namira kontan mengepalkan tangannya kesal. Dia menatap Saga dengan muka jengkel yang menyembur pekat. "Mari kita buktikan, berapa lama kamu bisa mempertahankan sikap pura-pura itu," tantang Namira. Dia bertekad akan meluluhkan hati Saga dengan cara apa pun. Jika tidak mau luluh juga dia berharap Saga bisa melepaskannya.

Pagi-pagi sekali Namira bangun. Dia siapkan baju kerja Saga layaknya seorang istri. Tapi Saga membuang baju itu ke tempat sampah. Dia memilih mengambil baju baru yang ada di lemari ketimbang mengambil baju dari Namira.

Mereka berdua juga tidak saling tegur sapa. Saga seolah membuat Namira kasat mata di rumah baru mereka.

Tak hanya itu, menjelang sarapan Namira juga sudah menyiapkan berbagai macam makanan yang Saga minta. Tapi sayang Saga hanya mengambil air putih yang ada di kulkas lalu berangkat kerja.

Namira sangat kesal melihat usahanya gagal dan sia-sia. "Aku tidak akan menyerah! Aku harus cari cara lain!"

Wanita itu memutuskan untuk membawa makanan yang ada di atas meja ke kantor Saga. Tidak sulit untuk Namir masuk ke ruangan pria itu. Semua orang tahu kalau mereka baru menikah, jadi baik resepsionis atau sekretaris Saga membiarkan Namira masuk ke ruang kerja Saga tanpa pikir panjang.

Saga sangat marah melihat Namira muncul di balik pintu. Pena yang sedang ia pegang seketika patah. Itu menandakan betapa emosinya Saga saat ini.

"Siapa yang berani membiarkan kamu masuk wanita sialan?"

"Jangan lupakan sesuatu Sayang, semua karyawan di sini tahu kau sangat mencintaiku, mana mungkin mereka melarangku masuk ke ruanganmu." Namira mengedipkan matanya genit. Sebelum ada kejadian ini Saga memang terkenal sebagai direktur yang sangat bucin. Dia tak malu mengumumkan pada orang lain kalau dia sangat mencintai Namira.

"Apa maumu?" Saga menatap dingin. Tangannya di bawah sana mengepal kuat saat Namira menyodorkan sekotak bekal kepada Saga.

Dia membuka penutup lalu menaruh sendok di atasnya. "Aku cuma mah kau memakan makanan yang sudah capek-capek aku buat."

"Tidak ada orang yang menyuruhmu untuk masak. Kenapa kau menyuruhku untuk memakannya?" kesal Saga.

Namira tersenyum penuh percaya diri. "Karena aku tahu kau hanya menyukai makananku."

"Cih! Sayangnya sekarang aku tidak sudi lagi memakannya. Bawa makanan itu keluar dan jangan pernah datang ke sini. Dasar wanita pengganggu," maki Saga. Diserang seperti itu Namira malah makin semangat mengganggu.

"Sayangnya aku tidak akan beranjak dari tempat ini sebelum kau mencicipi makananku. Jika kau keberatan kau boleh usir aku keluar!" 

Dua bola mata Namira menantang penuh. Dia tahu Saga tidak akan berani melakukan itu. Saga adalah orang yang sangat menjaga privasi pasangannya. Jadi seburuk apa pun pasangannya lelaki itu tidak pernah bisa membiarkan orang lain tahu.

Itulah keistimewaan Saga yang hampir jarang dimiliki orang lain.

Saga terpaksa mengambil sendok. Dia mulai menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya.

"Sial, kenapa makanan ini enak sekali?" batin Saga.

 Tangannya mulai menyendok lagi dan lagi. Tak membutuhkan waktu lama ia menyodorkan kotak bekal yang sudah kosong kepada Namira. Wanita itu tersenyum. Dia tahu persis kalau Saga sangat menyukai segala bentuk masakan Namira.

"Terima kasih sudah menghabiskan makanan ini." Namira berdiri puas.

"Jangan Narsis! Aku menghabiskan ini supaya kau cepat pergi dari kantorku!" 

Terpopuler

Comments

Laura Wijaya

Laura Wijaya

heran Ama si Namira udah tau salah,masih aja belagu.jaman sekarang emang modelnya begitu banyak dramanya🙄

2024-01-17

1

Shinta Teja

Shinta Teja

itu belum seberapa, Namira. dibanding balasan dari Tuhan mu

2023-06-11

0

Rifa Endro

Rifa Endro

udah tahu bersalah, tapi masih tidak tahu diri

2023-06-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!