Mencoba Menyadarkan Saga

"Cih, kau selalu bersemangat jika itu menyangkut soal mantan. Segitu bernafsukah kau ingin segera kembali padanya?"

"Demi Tuhan aku tidak akan kembali padanya, Mas!"

Pernyataan Namira kontan membuat Saga terlonjak. Mata lelaki itu membeliak seakan melempar kalimat tidak percaya.

"Aku ingin pergi darimu karena aku merasa tidak pantas. Dan semakin ke sini aku semakin sadar kalau kehadiranku hanya akan merusak masa depanmu. Apa salah jika aku memilih pergi? Toh hidup denganku semakin lama juga akan tambah menyakitimu, bukan?" 

"Keputusanmu tidak salah! Tapi setidaknya pergilah dengan cara yang pantas. Kau sudah berzina dengan pria lain, seharusnya kau tahu resiko yang akan terjadi pada kalian."

"Aku tahu! Maka dari itu aku berniat untuk menanggungnya."

"Hanya sendiri?" Saga menaikkan sebelah alisnya. Kepalanya mendadak berdenyut mendengar pengakuan Namira kali ini.

Kenapa dia harus berzina dengan laki-laki itu jika ujung-ujungnya harus menanggung semua itu sendiri. Bukankah itu tidak adil? Sebagai orang yang sangat mencintai Namira Saga jelas tidak terima mendengar hal itu. Tapi menerima Namira dan perzinaannya juga tidak mudah untuk kehidupan Saga selanjutnya. Pria itu memegang teguh kesetiaan dan sangat benci dengan penghianatan. Namira sendiri juga tahu hal itu.

Alasan Saga mempertahankan Namira di sisinya karena ia masih cinta. Dan sebagai orang yang sangat mencintai Namira Saga ingin memastikan perempuan itu bisa hidup layak bersama lelaki pilihannya itu.

"Ya, aku ingin hidup sendiri dengan anakku! Tidak ada kamu, tidak ada mantanku juga," jawab Namira mantap. Dia menatap Saga, menunggu jawaban lelaki itu, tapi Saga malah mengepalkan dua tangannya dengan kuat.

"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiranmu, Namira. Kalau ujung-ujungnya begini kenapa harus berzina dengan lelaki itu? Kupikir kau bukan wanita yang bodoh," tandas lelaki itu.

"Aku melakukan itu karena suatu alasan. Tapi terlepas dari itu, apa pun alasannya, aku memang bodoh seperti apa katamu. Aku tidak pernah memikirkan resiko saat melangkah ke jalan yang tidak benar. Maka dari itu, aku ingin berhenti mengajakmu masuk ke jurang yang sudah kuciptakan. Aku tidak mau kau terus-terusan memelihara perempuan tidak benar. Mari kita cerai Mas. Lupakan aku, dan cari pengganti sesegera mungkin.

Saga tak menjawab. Dia terus diam dan membiarkan Namira bicara semaunya.

"Apa yang kau harapkan dari seorang gadis seperti aku, Mas? Aku telah membohongi. Aku berzina dan dengan tidak tahu dirinya masih tetap menjalin hubungan denganmu sampai ke jenjang pernikahan. Bukankah itu artinya istrimu tidak tahu malu, Mas?"

"Mungkin jika tidak hamil kau tak akan tahu kebusukan istrimu yang sebenarnya, Mas. Tapi Tuhan Maha Adil. Beliau membukakan semua aib istrimu. Dan sekarang aku sudah sadar akan dosa ini. Kuharap kamu juga bisa sadar betapa tidak pantasnya aku untukmu. Sebelum keluargamu tahu. Sebelum semua orang tahu, mari kita akhiri sandiwara ini," ujar Namira. Saga terlihat masih diam mematung. Dia seperti kehilangan kata-katanya saat mendengar Namira bicara panjang lebar.

"Sepertinya kau sudah tidak sakit lagi. Aku pergi dulu." Akhirnya hanya kata itu yang terucap dari bibir Saga. Untuk saat ini dia sama sekali tidak bisa memutuskan apa-apa.

"Mas!" 

Namira yang masih duduk di kasur berusaha mengejar, tapi langkah Saga terlalu cepat sehingga tak lama kemudian suara bantingan pintu terdengar menggema sangat keras. Namira yang melihat itu hanya bisa mengelus dada.

Maafkan aku Mas. Tak seharusnya aku menyakitimu dengan kalimatku tadi. Tapi kita memang benar-benar tidak bisa bersama. Aku harus segera pergi dari hidupmu sebelum semuanya terlambat, batin Namira.

*

*

*

Jam satu siang Saga sudah berada di kantor, Damar sangat terkejut saat melihat si bossnya sudah duduk di ruang kerja sambil bergaya uring-uringan.

"Apa yang terjadi Tuan? Kenapa Anda di sini?" tanya Damar dengan hati-hati.

"Namira berbuat ulah lagi. Dia terus-terusan memancing kemarahanku sampai aku tidak tahan lagi. Huhhh, kenapa sejak kita menikah sifat anak itu berubah drastis? Perasaan dulu dia tidak semenyebalkan ini," ujar Saga.

Damar mendekat lalu duduk di kursi, tepatnya duduk di depan Saga. "Biasanya seseorang akan akan makin terlihat sifat aslinya setelah menikah Tuan."

"Tapi aku tidak suka dengan wataknya yang keras kepala itu."

"Memanynya Nona Namira kenapa lagi? Apa dia kembali meminta Anda untuk segera menceraikannya?"

"Hmmm. Tapi yang membuatku kesal, dia ingin bercerai dan mulai menjalani hidup sendiri. Bukankah itu konyol?"

"Jadi dia tidak ingin kembali dengan laki-laki yang pernah menjadi mantannya itu? Lantas apa gunanya mereka kembali bertemu bahkan sampai berzina kalau ujung-ujungnya tidak mau bersama? Istri Anda memang aneh," cibir Damar.

"Aku juga tidak tahu, Dam. Tujuan awalku masih mempertahankan Namira itu karena aku ingin mengembalikan Namira pada orang yang semestinya. Itu adalah bentuk cinta terakhirku untuk Namira. Tapi semuanya malah jadi rumit begini. Sepertinya Namira punya rahasia yang aku tidak tahu," ucap Saga.

"Benar juga Tuan. Selama saya mengenal Nona Namira dia adalah perempuan yang sangat baik di mata saya. Kadang juga saya berpikir Nona Namira itu dijebak atau semacamnya. Bagaimana kalau itu benar? Apa Anda masih ingin tetap menyerahkan Namira pada lelaki rahasia itu?"

"Tentu saja tidak."

"Lalu Apakah Anda akan bersamanya?"

Pertanyaan Damar membuat Saga terdiam. Ia juga nyaris memiliki pemikiran seperti itu. Tapi Namira berkata tetap ingin pisah dengan Saga apa pun yang terjadi.

"Aku tidak munafik kalau aku masih sangat mencintainya. Bahkan malam kemarin aku sempat kehilangan akan dan menidurinya."

"Astaga, Tuan. Itu dosa. Kita tidak boleh meniduri perempuan yang sedang hamil anak dari pria lain."

"Aku tahu, tapi namanya juga khilaf."

"Ya sudah lupakan. Jadi sekarang Anda maunya bagaimana? Mencoba menerima Nona dan anak itu, atau mau bagaimana?"

"Aku tidak tahu Damar. Kurasa aku dan Namira sama-masa merasakan hal yang sama. Sulit bagi kami untuk mencoba menjalani hidup bersama karena kehadiran bayi itu. Aku sulit menerima Namira, dan Namira juga sepertinya enggan bersama denganku karena rasa bersalahnya."

"Duh, rumitnya." Damar menggaruk kepalanya yang tak gatal. 

Tiba-tiba ponsel Damar berbunyi. Tertera nama Nyonya Nora di sana.

"Tuan, Apa ponsel Anda tidak aktif? Kenapa Nyonya menghubungi saya?"

"Hmm. Ponselku memang sengaja dimatikan. Angkat saja," perintah Saga.

Damar mengangguk lalu mengangkat panggilan tersebut. Nyonya Nora kemudian berpesan pada Damar agar malam ini Saga pulang karena adiknya datang dari Amerika. Keluarga besar mereka akan mengadakan jamuan makan malam untuk menyambut adik Saga yang satu itu.

"Ngomong apa dia?" Saga melirik Damar setelah lelaki itu mematikan ponselnya.

"Nyonya Nora berpesan pada Anda dan Nona Namira supaya datang ke rumah malam ini karena adik Anda datang. Katanya mereka akan mengadakan jamuan makan malam untuk menyambut adik Anda."

"Hmmm. Ada-ada saja nenek rempong itu. Padahal malam ini aku sudah berniat untuk tidak bertemu dengan Namira."

"Anda kurang beruntung Tuan." Damar menyeringai dengan ledekkan. Beberapa saat kemudian lelaki itu kabur sebelum Saga memanguk.

"Heh, sialan kau! Mau pergi ke mana?"

Terpopuler

Comments

Che Putri Badar

Che Putri Badar

nah ntuh elu nyadar juga namira..

2023-09-09

0

Handayani Tety

Handayani Tety

wah jangan2 adiknya saga itu mantannya Namira..wo wo wo

2023-07-01

0

◡̈⃝︎➤N୧⃝🆖LU⃝SI✰◡̈⃝︎👾

◡̈⃝︎➤N୧⃝🆖LU⃝SI✰◡̈⃝︎👾

rahasia apa yang sedang Namira sembunyikan

2023-06-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!